Masih Perihal Patah Hati (RECOVERY SOON)

Gue ngga tahu kenapa, mendadak pengen nulis tentang hari kemarin. Hm. Dari dua hari kemarin, di hari KKN ke-27. Sisa lima hari lagi, btw, dan gue sedikit sedih 🙂 hm. BAPER GUE BAPEERRR!!!

Sore ini, gue lagi ngedit video yang masih bejubel hm. SEMANGAT MEL! *nyemangatin diri sendiri mele :”) kapan disemangatinnya MEEEELLL? :’)))))

Dua hari yang lalu, hari sabtu tanggal 13 agustus 2016, kami –lengkapnya 18 orang karena tiga orang tidak ikut- pergi tiba-tiba guys tanpa ada rencana apapun! Diawali oleh Mega yang menjemput kami dengan kol bak dari Indramayu. YEAH! Kita liburan ke Indramayu ihiiiyyy!

Liburan kali ini menyenangkan banget sumpah!

**PENDING, baru lanjut malam ini**

Gue literally menikmati liburan kala itu meski…. gue sempat menghilang. Ya. Gue memutuskan untuk tidak bersama 17 orang lainnya karena hal yang sulit gue deskripsikan –namun gue akan mencoba untuk itu.

Baiklah. Kita mulai saja.

13 agustus 2016 malam, ketika gue melakukan kesalahan besar.

Gue sedang bingung menentukan sikap kala itu. Gimana ya gue bilangnya? Oke. Tepat hari itu adalah puncak terkumpulnya seluruh perasaan —especially ’bout “f” feeling. (“f” re: fuck) u know? Love. Yes.) Iya. Minggu ketiga bangsat, gue menyebutnya. Sorry, mungkin tulisan ini tidak akan ada filternya.

Gue (mungkin) mulai menaruh perasaan terhadap seseorang dan gue bingung menentukan sikap. Bibir yang lain nyerocos aja tentang gue dan seseorang itu. Seseorang itu diam, tertawa sedikit, lalu sudah. Gue, dengan sifat gue yang enjoyable sih fine aja, bahkan masih menanggapi dengan banyolan, kala itu, saat keberangkatan.

Tapi tidak untuk malam dan besoknya.

Gue harus bersikap seperti dua minggu ke belakang sedangkan hati gue sudah berbeda begitu?

Gue gugup, jujur saja. Ketika kami pergi cari makan lalu gue dan sesorang itu jalan paling belakang.

“Makan apa ya?”

“Gatau euy apa ya? Liat-liat dulu deh yuk.”

(rombongan di depan berbalik)

“Yah, yah, Kemana nih?”

“Kemana ya?”

(seseorang itu berbalik kemudian, aku ikut berbalik)

“Ikut deh.”

“Aku ke sana ah lihat-lihat.”

Gue sendiri pada akhirnya, pergi mencari sesuatu yang entah apa. Jujur, saat itu sedang tidak menginginkan apapun kecuali memakan kikil sapi super pedas buata gue dan Maul yang tidak habis, dan gue kecewa.

Misi gue saat itu adalah membeli nasi putih untuk teman makan kikil.

Gue sendiri, menjelajahi sisa jalan ke depan yang penuh dengan gerobak penjual makanan. Gue berhenti pada akhirnya di tempat nasi lengko, membelinya, lalu dengan malas kembali ke ujung menemui rombongan yang lain.

Semua sudah melingkar. Gue mengambil posisi tidak di sebelah seseorang itu, padahal gue ingin. Gue kebingungan kala itu, sungguh. Canggung, akhirnya ekspresi yang keluar. Dan itu begitu memalukan membuat gue muak.

Setelah selesai menikmati makanan, kami sibuk mengerjakan kegiatan masing-masing. Ada yang berlalu dari tempat berkumpul lalu mencari spot foto untuk mengabadikan momen, ada yang sibuk dengan gadgetnya, ada yang bergurau satu sama lain, ada yang duduk menghadap sungai sambil mengesap sebatang kecil tembakau berbalut kertas putih….

Lalu pilihan gue jatuh ke sana. Pada suatu kekeliruan.

Seseorang itu menatap gue dengan pandangan ketidaksukaan. Faktanya ia memang tak menyukai perbuatan gue. Pun gue, ternyata.

Seseorang itu tidak menyukai gue, pun tingkah laku gue malam itu. Gue ulangi lagi, agar terngiang betul bahwa ini faktanya.

Masih ingat tulisan gue berjudul “Ini Baper Kayaknya?” haha tentu hanya beberapa yang tahu. Di sana gue menjabarkan fakta tentang mata seseorang itu. Matanya yang gue kira menatap gue berkali-kali.

Tanggapan itu salah besar, kawan!

Fakta ini diperkuat beberapa jam kemudian, ketika gue dan beberapa teman lainnya bermain truth or truth. Permainan yang bangsat, sih. Gue bukan apa-apa bahkan baginya. Gue hanya pemeran pembantu dalam kisahnya. Yap. Baca baik-baik setelah tulisan ini. Gue hanya pembantu yang membantunya berbaur dengan yang lain. Picik banget pikiran gue, seperti orang yang butuh balasan akan perbuatan baik yang sudah diperbuat haha. Busuk banget gue kan?

Malam itu –entah pagi itu karena sudah lewat pukul 12:00 malam, fakta itu berhasil menusuk ulu hati gue. Pedih. Bukan pedih biasa. Gue bukan orang dengan need of apreciation yang tinggi, jujur saja. Untuk itu, mungkin gue orang yang paling ikhlas. Tapi bukan saat itu, malam itu, ketika fakta itu keluar.

Gue bersedih.

Bodohnya, gue menutupinya dengan aib gue yang lain. Gue memanipulasi alasan dibalik kesedihan gue. Dan memang tidak semua orang berhak tahu, karena kepedihan gue sangat memalukan. Tapi gue memutuskan untuk itu, betapa bodohnya. Lagi-lagi perasaan ditolak muncul.

Hati gue patah. Dada gue remuk ditekan berbagai emosi.

Gue mengesap kepedihan, menghasilkan abu tebal kenistaan, untuk kedua kalinya. Seseorang itu tahu gue melakukannya lagi.

Gue bertindak keliru lagi, dan kekeliruan itu berhasil membuat gue tertidur tanpa satu mimpi pun.

14 agustus 2016, ketika sendiri menjadi pilihan.

Gue terbagun di pagi yang sudah tidak terlihat gelap. Seseorang itu menjadi orang pertama yang gue lihat kemudian. Ia mendengkur tanpa suara, bernapas tanpa terlihat hembusannya.

Bahagia, yang gue pilih pagi itu.

Kami tertawa bersama sambil menyusuri panasnya sebagian kecil kota Indramayu di beberapa jam kemudian. Hingga gue bosan dengan langkah lamban orang sekitar. Gue memilih untuk tidur, dan itu pilihan yang salah, karena setelahnya gue merasa terasing. Kata-kata gue bukan penggerak langkah. Semua berjalan santai, gue tidak, karena di sana (destinasi wisata kami) ada penyembuh hati gue yang sedang menunggu.

Agen E.

Sebelum memutuskan untuk tidur di pukul 10 pagi itu, gue sengaja menghubungi Agen E untuk jadwal pertemuan. Terkesan memaksa, karena bawah sadar gue ingin memisahkan diri –gue baru sadar sekarang. Dan seperti biasa, Agen E datang tepat waktu, padahal rombongan kita seakan tidak ingin bergegas.

Panas di tubuh gue naik. Gue panik. Gue marah. Diam menjadi pilihan, membuat gue teringat fakta semalam. Perihal kecanggungan, perihal yang katanya kejujuran padahal beberapa BOHONG, perihal patah hati. Kepala ini semakin panas dan gue memilih untuk diam sambil menatap jalan di belakang.

Alis gue mengkerut, bibir gue membentuk huruf U, gue diam sepanjang perjalanan.

Sampai di tempat destinasi, gue segera mengambil langkah seribu menuju Agen E. Gue meninggalkan rombongan, lalu berjalan menyusuri pasir pantai berdua dengan Agen E dan mulai bercerita.

Di situ, gue merasa under apreciate abies.

Ke semuanya. Dari mulai video gue semua yang bikin tapi yang share cuman beberapa orang –walaupun gue yakin semua buka video editan gue, lalu anak cowok –ada satu nama tapi gue ngga mau sebut namanya- yang tidak sedia setiap saat untuk membantu gue tapi ke yang lain (re: yang lebih potensial) ia bantu sesuka hati, masakan gue dan Maulita yang gagal (terbaca: capcay dan kikil), dan terhitung yang terlihat peduli dengan perasaan gue saat itu hanya dua orang.

Gue mempertanyakan, “siapa sih aing buat kalian?”

Banyak yang lebih senang memuji orang lain, tapi gue dibully mulu. Seriously! Kamu yang baca berhak tahu kalau di hari pertama sampai kostan aja nama gue sudah bertengger menjadi nama kucing. Kucing guys! Namanya Amel! Setelahnya, gue hanya menjadi bahan tertawaan, lewat ironi yang gue selalu lontarkan tentang seseorang itu –tentang penolakan. That’s fine, guys, really. Tapi bukan untuk saat itu.

Perencanaan-perencanaan gue –yang gue inget banget sih perihal SLB- yang tidak begitu diindahkan entah karena ketakutan personal atau apa. Lalu ajakan gue untuk semua berkumpul melingkar dan membahas ketidaksukaan satu sama lain yang ya…….tidak juga ada yang bergerak.

I think no one care about “US”, saat itu. Gue pernah mencoba untuk peduli tapi yang lain tidak terlihat begitu. Yang terngiang di kepala gue saat itu adalah kata-kata seseorang, “Ya ngga peduli juga sih”. OK. Sounds SHOOOO GOOD. 

Lagi…. Gue diceng cengin terus-terusan sampai dipikin baper, lalu gue patah hati. That’s fine super fine really im not kidding karena benar memang bahwa hati gue sekuat baja. Gue benci penolakan tapi nyatanya gue ditolak terus dan gue masih bisa hidup dengan nyaman. Tapi bukan untuk saat itu.

Dan.

Tidak ada satu pun yang mencari gue dan memberi informasi keberadaan mereka saat itu. Oke, ngga apa. Pun kalau ada yang PM gue nanya gue di mana gue akan pura-pura ngga baca. Gue amat membenci mereka semua kala itu.

Itu hari terburuk gue bersama ke-20-orang itu.

Perihal di atas merupakan hal-hal yang gue ocehkan ke telinga Agen E sambil berjalan menyusuri hutan mangrove. Kebanyakan ketawa. She is my moodbooster really! Emak kesayangan bayi dugong :*

Gue belum siap menatap bahkan bertemu mereka sampai akhirnya gue naik ke atas menara pertama setelah keluar hutan mangrove. FUCK I looked them. They were so happy I swear I recorded the sweetest memories about them on my brain! They were so happy and i’m not. That “someone” yang sedari tadi gue sebut pun terlihat se-bahagia-itu. Mereka kejar-kejaran, mereka foto bareng, mereka ketawa..

Itu kebahagiaan tertulus yang pernah gue lihat.

Dari jauh. Dan gue tidak ada dalam frame itu. They were so naturally blended.

Seketika yang gue pikirkan: OH MY GOD OUR TIME TO GO HOME AND LEAVING EACH OTHER ARE TOO CLOSE! WE JUST HAVE LESS THAN SEVEN DAYS TO GATHER, TO KNOW EACH OTHER. OH MY GOD WHY TIMES FLIES SO FAST AND I HATE IT!

Gue melupakan kebencian gue seketika. Mereka kebahagiaan gue di rumah orang. Mereka hiburan gue. Mereka keluarga gue.

Gue mencintai mereka setengah mampus. Entah sampai kapan. Gue tidak menjanjikan lama, sesungguhnya, karena gue paham betul bahwa rasa begitu mudah berubah. Tapi memori di kepala gue tentang mereka masih terlihat begitu jelas hingga malam ini. H+11 kepulangan.

Gue memunculkan diri pada akhirnya, mengikuti mereka dari belakang. Setelahnya, hanya perasaan lega yang terasa. Nyebur ke pantai, naik banana boat super murah cuma 15 ribu, nyolek-nyolekin orang yang ngga mau nyebur dengan kaki yang penuh pasir pantai….

Tapi dengan tenggat waktu beberapa jam ternyata, karena tetiba gue kumat lagi dengan alasan yang tidak ada. Mood swing ini begitu membunuh.

Gue diam lagi di kendaraan sampai tiba di kontrakan.

.

.

**WAIT GIMME A SECOND TO THINK ABOUT WHAT THE CONCLUSIONS THEN**

.

.

Oh.

Perihal gue yang patah hati.

Dua hari kemudian, tepat pertama kali gue memulai menulis tentang ini, gue kembali berpikir. Apa seyogyanya inti dari rasa ini? Baper biasa kah? Atau lebay kah saking gue kepedeannya? Atau apa?

Padahal fakta itu terlihat begitu jelas.

Gue mencoba bersikap se-biasa mungkin. Se-normal mungkin kepada siapapun termasuk seseorang itu. Sejauh itu, kuantitas jodoh-jodohan dari teman-teman yang lain semakin berkurang. Mungkin bosan? Atau memang terlihat ada yang berbeda dari gue.

Jawaban inti dari rasa ini ada di malam terakhir di sana.

Gue akhirnya cerita ke teman terdekat gue named Maulita perihal menghilangnya gue dari peredaran saat liburan kemarin. Dari pembicaraan itu, sempat terlintas keinginan untuk jujur pada diri gue dan seseorang itu terkait perasaan gue. Bukan nembak, hanya sampai pada titik menjelaskan alasan dibalik kebaperan gue.

Gue berpikir lama, sampai kepingan fakta lain begitu jelas terlihat, membuat memori gue kembali ke hari-hari sebelumnya.

Oh. Gue sering melihat seseorang itu duduk di sebelah seseorang lain. Orang yang ia sukai, ternyata. Orang yang deminya ia rela mengorbankan satu hal yang tidak akan gue jelaskan di sini. Itu pengorbanan yang terlalu terburu-buru, dan ia sangat berani untuk itu.

Di malam terakhir gue berbuat curang. Gue membaca isi surat dari seseorang itu (dia juga menulis untuk ke-19 lainnya kok).

Yang gue tangkap dari rulisannya:

  1. Dia risih, dia jijik, ketika dijodoh-jodohkan dengan gue. Benar saja. Gue sudah bisa menebak di awal. Gue bukan siapa-siapa. Hanya medianya bisa dekat dengan yang lain. Harusnya gue bangga ya? Tapi keterpaksaan itu yang menohok ulu hati gue (lagi).
  2. He cares about me. Atau perihal ketidaksukaannya akan perilaku gue malam itu?
  3. Dia berterima kasih. Dia mendoakan kesuksesan untuk gue. Thanks balik bray!

Gue melakukan satu kecurangan lain, untuk membuktikan rasa seseorang itu kepada orang lain itu. Benar saja.

Ya. Keputusan gue bulat. Tepat di malam terakhir. Gue tidak akan pernah menyatakan perasaan gue. Gue takut penolakan. Gue benci penolakan. Gue tidak akan membuat diri gue diinjak oleh penolakan.

Ya. Gue bisa mulai menentukan sikap. Se-normal mungkin, kembali seperti minggu-minggu ke belakang.

My heart was broken.

Bukan perencanaan untuk itu yang gue buat. Gue tidak berekspektasi apa-apa padanya kecuali dia tahu perasaan gue sesungguhnya. Nyatanya gue tidak menyatakan apapun. Yeay gue aman dari rasa hina terhadap diri sendiri.

***

Fakta mengejutkan lain datang, beberapa hari yang lalu. Perihal seseoraang itu dengan orang lain itu. Membuat gue tertawa, tapi terasa pedih. WOW. I’m so lucky but in the other hand I feel very NO. BIG NO!

Tapi sekarang feeling lucky lagi haha.

Malamnya, sepulang kegiatan yang akhirnya membuat gue tahu fakta itu, gue memutuskan untuk mewarnai rambut gue. Tepat pukul 22:00 malam, sesampainya gue di kost, gue mengetuk pintu teman kost gue dan memintanya mengaplikasikan pewarna rambut ke rambut pendek gue.

AND THIS IS IIITTT!

new!

NEW AND AILOVIT!

Gue akui, di pikiran gue malam itu adalah: Apa yang harus gue lakukan untuk membuat gue terlihat bahagia. DAN INI! Bisa mengekspresikan diri adalah kebahagiaan hakiki gue. Mewarnai rambut, menulis, itu adalah cara terbaik memamerkan kebahagiaan bagi gue.

Gue akan sembuh segera.

Gue tidak akan bertele dalam kepedihan. Toh apapun yang masuk ke dalam memori dan afeksi kita akan kita lupa kemudian jika memang kita ingin. Hidup itu perihal melupakan dan dilupakan, bener banget kata teman gue (re: kata Nyun).

So, gue yang labil sudah menemukan jalan –setidaknya untuk saat ini- untuk membahagiakan diri gue sendiri.

Yang perlu diingat, “semua lelaki yang meninggalkan kita itu brengsek!”

Jadi saat kamu ditolak, jangan bersedih, ladies! Yang brengsek itu bukan untukmu. Karena lelaki yang setia mencintaimu tak akan pernah meninggalkanmu. #EA #QUOTEPAGIBUTA

Gue ngga bilang seseorang itu brengsek ya karena faktanya tidak pernah ada satu perjanjian pun di antara kami berdua untuk memagari perasaan dan diri masing-masing dalam satu mahligai. ETAPI kan dia udah bikin gue baper ya? HAHA. Bodo deee.

Nampaknya ini postingan terpanjang gue dengan lebih dari 2300 kata.

Gue bercerita bukan untuk memojokkan pihak tertentu. Tapi kalau menghina, mengasihani, memaki diri gue sendiri sih iya. So, jikalau yang merasa bersangkutan membaca ini dari awal hingga akhir ataupun tidak namun memunculkan asumsi tertentu, jangan pastikan atau tanyakan apapun.

Perasaan gue hampir netral. Biarlah proses penyembuhan hati ini berjalan mulus semulus pantat bayi umur 3 bulan. Biarlah gue menikmati proses penyembuhan ini dengan damai. This is me. Orang paling terbuka yang pernah gue kenal. Orang paling sering baper tapi ngga pernah kapok baper.

And i’m ok with myself.

❤ Amelia

 

Advertisements

6 thoughts on “Masih Perihal Patah Hati (RECOVERY SOON)

  1. Diantika Irawadi says:

    Oke, Amelia. Sukses buat masa penyembuhannya. I’ll be here whenever you need someone to talk. Ketemu lebih baik sih kayaknya, meskipun enggak janji bisa mengimbangi keceriaan dan kecerewetanmu. Ha-ha. XO

  2. qurrotaayunda says:

    Hallo cantik, bayi gajahkuuu, semangat terus, di dunia ini masih banyak hal yang bisa dilakuin dari pada patah hati berkelanjutan, makan siang sama aku contohnya, ditunggu yah hihiw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s