Melarikan Diri

Lama tidak menulis, aku bukan lupa, namun melarikan diri. Dari kekejaman duniawi. Sorry, dari kekejaman manusia di dunia. Dari kekejaman harapan, baik yang mengharap, apalagi yang diharap. Dari kebodohan. Dari ketololan.

Aku baru saja aku bercerita masalah lalu –hampir sebulan lalu, pada seseorang. Dan aku menyesal telah bercerita. Itu membuatku terlihat bodoh, sangat bodoh. Tolol. Sangat tolol.

Aku bercerita tentang lelaki itu lagi. Yang selalu muncul namanya sebelum aku tidur dan selalu muncul bayangnya ketika aku terbangun. Benar, aku tak bohong. Bahkan memikirkan lelaki yang biasa menyembuhkanku pun tidak mempan untuk menghalau pikiran tentang si bajingan itu.

Bodohnya, dia bahkan tak pernah memberiku apa-apa kecuali usap dan ciumnya. Dia tak pernah memberi uangnya, tak pernah memberiku bunga dan hal-hal manis selain kata-katanya yang hanya tai belaka, apalagi memberikan tititnya untuk aku buat bangun dan terlemas lagi.

OOOPPPSSS PARDON! 

Dia hanya memberiku afeksi berlebih yang baru kudapatkan. Aku memang wanita miskin afeksi yang selalu mencari. Lalu ia datang dengan sejuta karisma: humoris (sangat) namun tidak melecehkan, memuji dengan santun, menghargai.

Dia datang sekali, lalu pergi dan tak pernah kembali. Mungkin baginya aku hanya pajangan di museum yang bisa dinikmati saja, tanpa harus dia rawat. Baginya aku hanya angin lalu, penyembuh sepinya sesaat. Baginya, aku hanya permainan. Hanya wanita tolol yang percaya aja sama kata busuknya.

Ditinggalkan seperti ini terkadang membuat gue semakin kurang.

Pertama: Gue tidak menarik. Cowok aja kapok ciuman sama gue, padahal gue ngga pasif.

Kedua: Gue tolol, mudah dibodohi bahkan dengan lelaki yang mengaku hanya memiliki IPK 2,95.

Ketiga: Nyatanya IPK gue juga ngga jauh dari 2,95.

Gue ngga bisa bahasa inggris kayak hampir semua teman dekat gue,

terus gue juga bodoh dalam akademik, gue serng diremehkan soal ini,

gue seperti bertumpu tangan kepada teman-teman dekat gue entah tugas entah yang lain,

gue tidak menarik, gue bodoh, gue tidak punya banyak duit.

Maka gue melarikan diri untuk menyembunyikan kedunguan gue. Dari organisasi yang ampuun, sumpah mati please God percepat waktu agar gue bisa turun jabatan segera. Dari kepanitiaan yang bahkan sudah selesai tapi masih harus cari duit. Dari teman-teman yang lebih dari gue.

Gue  benci terlihat dungu.

Gue benci diangap dungu.

Gue benci menganggap diri gue dungu.

Maka gue di sini, sebanyak-banyaknya makan apa yang gue mau, main selama mungkin, tidur-tiduran selama mungkin, tidak berpikir apapun.

Gue ingin melarikan diri dari ketidakberdayaan.

Maka lebih baik gue mengurung diri di kamar hingga jerawat di muka semakin menyembul. Tidur-tiduran sampai pusing seluruh kepala. Meringkuk ke arah tembok dengan tatapan kosong sambil membayangkan betapa indahnya kalau cerita gue dan si bajingan berlanjut.

Betapa senangnya gue kalau dapat mengikuti project dari dosen yang bahkan sampai mati pun mereka ngga akan memlih gue untuk menjalankannya karena gue bodoh.

Betapa senangnya jika memiliki karya yang dipuji dan dirasakan semua orang, bukan dikira lelucon bodoh.

Betapa leganya jika bercerita lalu ditanggapi dengan benar.

Betapa bahagianya jika gue bisa lebih dari ini.

Terima kasih Tuhan, sudah membuatku hampir menangis siang tadi, bahkan searang seperti ingin segera keluar. Terima kasih sudah menciptakan satu manusia dengan hati dan pikir yang busuk yang tidak banyak dicintai orang.

Aku ingin meringkuk.

Aku menolak berpikir positif, setidaknya malam ini aku ingin menikmati kurang yang kupunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s