Thought: What Do You Think About Love?

af0sf2os5s5gatqrkzvp_silhoutte

Source: this.

Well, hari ini gue sedang diberi dorongan untuk berpikir lebih, jadilah tulisan ini yang sesungguhnya gue sangat tidak suka membahasnya. Yay, I like to write about sexuality more than this fucking cheesy word I ever heard: love.

Gue bukan ngga percaya cinta, sih. Gue hanya tidak sedang percaya. Lebih tapatnya, setelah mengetahui beberapa kegagalan cinta yang orang terdekat gue hadapi, pun gue, dan itu semua membuat gue bertanya-tanya apa itu cinta.

Dan OK, mari kita mulai!

“Love is a force of nature.”

Deborah Anapol, PhD

That’s not about peeing or defecating, like we used to do in everyday morning routines. Love is a different ‘force’ that we have to others in our life… 

Katanya cinta itu bisa bikin buta. Not in physical, but beyond our mind.  Cinta yang akan kita bahas konteksnya adalah cinta ke sesama manusia ya, bukan ke makhluk selain manusia, karena akan berbeda.

Ketika kita mencintai seseorang, dunia kita akan cenderung mengaitkan diri ke dunianya. Kita akan berusaha menyesuaikan diri kita dengan dirinya. Ngobrol, chatting, makan bareng, apapun bareng deh, dengan harapan akan lebih bisa menyesuaikan diri dengan orang yang kita cintai.

Ketika kita mencintai seseorang, kita akan mengeluarkan segala usaha untuk mendapatkan perhatiannya. Lewat chat yang jarang sekali gue lakukan, seperti bertanya, “hai kamu apa kabar? lagi ngapain? lagi dimana? udah sholat? udah makan?”

Ketika kita mencintai seseorang… dia, orang yang kita citai akan menjadi satu-satunya tokoh utama dalam hidup kita di dunia, mengalahkan diri kita sendiri. Tak heran, orang yang sedang dimabuk cinta rela mengluarkan air matanya untuk menangisi orang yang dicintai ketika ia telah tiada.

Kalau ngga ketemu, rasanya rindu. Kalau ngga berkabar, khawatir sampai rasanya dada sesak kehabisan napas pengen mati. Kalau liat dia sama orang lain rasanya ingin membunuh saja dirinya dan orang itu. Kalau lihat dia cuek, rasanya ingin berakhir saja dunia.

Gitu ngga sih?

Cinta itu bukan perkara dia ada untuk kita cumbu tiap saat. Bukan perkara hadirnya untuk kita unyel-unyel tiap saat. Bukan perkara harus jalan bareng kemana-mana tiap saat. Bukan perkara harus kangen-kangenan tiap saat.

Itu hanyalah bumbu dalam cinta.

Cinta itu ketika kita dapat menerima dia beserta hidupnya.

Apakah kamu menerima dia yang pengangguran untuk menjadi pasanganmu? Apakah kamu menerima dia yang tidak bisa masak menjadi pasanganm? Apakah kamu menerima dia yang hobi hura-hura menjadi pasangan hidupmu? Apakah kamu menerima kelauarganya yang berbeda status dengan keluargamu? Apakah kamu menerima dia yang cuma bisa tidur-tiduran di kasur sebagai pasangan tidur malammu?

Logis.

Cinta itu bicara masa depan. Kalau kamu tidak memikirkan masa depan dengan pasanganmu, jangan pernah kamu sebut itu cinta. Mungkin kamu hanya ingin kelaminnya, mungkin kamu hanya ingin bibirnya yang jago melumat kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin pantatnya untuk kamu sakiti dengan kelaminmu, mungkin kamu hanya ingin lidahnya yang lihai menari di atas payudaramu.

Logis.

Cinta bukan hanya perkara seks. Cinta itu logis. Orang yang mencinta aja yang kadang ngga logis. Bego.

Mengibaratkan seseorang menjadi segalanya dalam hidup. Pas pasangannya ketahuan main sama orang lain, baru aja gelimpungan, kayak pengen mati.

Kalau pakai logika, pacar ketangkap basah selingkuh, ya udah. Putusin aja. Evaluasi diri. Siapa tahu memang diri kita tidak mampu membuat dia puas. Siapa tahu memang kelamin selingkuhannya lebih sempit dan/atau lebih panjang dan besar. Siapa tahu memang lebih menjanjikan masa depan.

Logis.

Tapi cinta bukan hanya perkara logika. Cinta itu pakai perasaan. Kalau cinta hanya perkara logika, pacarmu akan meminta ganti uang bensin tiap kali selesai mengantarmu pulang. Pacarmu akan meminta ganti rugi kakinya yang pegal dan keringat yang keluar dari dahinya kala kau mengajaknya pergi menyusuri jalanan kota.

Pacarmu akan meminta kembali perawan yang sudah kamu ambil. Pacarmu akan meminta bayaran tiap sodokan kelaminnya ke kelaminmu. Pacarmu akan menuntutmu terus untuk hal yang tidak kamu suka.

Tapi bukan begitu kerja cinta, yang gue tahu dan sudah gue rasakan.

Cinta itu lebih membingungkan dari permainan rubik (bener ngga sih ini namanya?) yang bahkan gue tidak pernah sekalipun berhasil memainkannya. Susah emang orang yang ngga punya logika kek gue. Haha.

Cinta itu menyebalkan. Rasanya ingin memaki diri sendiri ketika tidak mampu membahagiakan orang yang kita cinta. Rasanya ingin yasudahlah, toh dia sudah pergi bersama orang lain. Da aku mah apa atuh?

Cinta itu… gue ngga ngerti lagi deh. Cinta itu membingungkan. Mau pergi karena dia ngga cinta balik sama kita tapi kita cinta mati-matian sama dia dan dia membutuhkan kita, dan yaudah kita ngga bisa apa-apa selain tinggal. Mau marah ke dia karena ngga perhatian, tapi kasian mukanya capek ngurusin skripsi, yaudah ngga jadi marah.

Mau bilang cinta sama seseorang, tapi dianya udah punya.

Mau bilang putus, tapi yaudahlah coba lagi aja.

Mau bilang, maukah engkau menikah denganku, tapi keluarganya ngga sepakat.

Sebingung itu cinta.

Dan gue sedang bingung sekarang. Beneran bingung, ngga bohong. Kenapa ada lagu dengan lirik, ‘cinta ini kadang-kadang tak ada logika’? Mengapa ada pasangan menikah pun bahkan yang belum menikah masih tetap bertahan dengan pasangannya walau sudah disakiti berkali-kali? Mengapa ketika dia meghianati kita, jelas-jelas jahat banget menghianati kita, kita masih saja rindu sosoknya?

Dan gue rasa gue sudah tidak terlalu mampu berpikir. Tapi gue akan cari jawaban dari pertanyaan, why is love so confusing?

Tapi sebelumnya…. what do you think about love?

I’m open-minded enough, kok. So, if you wanna discuss something related with this post, just chat me okk?!


Source:

What is Love and What isn’t it? from click to open.

Advertisements

24 thoughts on “Thought: What Do You Think About Love?

  1. Diantika Irawadi says:

    Oke, aku mesti berhenti baca sejenak di kata “logis” yg kedua. Bukan bermaksud protes karena kevulgaran (menurutku) yg kamu suguhkan secara mendadak, hanya saja mataku belum siap untuk menerima serangan tiba-tiba, dan kini aku akan melanjutkan bacaanku. 😂

  2. Diantika Irawadi says:

    What do I think abt love? In my opinion, love is one of resources for humanity. Cinta adalah penggerak hati nurani manusia, tanpa cinta, manusia hanya akan menjadi individu bengis, berhati dingin, yg hanya memikirkan diri sendiri.

    Jgn khawatir soal kegagalan cinta. Pasalnya, kamu bukan satu-satunya yg memiliki pengalaman demikian. Malah, kupikir kau lebih berani kalau urusan percintaan ketimbang aku. Aku ini seorang pengecut, yg lebih baik mengalah dan tersakiti daripada mengambil risiko tapi nyatanya masih tidak bisa memahami: bahagia itu sederhana. Contohnya: melihatnya bahagia dgn jalan yg ia tempuh, itu pun akan membuatku bahagia karena tidak semua org seberuntung itu.

    Ah, maafkan aku, paparanku hanyalah omong kosong belaka. Tahu apa coba org sepertiku sampai berani-berani bicara cinta.

    Anyway, sorry for spamming your comment! ♡

    • Agnicia Rana says:

      Wooww. Kau memandang cinta (entah orang yang kau cinta) sebagai sesuatu yang sangat suci, Diantikaaa :”))) hahahaaa. kalau aku seperti itu…. ya mungkin itu sudah di tahap pengikhlasan yang setinggi-tingginya kali yaa. senang melihat “dia bahagia meski kita tidak ada dalam bahagianya” :”))
      wkwkkw thats okkkk ternyata ini kelanjutan setelah kamu baca semua setelah berhenti tadi hihihihihi.

      • Diantika Irawadi says:

        Sebentar, suci? Aku tidak paham, Rana. Bagaimana kau bisa berasumsi demikian? Aku tidak ingat menyebut kata-kata “suci” dalam kalimatku. Tolong jelaskan, otakku tengah bekerja lambat malam ini. >///<

        Soal tahap pengikhlasan itu… ASTAGA AKU TIDAK BISA BERPIKIR JENIH SAAT INI, RANAAA!!! ANAK LELAKI SEATAP INI MEMBUATKU GILA DAN HILANG KONSENTRASI, RANAAA!!! NANTI KUSAMBUNG LAGI! T^T

      • Diantika Irawadi says:

        *jernih, maksudku. Aku benci typo. :((

        Nah, soal tahap pengikhlasan itu… aku adalah seorang prajurit yang seringkali merasa kalah sebelum berjuang. Seringnya, tiap kali disapa cinta, aku selalu merasa berada di posisi yang kurang tepat untuk mencintai orang tsb — sepihak, bertepuk sebelah tangan, melirik sesuatu yang seharusnya tak dilihat, semacam itulah. Karena kasusku seringkali begitu, makanya prinsipku selalu “bahagianya adalah bahagiaku.” :))

      • Agnicia Rana says:

        itu dia… pada akhirnya… kamu belajar menerima bukan? dan mungkin “suci” diksi yang kurang tepat. hmmm… kupikirkan sebentar. apa ya?……. AAKKK aku tidak menemukan kata apapuuunn. tapi intinya… orang yang bisa mengikhlaskan itu hebat! karena ikhlas itu bukan perkara mudah :”)))

      • Diantika Irawadi says:

        Kau tahu, aku ini bukan contoh yang tepat untuk mendeskripsikan aksi ikhlas yang kau maksud.

        Aku masih belajar menjadi ikhlas dalam hal apa pun, Rana. Nyatanya, aku ini seorang yang pesimis, juga… seyakin-yakinnya aku pada takdir Tuhan yang “indah pada waktunya”, tetap saja… aku merasa tak sepantas itu merasakan sesuatu yang manis dan indah pada akhirnya. Kalau kau mengerti maksudku.

        Menurutku, mungkin yang kau maksud adalah… melihat berbagai kemungkinan terburuk? Karena aku selalu merasa perlu mengantisipasi kemungkinan apa pun yang akan terjadi di masa depan.

        Aku bukanlah seorang cenayang, memang. Namun, aku ini seorang pemikir dan pengandai-andai. Oleh karena itu, apa pun yang kulakukan biasanya telah melalui berbagai pertimbangan. Hanya saja, tak kuperlihatkan pada siapa pun proses berpikir yang seringnya membuatku frustasi dan putus asa terhadap hidup.

        Begitulah kira-kira. Mohon maaf karena komentar ini terlalu panjang, dan sepertinya melenceng jauh dari konteks yang mulanya kau tanyakan, Rana. Maafkan aku. :”

      • Agnicia Rana says:

        Haha, tidak apa, Diantika. Aku paham maksudmu. Cara pikir orang berbeda-beda, dan yaaa begitulah kau dalam memandang segalanya (sesuai yang kau jelaskan tadi). Namun, tidak seharusnya kau putus asa akan hasil pikirmu. Tiap orang punya pandangannya sendiri, dan tidak ada yang salah, Diantika 🙂

      • Diantika Irawadi says:

        Belakangan ini aku memang sedang frustasi, Rana. Karena merasa semua orang tidak bisa menghargai apa yg telah kupikirkan atau kupertimbangkan, juga seenaknya menilai dan mendikte orang, aku merasa tidak pantas mengutarakan isi pikiranku pada siapa pun.

        Ujung-ujungnya, aku semakin dimusuhi orang karena mereka tak bisa memahamiku. 😧

      • Agnicia Rana says:

        Ayo jangan menyerah! Berusahalah lebih keras lagi! Tunjukkan pada orang itu, bahwa kau pantas dihargai dengan karya pikirmu yang luar biasa. Hmm… Jangan pernah berpikir untuk diam ya, Diantikaaaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s