Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan?

cara-mengelola-keuangan-keluarga-baru-menikah

Source: HERE!

Di postingan kali ini gue akan banyak mengungkapkan pendapat gue terkait pernikahan. Buat kamu dengan usia 20-an tentunya sudah harus mulai memikirkan ini yagaksih?

Dan. Hal ini yang benar-benar mendasari beribu pertanyaan di otak gue. Pernikahan.

Bicara pernikahan, kita ngga hanya akan bicara mengenai satu hal. Tapi berbagai hal. Yang terduga maupun tidak. Yang bisa dibayangkan maupun tidak. Yang positif maupun tidak. Pun bukan hanya bicara satu orang. Tapi banyak.

Tanyakan ini pada dirimu masing-masing sebelum memutuskan untuk menikah.

Pertama. Untuk apa kamu menikah?

Kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan kelaminmu saja lebih baik kamu cari teman yang bisa diajak ena ena. Media online banyak. Kamu bisa menemukan orang dengan interest yang sama. Chatting sama stranger, ketemu, bercinta satu malam. Urusanmu akan selesai seketika. Jangan memaksakan menikah atau kehidupan rumah tanggamu akan seperti sayur asam yang tidak asam. Mana greget?

Kalau untuk memenuhi permintaan orang tua, lebih baik kamu suruh orang tuamu saja yang menikah.

Kalau agar tidak digunjing lagi sama tetangga karena jadi perjaka/perawan tua, lebih baik kamu sering-sering main keluar rumah.

Kalau untuk memenuhi sunnah rasul? (wait. nikah itu sunnah rasul apa kewajiban?) Jawaban ini mungkin sedang trend seiring pertambahan penduduk dan kampanye “pantaskan diri” dari berbagai pihak, juga istilah ta’aruf yang marak diperbincangkan juga oleh banyak perempuan muda. Versi lelakinya hanya tahu sedikit dari seeorang haha.

Untuk konsep ini gue tidak paham (atau tidak mau paham?), jadi gue akan membahasnya dari perspektif lain. Semua tergantung perspektif, bukan? Gue akan mengungkapkan isi kepala gue, jika ada yang ingin meluruskan menurut perspektif manapun, gue terima. Tapi memang perlu gue garis bawahi dengan keras, gue penganut paham liberal. Sangat terbuka pada arus globalisasi, mengutamakan kebebasan berpikir dan berekspresi, individualis (kalau ini sih lebih ke “maunya sih”).

Inti dari pertanyaan pertama, sejauh kamu memandang masa depan yang ingin kamu ukir dalam sejarah hidupmu, kamu perlu tahu terlebih dahulu tujuanmu untuk menikah itu untuk apa. Kalau kamu sama sekali tidak bisa menjawabnya karena kebingungan, lebih baik kamu urungkan dulu keinginanmu untuk menikah.

Cari tahu dulu untuk apa. Tentukan tujuan, keluarannya akan seperti apa, serta planning cara mencapainya gimana. Bikin matriks kalau perlu. Sekalian indikator WK.

Tapi benar. Untuk kamu orang yang idealis kadang ngga realistis seperti gue, rasa-rasanya membuat matriks untuk perancangan kehidupan pernikahan dirasa perlu. Karena dengan itu kamu jadi tahu di mana letak ke-tidak-realistis-an pikirmu, dan kamu bisa sedikit berbelok.

Bocoran sedikit, gue pun begitu. Nyesek sih. Tapi itulah hidup. Akan berbeda antara ideal dan realistis.

Di sini kita akan bicarakan idealnya. Realitanya tergantung diri masing-masing inginnya seperti apa. Dan silahkan wujudkan. Kalau gue sih ngga sekarang.

Yang perlu selalu diingat ketika keinginan menikah seringkali muncul seiring sexual drive yang menggebu-gebu, pernikahan bukan hanya berbicara tentang satu hal, sekali lagi. Bukan bicara kesenangan kelamin semata, bukan bicara kesenangan pasangan semata, orang tuanya, keluarganya, teman-temannya, tetangga, anak-anak yang dilahirkan nanti, tapi semuanya.

Kedua. Siapkah kamu untuk tidak lagi menjadi dirimu sendiri? Sepenuhnya menjadi diri yang mungkin sebelumnya bukan kamu?

Pada mertuamu nanti, kamu harus menunjukkan sisi terbaikmu. Jika kamu perempuan, kamu harus pintar masak, harus pintar cuci baju, harus keibuan… idealnya sih gitu, menurut para ibu-ibu dengan anak lelaki. Ralat. Menurut gue jika gue jadi ibu dengan anak lelaki. Ada yang mau punya menantu perempuan yang ngga bisa masak? Yang ngga bisa ngurus rumah tangga? Ngurus anak? Anjir nyusahin.

Jika kamu perempuan seperti itu, silahkan berkaca dan tanyakan: “Pantaskah saya menikah?”

Kan ada pembantu? Ya. Kalau kamu kaya dan suamimu bisa bayar pembantu mah sok aja. Tapi jadi perempuan yang ngga bisa apa-apa malu kali. Ngga berguna rasanya hidup. Lagi pula, dengan kamu yang ngga bisa apa-apa, nantinya kamu akan menciptakan pribadi yang ngga bisa apa-apa lagi.

Untuk lelaki juga sama. Harus punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan istri dan orang tua. Tanggung jawabmu bertambah jika kamu menikah, wahai lelaki. Pengeluaran bukan hanya sekedar untuk beli rokok atau pulsa internet. Tapi tagihan listrik, cicilan mobil, cicilan rumah, uang sekolah anak, lipstik istri, bedak istri, bedak anak, make up istri, tunjangan untuk orang tua, pecingan untuk sanak saudara, daaaann banyak. Udah punya duit? Udah punya bekal untuk cari duit?

Kamu juga tidak bisa hura-hura lagiHidupmu sepenuhnya harus kamu dedikasikan untuk anak dan keluargamu. Kamu harus jadi full-time-mother/father agar anakmu merasakanmu. Buat yang memutuskan untuk bekerja, silahkan siasati caranya agar anak-anakmu tetap merasa punya orang tua. Di sini yang gue maksud bukan uang. Tapi afeksi. Perhatian, kasih sayang.

Kamu juga harus pintar-pintar meregulasi emosimu di depan anakmu. Ah. Juga pasangan. Jangan sampai anak-anakmu melihat kamu bertengkar dengan pasangan, pun orang lain. Kalau iya, kamu hanya akan menanam benih kekecewaan dan perasaan tidak nyaman dalam diri anakmu. Kamu hanya akan mengajarkan cara meneriaki maling, pada anakmu. Dengan judge, dengan bentakan, dengan gumpala tangan siap memukul.

Jangan juga sering-sering menampakkan muka sedang tidak mood. Muka kesal, muka mengamuk siap memaki, muka diam, muka cemas. Kamu harus bisa menanggapi anak-anakmu dengan baik dan bijaksana. Kalau di umur 20-an masih sulit meregulasi emosi, lebih baik kamu belajar. No. Kita sama-sama belajar.

Perlu ditekankan. Hal kedua setelah kamu menentukan tujuanmu untuk menikah. Masih satu subbab siap menjadi orang lain atau tidak, yaitu: Siapkah kamu berhadapan dengan anak-anak hasil peraduan antara kamu dengan pasanganmu nanti? Itu tadi. Segala tingkahmu, apapun itu bisa jadi stimulus yang siap membentuk pribadi anakmu. Kamu harus hati-hati bersikap dengan anak-anakmu agar anak-anakmu menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dicintai masyarakat.

Kalau tidak?

Kasus MBA banyak. Narkoba, miras, sex party, tawuran, bullying, pembunuhan, pemerkosaan. Banyak. Dan gue belum tahu secara pribadi bagaimana menanggulanginya. Ya. Sampai sekarang pun gue masih mempertanyakan diri gue terkait kesiapan memiliki anak, pun kesiapan menikah, jujur aja. Anjir jujur banget.

Anak itu ibarat tabung kosong siap dimasuki apapun. Dia meniru perilaku orang di sekitarnya. Kalau kamu belum siap menjadi orang tua, ke depannya kamu akan merasa selalu kewalahan ngurus anak. Mukamu cemberut aja tiap dia rewel ngga bisa diem. kamu marah, dan impactnya… wah macem-macem.

Kamu juga harus bijak mengontrol apapun yang dimiliki anakmu. Kamu harus pandai memilah-milah barang yang dia inginkan apakah baik untuknya atau sebaliknya. Kamu harus punya kontrol pada anakmu. Kamu harus tegas BUT jangan sampai membuat dia menjadi tidak mandiri. Susah ya? Gue sih ngebayanginnya susah.

Anak semakin besar mintanya semakin segala macem. Gimana kita memberikan kebijakan dan membuat dia bertanggung jawab itu susah. Minta beli hp, besok temennya megang laptop eh dia minta laptop. Temennya naik motor, dia minta motor. Besoknya lagi temennya bawa mobil, dia ikutan pengen bawa mobil.

Gimana? Turutin jangan?

Dan yang terpenting. Penting banget. Sebelum kejauhan bahas cara mengurus anak yang sebenarnya gue cuma sok tahu aja bahasnya dari tadi, kamu juga harus persiapkan diri kamu untuk menghasilkan bibit unggul.

You know…. pendidikan, kesehatan baik fisik mental, agama kalau bagimu itu penting, pemahaman akan norma sekitar…

Rahim wanita bukan hanya tempat tempel benih, begitupun sperma lelaki bukan hanya ibarat sampah yang bisa dibuang di mana pun secara bebas. Bahkan sampah pun ada tempat pembuangannya.

Perlu dijaga kekuatan dan kesehatannya. Hindari rokok, hindari alkohol, drugs, agar anakmu tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat. Perempuan harus jaga pola makan dan olahraga rutin kalau ingin membuat rahim menjadi lokasi subur bagi benih yang akan tertanam nanti. Pun lelaki, harus bisa menjaga kualitas spermanya agar benih yang tertanam fit sampai lahir, pun sampai ia tiba dan beradu dengan kejamnya dunia.

Dan ini yang harus dipikirkan. Sudahkah kamu menjaga kesehatan fisik dan mental kamu, wahai pujangga yang ingin menikah? Gue sih belom, masih obes dan kalau maksa punya anak saat ini juga akan menurunkan beberapa persen kemungkinan penyakit yang sama ke anak gue. Makanya mau kurus dulu sebelum kawin wkwk.

Pendidikan juga utama. Teknologi semakin canggih. Kita sudah menjajaki era millenium di mana dunia media merajai. Anakmu nanti pasti jauh lebih pintar darimu. Gizinya lebih cukup (jaman sekarang makanan apa aja ada), semua kegiatan terfasilitasi (yang hobi nyanyi ada aplikasi smule, yang hobi nulis ada blog, yang suka main games segala games di android banyak, dll).

Dan siapkah kamu mendidiknya?

Bisakah kamu menjawab pertanyaan “ma, kok ade bisa di perut? terus nanti keluarnya lewat mana ma?” atau “ma ini ada apa di bawah? (sambil nunjuk penisnya)”

Pertanyaan pertama biasanya di jawab, “iya, mama abis bikin kue bayi, terus mama makan. jadi deh dede di dalem. mm keluarnya nanti mama tinggal ngeden aja dari perut kayak ee.” (lalu yang dipikirkan anakmu, adiknya nanti keluar dari pusar. atau literally “kayak eek?” WK).

Pertanyaan kedua dijawab, “itu burung, sayang. jadi harus selalu disangkarin biar ngga kemana-mana.”

Gitu ngga sih? Emang itu jawaban yang seharusnya dia tau?

Atau, parah lagi ketika anakmu mulai beranjak  ramaja dan bertanya, “pa, kalau abang liat cewek kok burung abang suka aneh gitu ya rasanya?” ataau “maaaaa, ini di apem ade kok ada buluuuuu?”

Ketika dia beranjak remaja, kamu harus pintar menjelaskan banyak hal, terutama terkait perubahan pada diri anakmu. Untuk perempuan: cara memakai pembalut yang benar, cara membersihkan dan menjaga kelaminnya agar selalu sehat, cara berpakaian yang benar (dari batas mana saja yang boleh diperlihatkan orang lain dan yang engga), membimbingnya untuk belajar menggunakan miniset lalu bra, kenapa ada bagian berbulu ada ngga, kenapa harus mandi yang bersih dan cuci muka. Uh, dan banyak.

Kalau dia lelaki: cara ia menghilangkan desiran ketika testosteronnya mulai bekerja, kasih edukasi tentang bahaya video ena ena, uh dan gue ngga tahu lagi apa yang harus gue ajari ke anak gue kalau dia lelaki dan mulai tumbuh menjadi remaja.

Bahkan belajar perkembangan beberapa semester pun bisa aja terasa kurang expert kalau berhadapan langsung dengan objeknya. Apalagi kalau nilainya C?  Well, gue belum pernah merasakan sih, punya anak. Tapi apalagi yang mengandalkan, “udaaah jalani aja dulu. lama-lama juga biasa.”?

Dan itu ketakutan gue.

Jadi orang tua harus smart. Ngga bisa kita kasih jawaban “ngga tahu” atau anak kita akan malas bertanya, malas mencari tahu, dan hidupnya tidak akan bergairah, atau sebaliknya. Parahnya lagi, karena emak babehnya ngga bisa jawab, dia cari di internet dengan keyword “kalau ada aneh-aneh di burung harus ngapain?”

Ini jawabannya!

1468785806105

ANJAY! Lihat baris headline kedua. Bisa jadi dia pikir dia akan segera meninggal!

Susah ya?

Kenapa lagi gue contohin seksualitas mulu? Yha karena perihal seksualitas yang masih dianggap tabu sehingga sangat sulit untuk dijelaskan. Kalau yang nanya umurnya 25 tahun sih ngga apa. Lah kalau anak lima tahun?

Punya anak itu ngga gampang, guys.

Kita juga harus beri pengertian dia akan Tuhan yang sampai kapan pun ngga akan penah bisa ia lihat wujudnya (dalam beberapa keyakinan). Kita harus ajarkan dia cara berdoa, dan banyak.

Hm.

Setelah tahu tujuan, dan kesiapan memiliki anak, sila tanyakan lagi pada dirimu, “modal?”

Menikah idealnya harus ada selebrasinya atau kamu akan dicap “naon sih rahasia-rahasiaan. bunting duluan ya?” Ada biaya buat penghulu, makan tamu, undangan, baju, aaahh banyak.

Bukan hanya selebrasi ketika menikah, kamu juga harus mempersiapkan modal masa depan. Tadi udah diomongin masalah rumah dan tetek bengeknya, kendaraan, dll. Utamanya lagi adalah modal untuk anakmu mencapai cita-cita setinggi langitnya. Modal untuk menyekolahkannya sampai ia memiliki modal untuk fit di dunia sebenarnya.

Ada lagi. Hal yang bagi gue sangat penting adalah cinta –yang sejujurnya definisinya bagi gue masih abu-abu. Benarkah pilihanmu tepat?

Menikah adalah menyatukan dua insan dalam satu mahligai rumah tangga yang ngga bisa dijalani masing-masing. Harus ada kompak dan kerja samanya. Harus ada toleransi dan saling pengertiannya. Harus ada rasa saling diuntungkan. Bohong banget kalau ada yang bilang, “yang penting sama kamu, aku siap memberikan apapun ke kamu.” diporotin lu namanya.

Dan siapkah kamu berbagi rasa dengan siapapun itu yang akhirnya kamu pilih? Yakin kah kamu bahwa dia yang terbaik dari yang paling baik?

Proses.

Sampai kapanpun kita ngga akan pernah tahu jawabannya, karena hati mudah berubah.

Jadi masih ingin menikah?

.

.

Atau ikutan bikin kotak-kotak isi perencanaan dulu kayak gue?

So, apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan, readers? Open for any ideas or critics or feelings. And contact me if you wanna share anything you want 🙂



Catatan:

Pemikiran ini memang berbelit. Bikin over thinking banget. Tapi percayalah. Untuk memulai sesuatu yang menjanjikan, harus dimulai dengan persiapan matang. Jangan sampai menyesal!

##ini bukan ajakan anti menikah##

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s