Pada saatnya kau akan temukan, mungkin bukan sekarang, bukan dalam waktu dekat, tapi ketika kau siap.

Mungkin perihal usia, sepi ini. Ketika yang di keliling perlahan membuat jarak, demi kebahagiaan masing-masing, demi pencapaian masing-masing. Bahwa semakin dewasa kita, semakin besar lingkup pertemanan, namun semakin sedikit yang benar-benar teman — setidaknya yang kau akui, dan ia yang mengakuimu.

Semakin dewasa, semakin kita dapat melihat makhluk lain dalam diri manusia. Bahwa manusia punya banyak muka. Untuk menutupi kesedihannya, untuk berdamai denganmu atau orang lain yang tak ia suka, untuk terlihat manis di muka umum, untuk memberi citra yang baik (baik di sini bukan selalu positif, namun tergantung lingkungan. Semisal orang yang baik di geng motor akan beda dengan orang yang baik di masjid. U know what I mean).

Semakin bertambah usia, kau pasti paham betul bahwa akan semakin banyak tuntutan. Lihat yang paling dekat saja: lulus. Bahwa untuk menjadi manusia yang katanya keren, kau harus berpengetahuan. Kenapa ngga gue bilang berpendidikan? Karena banyak mereka yang berpendidikan tapi tak berpengetahuan. Oleh sebab itu kuliahmu penting jika itu dapat membantumu di masa depan. Bukan gelar. Persetan gelar. Dalam dunia kerja, percayalah bukan itu yang dilihat, tapi bagaimana kau menyikapi apa yang ada di depan matamu, bagaimana kau belajar dari kesalahan dan mengambil kesempatan dengan bijak.

Menurut gue, sikap adalah determinan terpenting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Gue sudah sedikit membuktikannya. Bahwa tidak penting muka mulus, otak encer, tapi sikapmu pada dunia negatif.

Begini.

Gue banyak mendapat kesempatan hanya karena sikap gue positif terhadap apa yang gue jalani. Dari mulai ke orang lain, hingga ke pekerjaan yang dilakukan. Gue banyak menemukan manusia baik (entah di balik itu gimana, tapi dengan gue yang berpikiran positif, merasakan dampak baik dari orang itu).

Ada dua orang signifikan yang menurut gue akan menjadi kunci sukses gue saat ini dan ke depan. Keduanya sama-sama memberikan banyak kesempatan. Pertama relasi, yang mana teman mereka bejubel dan boleh dibilang orang yang sudah lebih sukses dari gue, lalu pikiran matang yang sangat memberi gue motivasi (terutama menanamkan rasa percaya diri gue, bahwa tiap orang berbeda, dan ngga boleh kamu iri dengan kesuksesan orang lain), lalu asupan gizi lewat hal sekecil traktiran makan hingga kesempatan mendapatkan gaji sendiri (well, yang gaji ini masih belum tapi semoga akan).

Di jaman modern ini, di umur yang menginjak 20 lebih, di mana emosi memang sedang fluktuatif, ngga diduga, gue sangat sadar bahwa gue butuh waktu untuk terbiasa. Terbiasa sendiri kemana-mana, terbiasa mengerjakan pekerjaan kuliah sendirian (well, gue sangat banyak memanfaatkan sohib gue dulu), terbiasa tidak melakukan hal yang biasa dilakukan seperti bersosialisasi, dsb.

Bahkan gue harus terbiasa memaafkan. Bahwa yang meninggalkan itu cepat atau lambat pasti akan. Bedanya, yang ini datang melalui ketiba-tibaan dan gue belum menyiapkan apa-apa sekecil mempersiapkan mental untuk ditolak ketika ngajak jalan. Dan hal ini sangat mengguncang.

Bukan hanya gue, gue yakin semua manusia mengalami fase ini. Bahwa keberadaan diri kita pertanyakan. Apa pentingnya gue buat orang lain? Kenapa gue menganggap dia penting tapi kok dia kayak engga? DSB.

Itu wajar. Karena di umur 20an memang masa-masa kita mulai fokus akan tujuan masa depan. Dan tujuan orang beda-beda. Gue mau A, yang lain bisa jadi pilih B C D dan seterusnya. Maka beruntunglah Anda jika mendapatkan teman dengan tujuan sama. Tapi jangan bangga jika kau dapatkan mereka tapi kau tidak tahu cara yang benar untuk meninggalkan.

Ah. Balik lagi ke sikap.

Sejujurnya gue sedang berada di fase terburuk gue. Fase dengan tidur terbanyak dan merasa tidak bahagia terbanyak. Jadi kalau kata-katanya ngga sinkron harap maklum.

Lanjut.

Di umur 20an ini gue sudah merasakan banyak hal — setidaknya yang pernah gue alami, bukan yang idealnya harus orang alami). Dari mulai perasaan kehilangan teman hingga kehilangan beneran atau gue yang memutuskan untuk menghilang, sampai bertemu orang yang hanya tahu ena-ena saja tapi tak tahu makna bahwa manusia butuh bukan hanya sekedar hubungan kelamin, tapi (yang katanya) hubungan percintaan.

Di umur ini gue akui umur ternakal gue. Dari coba rokok (yang dulunya gue pernah declare ke diri gue sendiri kalau gue ngga akan ngerokok karena itu ngga penting), sampai hal terburuk yang kalo kata ulama sih gue harus mensucikan diri gue dengan mandi besar karena penuh najis (tapi kalo ini sih gue ngga pernah mendeklarasikan diri untuk engga, malahan sebaliknya, ketika gue dan mantan teman gue malem-malem lihat kitab kamasutra jaman dulu banget HAHA).

Tapi gue tidak menyesal.

Karena di umur segini gue juga harus mengeksplorasi banyak hal. Dari mulai jalanan kota yang nantinya akan menemani keseharian gue, hingga tubuh lelaki yang nantinya akan membantu gue dalam memilih ia yang tepat.

Dan disitu gue percaya, dari hal ternegatif yang kita lakukan pasti ada hikmahnya. Dari rokok, misalnya, gue banyak dapet cerita batin seseorang yang mengarahkan gue pada kelas sosial yang tidak menuntut gue untuk bersikap individualis. Asal kamu tahu, rokok itu bisa menjadi perantara bersosialisasi di semua kalangan. Penikmat rokok tahu pasti ini.

Terus pergi ke tempat dugem dan minum dan joget di dance floor. Dari situ gue tahu bahwa untuk kenal dengan seseorang ngga susah. Tinggal saling bagi minuman aja, dapet kenalan deh. Dan yang penting lagi, gue tahu pria yang punya mental melindungi wanita tuh yang kayak gimana (re: kayak kakak gue satu itu  yang ngajakin dugem karena mau kobam tapi  ngga jadi karena gue keburu teler haha).

Terus, terhitung main sama lima pria berbeda dalam kurun waktu kurang dari setahun. Dan dari situ gue tahu lima tipe lelaki buruk yang tidak harus gue pilih. Dari situ gue tahu bahwa cinta dan seks beda. Seperti kata kenalan gue dari USA, bahwa “kamu bisa bersetubuh dengan siapa saja, tapi kamu tak bisa mencintai semua orang yang pernah bersetubuh denganmu”. Maka cinta itu beda, bukan perihal kelaminmu yang bahagia ketika bertemu kelamin lain.

Semua ada hikmahnya deh.

Dan satu lagi perihal mengganjal, yang membuat gue susah tidur tapi sekalinya tidur bisa sampai 12 jam lebih. Yaitu perihal jodoh.

Gue ngga sabaran banget orangnya kalau soal ini. Gue pengen buru-buru dapet pacar, dapet pasangan yang bisa nemenin jalan, nemein makan, apapun. Sampai di perjalanan mencari jodoh ini, gue menemukan lima pria yang gue berharap justru jodoh gue bukan salah satu dari mereka.

Karena pada dasarnya gue belum siap. Gue bukan seperti (mungkin) kebanyakan orang yang mau menghindari zina maka gue harus segera menikah padahal itu membatasi gerak gue nantinya. Gue masih sulit percaya orang lain kalau itu kasusnya membawa nama cinta dan kasih sayang (re: gue ngga percaya kata-kata gombal cuih). Gue masih belum bisa menata kamar gue, apalagi diri gue sendiri.

Dan gue masih belum bisa berdamai dengan banyak hal.

Skripsi gue (yang di depan mata), teman gue yang gue pikir meninggalkan gue, keluarga gue, dan banyak. Dan gue belum dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk menemukan yang tepat karena gue belum siap. Tapi Tuhan masih baik, karena membiarkan gue bertemu dengan lelaki yang boleh dibilang pecinta kelamin wanita. Tau lah seperti apa. Dan seperti yang tadi gue bilang, bahwa dari situ gue banyak belajar.

Pada saatnya nanti, katanya sih (dan gue percaya juga) kalau akhirnya gue akan menemukan orang yang serius, orang yang sama-sama mau belajar, orang yang sama-sama sudah berdamai dengan masa lalu, dan yang paling penting orang yang mau nerima gue se-rusak-rusaknya gue.

Tapi ya gitu. Gue juga ngga akan muluk meminta ia yang sempurna secara umum (kaya, bersih dari nikotin dan alkohol, dll). Karena gue percaya betul kata teman gue bahwa, “emang bener sih jodoh kita ya cerminan diri. kayak aku sama pacarku, okelah kita udah pernah ciuman dan segala rupa, tapi itu aku yakin karena kita juga udah pernah ngelakuin itu sama pasangan kita sebelumnya.”

Itu esensi memantaskan diri menurut gue.

Memang iya, untuk mendapatkan yang juga pantas yang mungkin dinilai masih orisinil lah maka kita menjaga betul originalitas diri. Tapi tenang aja.  Orang bejat pasti juga dapet jodoh kok. Cuman ya… jangan muluk aja mintanya yang ngga bejat HAHA. Yakeleus maneh ngeroko tapi minta pasangan maneh jangan ngeroko. Cewek yang ngga ngerokok juga maunya sama cowok yang mulutnya wangi mint kali!

Udah ah.

Sekali lagi, yang sejujurnya ingin gue sampaikan, mohon maaf, bukan perbuatan negatif itu harus dilakukan biar kita belajar, tapi please, perbuatan positif atau negatif apapun yang kita lakukan, kita harus tahu alasannya dan bisa ambil hikmahnya.

Terus…..

Percaya aja. Pada saatnya nanti kita pasti akan temukan apapun yang kita cari. Mungkin bukan sekarang atau lusa, tapi nanti di saat kita benar-benar siap. Karena Dzat yang ngga pernah kita tahu dia ada di mana lah yang lebih tahu semua tentang diri kita dibanding diri kita sendiri.

So, jangan muluk lah. Jalani aja dulu 😉

.

.

.

Regards,

❤ ARTP

Advertisements