Perihal Bulan

AH. Tetiba aku teringat lagi. Tentang bulan. Kala itu aku berada di jok mobil, bersama keluargaku. Aku duduk berjajar bersama saudara sepupuku yang seumuran denganku. Tante bertanya tiba-tiba ketika melihat kami –mungkin lebih tepatnya aku– yang sedang khusyuk memandang bulan purnama di langit (langit begitu cerah malam itu, aku ingat sekali), “Tahu ngga kenapa bulan selalu ngikutin kita kalau kita jalan?”

Aku diam, yang lain berasumsi. Lupa tepatnya apa, yang jelas mobil kala itu menjadi ramai. Sepupu-sepupuku memang sangat aktif, berbeda denganku yang sangat pemalu.

Singkatnya tante menjawab, “Karena bulan letaknya jauuuhhh banget dari bumi. Dia diem. Tapi karena saking jauhnya, pas kita jalan seolah-olah dia ikutin kita.”

Aku tercengang, masih memandang bulan. Seberapa jauh ia dari bumi? Ukurannya? Apa aku bisa kesana? Bagaimana melihat orang dari kejauhan sana? Banyak muncul pertanyaan di kepala.

Aku mulai mencintai bulan.

Kedua kali tentang bulan, di malam yang berbeda. Masih saat aku duduk di bangku sekolah dsar. Hampir malam, setelah adzam magrib. Aku, Papa, Mama, dan adikku pergi memenuhi ritual mingguan kami. Saat itu hari sabtu, malam minggu. Kami duduk di mobil. Papa dan adikku di depan, Mama dan aku di belakang. Aku di sebelah kanan, di belakang kemudi.

Di tengah perjalanan, aku masih belum menyadari apa-apa sampai akhirnya ban mobil melewati jembatan layang. Di bawah sebelah kanan kiri ada pemukiman penduduk. Di ujung pemukiman di sebelah kananku, di balik rumah-tumah terjauh yang kulihat, itu dia. Bulan yang sangat besar. Besar. Itu bulan terbesar dan terindah yang pernah kulihat. Warnanya jingga, hampir sama dengan warna matahari yang mau tenggelam.

Aku mengamatinya kagum. Sangat kagum. Panorama bangunan kota dengan latar bulat kejinggaan di langit yang begitu memukau, membuatku untuk yang pertama kalinya juga menikmati kemacetan kota. Aku ingin berlama-lama menatapnya.

Ketiga, keempat, dan seterusnya. Aku masih melihat bulan sempurna yang sama. Di langit. Ada satu bintang yang menemani, sangat terlihat jika langit cerah. Kadang ia diselimuti awan berjalan, kadang sendirian saking cerahnya.

Terakhir, aku melihatnya seminggu yang lalu. Besar dengan cahaya putih kekuningan. Bertengger ia di langit, bak perhiasan yang digantung dengan ikat transparan. Ditemani desir angin yang dingin namun menyejukkan, aku memandangnya. Dari bawah, di saung reot, aku menatapnya dalam-dalam.

Indah…

Aku ingin memeluknya.

Purnama…. Sampai sekarang masih kutunggu tiap datangnya.

Advertisements

9 thoughts on “Perihal Bulan

      • Diantika Irawadi says:

        Kau yakin hanya semalam? Kupikir fase purnama itu berlangsung selama beberapa hari? (Maaf, aku tak begitu hapal fakta ilmiahnya.)

        Aku lebih baik merindukan seseorang saja (atau beberapa orang sekaligus), daripada rembulan. Ho-ho.

      • Agnicia Rana says:

        Maksudku satu malam saja untuk kau menengadah memandangnya. Kalau fasenya sendiri jujur saja aku lupa haha.
        Merindukan manusia lebih menyakitkan, Diantika. Tak pernah tahu kapan hilang rindu. Kalau bulan, ia tak akan menghianati, karena kita tahu kapan ia muncul.

      • Diantika Irawadi says:

        Ah, seperti itu maksudmu. Maafkan kinerja otakku yg lamban malam ini, Rana. Ha-ha.

        Segala sesuatu ada konsekuensinya, Rana, termasuk pada saat merindu. Selama kau menikmati momennya, kau akan baik-baik saja ketika tiba saatnya semua berlalu. Kalau soal pengkhianatan sih… tiap individu punya porsi baik dan jahatnya masing-masing. Mungkin kala itu, kita sedang tidak beruntung sehingga dikhianati? Sabar sajalah~ :]

      • Agnicia Rana says:

        YAAPPS. Aku percaya, manusia yang hidup pasti akan merasakan segala kemungkinan rasa, termasuk ketidakberuntungan. Sabar itu anugrah entah apa….tapi kita harus belajar untuk itu ya haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s