Jangan Lagi Masuk

Aku sudah meninggalkanmu, bahkan sebelum kuyakin benar bahwa ini keputusan yang terbaik. Karena bagiku kau memang telah menyentuh nadi, walau kau menampik itu. Bahwa yang kita lakukan adalah hal yang sia-sia untuk masa depan. Bahwa kau padaku hanya seperti seorang pria pada pasangan sementaranya. Sia-sia bukan?

Aku hampir berhasil. Aku banyak menyibukkan waktuku untuk makhluk lain yang pun berperan dalam bahagiaku. Seekor kucing brwarna hitam. Ia berhasil membuatku lupa bahwa pernah ada kau, yang di siang itu meraba-raba diriku padahal sudah jelas terbaca bahwa tubuhku sepenuhnya untuk rasa, bukan kurang dari itu.

Maka aku berhasil lupa sejenak, ditambah dirimu yang turut membantu diriku untuk lupa. Kau tak menghubungiku, kau tak muncul di mana-mana. Dan aku sangat terbantu.

Tapi apa barusan?

Kau datang.

Memang tak meminta untuk masuk. Tapi hatiku masih belum siap untuk perg ternyata, maka sikapku masih belum dapat dikontrol.

Bisa kau bantu aku lagi?

Untuk jangan pernah datang dan masuk lagi.

Advertisements