Namaku Agnicia Rana

Panggil aku Rana. Bukan dari kata merana, bukan. Hilangkan jokes receh macam itu, ya. Agnicia Rana. Nama ini begitu berarti. Nama yang akhirnya kupilih untuk menggambarkan diriku. Jadi, di sini akan kuperkenalkan diriku. Secara gamblang.

1467406867091

Agni, menurut bahasa sansekerta artinya “Api”. Begitu.

Ya. Aku adalah perempuan yang bersemangat, seperti api yang berkobar tak pernah padam. Bisa membunuh? Tentu. Kataku kadang menyakitkan, begitu menohok, begitu menusuk. Ini tertuang dalam pemikiran-pemikiranku di blog pribadi ini. Jelas, kepribadianku yang gamblang di depan tuts laptop begitu tergambar. Bibirku kadang kukunci rapat, jika di khalayak. Bukan tak berani, bukan jago kandang. Amarahku yang kadang bergejolak tak akan paham kata yang mungkin keluar. Bisa begitu kasar, maka lebih baik aku diam. Itulah aku, sang api.

Dibalik itu, kata pertama yang kupikirkan dari api adalah gairah. Aku bisa sangat mendalami apa saja yang menjadi gairahku. Menulis, yang paling dominan. Entah apa yang kedua orang tuaku tanamkan dulu, aku begitu cinta akan rangkaian kata. Tapi aku tak terlalu suka –lebih tepatnya sering, mungkin– membaca, kalau boleh jujur. Sejak aku mengenal “buku diary” (yang kukenal lewat temanku dulu), aku terbiasa menuangkan kisahku. Rasaku. Dan kebiasaan ini bertahan sampai sekarang.

Aku pecinta romansa yang sedikit panas, bukan romansa receh yang kisahnya kerapkali ada di majalah remaja. Ya. Mantan pecandu video porno, jujur saja. Nanti akan kukisahkan lebih lanjut. Itu mengapa aku begitu suka api dan warna merah. Attracted. Katanya aku begitu. Menurutku pun begitu.

1467406276687

Cia, bulan dalam bahasa Yunani.

Aku pecinta langit malam dan alam yang serba biru dah hijau, pun gelap nan gemerlap. Aku pecinta kisah romansa panas di malam hari, maka aku memilih bulan sebagai objek. Aku suka bulan purnama. Satu masa yang begitu indah, ketika kulihat bulan besar berwarna super kuning kejinggaan –sangat besar memenuhi lanskap di samping kanan jembatan layang kotaku dulu.

Aku menatap bulan itu bulat-bulat melalui kaca mobil. HA. Mobil yang dulu selalu kukutuk. Oke, akan aku ceritakan nanti. Aku masih duduk di bangku sekolah dasar, saat itu. Belum punya handphone, begitu menikmati pemandangan di sebelah kanan sambil termangap-mangap berkata, “WOOOOOW”. Begitu terekam jelas di memoriku sampai sekarang. Itu memori yang paling kuingat tentang bulan. Bulan yang sangat besar, di atas jok mobil yang berjalan pelan di atas jembatan layang kotaku dulu. Untung saat itu macet. Aku bisa menikmati bulan.

Aku mencintai dunia malam. Yang luas, tanpa atap. Ya. Aku tergila-gila dengan atmosfer langit. Bulan, gemerlap bintang, kegelapan, hingga zodiak haha. Aku sempat tergila-gila dengan astronomi. Dulu aku hapal nama-nama planet dan tetek bengeknya. Aku juga tergila-gila bentuk indah galaxy. Astronot, awan, meteor. AH, begitu cinta.

1467409608036

Sebelum menemukan arti ini, aku mencari ‘sesuatu yang kusuka’ yang lain. Hijau. Keroppi. Kodok. Akhirnya aku mencari di sebuah buku –yang lebih tepatnya pedomanku saat mencari sebuah nama dalam karya fiksiku dulu. Ya. Aku yang dulu penggemar biologi, dihadiahi papa satu buku kecil berisi klasifikasi hewan. Isinya tingkatan taksonomi pada hewan.

Aku mencari di bagian amphibi, di bagian katak. Dan menemukan nama satu spesies katak. Rana Temporaria. Tepatnya Rana ini adalah nama genusnya. Katak ini bisa ditemukan di sekitar Amerika dan Eropa. Bagus ya, namanya. Rana.

Lalu aku terpikat. Aku memutuskan, pada akhirnya sebelum aku tahu arti nama Rana sebenarnya. Ya. Elegan, menurut bahasa Persia. Senyumku mengembang. Begitu cocok dengan diriku –lebih tepatnya dengan image yang ingin kutampilkan ke khalayak.

Aku begitu cinta warna merah, silver dan gold. Warna yang cemerlang, gemerlap, membuat semua mata terpana. Aku ingin menjadi kucing anggora yang ketika berjalan begitu anggun. Kanan, kiri, kanan, kiri. Menatap ke depan dengan pasti, dengan bibir yang tersenyum angkuh tapi memikat. Kanan, kiri, kanan, kiri. Begitu anggun. Begitu sedap dipandang mata.

Elegan belum menggambarkan diriku seutuhnya. Karena diriku masih senang bermain dengan warna yang dibilang norak. Masih mencari jati diri, rupanya. Tapi image elegan lah yang selalu ingin kutampilkan sesungguhnya. Terhalang kendala materi aja, makanya belum elegan-elegan amat. Ehe.

Aku bukan pecinta fashion sebelumnya, namun aku adalah orang yang mengutamakan tampilan. Seberantakan apapun penampilanku, image itulah yang memang sedang ingin kubentuk. Dan mimpiku kemudian adalah menjadi fashion blogger yang punya lima warna dasar favorit. Putih, hitam, merah, silver dan gold. Warna sisanya menyesuaikan.

Semoga kodok imut ini mendapat modal kemudian ya 🙂 hihi.

Itulah arti namaku. Nama yang kupilih, yang menggambarkan diriku, image yang berusaha aku tampilkan. Ya. Agnicia Rana. Perempuan malam yang membara, teduh menyejukkan dan begitu elegan.

Namaku. Agnicia Rana.


Source.

Advertisements

One thought on “Namaku Agnicia Rana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s