Yang Paling Setia

Terkadang gue berpikir bahwa gue selalu salah memilih. Pertama, memang ketahanan diri gue akan segala hal yang teratur dan sistematis itu sulit banget. Bahwa gue memang menyadari hal yang gitu-gitu aja sangat membosankan, tidak menarik, da cenderung membuat gue menjadi stress.

Gue kuliah, udah semester akhir, yang mana sekarang sedang skripsi… dan yang gue rasakan adalah ketidakinginan untuk menyelesaikan skripsi. Oke ingin. Niat sih ada. Tapi nyawa untuk bener-bener ngelakuinnya itu yang belum ada. Serius.

Dan di saat teman gue yang satu persatu mencapai apa yang ditargetkan, gue masih aja di sini diem ngga ngapa-ngapain. Karena memang gue masih belum memprioritaskan apa yang seharusnya gue prioritaskan.

Tekanan udah mulai ada sih. Tapi ya itu aneh banget gue. Sukanya mikirin hal-hal ngga penting kayak “gimana ya pendapat orang lain tentang gue?” atau “ah gue harus bantuin dia, gue akan ngeluangin waktu untuk dia segera.” atau “shit! mau the sims gue penasaran kalo manusia nikah sama vampir anaknya akan jadi apa.” atau “mau makan apa ya hari ini sampe minggu depan?”

PADAHAL.

Hal-hal tersebut itu belum sesuatu yang urgent, berbeda dengan skripsi gue. Sedih sih lihat banyak orang lebih mau tapi bahkan gue merasa nyawa gue belum pulih benar. Bukan karena literaly sakit, tapi malas. Malas untuk berpikir, malas untuk memulai. SHIT!

Seketika gue menyesal telah memilih untuk istirahat sejenak dari skripsi.

Setelah istirahat yang kelamaan itu, bikin semuanya jadi menumpuk. Mimpi-mimpi gue untuk wisuda di hari ulang tahun (well, wisuda agustus nanti di rentang 1-3 agustus sih), pikiran untuk membenahi diri dan tidak lagi memikirkan lelaki (yang ini sudah mulai memudar karena gue sadar betul gue belum membutuhkan pria, tapi sosok. ngga harus pria dengan status pacar kan?), lalu keinginan untuk menumpuk pundi-pundi uang (re: kerja), dan masalah seputar persahabatan.

AH! Juga rasa kesepian.

Bahwa tiap malam saat lampu kamar mati, yang kau pikirkan bukan “ANJIR! Draft belum dikirim.” atau “Bangsat! Alat ukur belum jadi.” atau “Tai! Gue harus mantepin teori!”

Yang gue pikirkan adalah: kenapa gue ngga bahagia ya hari ini? Kenapa gue merasa sendirian terus ya? Apa yang harus gue lakukan?

Lalu yang gue lakukan adalah merencanakan kesenangan: belanja bahan makanan lalu membuat mie goreng ekstra pedas di magic com, main the sims, liburan ke Jogja, perawatan muka, dsb.

TAPI. Untuk melakukan kesenangan itu gue harus punya modal. Anjing bahkan enyak babeh gue aja kasih duit jajan pas buat makan dan transport, coba aing ikut penelitian dosen yang effortnya ngga gede-gede amat tapi bisa dapet sampe 2,1 jt! Coba gue bisa nyanyi terus ngeband. Coba gue punya usaha.

AAKKKK!

Dan pikiran itu yang lagi-lagi berputar.

Gue sadar betul bahwa gue ngga bisa sendiri. Me time gue ya sama teman-teman yang tahu segala cerita gue (bahwa gue habis menulis kisah, kalian harus baca, dll). Me time gue yang makan sama orang lalu berkeluh kesah dan menyampaikan segala ide yang gue punya.

Gue ngga biasa pergi kemana-mana sendirian. Bukan karena gue takut. Tapi karena gue tak bisa diam berlama-lama di bus, atau sambil alan gitu, dan pelonga pelongo tanpa berkisah. Maka yang gue senang dari menghabiskan waktu adalah menumpuk memori dengan manusia lain bersama.

Gue suka menulis, tapi bukan dengan tujuan yang oke ketika menulis gue lega. Tapi untuk mendapat perhatian, untuk mendapat banyak viewers, untuk membuat mata dan hati orang lain nikmat. Karena gue ingin dilihat, memang begitu.

Dan sekarang ini gue merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang setia, meski gue berusaha sebisa mungkin untuk tidak pernah pergi. Sakit sih. Gue orang yang pamrih, jadi tujuan gue baik adalah agar ngga punya masalah sama orang, agar dianggap baik, agar dibalas deh segala kebaikan gue.

Tapi yang seringkali gue dapatkan adalah rasa kecewa. Ya. Kecewa adalah hal paling setia, sekarang ini. Lelaki yang gue harapkan, malah mengambil keuntungan tubuh gue, tapi untuk mencintai gue dia bahkan tidak berniat untuk itu. Sahabat yang dengan susah payah gue jaga keberadaanya di hati gue, lalu mendapatkan kehidupan lain dan lebih dipilih dibanding gue, dan begonya gue masih menerimanya di kehidupan gue, terus dia pergi lagi tanpa mengonfirmasi apapun hal yang dia lakukan ke gue.

Ini berat. Permasalahan ini berat. Gue tidak bisa menerima kejahatan yang dia lakukan, sebelum dia meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Gue ngga minta dipilih, gue ngga minta dia selalu stay buat gue. Gue hanya minta apa yang gue lakukan, yang gue rasa memengaruhi dia, paling tidak mendapat apresiasi.

Gimana rasanya kamu bela-belain hujan-hujanan padahal saat itu kamu sudah dapet kendaraan (yang akan habis jamnya, jadi kamu harus cari alternatif lain kalau ngga ada kendaraan dengan harga lebih murah ini lagi) untuk menunggu temanmu yang katanya sedang kayak orang gila saking putus asa akan kehidupan percintaannya?

Ekspektasi: turun dari bis, hujan-hujanan bentar, ada bis lagi yang di dalamnya ada orang yang membuatmu turun dari bis sebelumnya, lalu dia bercerita dan dirimu mendengarkan sambil menepuk pundaknya, mengingatkan dia bahwa ini di tempat umum, lebih baik ditahan dulu air matanya.

Tapi realitanya: kamu berdiri di bawah pohon yang kamu pun ngga tahu itu pohon apa, dan pohon itu ngga banyak membantu. Rambutmu tetap lepek kena air hujan, badanmu tetap menggigil karena baju yang basah, kakimu kotor kecipratan tanah yang bercampur air hujan, sepatumu basah, kau jadi pusat perhatian jalanan kota, kamu menunggu tanpa kabar selama 30 menit, dan kamu mendapati pesan masuk: “Lo duluan aja, kunci lo aman.”

ANJING!

Dan bodohnya kamu masih memikirkan orang itu, yang kau sebut sahabatmu. Lalu kamu menunggu lagi sampai mulai merasa mata memanas di tempat umum, dan ngga ada siapa-siapa yang kau harapkan, atau yang mungkin bisa menjadi peredamu.

Ya.

Bahwa kecewa memang dari harapan itu benar. Dan diri ini sudah berharap pada apa yang bukan menjadi prioritas. Kenapa juga masih gue pikirin?

Tapi gue tetap mikirin. Sampai malam. Sampai gue menghubungi orang yang tidak gue kenal sebelumnya, cemas, takut manusia itu kenapa-kenapa, sampai akhirnya gue mendapatkan kabar bahwa jam 8 malam tadi dia masih tertidur bersama kekasihnya.

Dan ketika kekasihnya membalas, yang gue dapatkan adalah kata macam “Lebay lu. Alay.”

Kalau berteman itu selebay itu menurutmu, pantas saja kekasihmu sendiri bilang kau adalah manusia yang paling mengharapkannya. Iya. Karena kau tak punya siapa-siapa lagi yang patut kau perjuangkan selain kekasihmu yang mau pergi itu.

Lalu yang membuat tambah kecewa adalah tidak ada satu pesan konfirmasi apapun dari manusia itu, yang telah membuat gue menunggu kemarin. Yang gue temui malah akun whatsapp diblok (gimana sih rasanya diblok akun lo sama temen sendiri?), dan tak ada satu pun pesan masuk dari line.

Sesusah itu ya ngabarin?

Gue masih positif thinking, kawan. Tapi ada batasnya. Dan gue manusia yang gampang menduga. Tapi gue cuma bisa berharap bahwa yang blok wa gue itu pacar lo, dan pesan terakhir dari lo itu juga pacar lo yang ketik. Dan ketika lo, dengan apa yang sudah gue pesankan ke lo masih mengabaikan gue, gue siap pergi. Gue siap sakit dan sembuh kemudian.

Gue siap kecewa. Karena kecewa adalah teman paling setia, maka gue harus belajar menerima dia di saat-saat memang gue harus.

 

Bingung judulnya apa. Yaudahlahya.

Gue pernah bercita-cita untuk memiliki pasangan sesegera mungkin karena dua hal: trend relationship goals dan kebutuhan jasmani gue (re: desire). Permasalahan nomor pertama terkait bagaimana diri gue gemash tiap kali melihat foto atau tulisah dengan hastag tersebut. Ngga semua sih, yang lebay dan kekanakan terutama engga banget. Tipe relationship goals yang menginspirasi gue itu kayak Endah & Resha yang bisa berkarya bareng, atau Cyntia Lamusu dan Surya Saputra yang berjuang untuk dapet buah hati bareng, atau yang sereceh foto-foto di tumblr yang cowok cewek lagi jalan-jalan terus pegangan di tengah keramaian. IH SO SWEET. Lalu permasalahan nomor dua terkait kebutuhan biologis di masa-masa terutama ketika wanita sedang mengalami ovulasi. Wanita punya masa-masa sange kayak laki kan?

Tapi siapa sangka memiliki pasangan secara instan itu tidak mungkin. Pasti ada perjalanan panjang sampai keduanya mantap. Dan yang seringkali membuat gue tidak percaya diri adalah ketika gue menemukan lelaki, tapi dia menuntut tubuh gue bukan rasa dalam diri gue a.k.a dia bukan minta status tapi tubuh untuk disetubuhi.

Alhasil, tidak pernah ada yang bertahan lama. Entah pergi begitu saja, entah gue yang memutuskan untuk meninggalkan. Ditinggalkan dan meninggalkan itu beda, tapi sakitnya sama, serius. Jadi jangan pernah membandingkan kedua hal ini, apalagi menganggap salah satu dari kedua itu brengsek, padahal engga juga.

Dan hal yang paling membuka mata gue terkait keinginan gue dan akhirnya membuat gue tabah melajang hingga detik ini (kayak setua apa aja gue) adalah karena gue (akhirnya) menganalisis apakah pacaran itu baik atau tidak.

Keuntungan memiliki pasangan sudah pernah gue jelaskan sebelumnya di sini. Bahwa memiliki pasangan itu dapat memenuhi kebutuhan akan afeksi, eksistensi dan power kamu. Afeksi terkait kasih sayang dan belaian dsb; eksistensi di mana kamu dianggap ada; dan power yang bikin kamu ada teman makan bareng, jalan bareng dsb.

Tapi ternyata di balik itu, memiliki pasangan (dalam hal ini sebut saja pacar), ngga semuanya pasti bahagia. Banyak permasalahan yang muncul dari dua sejoli yang memutuskan untuk menjalin kasih. Sekecil pertengkaran macam adu mulut sampai yang paling parah yaitu adanya kekerasan fisik (dorong-dorongan, tendang menendang, lempar-lemparan barang, dll).

Gimana ya… Semua orang itu kan beda-beda, dan menemukan orang yang cocok itu bukan perihal yang mudah. Ibarat membuat adonan roti, harus ada yang saling mengalah bentuknya demi membuat adonan yang yahut. Terigu yang semula bubuk jika harus memadatkan diri ketika bertemu telur. Telur pun harus meluruhkan bentuknya demi menyatu dengan terigu yang bubuk.

Begitu kurang lebih.

Mungkin harus ada yang mengalami perubahan ketika sudah memutuskan untuk menjalin hubungan. Untuk yang terbiasa egois, misalnya, harus meredakan keegoisannya dan menjadi pribadi yang lebih pengertian. Untuk yang biasanya jarang mandi, harus rajin mandi ketika pacarnya sensitif dengan bau ketek. Untuk yang ngga mudah percaya, harus belajar percaya. Dan banyak lagi.

Nah. Masalah muncul adalah ketika terigu yang dicampur telur tidak dapat menyatu dengan baik. Entah telurnya kurang, atau kurang air, atau kelebihan, dll.

Itu dia. Ketika kamu ngga berhasil menurunkan ego, pertengkaran itu yang terjadi. Kamu maunya pacarmu selalu perhatian, padahal mungkin pacarmu itu sedang sibuk menyusun masa depan (re: skripsi atau bisnis, atau lain-lain). Atau kamu terlalu muluk. Inginnya pacarmu selalu di sisi, padahal seharusnya ia mengembangkan dirinya di luar sana. Atau… memang tidak ada kecocokan.

Beberapa kisah yang pernah gue dengar (mungkin rasakan), banyak sekali orang yang mengeluhkan bahwa pacaran itu ndak asyik. Ada bahkan yang mengalami kekerasan (ini beneran. emang ada bukti luka lebam di tubuhnya). Ada lagi yang makan ati terus –karena –ngga pernah dapet ampela *PAANSIY*- pacarnya cuek banget, jarang ngabarin. Ada yang diselingkuhin. Ada yang diputusin dengan alasan sok bijak tau-tau mantannya itu pacaran lagi sama yang lain.

YHA. Kalau sudah begini kebutuhan tiga tadi sudah jelas ngga mungkin didapet dong ya? IYA!

OH! Ada kisah menarik yang menurut gue bisa jadi pelajaran. Bahwa ketika kamu menetapkan seseorang untuk menjadi pacar kamu, kamu juga ngga boleh lupa hidup itu ngga hanya milik berdua. Kamu punya teman yang harus kamu bahagiakan (setidaknya tidak kamu buat repot apalagi karena permasalahanmu dan pacarmu), dia pun begitu.

Ada seseorang yang menurut gue sangat tidak masuk akal sekali hidupnya (entah gue ngga bisa memaknakan kehidupannya, entah gue menuntut, entah apa). Baru saja gue sadari bahwa kerapkali gue yang berkorban untuk selalu ada buat dia, tapi bahkan sekecil dihargai pun tidak. Mungkin iya, tapi karena gue lebay jadinya gue merasa gitu. Iya ngga?

Dan di situ gue menyadari bahwa pacaran sangat tidak penting kalau itu menjauhkan dirimu dari orang terdekatmu. Temanmu mungkin lebih tahu busuk dalem-dalemnya diri kamu, hati kamu, ngga sepeti pacarmu yang hanya tahu permukaan tubuhmu (tetekmu terlalu kecil atau besar, selangkanganmu hitam, rasa bibirmu, dan semua permukaan tubuhmu).

Jangan pernah pilih antara kedua ini. Temanmu atau pacarmu. Karena keduanya punya fungsi yang berbeda. Sebut saja teman untuk kau repotkan dengan segala ceritamu perihal pacarmu yang sudah menyetubuhimu tapi dia tak paham arti berhubungan, dan sebaliknya, pacamu yang mungkin mewakili segala peran dari mulai peran tukang ojek hingga peran di ranjang.

Begitu kan?

Lalu lebih penting mana? Temanmu atau pacarmu?

Gue tidak pernah berada di posisi ini. Tapi mungkin opini ini akan membantu bagi orang yang sedang merasakan ini.

Seperti yang tadi gue bilang, bahwa kedua fungsi mereka berbeda. Sebenarnya terkait fungsi ini tergantung pada kesepakatan antara dirimu dan orang-orang bersangkutan ini. Tapi umumnya, kau bilang ia teman (atau sahabat) ketika dia mampu memenuhi kebutuhan sosialmu. Kamu butuh orang untuk mendengarkan ceritamu kan? Kamu butuh mengembangkan dirimu kan? Dan pacar umumnya adalah orang yang kamu butuhkan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih intim.

Pilihan ini sejauh mana kau menghargai keduanya.

Tentunya temanmu akan malas jika kau tiba-tiba membatalkan janji demi pertemuanmu dan pacarmu yang tiba-tiba karena pacarmu yang memintanya kan? Temanmu akan kesal ketika kau menangis di depannya ketika kau ada masalah, sedang kau berbahagia dengan pacarmu kemudian dan kau lupakan seketika temanmu kan?

Mungkin bagi orang dengan posisi “teman” akan dianggap orang pamrih dan neko-neko. AELAH KAN CUMA TEMEN. Tapi seyogyanya, harusnya orang pintar tahu ini. Bahwa teman itu jauh lebih dibutuhkan dibanding pacar.

Makanya seneng ngga sih kalau punya pacar yang juga bisa jadi temen atau temen yang tahu-tahu jadi pacar? EAAAA.

Sayangnya seringkali kita menyia-nyiakan teman ataupun sahabat kita sendiri demi kebutuhan bercinta kita. Apalagi untuk orang-orang yang sedang dimabukkan oleh cinta yang seolah-olah pacar kita adalah segalanya, padahal… orang yang katanya sangat kita cintai adalah orang yang paling bisa membuat kita menangis lho!

DAN SIALAN GUE BARU SAJA MENANGISI TEMAN GUE SENDIRI WKWK.

Balik lagi, keduanya bukan pilihan. Kamu tidak bisa memilih jalan dengan pacarmu alu melupakan temanmu, juga kamu tidak bisa memilih hangout dengan temanmu dan lupa bahwa ia sedang menanti kabarmu.

Bahwa semua harus ada porsinya, itu bener banget. Kamu harus paham kebutuhanmu, tapi jangan lupa juga kebutuhan orang yang bersangkutan denganmu.

Kalau dirasa temanmu membuat kamu menjadi orang yang negatif karena sering diajak mabok, misalnya, kamu sah sah aja tuh ninggalin dia. Sama juga dengan pacar. Kalau dia ngga bikin kamu bahagia, buat kamu menjadi orang yang ngga berkembang, jahatin kamu, ya tinggalin aja!

Jangan bodoh dalam memilih.

Karena smua orang bebas untuk memilih bahagia. Boleh aja sih ngga peduli sama yang lain, yang dulunya selalu mengisi waktu kosongmu di kelas, nemenin makan di kantin, tapi dengan cara yang bijaksana, OK?

Gue belum sempurna, setidaknya ini yang bisa gue tulis untuk menyembuhkan hati gue. Kalau itu, berteman dengan orang yang hanya menganggap gue angin lalu membuat gue celaka, lebih baik segera pergi bukan?