Membuat Jarak

Belum genap dua bulan pertemuan, sudah jatuh air mata.

Dibuat di canva.com

Apa kabar kisah cintamu hari ini, Rana?

Terima kasih atas pertanyaannya, diri sendiri!

Mulai dari mana enaknya?

Dari membuat jarak?

Baiklah. Kita beri judul kisah ini dengan “Membuat Jarak” saja kalau  begitu.

***

Belum genap dua bulan pertemuan, sudah jatuh air mata. Mungkin itu karena aku yang terlalu berharap pada angin. Bagaimana tidak? Angin cuma lewat. Menetap terus pun tidak akan membuat nyaman, bukan?

Ya. Begitu dia.

Sudah aku prediksi, sejak pertemuan pertama, bahwa lebih baik memang tak pernah ada sentuh itu, kecupan itu, apalagi bekas maninya di atas tubuhku.

Benar sekali. Sudah kuceritakan bukan?

Maninya siang itu, –terakhir kali kami berjumpa hingga kuputuskan untuk membuat jarak, dan benar-benar pergi akhirnya? -yang muncrat dua kali ke bagian tubuhku. Wajahku yang tidak mulus, kemudian perutku yang tidak rata.

Ketika itu kutahu. Ia pun jijik padaku. Entah. Jijik karena air maninya, atau benar-benar karenaku, atau keduanya.

Dia tidak mau menikmati lagi tubuhku yang penuh cairan bau menjijikan itu. Sudah pernah kau cium baunya? Aku sudah, bahkan di hari pertama kaki kita saling bertautan. Bau, asal kau tahu. Jauh lebih baik kucium dan  bersihkan pipis kucing dibanding cairan bangsat itu.

Akupun semakin sadar, bahwa kata puas lah yang ia cari, bukan kekasih, bukan teman hidup, bukan tempat cerita, tapi tempat ia muncratkan maninya.

Aku jadi ingat analogi tong sampah, kata dosenku.

Begini.

Wanita itu, sebut saja seperti tong sampah bagi lelaki, tempat ia membuang hasrat bercinta yang ditandai lewat air maninya itu, ke lubang milik wanita. Dan itu berbekas. Masuk ke tiap inci tubuh wanita. Sedang lelaki? Benar. Pembuang limbah sperma terbesar ke liang suci wanita.

See?

Jangan disamakan dengan lelaki atau wanita yang sudah menikah dan membuang sampah ke rumah sendiri, ya?

Karena aku belum menikah dengannya, pun tidak berencana menikah dengannya. Maka kau boleh sebut aku tong sampah itu.

Ya memang. Aku merasa menjadi seperti tong sampah. Setiap inci tubuhku bau. Lengket. Aku pun tak ingin bernapas, saking tak tahan akan penghinaan terbesar itu. Bajingan!

Aku sadar kemudian. Menjadi tong sampah tidak membuat bahagia, malah semakin membuatku merasa hina. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membuat jarak dengan tidak menghubunginya, apalagi memikirkannya –meski yang ini sulit.

Dan aku berhasil, sudah seminggu. Ditambah lagi lelaki penghasil limbah bangsat itu tak lagi menghubungiku, bahkan untuk bertegur sapa, apalagi menanyakan kabar. Haha. Kuharap ia mati berendam mani busuknya itu.

Dan seperti biasa, hilangnya ia, misi membuat jarak ini tidak akan berhasil tanpa satu hal: “menemukan lelaki lain” –yang kuharap bukan lelaki yang hanya mencari tong sampah.

Dan tebak apa?

Mungkin aku sudah menemukannya.

Hingga nanti kuputuskan, apakah aku akan bersedia menjadi tong sampah pilihannya, atau ia yang bersedia meletakkan sisa-sisa pertahanan dirinya sebagai jaminan bahwa aku dan ia akan berjalan bersama kemudian.

.

.

.

Salam,

Agnicia Rana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s