Aku berbohong.

broken_heart_by_lovingstarlights-d62lbip

Aku berbohong.

Janjiku tuk tidak lagi menuliskanmu dalam tiap bait tulisanku, kuingkari sudah.

Entah. Rasanya kau memang sumber inspirasi.

Bagaimana mungkin kasih yang tak terbalas bisa sangat terdengar begitu fantastis?

Ini kisah biasa. Banyak pula yang mengalaminya, aku yakin.

Namun kau bukan hanya sebuah nama di hatiku, bahkanaku tak terpengaruh saat yang lain mencerca, menjadikan bahan guyon untuk memperlihatkan betapa kurangnya engkau. Atau sebaliknya?

Canda macam itu begitu mengusik, meski ingin saja kuakhiri. Ya. Canda malam itu.

Aku tak tahu, rasamu di dalam, tak pernah tahu.

Tapi mengapa ekspresimu jauh membuatku sakit saat kau berada di sampingnya? Perempuan yang katanya kau suka.

Begitu terlihat.

Aku tak tahu, apa perlakuan baikmu padanya, sungguh tak tahu.

Tapi mengapa rasanya berspekulasi sungguh semenyedihkan ini?

Membuat pikiran sendiri, lalu meyakininya.

Lalu bilang, “Lihat buktinya! Dia tak akan pernah sebahagia ini denganmu.”

Kau tahu?

Aku sudah berada dalam fase di mana siap untuk pergi, siap untuk melenyapkanmu dalam pikirku. Nyatanya? Tak semudah itu, Bung!

Kau benar-benar memenuhi relung ini dengan segala kenangan. Ya. Lagi-lagi hasil pikirku. Spekulasiku sendiri. Kala itu di perpustakaan, di kelas, di kantin. Semua hanya dari sisiku. Sisimu? Apa aku perlu tahu?

Tak perlu.

Aku tak ingin mengakui apapun, selain berkata “Aku baik-baik saja.” Aku canggung ketika di dekatmu, dan itu tidak pernah benar. Ya. Kau temanku. Kita berteman saja sampai maut memisahkan. Bukan begitu yang kau ingin?

Aku tidak.

Namun sungguh aku tak berarti ibarat satu bulir gula yang terlihat putih dalam toples. Ya. Terlihat sama tiada berbeda dari yang lain.

Aku begitu di matamu bukan?

Sebagai pengagum –yang bukan lagi rahasia, semestinya aku kunci rapat rasaku untukmu. Sikapmu terlampau jelas, sikapmu terlampau terbaca.

Takkan pernah sedikitpun aku memikatmu.

Kau punya standar. Dan aku tak ingin menjadi standarmu. Aku akan tetap diriku walau mencintaimu rela membuatku haus dan sengsara.

Aku mengagumimu, sekali lagi, entah apanya –pertanyaan yang sulit kujawab. Dan sebagai pengagum, harusnya aku tak memaksamu tinggal lebih dalam di inti jantungku.

Karena sakit jika nyata terus kosong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s