Almost

Dibalut sinar matahari yang sedikit dan kelembaban yang hampir 100%, di hari minggu yang sangat mengerti tuan dan puannya. Membuat semua ingin terlelap saja di antara empuknya ranjang dan hangatnya selimut tebal. Begitulah arti bersyukur. Sedikitnya dapat menikmati gerimis yang datang di pagi hari tanpa memikirkan apapun selain “bagaimana caranya seseorang dari jauh sana datang kemari, ke singgasana yang sejak hari lalu dibenahi agar terlihat indahnya?”.

Tidak sampai tiga jam lagi seharusnya sudah bertemu. Namun pagi berbalut awan banyak seakan menambah keheningan berbalut ketakutan yang sangat. Apa sesuatu yang sudah direncanakan tanpa ragu akan berlalu begitu saja?

Hampir di waktu pertemuan, namun angin belum memberi kabar. Sedikitpun. Membuatk puan begitu khawatir akan rasa dan respon yang mungkin muncul kemudian. Bisa jadi yang nantinya akan diprioritaskan itu berbalik arah lalu hilang ditelan kejauhan. Meninggalkan puannya sendiri, yang tanpa disadari telah berharap.

Hai, Tuan, di manakah engkau?

Apakah kau masih bertarung dengan mimpi di alam bawah sadarmu, atau kau sedang berpikir untuk tidak datang pada puanmu yang telah berharap?

Jika yang kedua, silahkan pergi saja, Puan akan mencoba berlari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s