Tanpa Cinta, Puas Kelamin Percuma

Aku mencari cukup lama, bahkan sangat lama. Sampai akhirnya aku sadar bahwa bukan kepuasan di selangkang yang kucari.

Jika hanya mencari kata puas secara biologis, aku akan bangga sudah tak perawan, dan akan kulakukan terus seminggu sekali secara rutin. Ya. Bersetubuh dengan siapa saja yang mau.

Jika hanya mencari kepuasan kelamin, aku tak akan pusing bagaimana cara memanjakan pikiranku dari hal terburuk seperti ditinggalkan. Tak apa ia yang menyetubuhiku tak setia. Toh hanya nikmat di bawah perut yang kucari. Tak apa ia dengan yang lain. Toh tanpanya aku bisa cari pria lain yang juga bisa membuat kelaminku tertawa lebar.

Jika hanya mencari kepuasan lahir, aku akan senang bertemu dengan lelaki yang paham betul bagian mana yang harus disentuh hingga membuatku melayang ke kahyangan. Tak peduli buruk rupanya, tak peduli betapa kasar dia saat menautkan jarinya di tubuhku bagian manapun, aku akan menikmatinya.

***

Aku tak menyadari apa yang sebenarnya kucari hingga beberapa malam lalu.

Awalnya kupikir aku akan menikmati permainan itu. Berburu napas sambil menautkan kaki satu sama lain. Mengesap bagian tubuh satu sama lain hingga kenikmatan di ubun-ubun terasa.

Ternyata tidak, hingga kurasakan sakit dan kutemukan diriku sadar sepenuhnya. Hingga kutemukan satu bayang yang selalu mengisi mimpiku di tiap awal tahun. Bayangan sesosok pria itu yang muncul di kepalaku ketika bermain dengan tiga pria lain.

Kau.

Yang pernah mengambil hatiku, lima tahun yang lalu. Kupikir rasa ini akan menghilang seiring berjalannya waktu, seiring aku bertemu dengan banyak pria di kota tempatku menimba ilmu, seiring hujan rintik yang sering menemaniku tidur…

Tapi tidak.

Bertemu dengan yang baru tidak membuatku lupa.

***

Padamu, lagi-lagi aku akan bercerita.

Pria pertama, di bulan oktober.

Dia, pria pertama yang mampir di bibir. Yang bahkan begitu menoreh luka di hatiku kemudian. Aku tak merasa apapun hingga aku mencoba melepasmu dari anganku. Kau tahu? Dia ciuman pertamaku, dan hingga kejadian itu terjadi, bayangmu yang ada. Sungguh. Bukan rasa kopi di bibirnya. Bukan bau asap rokok di rambutnya. Bukan kumis tipisnya, apalagi kacamatanya.

Tapi kau.

Bersamanya, waktu terasa melambat. Aku menikmati sore itu dengan tergesa. Aku tak ingin momen bersamanya hanya terjadi di hari yang sama kami bertemu pertama kali. Aku ingin memperpanjang waktu dengannya, membuat permainan yang sedari awal ini serius tetap berjalan di sepanjang koridor kenormalan.

PDKT, jadian, baru ciuman dan hal semacamya.

Namun aku salah prediksi. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia pergi di hari yang sama sesaat setelah kami bertemu, dan hingga sekarang tak kembali.

Kuharap dia mati tersedak bubuk kopi atau abu rokok.

Pria kedua, di awal desember.

Dia, pria bodoh dan penakut. Dia percaya bahwa Tuhan akan menghukum dirinya segera, setelah kami berdua menghabiskan waktu di kamar kos selama dua jam. Kelihaiannya hanya sebatas ujung jari.

Aku wanita pertama baginya.

Susah mati aku membuatnya melayang.

Dan aku terbangun segera.

Hei, kau masih di sana, seperti melihatku. Lagi. Aku berpikir lagi mengenai perasaanmu jika kau tahu apa yang kulakukan dengan pria lain? HA. Memang kau siapa? Aku siapamu?

Pria ketiga, di akhir januari.

Tipe pria ini paling menakutkan. Dia secara terang-terangan mencari kebutuhan kelamin.

Malam itu, akhirnya aku menyetujui pertemuan kedua. Ya. Kami pernah bertemu, pertama kali di bulan sebelum oktober, sebelum bertemu lelaki pertama. Tidak cuma-cuma, ia datang dengan banyak persiapan. Tidak. Kami menyiapkan semua bersama.

Rokok, anggur, kacang, ait putih…

Kami menikmati malam sesuka hati. Aku merokok sambil menerawang, dia sambil memainkan gawainya yang selalu dipegang di setiap kesempatan. Kebutuhannya bukan untuk mengetahui apa mauku, bukan aku sebagai subjek, tapi objek bahagianya malam itu.

Kupikir ini akan segera berakhir. Nyatanya tidak. Membosankan, demi apapun.

Anggur pertama kuteguk dengan mantap, dia menyusul. Kami bergantian meneguk hingga habis satu botol. Aku mengantuk, tapi tak ingin tidur. Katanya aku mabuk, karena terlalu banyak bicara. Dia meladeni seadanya. Tak ada perasaan apapun.

Kami bercumbu kemudian.

Ini terlalu cepat, lagi-lagi kau di pikirku. Kami mengakhiri ronde pertama kemudian, lalu sambil tidur menatap langit-langit aku bercerita tentangmu. Ha. Saat setengah sadarpun kau yang dipikir.

Aku bersalah, telah melakukannya karenamu. Bukan karena diriku yang sedikit lagi akan hancur. Bukan karena selaput daraku yang utuh yang coba ia bobol. Tapi kau.

Ajaib.

Malamku lagi-lagi tak terpuaskan.

Mungkin juga untuknya.

***

Aku berbicara padamu meski kutak yakin kau mau mendengarkan. Tidak ada yang mau mendengarkanku selain diriku sendiri bukan? Kebanyakan hanya bersimpati, bukan benar-benar merasakan. Jikapun ada, aku tak ingin menyama-nyamai. Dalam hidup, seseorang punya kisah dramatisnya sendiri.

Dan bagiku, itu kau. Kisahku yang dramatis berjudul “Kau”.

Seberapa kucoba melupakan, bahkan dibantu yang lain, aku tak bisa. Seberapa kuingin hancur, aku tak bisa.

Karena aku sadar, yang kubutuh bukan rokok, bukan anggur, apalagi titit.

Aku butuh sosok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s