Segenggama

Begejolak bak api panas yang meliuk di dasar laut

Mencari energi yang menghimpit dalam aroma nakal

Tenggelam dalam hausnya lingkaran

Menggema bak kata di rawa

Terbesit ragu namun tetap menyisir

Berharap ada sedikit titik yang menyingkap di antara tirai

Meluap-luap terbakar

Menari-nari melupa ironi

Seakan memanggil untuk mencoba

Namun telinga tertutup lalu memungkiri

Tetapi mengangguk dan diperbudak oleh desiran kian panas di ujung jari kaki yang kian merangkak naik ke atas

Bejat dan intuisi seakan berbunyi sama

Lepaskan dengan hormat mengatasnamakan keindahan

Meniadakan jenis melupakan tahta

Menanggalkan nama dan selempang

Menerkam liar memangsa setiap bagian kecil membuat diri lupa bahwa berat pundak masih terasa

Melayang-layang beradu padu menuju satu tingkat di atas

Lalu gusar pada satu titik berharap bebas

Cemas namun tak menjadi halangan saling bersentuhan

Saking terbuai lumatan kisah di selangkan

Liur mengalir di antara gersang penanda tubuh mulai bekerja, membuat bibir bungkam pada kecupan

Yakinkan diri untuk tubuh ini hinggap di antara tubuh lainnya

Dan merasakannya bergetar hingga dopamin melebur dan senyum mengembang

Created by Double A.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s