Angin yang malang, jangan pernah datang lagi.

Aku menemukanmu di jalan panjang menuju kebahagiaan sesaat nan berujung pedih menyayat bak sudah tercabik disiram air garam pula, lalu tak sembuh hingga mungkin esok atau esoknya lagi, tak tahu pasti. Aku menemukanmu di dasar selokan, sangat tak menarik hati siapapun yang melihat, namun di balik itu ada kualitas yang tak kusangka, yang ternyata lebih busuk dari rupamu. Aku menemukanmu di sepanjang trotoar beraspal yang licin oleh minyak bekas menggoreng lele yang bau, membuat siapapun yang lewat terglincir dengan tampang idiot.

Ya. Akulah si manusia yang terluka parah oleh cabikan hasrat yang kau lampiaskan sore itu lalu kau biarkan melayang sesaat, dan kau tumbangkan seketika hingga remuk seluruh harap. Akulah tikus bau yang berharap diambil dan dirawat dengan rasa prihatin. Akulah minyak bekas pakai yang padahal baru sekali merasakan betapa nikmat melepuhkan keinginan bercinta meski baru di tahap awal.

Lalu seberapapun kumemohon untuk pertangungjawaban akan hati yang patah dan terseok seperti anjing yang habis ditembak paksa lalu  dikuliti, itu tak akan menjadikan alasanmu untuk kembali. Setidaknya untuk merasakan berdirinya bulu romanmu untuk yang kedua kali ketika bercumbu mesra dengan gadis lugu yang berarti itu adalah ciumannya yang juga kedua kali, padahal ia berharap dengan sangat akan lupa kali ke berapa ia berciuman saking seringnya.

Kau bak angin, sudah berkali-kali kubilang. Kau dapat kurasakan dengan pasti. Namun kau hanya lewat, bahkan di saat aku belum terbiasa dengan hadirmu yang menyekik. Kau hanya lewat membawa sebutir debu penuh gairah yang kau jatuhkan di dasar lautan hatiku yang dingin, membuatku seketika menggilai belai singkatmu yang mampu membuatku merinding geli seperti anak yang sedang menahan pipis.

Kau memang angin, yang datang hanya untuk lewat dan berlalu entah mencari singgasana baru atau apa. Kau angin, yang katamu mencari tempat berteduh dan tak ingin kemana-mana, tak ingin melepas, namun kau yang tak ingin tinggal, bukan hati yang bersiap meneduhkanmu.

Kau memang angin, yang mampu membuatku masuk ke jurang penyesalan karena dengan bodohnya merasakanmu hingga ke pori-pori tubuhku hingga aku mengigat dengan jelas memoriku tentangmu yang sangat singkat, tidak lebih dari enam jam. Aku menyesali pertemuan itu seperti aku menyesal sehabis makan nasi basi yang walau terlihat enak namun membuatku mulas setelahnya. Aku menyesali sentuhan itu, yang seharusnya tak kubiarkan bertengger lama pada tubuhku, maka aku tak akan dibuat bergelinjat saking merindingnya.

Aku menyesali cumbuan itu, seperti aku menyesal telah meniduri diriku sendiri dengan bayangmu tiap malam, meski aku mampu dibuat pulas karenanya, namun cemas membakar tubuh setelahnya. Aku menyesali kecupan itu, lebih dari penyesalan terbesar apapun dalam hidupku. Aku menyesali bagaimana cara kita bertemu, jauh lebih menyesal melebihi apapun yang paling membuat diriku menyesal.

Bayangmu masih ada, dan nampak akan terus ada. Di sarung bantal yang tak pernah kuganti saking nyaman dengan wanginya. Di alat tulis yang kupakai untuk sekedar menyoret wajahmu dalam tulisku. Di balik jeruji jendelaku yang bahkan sampai mati pun tak pernah akan ada rupamu. Di bungkus mie instan itu yang susah mati kau dapatkan isinya dengan cara merayuku seperti anak lima tahun dengan gigi bolong yang minta dibelikan permen kapas.

Aku akan melupakanmu secepat yang aku mampu, lalu akan kusetubuhi lagi diriku dengan pengharapan pada Tuan yang lebih perkasa yang mampu memuaskan neuron-neuron dalam otakku hingga mampu membuatku tertidur pulas.

Toh kau hanya seorang pengecut yang hanya memiliki kemampuan jari yang luwes untuk menulis dan menggambar kebohongan, bukan untuk menjadikannya nyata. Maka aku akan semakin mudah melupakanmu dan memulai segala hal yang baru.

Asal satu.

Jangan pernah kau kembali.

Jangan pernah menjadi pecundang untuk berulang kali, atau kau hanya akan dapat rasa malu seperti malumu ketika melihat diri telanjang di kaca penuh dengan kerut penyesalan akan jalan yang salah karena kebodohanmu sendiri.

.

.

.

Gadis yang sudah tiga minggu patah hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s