Peluh: Gergaji.

Lagi-lagi kugaruk batangnya dengan runcingku. Berserat. Mengeluarkan bunyi yang buat dahi menyernyit. Kali ini ukurannya tak seberapa besar, tajam runcingku terselamatkan. Namun, ah, batang ini sedikit basah, membuatku terpeleset beberapa kali.

Tersengal, tangan di ujung tubuhku berhenti. Mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian mengesap kuat rokok di tangan kirinya. Tangan kanannya masih setia memegang ujung tubuhku.

Ia menggerakkanku lagi. Maju, mundur. Membuat gusi runcingku beradu dengan batang berserat ini. Mengeluarkan bunyi, lagi.

“Pak tua!” aku terhenti, tangan itu melepasku, membuatku terkapar di atas pahanya. “Sudah malam. Waktunya kau pulang!”

“Tak apa.” gerakan di dahinya seketika mengeluarkan cairan yang menghujam dingin tubuhku. Peluhnya, jerih payahnya. “Tanggung. Lumayan biar dapat lima ribu lagi.” Ia tersenyum sambil mengatur napasnya. Lagi-lagi lelehan di dahinya jatuh.

Peluhnya, jerih payahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s