Sendiri Mengayuh

stay in bed. (3)

Dibuat di canva.com

Waktu itu, di awal bulan april. Ada harapan bahwa aku dan kamu akan menjadi kita. Namun nampaknya aku terlalu muluk. Menginginkanmu tanpa tahu malu. Tanpa pertimbangan, hingga diujung nanti kuprediksi akan sakit lagi.

Aku menemukanmu di antara belai rindu yang berkecamuk, menyisir tubuhku hingga letih dirasa. Lalu ada kau, yang mengisi kekosongan hingga penuh bahkan sampai mencuat kemana-mana.

Pertama pada otakku, yang kau sapu segere rindu, kau gantikan dengan pesonamu. Lalu hatiku, yang rindu dikasihi.

Aku lemah dalam hal ini, sungguh. Aku lemah dalam membatasi diriku sendiri, untuk memaknakan cinta, apalagi. Aku belum sepenuhnya mengerti mana kesepian mana cinta, maka ketika kau hilang seketika aku menjadi tidak waras.

Aku menangisi malam, bahkan mengadu pada bulan.

Mengapa hati ini begitu kosong tanpamu?

Tanpamu yang bahkan terlihat tak pernah peduli. Pada kabarku, pada kegiatanku, pada perasaanku. Yang kau rindukan dari diriku hanya tubuhku yang mampu memuaskanmu. Yang kau inginkan dariku bukan aku, namun tubuhku, kepatuhanku.

Lalu mengapa tak kutinggalkan saja kau?

Padahal denganmu tak kudapatkan begitu banyak pujian, pun kata-kata cinta. Kau datang hanya ketika kau butuh. Selebihnya kau sibuk dengan urusanmu, dan perempuan-perempuan yang katamu membantu pekerjaanmu.

Lalu apa aku dalam hatimu?

Teman? Teman macam apa yang begitu senang kau lihat tanpa pakaian?

Kekasih? Kekasih macam apa yang kau tinggali ketika kelaminmu sudah lemas terkulai saking puasnya?

Apa posisiku di hatimu?

Ah, pertemuan kita masih belum terhitung lama ya, Mas?

Tapi begitu banyak hal yang berubah pada diriku. Perasaanku, bagian tubuhku, keinginanku akan cinta dan kau, tingkah laku, akal sehat.. banyak. Pernahkah kau sadari efek kedatanganmu sebesar itu?

Dan kau bilang kita masih teman… Ya. Sebutlah teman yang lebih dari teman.

Maaf. Apa aku terlihat tidak sabar?

Lebih sabar mana.. aku yang menangisimu namun tetap memaafkan perlakuanmu yang konyol padaku (sesimple tidak menanggapi pesanku yang begitu panjang dan tulus sambil meraba keberadaanmu), atau kau yang dengan sigapnya melucuti pakaianmu dan aku padahal kubilang, please lima menit lagi?

Aku tak minta kau bubuhi status pada diriku segera. Aku hanya minta penghargaan darimu yang tulus, sekecil memperlihatkan keingintahuanmu padaku, merespon apa yang kuceritakan, menghargai apa yang kuingin dan tidak…

Bisakah kau?

Atau selamanya aku akan letih karena sendiri mengayuh? Sendiri memperjuangkanmu? Karena pergi pun aku sudah tak mampu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s