Menikmati Luka

life-is-likea-cup-of-tea

Mungkin aku diciptakan untuk menikmati luka sendiri. Dengan menulis, mungkin? Atau dengan duduk merenung? Atau dengan mengesap rokok? Atau dengan makan mie goreng jumbo? Atau dengan minum air putih sampai kebelet pipis? Dengan main the sims? Dengan internetan sampai kuota habis? Dengan minum es teh lemon di dunkin? Dengan mendengar lagu officially missing you dari Tamia?

Mungkin itu aku.

Setiap orang yang pernah terluka punya cara sendiri untuk menikmatinya. Memaki, berpura-pura legowo, mencari-cari obat sampai ketemu, atau hanya begini. Sekedar merenung, lalu membuat beribu pertanyaan yang ujung-ujungnya dijawab sendiri.

Seperti:

“Why people can share their love to others (i mean to people they love), and me…. no?”

Aku belum pernah mencintai sedalam kemarin, mungkin. Di saat aku tidak memaksa diri untuk jatuh cinta. Aku biarkan diriku mengalir, di antara belainya yang lugu. Aku biarkan katanya berbayang dalam relungku yang kosong. Aku tak memaksa diri, aku menahannya, hingga aku sadar betul bahwa ditinggalkan bukanlah hal yang sederhana.

Jika saja kau tidak pelan-pelan masuk, hingga menyentuh tepat di ulu hatiku, mungkin aku tak akan merasa begitu kehilangan. Aku kehilangan tatapan mata (yang kukira) tidak dibuat-buat. Aku kehilangan sentuhan yang pelan dan nyaman itu. Aku kehilangan garis senyum di bibir yang siap berbagi itu. Aku kehilangan seseorang yang dengannya aku dapat dengan nyaman menyuarakan ide bersama, yang mengalir begitu saja, tak dipaksa keluar.

Aku merindukanmu.

Namun bukan rindu, jika tak membuat tuan/puannya menderita. Rindu ini begitu menyedihkan, dan ini begitu menyiksa. Aku seperti membunuh diriku perlahan, dengan membiarkan sel-sel dalam otakku memutar kejadian bersamamu kembali. Setiap malam, setiap pagi, setiap aku memutar lagu, setiap aku sendiri.

Aku menginginkan segera untuk hatiku dapat menerima semuanya. Menerima kau (yang bahkan aku tak pernah membayangkan sekalipun akan melanjutkan cerita bersamamu) yang meninggalkanku. Menerima diriku sendiri yang sedang kelaparan dan kehausan. Menerima bahwa apa yang kuingin mungkin belum yang terbaik.

Tapi ditingalkan seperti itu membuatku terluka berkali lipat. Seakan aku hanyalah tempat bersinggah. Bahkan tempat bersinggah pun dibayar. Kau? Tak memberiku apa-apa selain luka itu. Kau membuatku terluka dan tak pernah lupa, bahwa kejadian (yang untuk pertama kalinya itu) secara sadar telah tercatat memori dan tak semudah itu dihapus.

Lalu aku hanya bisa diam. Menikmati lukaku tiap malam, yang bahkan tak lagi bisa membuatku menangis. Menikmati lukaku tiap bangun tidur, dan kutemukan diriku kembali menutup diriku dengan selimut sambil membayangkan kemungkinan-kemungkinan jika kisah kita berlanjut. Lalu aku memaksakan diri untuk bangun dan menyirami kepalaku sendiri dengan air dingin, berharap kau membeku bersama memori tentangmu.

Aku sedang meimati luka, sambil memencet tuts laptop lalu menuliskan tentangmu. Sambil mendengar lagu bernada minor, lalu mengingat-ingat kembali, seperti sedang mengorek luka yang memang belum mengering.

Ya. Aku sedang menikmati luka. Membiarkan ia terbuka lebar, lalu perlahan kuberi garam, agar aku dapat merintih sepuasnya, sambil mengingat-ingat kejadian lampau, berharap dapat mengasosiasikan perih itu dengan memori tentangmu. Agar tiap kuingat kau, terasa begitu perih, hingga aku tak lagi berani membayangkanmu sedetik saja.

Ya. Aku sedang menikmati luka. Berlari dari kecanggungan dengan teman-temanku yang tak akan pernah mengerti, meski mereka mampu mendengarkan. Berlari dari semua tugas, demi memanjakan diri dengan menyayat diri sendiri hingga darah pun tak lagi mampu menetes.

Ya. Aku sedang menikmati luka. Yang aku tak tahu kapan akan mengering, sembuh, dan tak terasa lagi.

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Luka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s