That First Kiss and I’ll Forget That Fucking Tragedy ASAP

Hai lalaki kardus!

I dont know who you are, where are you now, what’s on your mind… Tapi aku ngga mau pusing. Aku hanya wanita yang pernah berkata, “tapi jangan berharap lebih dulu…” karena memang aku masih memandang diriku tidak lebih baik dari kebanyakan perempuan. Bukan berarti tidak baik, ya.

Bagaimana jika aku mulai menceritakan kisah ini dari kisah yang indah, yang kau tanam dalam memoriku di sore hari kemarin, 23 oktober 2016?

Aku tidak meminta pun berharap kau sentuh. Kau belajar psikologis dari mana? Menyentuhku perlahan, bilang “gemas” berulang kali, mengecup telapak tangan hingga lenganku lembut, lalu menatapku seperti kau benar benar merasakan sesuatu (mengerti maksudku?).

Sesuatu yang mungkin salah kuartikan, selalu saja.

Lalu kau mulai menambah intensitas sentuh dan kecup itu. Di atas kepalaku, pipiku yang berulangkali kau cubit lalu cium lalu cubit lagi, leherku yang katamu “panas. sakit?”, hingga kecup dan hirupmu, diikuti matamu yang seakan ingin merengkuh tubuh ini tulus. Ya. Kau menginginkanku. Bukan seperti lelaki bejat yang ingin buru-buru memasukkan kelaminnya ke kelamin jalang di warung remang-remang.

Apakah aku salah membacamu?

Detik ini kupikir jawabannya iya.

Aku membiarkanmu menyentuhku dengan ragu. Aku tak ingin memberikan apapun di pertemuan pertama kita selain impresi positif berupa gaya humorku, style yang santai ala anak rumahan, dan kepintaranku menyelami seluruh dimensi-dimensi dalam pikirmu.

Aku gagal. Presentase keberhasilanku hanya menyentuh 20%. Sisanya aku runtuh. Aku tak berhasil membawa diriku masuk ke dalam pikir dan hatimu.

Kau mengambil cita-citaku. Bibir yang selalu kututup rapat dari bibir dan liur lelaki manapun, kau lahap di sore itu. Membuat satu memori baru yang begitu nyata, yang selalu kubayangkan bersama lelaki lain. Bukan kau, asal kau tahu.

Rengkuhan dan lumatan itu tidak pernah ada dalam daftar cita-citaku. Dengan lelaki seperti kau, apalagi.

Namun pertahanan diriku akhirnya runtuh juga. Aku membiarkanmu menyelami dalam bibirku dan membuat seluruh bakteri dalam mulut kita saling bertukar. Aku merasakanmu pada akhirnya. Wangi badanmu yang tidak menyengat, sentuhmu pada tubuhku yang jujur saja mampu membuatku merasakan rasa yang begitu dalam….

Aku lupa satu hal. Saat untuk pertama kali kita melakukannya, ciuman itu, aku belum benar-benar merasukimu. Aku membayangkan lelaki lain. Maka aku membuka mataku, lalu melihat matamu terpejam.

Kukira itu tulus.

Sungguh.

Aku pun diam terpaku. Masih sambil membuka mata. Itu rasa yang baru.

Ciuman pertama.

Di usiaku yang baru 21 tahun. Baru punya seorang mantan pacar. Lalu aku berciuman dengan orang yang baru kukenal lima hari lewat udara. Kurang hina apa diri ini?

Perempuan yang berusaha menjaga ciuman pertamanya untuk lelaki lain yang bisa jadi tidak mungkin ia dapatkan namun selalu ia harapkan, lalu berciuman dengan lelaki asing di pertemuan pertama. Kurang rendah apa aku?

Dalam lima hari terakhir, dengan jari kusutmu, kau berhasil menjatuhkan 30% hatiku pada dirimu. Lewat kata,

“Kamu charger aku, kamu moodbooster”.

“Rasanya ingin memakanmu habis. Gemaas!”

“Ombre yah? Idaman :)”

“Ngga mimpi ih, emang diniatin.”

“Gemes feminim gitu.”

“Pengen Amel. Dibungkus, sambelnya dipisah.”

“Iya mau nyoba neduh di tangan Amel.”

“Harus jumpa. Pengen disamping.”

“Tertarik sih, suaranya bagus.”

“Udah kayak neduh kan ya.”

“Dicoba dulu aja yaaa.”

“Mau diciyusin, nextnya.”

“Doain aja yaa.”

“Moga pas di genggaman.”

“Ngga lepas ae.”

Nyatanya? Aku yang merasa kau lepas. Ralat. Kau pakai lalu kau buang selembut orang membuang tisu bekas pakai ke tempat sampah. Kau pergi perlahan, meninggalkan kesan kehati-hatian.

Mengapa tidak kau langsung saja menghilang setelah ciuman itu berakhir?

Ciuman yang tak sama sekali kubayangkan, namun mampu membuatku turut menginginkannya lagi hingga bibir kita beradu untuk yang kedua kalinya dibawah keputusanku. Ingat? Aku yang memulai, pada ciuman kedua. Sambil memejamkan mata dan merasakanmu seutuhnya.

Kupikir itu bukan hanya ciuman coba-coba. Melainkan ciuman pengantar ke dalam kisah lain selanjutnya. Ternyata dugaanku salah, sekali lagi.

Setelah ciuman bangsat itu berakhir, kau duduk di bawah sambil menghisap cerutu lalu bak menghindar dariku kau tak lagi menyentuh bahkan menatapku seperti tatapan di awal permainan. Aku, dengan gengsiku yang berlebih tak sanggup bertanya akan itu.

Bahkan kau tak membiarkanku menyentuhmu seperti saat permainan pertama kita yang sepenuhnya kau pimpin di mana dengan sengaja kau mengarahkanku untuk mencium telinga dan lehermu.

Kau mempermainkanku dengan permainan tipu daya yang dengan jelas kau perlihatkan triknya. Kartu itu. Ramalan itu, tebak tebakan itu, pindah kartu itu… Kau menipuku, harusnya kusadar akan itu. Namun aku tidak, setelah ini.

Detik ini kusadar akan permainan katamu,

“Dicoba aja dulu.”

“Gacocok garansi kembali.”

“Kalau spec di mata udah iya.”

“Tapi belum cek pemakaian aja.”

“Dus nya masi ada kan mbakyu?”

“Jadi kalau di tuker tambah masi bisyah.”

Benar tanggapanku waktu itu, bahwa aku hanya permainanmu. Padahal kau mengatakan itu dengan jelas. Bahwa jika pada akhirnya kau akan meninggalkanku bila kau tak puas denganku.

Aku hanya permainan.

Aku hanya seperti tester makanan atau apa yang tidak jadi kau pilih setelah kau coba. Bahkan mungkin kau muntahkan kembali. Betul?

Aku hanya barang percobaan, yang bebas kau pilih akan kau gunakanku setelahnya lalu kau jaga, atau tidak.

Aku hanya sepatu di toko yang kau pakai, lalu kau kembalikan lagi ke raknya.

Aku hanya ciuman coba-cobamu, yang kau sudahi setelah kau tahu rasanya.

Kau yang kupikir berbeda, ternyata tidak. Tidak sama sekali.

Terima kasih untuk pelajaran paling berharga kemarin. Setidaknya aku pernah berusaha untuk merajut kisah walau aku harus merasakan sakitnya tertusuk jarum rajutku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s