Bumi Kepada Bulan, Katanya.

4 Hal yang Akan Terjadi Jika Bulan Meninggalkan Bumi

“Definisi cowok keren, menurutmu apa?”

“Hm… ngga lebay.”

“Maksudnya lebay?”

“Yaaa. Ngga drama.”

“Yang drama kan biasanya cewek.”

“Jadi kamu bilang aku drama?”

“Ih kok langsung ngambil kesimpulan gitu?”

“Habis ngelirik-lirik ngga jelas gitu sih.”

“Kan sayang.”

“Tuh kan lebay kaaan.”

“Jadi, cowok keren menurut kamu definisinya apa?”

“Hm… Apa ya? Dia… Dia sayang sama ibunya.”

“Kenapa?”

“Kalau dia sayang sama ibunya, bisa dipastikan kalau dia ngga akan nyakitin hati perempuan manapun.”

***

Ada yang bisa dimakan waktu, lalu hilang dan tak kembali. Saat lalu. Momentum apapun. Di saat berbunga ketika berduaan sama pacar, misalnya. Kalau udah putus, mau gimana? Mesra-mesraan udah bukan kewajiban dan… yaa buat apa mesra-mesraan tapi tanpa status? Yang ada bikin batasan baru. Saya di sini, bebas dengan yang lain, Anda di sana pun begitu. Ada batasan.

“Bulan,” katanya waktu itu, masih di atmosfer yang sama yang selalu membuatku ingin mengulang kejadian yang sama setiap hari. Aku hanya menengok dan memicingkan mataku padanya tanda aku tahu keberadaannya. Dia duduk di sebelahku, lalu melanjutkan kata-katanya, “Kenapa bulan diciptakan untuk mengelilingi bumi?”

Aku berpura-pura berpikir. Bukan bulan dan bumi yang semua tahu pada umumnya, yang pasti. Tapi aku, Bulan, dan dia, Bumi. “Biar keadaannya seimbang.”

“Pasang surut air laut, kalau bulan ngga peduli, Bumi jadi kacau.” Kami menyebutnya bersamaan. Dengan kata dan intonasi yang persis sama. Dia Bumi, aku Bulan.

“Kamu udah pernah nanya ini.”

“Biar kamu ngga lupa jawabannya.” katanya, dengan ekspresi yang sama. Menyenangkan. Jawaban itu memang jawaban yang terlontar dari bibirnya kala itu, beberapa bulan sebelum akhirnya kami resmikan hubungan kami di 17 Agustus 1998, saat kami masih duduk di bangku SMA, saat upacara 17 agustus, di barisan tengah. Aku berdiri di barisan perempuan paling belakang, ia berdiri di barisan lelaki paling depan, tepat di belakangku.

Iya. Hampir 18 tahun yang lalu. Klasik. Penuh kenangan.

“Ngelamun mulu.” suara berat datang, membuat bahuku tersentak. Suamiku.

“Nanti malam mau makan apa?”

“Capcay udang enak kayaknya.” Ia tersenyum, dengan senyum yang khas yang memunculkan satu lubang di pipi sebelah kanannya, orang pertama yang membuatku keheranan. Ternyata lesung pipi bisa cuma ada satu. “Ah! Tambah bakwan jagung.” tambahnya kemudian.

Aku segera membuat list bahan yang kubutuhkan untuk membuat capcay udang dan bakwan jagung. Ia bukan tipe suami yang susah makan, sebenarnya. Makan apa saja suka. Eh. Kecuali ikan bandeng. Susah dimakan, katanya. Banyak tulangnya.

***

“Bumi, kamu ngga main sepak bola sama yang lain?” siang itu, di siang yang terik di bulan September, hampir 18 tahun yang lalu, di bangku bambu depan kelas yang langsung mengarah ke lapangan.

“Bosen.”

“Kenapa?”

“Habis mainnya gitu-gitu aja. Lari sambil nendang bola, masukin bola ke gawang lawan, dan yang paling banyak masukin bola ke gawang lawan itu yang menang.”

“Lah emang itu aturannya bukan?”

“Maka dari itu. Membosankan. Segala yang penuh aturan itu membosankan.”

“Tapi tanpa aturan semua ngga akan jelas.”

“Ada teori yang menjelaskan.”

“Teori itu adalah buah pikiran. Buah pikiran tercipta dari aturan. Sistematis.”

“Ngomong sama kamu kayak ngomong sama ilmuan…. Tapi tetep aja, yang begitu selalu membosankan. Coba bisa bikin aturan sendiri.”

“Bisa. Kalau kamu main sendiri.”

“Adam aja diciptakan hidup dengan hawa.”

“Itu tahu. Ngga bisa sendiri kan?”

Percakapan singkat dibumbui adu pendapat yang lucu. Bumi yang kekanakan dan tak mau kalah. Bumi yang selalu bisa membuatku berpikir untuk mematahkan argumennya, meski terkadang memang semudah itu dipatahkan.

“Dara pulaang!” suara yang sangat kukenal muncul dibarengi suara dentuman pintu yang pelan namun mengusik. Anakku. Addara, 8 tahun. Ia menghampiriku, menyalamiku, lalu memelukku. Aku mencium kepala dan pipinya.

“Yayah?”

“Oh iya. Katanya Yayah harus buru-buru ke kantor, Ma.” Ia meletakkan tasnya, aku mengangguk.

“Abang?”

“Mamaaa!” Aku tersentak. Ia, dengan kaki yang mulai jenjang berlari. Si sulung yang selalu penuh semangat. Galendra, 9 tahun. Kulakukan hal yang sama. Memeluk lalu mencium kepala dan pipinya.

“Mamaaaa, tadi abang beli es!” kata si Adik dengan muka jail yang segera dibalas cepat dengan muka khawatir oleh si Abang, “Bohong, Ma!” Aku menahan senyum.

“Jangan bilang-bilang.” Bisiknya pada si Adik.

“Tuh, tuh, Ma!” tak mau kalah, ia tertawa dan berlari sambil menunjukkan lidahnya tanda ledekan. Abang mengejar, Adik semakin kencang berlari.

***

Aku dan Bumi, berjalan bersama setiap pulang sekolah. Terkadang, ia membawa sepeda ontel milik Ayahnya kalau Ayahnya sedang di rumah. Lebih seringnya tidak. Membicarakan banyak hal.

“Kenapa bisa cinta, ya?” katanya seperti berbisik, sore itu, di jalan setapak menuju rumahku. Rumah kami berlainan arah. Kewajiban, katanya, maka tiap hari ia mengantarku pulang.

“Hah?” Aku memandanginya heran.

“Kenapa aku bisa cinta kamu, ya?”

“Emang iya?”

“Emang engga?”

“Mana ku tahu. Kamu yang ngerasain.”

“Kamu engga?”

Dua detik, satu menit, kami hanya diam.

“Aku tahu!” Ia tersenyum. “Karena bulan diciptakan untuk menemani bumi….”

“Kalau engga, nanti ngga seimbang. Pasang surut air laut jadi kacau.” bersamaan lagi, kami lanjutkan. Tertawa, seakan memang itu jawaban yang tepat.

“Iya, jadi bumi harus mencintai bulan. Biar tahu diri.” lanjutnya lagi. Aku tersenyum, tersipu. Bulan akan terus mencintai bumi, tenang saja.

Tersenyum lagi aku, bak terhipnotis tawanya. Ia selalu begitu. Tipe pemikir yang ulum, dan pecinta yang jauh dari kata angkuh. Hangat, melindungi. Kami bertahan lama di bawah atmosfer berwarna biru. Tenteram, damai, nyaman.

Lima tahun, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dan pergi. Tanpa alasan, membuat batasan yang jelas terlihat. Katanya, kami berdua tidak ditakdirkan mengarungi lautan dengan kapal yang sama. Percuma, akan tenggelam. Bumi tak lagi membutuhkan bulan, katanya.

 Bumi yang berlari, menjauh meninggalkan Bulan

Apa ia dapat hidup?

Bumi yang pergi, menjauh meninggalkan Bulan

Yakin?

Bumi yang pergi…

Satu detik, dua detik, lima menit, satu hari, dua tahun…

Tak kembali, walau raga utuh

Bumi yang pergi, merelakan Bulan

Atau sebaliknya?

Aku memutuskan untuk menikahi lelaki yang katanya mencintaiku. Aku mengenalnya tak lebih dari dua bulan, sebelum akhirnya ia melamarku. Kami bertemu di tempat kerja, di tahun 2006. Ia atasanku. Katanya ia mencintaiku, itu mengapa ia memberanikan diri datang memintaku.

Aku tidak mengelak, tidak ingin berdebat.

Tidak ingin menunggu.

Aku merelakan.

Bumi tak kembali. Aku tahu raganya masih menyimpan hangat. Bahagianya, aku tahu. Ia belum menikah katanya. Bumi tak mencari, pun menambatkan hatinya, katanya. Ia ingin sendiri, entah sampai kapan.

Bumi, yang tak akan lagi menemukan bulannya. Atau karena tidak mencari?

Bumi yang memutuskan untuk pergi.

Bulan tak tahu. Tahunya hanya sebatas pengorbanan Bumi yang membuat Bulan bahagia, walau tanpanya.

Bumi, sampai kapan pun akan mengalah pada takdir,

pada bahagianya.

Aku tak menyesal, sekalipun. Aku bahagia dengan suamiku. Ia awanku, yang membatasi beda aku dan bumi. Ia membuat bumi tak terlihat, terlupakan perlahan. Ia membantuku menyembunyikan bumi dari pandangan. Awanku, sekatku pada bumi. Awanku yang rela mematut janji dan menunggu hingga aku menjadikannya duniaku.

Awanku, yang menganggap bahagiaku adalah bahagianya.

Awanku, yang perlahan menerobos masuk, dan aku tak berharap ia keluar.

Aku mencintainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s