Setidaknya Aku Pernah Berjuang Meski Kau Tak Menyambut Hatiku

adeadc37d316e29adee1ae2612df2ae5

Source: pinterest.

Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Karena cerita dengan tema menyedihkan seperti ini sungguh tidak pernah terbayang untuk kutulis dan kubagikan pada semua. Sungguh. Curahan ini adalah perihal patah hati, juga obat bagi hatiku yang berharap sembuh segera.

Kemarin temanku, sahabatku sejak SMA bertanya, “Kamu masih suka sama ‘si itu’ ngga teh?” (si itu=namamu). Aku sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Bagaimana tidak? Rasanya aku sudah melupakanmu beberapa saat.

Aku disibukkan oleh tugasku di tempat magang, aku disibukkan oleh lelaki yang mengejarku untuk memberinya kepuasan (dan untungnya aku masih bisa menghindarinya), aku disibukkan oleh The Simsku yang expansinya sudah bisa diinstall, aku disibukkan oleh jalanan Bandung tiap pagi dan sore… Bagaimana aku sempat memikirkanmu?

Iya. Setidaknya hingga saat ini.

Hingga pertanyaan itu muncul dari sahabatku, hingga aku menemukan artikel di vemale.com dengan judul yang sama seperti judul yang akhirnya kutambatkan dalam tulisanku. Iya. Mencintai sesakit ini, maka aku harus sembuh.

Ups….

Apa kubilang? Mencintai? Haha.

Aku tidak tahu namanya. Sampai sekarang aku belum berani bilang ini ‘cinta’. Aku hanya berani sampai di kata “suka”. Itu saja. Bahkan alasan mengapa aku menyukaimu pun aku tak tahu. Mungkin kau datang di saat yang tepat? Maksudku, ketika pertama kali aku bertemu denganmu di kelas. Mungkin. Atau aku yang berlebihan? Mungkin sekali.

Aku mengidentifikasikan rasa ini, hingga aku mengakui ke dunia pun bukan tanpa pertimbangan apa-apa. Aku pernah merasa kau juga punya rasa yang sama. Ya. Setidaknya kau pernah membutuhkanku. Iya kan? Haha.

Aku akan mengasihani diriku saat ini juga.

Aku tidak mendapatkanmu, tapi setidaknya aku pernah berusaha untuk dekat denganmu. Dengan menanyai apa kabarmu, dengan mencari topik pembicaraan yang sekiranya meyenangkan untuk sama-sama kita perbincangkan, dengan membantumu mengerjakan tugasmu sebagai orang yang dulu dipercaya…

Aku tidak mendapatkanmu, tapi setidaknya aku pernah berusaha memperjuangkan rasaku. Dengan tetap menghubungimu di sela-sela keraguanku. Kau tahu bagaimana keraguan itu muncul tiap kali aku membuka chatbox atas namamu, dan itu selalu kosong karena tidak pernah aku membuat percakapan panjang denganmu? Wah. Untuk aku yang selalu takut ditolak dan diabaikan, rasanya sulit. Tapi aku pernah berusaha.

Aku gagal menonjok hatimu, tapi setidaknya aku pernah berlatih untuk terbiasa dengan perlakuanmu. Dengan kau yang nampak tidak pernah punya rasa penasaran akan diriku. Aku bertanya, kau menjawab. Aku bertanya lagi, kau menjawab lagi. Kapan kau akan bertanya apa kabarku?

Hingga akhirnya aku sadar. Pertama. Mungkin aku belum se-berjuang-itu. Kedua. Mungkin aku belum se-pantas-itu.. Ketiga. Mungkin kau bukan tercipta untuk membahagiakanku, dan bersamamu hanya akan membuat penderitaanku makin menjadi. Mungkin.

Aku berusaha untuk menyambung tali pertemanan, namun kau seperti berharap, “Oh please, go away!!!” Apakah ini hanya asumsi? Buktinya kau tidak pernah terlihat sedikitpun tertarik pada obrolan yang kutimpal di chat.

Kau tidak mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Amelia.” seperti teman-teman di grup lainnya. Apalagi mengucapkan secara pribadi (seperti yang kulakukan saat hari jadimu tahun lalu). Oke, mungkin kau lupa. Atau tidak mau. Atau enggan memberi harapan?

Setidaknya aku pernah mencoba menahan muka malu di depanmu, karena aku yang selama ini terlihat sangat-sangat-sangat mengharapkanmu, mengerjarmu, entahlah. Itu memalukan. Mengejar-ngejar orang yang padanya kusimpan rasa berlebih hingga aku nyatakan perasaanku, itu memalukan. Itu bukan aku.

Tapi yasudah. Aku belajar. Dicampakkan itu sepahit ini, maka aku tak akan melakukannya pada pria yang nantinya memutuskan untuk terjatuh dalam rasa cintanya padaku. Adil bukan?

Walau aku tak pernah terlihat bahkan dengan jarak sekian sentimeter di dekatmu, setidaknya aku pernah berusaha sedekat itu denganmu. Setidaknya… Aku belajar untuk tidak lagi berharap pada siapapun. Setidaknya aku pernah berjanji untuk selalu membahagiakan diri sendiri.

Dari menyukaimu, aku belajar untuk mencintai diriku sendiri.

Dari menyukaimu, aku belajar untuk tak semudah itu menjatuhkan hati pada siapapun.

Dari menyukaimu, aku belajar bahwa mencium pria yang tidak kita cintai rasanya sama saja seperti menghina diri sendiri.

Terima kasih.

Dari menyukaimu, aku banyak belajar 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Setidaknya Aku Pernah Berjuang Meski Kau Tak Menyambut Hatiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s