Yang Meresahkan

Aku kembali menoreh luka. Bukan hanya di hati, tapi di selangkangan.

Hati, karena rasa suka padamu yang selalu ada bahkan di saat terintimku dengan pria lain. Selangkangan, karena usaha melupakanmu (dengan bercinta menautkan kaki sendiri ke kaki pria lain) yang gagal.

Bisa bayangkan? Aku merasa bersalah padamu tiap kali kucium bibir pria lain yang bukan engkau. Bukan pada Tuhan ataupun diriku sendiri kujaga baik-baik kelaminku. Tapi untukmu. Bukan takut dosa pada Tuhan, tapi takut semakin kecilnya kesempatan untukku memilikimu.

Gila.

Memangnya kau pernah menginginkannya?

Kau tahu rasanya dibuat melayang, namun kau setengah hati melakukannya?

Itu aku. Tadi malam.

Aku bertemu seorang pria yang mengidam-idamkan diriku untuk memuaskannya. Hina, kau tahu? Tapi aku tetap melakukannya karena aku tak tahan diteror. Aku tak bisa lagi menghindarinya. Dan kupikir itu semua akan berjalan baik, meski aku harus merelakan pertahanan diriku runtuh untuknya.

Aku tak memikirkanmu, sampai akhirnya aku merasa sakit (yang kukira wajar untuk wanita yang masih perawan). Namun bukan hanya di tengah selangkangan sakit itu kurasa. Tapi di hatiku yang kosong.

Aku berpura-pura menikmati permainan tangannya yang demi apapun tak bisa kunikmati. Lalu di situ ada bayangmu. Dan aku masih sempat menimbang, “Kalau kubiarkan pertahanan diriku runtuh untuknya, apa kau masih mau menerimaku?”

Ha-ha. Bahkan aku masih ranum pun tak kau lirik.

Tai.

Kami coba lagi, beberapa kali, hingga kurasa sesak di selangkangan. Itu sakit,kau tahu? Tidak lah, kau pria betulan.

Pria itu di atasku, sambil memaksa kelaminnya masuk punyaku. Masih ada kau, bahkan di saat tergenting itu. Rasanya seperti ada dua pilihan bertolak belakang, “Masih mau kah aku hidup atau mati detik itu juga?” Dan lagi, masih ada kau, di antara kedua pilihan itu.

Apa yang kupilih pada akhirnya?

Lari.

Ke kamar mandi. Hatiku begitu selaras dengan kelaminku. Ya. Dia bukan yang ingin kuberi. Aku tidak mencintainya. Aku menginginkanmu. Aku merasa bersalah padamu.

Pria itu tidak berhasil, pada akhirnya. Dia memilih untuk melakukannya sendiri, tidak dibantu oleh lubang selangkanganku.

Ironi.

Bagaimana jika pria itu adalah orang yang mencintaiku padahal dengan sangat jelas wanita yang disetubuhinya memikirkan pria lain? Bukan pada diriku lagi aku bersalah. Padanya, jelas.

Bagaimana mungkin kau tidak hilang di saat hal terintimku dengan pria yang dengannya aku sepakat untuk saling menyerahkan diri satu sama lain?

Ini tidak normal.

Bahkan di sela sakitku, yang kubayangkan kau.

Bahkan di sela nikmatku, yang kupikirkan kau.

Bahkan disela rasa bersalahku, kau satu-satunya orang yang padanya ingin kumintai maaf.

Ini meresahkan. Menyukaimu meresahkan.

Advertisements

2 thoughts on “Yang Meresahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s