Muak.

Mataku menajam, bak ujung tombak. Dahi penuh kerutan, alis bak menjadi satu. Aku marah. Aku muak.

Dadaku berdesir. Bukan desir yang menyejukkan. Seperti terimpit. Seperti tulang rusukku diremuk dengan satu tangan besar. Membuatku susah bernapas.

Aku marah. Aku muak.

Perutku sakit. Rasa-rasanya ada yang aneh, seperti seluruh isi perut siap naik.

Aku mual, aku muak.

Bibirku bungkam. Begitu tertutup rapat bak dijahit dengan besi berkarat. Sakit untuk berkata.

Aku terlalu muak.

Memaki, aku ingin. Lebih dari inginku yang kerapkali membuatku menangis kala tak kudapat. Ingin semua kata keluar. Tapi sekali besi berkarat ini kutarik paksa, rasa-rasanya kata yang keluar hanya akan membuatku tambah sakit.

Aku marah. Aku muak.

Aku benci dengan takdir Tuhan yang kini telah melekat. Hidup dengan hutang dan dihutangi. Hidup dengan anjing gila yang ingin selalu melahap makanan di meja. Hidup dengan sepasang kumbang dalam satu bunga namun hinggap berjauhan.

Setiap hari, setiap saat aku muak.

Aku merasa tak ada kedamaian di sini, di tempat yang seharusnya menjadi pelindungku. Tak ada rumah di sini. Tempat ini bak kerangkeng yang memenjarai orang-orang tak punya otak di dalamnya. Semua ingin menangis. Semua marah. Semua bajingan,

termasuk diriku.

Jikalau aku bisa menentukan takdirku sendiri,

jikalau aku bisa merayu Tuhan, memohon pada-Nya….

Yang kuminta hanya satu.

Tak terlahir dari garis keturunan keluarga ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s