Kemanakah kobaran ini pergi?

Gue ingin menulis. Tentang sesuatu yang hilang. Tentang sesuatu yang melemah. Tentang sesuatu yang membuat paru-paru gue terasa sempit.

Kobaran api dan deru perkusi dalam diri.

Gue kehilangan semangat yang menggebu-gebu. Gairah yang berapi-api. Bahan bakar untuk berjalan dari sumedang hingga bandung, pun mengitari dunia. Gue kehilangan motivasi.

Gue merasa sendiri dengan keterbatasan. Keterbatasan memimpin diri sendiri pun (apalagi) orang lain, keterbatasan pikir, keterbatasan kesempatan, keterbatasan ingin, keterbatasan duit, keterbatasan gadget…. ah banyak.

Gue bukan tipe orang yang demikian, gue rasa. Dulu, ketika gue menjadi bawahan, itu terasa mudah, sangat mudah. Sekarang? Semangat pun hilang. Ditambah banyak hal menjadi beban.

Kuliah.

Teman.

Duit, klasik.

Keinginan untuk disayang.

Siapa yang ingin memberikan gue semangat kalau bukan diri gue sendiri? Emak bapak gue ngga pernah tahu peliknya kehidupan gue selama kuliah. Adik gue apa lagi. Bahkan dia ngga mau tahu apapun tentang kakak satu-satunya. Teman-teman gue? Rasanya ngga ada yang begitu memahami isi kepala gue yang penuh kebodohan ini.

Gue merasa bodoh ketika berada di satu lingkaran bersama kalian, guys.

Semakin hari gue merasa semakin sendiri. Diam di dalam kamar sambil main the sims yang ya ampun membosankan banget. Makan seperti orang yang tidak makan lima hari. Bayangkan sepiring nasi panas bisa gue habiskan hanya dalam waktu 5 menit. Tanpa minum.

Bahkan gue tidak berniat untuk membuka handphone untuk mengecek media sosial apapun. Gue seperti ingin mengasingkan diri dari dunia. Gue benci bersosialisasi. Gue benci berada di keramaian. Gue benci tak ada yang berusaha untuk mengerti gue, seenggaknya mungkin kecuali empok. Keempat lainnya nampak takut-takut.

Gue benci tidak ada laki-laki baik yang mendekati gue. Yang ada dia yang brengsek yang cuma mau buah di tengah selangkangan perempuan. Yang ada dia yang ngerayu-rayu gue sampai anjing gue terbuai lalu dia mendapatkan apa yang dia mau kemudian pergi dengan meninggalkan bau rokok selama hanya dua hari, yang harusnya sih mengendap di paru-paru gue.

Gue diabaikan.

Lalu gue bercerita ke orang lain, yang gue coba untuk percaya. Responnya? “Oh, baru 6 hari sih ya.” “Wow, dari medsos?” Seolah bilang gue adalah wanita paling bodoh sedunia dan cerita gue tidak menarik. Lalu udah. Gue menyesal bercerita.

Dulu gue ngga begini.

Gue menulis, bodo amat mau setan atau iblis ngga baca tulisan gue pun ngga masalah. Gue menulis untuk diri sendiri. Gue memuji diri sendiri. Gue bahagia sendiri. Tapi bahkan tulisan gue yang sudah menggunung belum diakui dimana-mana. Lebih banyak menyukai tulisan tentang ditinggalkan (dengan fakta bahwa lelaki/perempuannya memang memberi pengharapan), bukan tangisan wanita bodoh yang kehilangan ciuman pertamanya di hari pertama bertemu orang asing yang dengan begonya ia percaya.

Gue tidak ada spesialnya di mata siapapun. Mungkin gue harus menggoreng diri dalam kubangan minyak panas lalu diletakkan di atas nasi goreng sebagai topping, baru dapat disebut spesial.

Gue ingin mengasingkan diri.

Gue ingin mandiri dan tidak tergantung pada siapapun. Gue ingin bahagia sendiri. Gue bukan orang suci yang memiliki misi membahagiakan manusia di seluruh bumi. Gue hanya manusia pendendam, haus afeksi, haus penghargaan, haus pujian.

Gue tidak memiliki motivasi untuk melakukan apapun selain berkeluh kesah pada barang di depan mata gue ini. Bahkan untuk memercayakan seseorang untuk berbagi pun gue tidak ingin. Biarlah dunia tahu, dan mari kita lihat respon dunia.

Ke mana perginya api yang berkobar dalam diri gue? Tertiup angin? Tersiram air comberan?

Gue tidak memiliki motivasi apapun.

Gue ingin mengasingkan diri.

Biar dunia yang mencari gue, dengan keterbatasan-keterbatasan yang gue punya.

Biarkan gue menangis hingga gue lelah lalu mengabaikan kesedihan-kesedihan yang ada. Karena gue sendiri, dan gue tidak memiliki motivasi apapun selain berdiri dengan kaki sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s