Menyembuhkan Luka

Terluka, tidak pernah terbesit sedikitpun untuk merasakannya. Tidak sama sekali, tidak ingin sama sekali. Kita, yang dipertemukan oleh permainan pikir dan ketidaksengajaan. Ingatkah kau kala itu, di hari ke-5, kau tiba-tiba bertanya apa yang membuatku akhirnya memilih tempat itu, tempat kita bertemu?

Ketidaksengajaan bukan? Kau pun begitu.

Lalu aku… Rasaku dipermainkan oleh waktu yang berjalan seenaknya. Aku ingin meminta maaf untuk itu. Maaf, sekali lagi. Agar aku yakin bahwa kau tak apa dengan ungkapan di kalimat-kalimat berikutnya.

Kita dipermainkan oleh kebiadaban iklim tempat kita pernah menjalankan aktivitas bersama. Rasa itu tumbuh seiring bisikan kebiadaban yang menusuk saking kusadari ketidaknyamananmu berada di sana.

Kuakui kau belajar. Memaksa dirimu sendiri untuk terlihat menyenangkan dan dapat diterima oleh semua. Aku melihatnya, betapa sulitnya kau bersikap biasa dengan ketidaknyamanan di dada. Iya. Tak ada satu orang pun yang senang dijodoh-jodohkan dengan orang tak menarik sepertiku, kau paham betul rasanya.

Sampai rasa itu tumbuh…

Rasa itu tumbuh, kau harus tahu. Bukan karena penolakan darimu yang dengan jelas terlihat. Namun karena tatapmu yang salah kuartikan. Karena kau ternyata menyimpan racun di matamu (Boy Candra, Usaha Untuk Melupakan). Racun yang kedap tak terlihat dan terasa, yang demikian membuat pilu hati yang mencoba untuk bertahan pada rasa yang seharusnya –tidak merasakan apapun.

Aku benci menjadi bodoh karena tidak dapat menafsirkan apa yang terlihat dengan begitu jelas.

Itu di minggu ketiga. Di minggu bangsat.

Rasa itu, sekali lagi, berkali-kali lipat tumbuh, lalu bak menetap di dadaku. Aku merasa ketidaknormalan tiba begitu saja. Apa kau merasakannya? Apa kau melihat ketidaknormalan itu?

Seharusnya kau lihat.

***

Aku membencimu saat itu. Namun aku jauh lebih membenci aku sebagai diriku. Bagaimana mungkin aku merasakan hal bangsat itu? Aku tahu kau punya seseorang di sana yang kau sebut kekasih, dan ia sedang menunggumu, aku yakin.

Kukira kau akan sehebat itu mempertahankan rasamu padanya. Kau ingat kau pernah bercerita tentangnya dan perempuanmu sebelumnya? Kupikir lewat ceritamu itu kau sungguh lelaki luar biasa yang mampu menyayangi perempuanmu dengan utuh. Maka aku tak akan berharap apa-apa, janjiku.

Lalu aku bertahan pada diam. Lagi, mengesap manis dan menumpuk pedih. Aku patah hati.

Orang yang sedang patah hati punya hak untuk cengeng.

-Boy Candra

Aku menulis ini, bukan semerta membuka luka, apalagi mengharap belas kasih dari orang sepertimu. Hal paling hina yang pernah kulakukan yaitu mengakui cinta -mengakui sakit hati- seperti ini. Sadarkah kau bahwa aku sedang mencoba menyembuhkan luka?

Luka yang tak pernah kau buat, namun seolah kau pemeran utama. Jangan khawatir. Luka ini kubuat sendiri, muncul dari relungku yang tak terima akan ketidakberdayaanku menahan sesak kala mengetahui segala tentangmu. Keputusanmu, perlakuanmu padanya pun padaku, sikapmu pada dunia…

Aku belum sembuh, kuakui.

Aku belum bisa memandangmu sebagai kamu di dua minggu pertama kita berkegiatan bersama. Kamu telah berubah di mataku. Kamu bukan lagi seperti teman yang butuh pertolongan. Misiku bukan lagi membuatmu menjadi tidak diam dan dapat berbaur dengan yang lain. Berbeda. Dan aku tidak menikmati perbedaan itu.

Aku belum sembuh.

Aku menyadarinya kemarin, ketika mata kita bertatap, pun raga yang bersentuh. Sedikit. Hanya ketika kita bersalaman. Kau dengan cinta barumu, aku dengan terkejutku. Kau dengannya. Tak apa, aku tak masalah. Asal tidak bertemu kau, jujur saja.

Iya. Aku belum sembuh.

Maka aku menulis ini, agar diriku semakin sadar bahwa menyimpan rasa padamu adalah sebuah kesalahan besar. Menyimpan rasa padamu hanya membuatku sesakit ini. Sesakit sakitnya hati yang menyimpan pedih. Bak jantung yang tertusuk ujung tombak panas bahkan ketika aku tak mencoba untuk melawan. Aku menahan pedih itu.

Maka aku menulis ini, sebagai obat penyembuh luka. Luka yang sekali lagi, tak pernah kau buat. Luka yang datang dari diriku sendiri akibat respon dari rasa kesepian. Pun tak ada satu orang pun yang bisa menutup rasa itu. Wajarlah aku terlihat semenderita ini.

Maka aku menulis ini agar aku belajar memberi tahu diriku sendiri. Mencari-cari di mana letak kurangmu dan berbahagia sebisa mungkin. Itu akan menyembuhkan luka, harapku.

***

Aku baik-baik saja.

Aku menemukan fakta lagi. Kata seseorang, seharusnya fakta itu mampu membuatku menyadari bahwa kau bukanlah yang kucari. Kau bukanlah yang terbaik. Kau bukanlah yang seharusnya mengisi hatiku yang begitu lemah.

Kau tak akan membuatku berjalan lebih baik. Kau bukan yang kuingin.

Lalu aku mendapati lagi kau yang begitu lucu. “Lucu”, bukan lucu seperti anak bayi yang sedang tidur sambil tersenyum. Bukan lucu seperti itu, kau pasti tahu apa yang kumaksud. Ini keluar dari mulutmu sendiri malam itu, dan sekarang kata itu yang begitu terngiang. Kau begitu mudah menyukai perempuan, akumu.

yang bersetia akan selalu menjaga yang ia punya.

-Boy Candra

Apa yang kau bicarakan malam itu tidak kurang dari sebuah kebalikan fakta. Tindakmu berbeda, membuatku geleng kepala. Kau belum pernah merasakan cinta. Kau hanya butuh seseorang yang dapat berdiri tegak di sampingmu. Jika tak ada, kau dapat dengan mudahnya banting setir dan berbelok.

Ini pendapatku saja, silahkan menilai diri sendiri.

Singkatnya, sekarang aku yakin dan begitu percaya bahwa kau bukan yang kucari. Bagaimana mungkin aku menaruh hati pada ia yang tak menaruh perhatian seutuhnya padaku?

Aku mencari ia yang rela mengakuiku pada siang dan malamnya. Pada hidup dan kehidupannya. Pada dirimu sendiri. Sedang kau tidak.

Kau sangat tahu betapa aku ingin mendapat perhatian. Dan itu yang kucari. Bukan kau yang tak bisa melihat lebihku. Bukan kau yang tak bisa melihatku dengan segala kualitas yang kupunya.

Aku tak pernah bilang bahwa pilhanmu salah besar. Hanya aku yang salah di sini. Menaruh rasa pada sebatang pohon besar yang lebih membutuhkan air, bukan angin. Anggap ia air, karena ia lebih mampu menumbuhkanmu. Angin hanya membantumu sedetik, lalu jika terlalu banyak kau dapat tumbang. Tapi kau bisa menyimpan air semaumu.

Itulah kesalahanku.

Sebesar apapun kualitas yang kupunya, bukan aku pula yang kau butuhkan. Rasa bangga pada diriku pun bukan jaminan utuh bahwa aku sempurna di matamu. Kenyataannya memang tidak, bukan?

Aku baik-baik saja selama tak bertemu denganmu, sejauh ini. Aku akan sembuh seiring berjalanya waktu. Cepat atau lambat, kau hanya akan menjadi kisah masa lalu yang pada saatnya nanti akan kutertawakan.

Pada saatnya nanti aku hanya akan menjadikanmu sebagai sebuah cerita klasik masa lalu yang kuingat, namun tak dapat kurasakan lagi. Kau hanya akan menjadi kisah yang tak berarti. Kau hanya akan menghilang dari pikiran seiring aku yang mulai merelakan ketiadaanku di hatimu.

Tak apa. Hanya perasaan itu yang akan luntur, aku janji. Bukan tentang kita yang dulu pernah berjajar bersama dan bercerita sedikit, bersama teman-teman lain. Aku akan melupakanmu sebagai dirimu, bukan sebagai keluarga yang pernah menjadi saksi hidupku selama satu bulan itu.

Jangan berasumsi hal-hal lain selain apa yang sudah kutulis di sini.

Aku tak apa, selama tak bertemu denganmu, sekali lagi. Aku ingin benar-benar sembuh, maka bantulah aku. Aku ingin benar-benar dapat tertawa di hadapmu lagi, maka tunggulah hingga aku siap.

Kau, dan perempuanmu, atau siapapun yang membaca ini dan peduli denganku, biarlah aku menikmati sekaratku sampai aku hilang sadar, lalu menemukan kembali sadarku hingga akhirnya aku menyadari bahwa setelah aku membuka mata kemudian, itulah hidupku.

Tertawa hingga terbatuk mengeluarkan dahak. Tertawa hingga seluruh lemak di tubuh bergerak naik turun. Tertawa hingga rasa dada sesak dan ingin menangis. Tertawa hingga aku tak pernah menyesal karena ketiak dan dahi yang basah…

Itu bahagiaku, maka biarlah aku menyembuhkan luka ini hingga aku yakin betul bahwa rasa ini hanya sebatas rasa yang akan berhenti ketika aku telah siap.

❤ Amelia

Advertisements

6 thoughts on “Menyembuhkan Luka

  1. Diantika Irawadi says:

    Mel, aku mulai habis kesabaran, jadi kupanggil dia si berengsek skrg. Kau boleh saja menghindarinya, sejauh yg kau mau, sesering yg kau inginkan, tapi jangan di saat kami berharap kau baik-baik saja dengan semua ini.

    Beberapa orang mulai peduli dengan apa yg sebenarnya terjadi. Mereka ingin membantu, menolongmu dan yg lainnya agar tidak terus terjerumus dalam lubang yg salah meski kau pikir (tadinya) itu jalan menuju akhir yg bahagia.

    Aku baru tahu betapa berengseknya ia belum lama ini. Aku menyesal, jujur, mengabaikan kesan pertama yg ia tunjukkan sebelumnya dan lebih percaya pada apa yg kusebut sebagai kejujuran yg berusaha ia sodorkan kala itu. Aku kecewa ketika menyadari bahwa ia pernah mengatakan kebusukannya, di depan kau atau siapa, aku lupa tapi mengetahuinya, tapi kuabaikan begitu saja karena kupikir ia berusaha untuk menempatkan dirinya secocok mungkin. Aku berusaha percaya pada apa yg kulihat, Mel, hingga kini aku sadar bahwa aku seharusnya ada di barisan terdepanmu–menghalangimu untuk terluka lebih dalam karena orang seperti si berengsek itu.

    Maafkan aku karena luput melihat hal itu. Maafkan aku karena tidak melindungimu ketika aku punya asumsi dan spekulasi. Maafkan aku karena terlambat menyadari, bodohnya aku, bahwa tipikal lelaki berengsek mudah sekali kau tebak dari gerak-geriknya.

    Aku tak tahu. Aku luput melihat semua itu. Maafkan aku.

    Dan untuk kau yg masih berjuang menyembuhkan luka, kuharap kesibukan yg kau pilih bisa sedikit-banyak membantu. Kuharap menghindari beberapa orang tidak membuatmu kesepian. Kuharap kau bisa segera menjadi dirimu yg ceria dan apa adanya, bukan kau yg bertopeng karena berusaha menjaga imej atau menahan perasaanmu dari seseorang shg membuatmu jadi tidak nyaman. Kuharap kau segera sembuh, Teman. Badai pasti berlalu. Kau pasti sembuh. Segera.

    • Agnicia Rana says:

      Aku tak akan menghindari kalian, Nyun. Aku mencintai kalian, meski kalian punya cinta yang lain yang sebisa mungkin selalu kalian jaga sepenuh jiwa. Aku lebih mencintai kalian dibanding membencinya, maka rasa cintaku selalu menang.
      Tidak, teman. Kau telah memperingatkanku waktu itu, di malam hari saat kita berdua bercerita, ketika kutanya kau, “Apa yang kamu lihat dari dia ke aku?” lalu kau menjawab, “Penolakan, as usual.” Dan ya. Meski sedih, dari situ dorongan untuk membuang jauh-jauh rasa pun muncul. Itu juga yang dilihat orang, ternyata.
      Pasti, Diantika! Aku akan sembuh secepat yang kubisa. Maka aku butuh untuk tidak bertemu dengannya. Dan aku tak ingin dia atau cintanya mengonfirmasi apapun. Cerita mereka ya sudah, silahkan mauk ke dalam memori dan relung mereka berdua. Aku tak ingin tahu kebenaran apapun. Terima kasih, Diantika ❤
      Oh iya satu lagi. Jangan sebut dia begitu, Diantika Aku tak ingin kau ikut membencinya. Rasionya cukup baik, bisa kau ajak bercerita mengenai kehidupan berorganisasi yang mungkin akan membantumu.

      • Diantika Irawadi says:

        Kendati begitu, bukankah kau lebih memilih lari daripada menghadapinya?

        Aku memang tidak yakin apakah aku tidak akan melakukan hal yg sama atau justru sebaliknya. Tetapi maksudku, bukankah lebih baik kita sembuh untuk seterusnya dan bukannya sesaat saja? Siapa yg tahu setelah kau merasa sembuh, tetapi kemudian bertemu lagi dengannya, lukamu justru terkoyak lagi? Aku tidak mendoakan yg buruk-buruk, oke? Hanya berandai-andai. 😦

        Dia lelaki berengsek, Mel. Itu maksudku, jadi sayang sekali kalau penyembuhanmu harus kau lakukan sambil berpaling, bukannya menghadapi si berengsek itu. Biar dia tahu diri. Dia tidak boleh merasa menang atau dibiarkan menang. Kau tidak pantas kalah dari si berengsek.

      • Agnicia Rana says:

        Aku belum siap memang, entah sampai kapan. Dan aku sedang mepersiapkan diri untuk itu, untuk dapat melupakan. Lagipula, tak ada hal yang mempersilakan kami bertemu dalam dekat waktu ini. Itu kesempatan untukku mengobati hati. Pada saatnya, aku akan menghadapi matanya, aku janji.

  2. Qurrota A'yunda says:

    Lukamu lukaku, sedihmu sedihku kawan, jika dihari esok kamu masih terluka lagi dan lagi, aku akan menghalangi semua cerita yang membuatmu semakin tertusuk. Biarkan dia masih memilih, biarkan dia masih mencari, asal dia bukan memilih mu, asal dia bukan mencarimu.

    Ingat lagu banda neira yang kau perkenalkan padaku? Yang patah tumbuh, yang hilang berganti, yang sia sia akan jadi makna. Aku yakin lirik itu akan nyata buat mu, dan aku yakin kamu sembuh dari luka itu, dengan melangkah membelakangi dia, maka langkah itu pun yang menyembuhkan luka mu

    Ayo rana jangan hanya melangkah, lari sekencang yang kau bisa!

    • Agnicia Rana says:

      Jangan begitu. Aku ingin tahu buruk dirinya, biar diri ini puas tertawa dan semakin yakin bahwa ia tidak pantas untukku. Aku akan bisa menenggelamkan rasa ini, aku janji. Setidaknya luka ini adalah luka yang kubuat, bukan kesepakatan antara kami berdua. Jadi aku tak akan jatuh lagi untuknya, aku janji.
      Terima kasih, sahabatku! Aku pasti akan sembuh, aku janji padamu juga diriku sendiri 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s