Cerita Patah Hati

038849300_1448500324-patah_hati

Source: Here.

Namaku Agnicia Rana. Dan aku ingin bercerita. Mengenai ketiadaanku di hatinya. Aku menemukannya, dia tidak menemukanku, itu yang ia rasakan. Singkatnya, kami dipertemukan dalam sebuah atmosfer keasingan.

Ia diam, sangat diam. Rapat bibirnya bak dua benda diberi lem super. Sulit dilepas antara keduanya. Yang ia lakukan hanya bungkam, sambil menatap layar terang benda di tangannya. Jarinya bergerak naik turun, matanya mengikuti. Aku menatapnya, mengajaknya berbicara. Membuka diri agar ia melakukan hal yang sama.

Penuh penolakan, diriku ini. Namun hatiku sekuat baja, maka usahaku tiada habis. Aku mendekatinya, berusaha menyentuh relungnya. Lalu ia mulai membuka dirinya, membuatku sedikit menyelami jiwanya. Aku begitu menikmati saat-saat itu. Menyelami dirinya. Ia tak lagi diam. Ia merespon, meski hanya sepatah dua patah kata. Aku bangga pada diriku. Ia berbagi kisahnya. Aku tenggelam.

Aku merasa ada yang berbeda. Matanya seperti penuh dengan bayang tubuhku. Ia menatapku. Satu, dua, tiga kali, empat kali…. Hingga kupikir ia menaruh hati padaku. Aku pun semakin membuka diri dan menyelami kepribadiannya. Kuharap itu yang juga ia rasakan. Kenyataannya?

Ia maju, lalu mundur. Maju lagi, mundur lagi. Suasana hatinya tak mampu diprediksi. Kadang menyenangkan, kadang tidak.

Baru kusadari… Rupanya ia bercerita jika kutanya. Aku penanya aktif, ia penjawab aktif. Begitu terus. Baru kusadari… Ketertarikannya hanya sebatas rasa penasaran yang berlalu kian ada jawaban. Dan sudah. Baru kusadari… Ia tak menganggapku lebih dari seorang yang menyenangkan. Bukan aku yang terbaik bagi hatinya. Aku telah kalah.

Aku terlambat berbulan-bulan, katanya. Lalu?

Lalu ia berpaling pada yang menurutnya lebih menyenangkan. Bukan aku, itu ucap bibirnya.

Aku hanya dua pasang mata yang tak mampu menembus celah matanya. Aku hanya sekatup bibir yang tak mampu menyentuh relungnya. Aku hanya segenggam harap yang tak diharapkan olehnya.

Tak apa, ini hanya asumsi yang tak akan kubuktikan kebenarannya.

Regards,

❤ Agnicia Rana

Advertisements

6 thoughts on “Cerita Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s