Lantunan Sepi

Aku, lagi-lagi menulis. Perihal sepi yang tak kunjung ramai.

Aku kesepian. Terus saja begini sampai lupa. Tapi rasanya terus-terusan dan belum habis sepinya, maka aku belum lupa.

Maka sepi masih dirasa.

Adakah satu waktu yang adil? Yang mempertemukanku dengan ramainya malam tanpa kelam.Yang membasuhiku dengan deringan rasa bahagia saking terlalu keras tertawa. Yang membawaku pada pengharapan: aku tak akan pernah sendiri lagi.

Punggungku kelu berharap ada yang paham bahwa ia butuh usap, begitupun rambut yang selalu kutata serapih mungkin, juga bibir yang selalu kujaga kelembabannya.

Adakah satu hari yang adil?

Aku kesepian.

Aku butuh perangai. Agar sepi mampu kusamar. Apa lagi?

Adakah satu hari yang adil?

Satu hari saja, agar aku tak menangisi kepedihanku sendirian.

Adakah satu hari yang adil?

Yang membuatku merasa dunia selalu baik, tak pernah kejam.

Adakah satu hari yang adil?

Jika iya,

biarkanlah ramai rasa di dada dengan debaran kata,

“Terima kasih, Tuhan.

Aku tak sendiri lagi.”

Advertisements

3 thoughts on “Lantunan Sepi

  1. Diantika Irawadi says:

    Aku hendak bicara ttg Tuhan, tapi sesungguhnya aku tidak tahu seberapa baik dan dekatnya hubunganmu dengan Tuhan. Maka aku hanya akan mengatakan ini, kau tidak sendiri atau perlu merasa kesepian, Teman. Kau bisa berterima kasih dan bersyukur meskipun kenyataannya kau merasa asing di tengah keramaian. Kau lupa pada hal-hal yg sebenarnya ada, menemanimu, tetapi tidak menunjukkan keberadaannya secara jelas atau kasat mata, sehingga rasanya kau tetap seorang diri.

    Buka mata dan hatimu lebar-lebar, tengok sekelilingmu, di antara keramaian itu mungkin ada seseorang yg berada di posisimu, maka kaulah atau dia yg memulai? Kadang kala yg membuat kita merasa sepi adalah diri kita sendiri, jadi berbaurlah, beradaptasilah dengan sekitar, dunia itu sebetulnya sangat ramai dan penuh sesak. Mungkin sesekali kau bisa berbicara pada semut atau serangga, seperti dalam dongeng, kalau kau juga masih merasakan hal yg sama. 😂

    Omonganku ngelantur, maafkan, yg jelas “You never walk alone.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s