Oke, 2017.

welcome-2017

Sorry for too late…

Mari kita tutup dua ribu enam belas dengan tepuk tangan yang meriah!!! YEAY *TEPUK TANGAN*

2016 itu…

Banyak kegagalan. Tapi tahun yang membuat gue paling belajar. Khususnya dalam berhadapan dengan orang-orang di muka bumi ini. Di awal, gue sangat bahagia dan optimis dengan segalanya (well, gue selalu merasa gini sih di awal tahun). Dimulai dari untuk pertama kalinya menyaksikan kembang api dari puncak bintang, sampai akhirnya makan ikan bakar dingin ditambah sambal dengan gigi yang sakit.

Di 2016, gue ngga banyak merekam memori, karena sampai saat ini pun gue belum memiliki sesuatu untuk merekam jejak gue. Berbeda dengan kebanyakan yang dengan bebas dapat melacak keberadaan temannya, lalu jepret-jepret membuat cerita di instagram, gue tidak belum bisa.

2016 banyak permasalahan? Iya. Khususnya dengan manusia lain. Untuk pertama kalinya, di 2016, kepemimpinan gue dipertanyakan. Untuk pertama kalinya gue erasa punya musuh saking ya…. memang pada akhirnya kita tidak mampu mengenal satu sama lain. Gue merasa respect orang-orang ke gue berkurang karena kepemimpinan gue yang katanya acak-kadut.

Hm. Jadi sedih.

Tapi ngga papa lanjut aja. Itu kehidupan organisasi.

Kehidupan kuliah?

Sangat biasa, seperti biasa. Gue masih agak santai karena gue belum mengambil mata kuliah skripsi sementara teman-teman gue yang lan banyak yang sudah mengambil. Sempat merasa menyesal dan kehilangan nilai guna, sih. Tapi… positifnya adalah… gue lebih siap dan disokong oleh pribadi dosen pembimbing yang luar biasa. Insyaallah.

Kehidupan percintaan?

Gue ditinggalkan oleh… entah berapa lelaki. Kebanyakan belum bertemu, satu bertemu, satu lagi mainan aja. Mengesankan kah?

Kehidupan keuangan?

Gue semakin boros. Bahkan karena keteledoran gue memegang uang, gue baru bisa membayar kos kosan akhir bulan kemarin. Yey. I lost my money… much money… because of myself for buy anything not necessary. Ya. Woman’s stuff like that. Dan sejujurnya.. untuk keperluan diluar itu yang masih berhubungan dengan gue dan organisasi haha. Okela.

Ndak papa, Mel, ndak papa.

Di akhir 2016, gue dikeutkan oleh kabar ibu teman gue sakit parah. Dan itu cukup membuat gue sedih lantaran gue yang baru tahu penyakit ibunya. Gue tidak seperhatian itu, maafkan ya, Kak.

Dan yay… Gue tidak sampai hati malah untuk megucapkan selamat ulang tahun kepadanya, karena gue pikir, itu bukan hal yang terpenting lagi buatnya, kecuali kesembuhan ibunya. Tapi, selamat ulang tahun, Kak! Maaf belum mengucapkan langsung.

Tapi…

Di akhir 2016 juga ada perasaan membuncah, saking bahagianya, hingga membuat gue menangis.

Gue bertemu sobat-sobat lama gue, dan guru gue saat sekolah di Bekasi dulu. Cerita yang tidak direncanakan, tidak pernah, demi apapun. Dalam dua hari gue menjelajah Jakarta dan Bekasi demi bertemu mereka. Dan sesaat gue merasa menjadi manusia paling bahagia di muka bumi, sekaligus yang tersedih. GOD! Fuck I wanna back to my old life.

Bekasi sudah berubah sangat banyak, dan gue tidak menyaksikan perkembangannya. Gue ketinggalan jauh cerita mereka. Gue ketinggalan jauh segalanya. Gue menjalani kehidupan yang bahkan sampai sekarang masih gue pertanyakan, ‘Mel, kamu bahagia hidup seperti sekarang? Dengan ketidakharmonisan keluarga, dengan keadaan yang membuatmu terbatas, dengan ketakutanmu naik motor, dengan teriknya kotamu, dengan kutu kasur, dengan kecoa, dengan ayam, dengan tanah basah, dengan lantai kamar mandi yang licin, dengan asap sampah yang menempel di bajumu karena tetanggamu yang tidak bilang ke ibumu bahwa ia ingin membakar sampah yang kemungkinan asapnya akan mengenai jemuran?’

Dan kau harus tahu kenapa gue inginnya dipanggil Amel, bukan lagi Milla.

Karena gue tidak ingin mengingat kehidupan Milla yang serba enak di 12 tahun pertama hidupnya. Iya, gue baru sadar. Gue dan Milla berbeda, meski kami punya tubuh yang sama.

Milla suka matematika, Amel bahkan statistika III ngulang.

Milla rangking 1 terus. Amel? Selalu hampir peringkat terbawah.

Milla ambisius. Amel mageran.

Milla punya segala mainan, Amel engga.

Milla bisa makan mie tek tek sebrang kuburan ditambah nasi panas dan telur dadar, Amel engga.

Milla pintar berbahasa inggris, Amel engga.

Milla ngga pernah di rumah kepanasan, Amel engga.

Itu. Milla dan Amel berbeda. Dan gue sedang belaar untuk menjadi Amel seutuhnya.

.

.

.

Di pertemuan singkat gue dan rekan serta guru gue beserta keluarganya, gue mendapatkan banyak hal. Semangat. Gue kembali panas, rasanya bahkan ingin cepat-cepat beralih ke dunia kerja yang melelahkan. Di sana kami membahas banyak. Mulai dari satu per satu kehidupan kami, hingga kehidupan baik yang seharusnya manusia jalani.

Dan gue belajar satu tentang uang, dari Ustad, Suaminya guru gue. “Uang itu jahat. Nah, gimana supaya ngga jahat? Kendaliin! Gimana caranya? Sodakoh, bisnis, pake aja jangan ditumpuk.”

Gue juga belajar, bahwa gue bukanlah orang tersusah di dunia. Masih banyak orang yang lebih membutuhkan uang dibanding gue. Masih banyak orang yang membutuhkan pendidikan, sandang yang layak, makan enak, air bersih, dibanding gue. Gue bukan satu-satunya orang susah di dunia.

Itu sangat memotivasi gue untuk dapat pekerjaan layak yang menghasilkan banyak uang. Dan gue sedang memulai. Menjadi orang yang selalu dicari dan bisa diandalkan. Terima kasih, takdir! Karenamu, gue jadi dapat suntikan semangat.

Lalu apa yang gue mau di 2017?

Menghasilkan uang.

Udah gitu aja dulu, sih haha.

Oke, welcome 2017!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s