Membiarkan pergi lebih baik dibanding digenggam erat tapi nyatanya dia bukan milikmu

Aku sedang sinis. Membiarkan diriku, memaksa diriku sendiri untuk menerima hal yang (mungkin) terbaik untukku. Mana tahu ke depannya akan auh lebih baik atau sebalknya bukan? Manusia hanya dapat memprediksi, namun prediksi punya sekian persen kemungkinan ketidaksesuaian.

Gue sudah berencana sekian lama, tapi belum tentu nyatanya sesuai kenyataan.

Mungkin sesuatu yang tiba-tiba datang lebih menjanjikan dibanding apa yang sudah direncanakan berpuluh-puluh tahun sebelumnya? Ngga selebay ini sih haha. Tapi benar. Kali ini gue sedang berusaha mengikhlaskan.

Bahwa apa yang dimau belu tentu di tangan.

Gue sedang merasa kesepian, sangat kesepian. Lalu gue menemukan lima pria yang seharusnya potensial untuk mengisi rasa sepi gue.

Faktanya? Kelimanya datang dan pergi sesuka hati.

Dari situ gue sadar. Bahwa gue belum siap untuk sakit. Maka gue mencari terus-terusan padahal gue belum sembuh.

Termasuk Si Item, anak perempuan yang tidak gue inginkan sebelumnya. Dia adalah salah satu korban kebiadaban pikiran gue. Bahwa kosong ini harus segera diisi maka siapa saja boleh masuk. Padahal jelas ngga bisa.

Item, nama panjangnya Cikal Bakal Cingcangkeling Manuk Cinden Cindeten. Ia adalah seekor kucing peranakan anggora dan kampung. Gue baru berjumpa dengannya jumat lalu. Belum seminggu.

Dan sudah gue putuskan untuk melepasnya.

Karena keadaan yang tidak memungkinkan kita bersama. Item sakit, butuh perhatian. Sedang gue lebih butuh perhatian. HAHA. GAKDENG. Gue harus meninggalkan dia, membiarkan dia di kandang dalam waktu yang lama. Kasian dia, hidup terkurung seorang diri di dalam kamar yang hanya berukuran sekian meter persegi ini.

Ditambah lagi aturan yang tidak memperbolehkan gue membawa hewan peliharaan jenis apapun. Makin was-was, dong? Belum lagi kalau tiba-tba ada sidang dadakan. Wah. Mati gue kalau ketahuan.

Tapi gue sayang Item. Darinya gue belajar untuk bertanggung jawab. Sakitnya itu tanggungan gue banget. Gue harus membuatnya sembuh, menjadi lebih baik. Biar dia sehat, gue pun begitu.

Dia juga omg gue akan sangat ingat kekuatan pijetannya di leher gue! Itu kenangan kita berdua kan, Nak?

Dia seneng banget dielus-elus perutnya, manja banget beneran ngga bohong. Diem, ngga berisik (asal ngga dikandangin). Dan mommy already loved u, my baby!

Tapi gue ngga boleh goyah!

Gue sudah memutuskan untuk melepaskannya. Dia harus mendapatkan perawatan yang lebih baik dengan lebih banyak perhatian, juga eksplorasi sekitar. Dengan gue, dia akan semakin menjadi pribadi pemalas yang tidur makan tidur makan aja (karena keluar kamar pun ngga bisa).

Dengannya, gue akan stress tiap kali sakit gigi dan pusing ditambah kebauan dari pupnya yang masih anget-anget encer dan baunya sreng-srengan. Gue sayang, gue nerimo, but sometimes it feels shoo hard for meh. 

Dan ya. Mungkin tangan yang besok atau dua hari lagi membawanya adalah tangan jodohnya, sehingga gue ngga perlu berduka hati. Karena gue percaya beliau yang terbaik untuk menggantikan gue.

Well, it feels very hard and I cant explain it more. I just felt that my heart was broken even its not the first time i shud let something/one go. But bismillahirrahmanirrahim. Ini keputusan gue. Bahwa melepaskan adalah jalan terbaik, daripada mempertahankan apa yang (mungkin) belum tentu jodoh kita.

Item, semoga di pertemuan kita selanjutnya setelah berpisah, Item jadi anak yang lebih sehat dan gendutnya melebihi mommy, ya!

I love you!

9664

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s