Terima kasih, kenyataan!

Lima tahun. 

Kuciptakan sudah karya-karya untuk mengapresiasi rasaku padamu. Puisi, lembaran doa, kisah romansa, dan banyak.

Lima tahun sudah berasumsi.

Lima tahun sudah hati ini terombang-ambing tak tenang.

Lima tahun sudah pikir ini kabur.

Lima tahun.

Dan akhirnya kenyataan sampai di hadapan. Bahwa sesosok Rama gagah bersinar itu tak pernah menautkan sedikitpun rasa untuk orang –yang berharap menjadi Shinta di hatinya.

Luka?

Harusnya tak seberapa. 

Rasa ini, 24 jam yang lalu masih asumsi. Sekarang sudah tidak. Sudah jelas. Bahwa mencintai tak butuh waktu lama, namun sakit bisa datang tiba-tiba.

Hai, wahai Rama, nama yang kusuka. Harusnya kau bisa pergi sekarang juga bukan? 

Esok aku akan bercinta. Jika kau masih ada di pikir, akan kubakar diriku segera. Biar hilang raga dan rasa ini digantikan panasnya kobaran api serta percikan peluh.

Esok aku akan bercinta. Kenyataan yang pahit karena alasan bodoh melupakanmu. Tapi tak apa. Energi ini harus disalurkan.

Dan aku akan bercinta, sekali lagi. Hingga aku yakin betul bahwa kau sudah keluar lewat raungan saat semburat mani itu mampir ke paru-paruku.

Bisa kau bayangkan?

Kenyataan ini adalah alasan terbaik bunuh diri. Maka aku akan lupa dan siap berpindah menjelajahi setiap inci tubuh lelaki lain, menjejalkan wajah di antara selangkangan, dan berdoa agar aku tidak menderita kemudian meski kutahu ini namanya lari.

Terima kasih kenyataan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s