Bingung judulnya apa. Yaudahlahya.

Gue pernah bercita-cita untuk memiliki pasangan sesegera mungkin karena dua hal: trend relationship goals dan kebutuhan jasmani gue (re: desire). Permasalahan nomor pertama terkait bagaimana diri gue gemash tiap kali melihat foto atau tulisah dengan hastag tersebut. Ngga semua sih, yang lebay dan kekanakan terutama engga banget. Tipe relationship goals yang menginspirasi gue itu kayak Endah & Resha yang bisa berkarya bareng, atau Cyntia Lamusu dan Surya Saputra yang berjuang untuk dapet buah hati bareng, atau yang sereceh foto-foto di tumblr yang cowok cewek lagi jalan-jalan terus pegangan di tengah keramaian. IH SO SWEET. Lalu permasalahan nomor dua terkait kebutuhan biologis di masa-masa terutama ketika wanita sedang mengalami ovulasi. Wanita punya masa-masa sange kayak laki kan?

Tapi siapa sangka memiliki pasangan secara instan itu tidak mungkin. Pasti ada perjalanan panjang sampai keduanya mantap. Dan yang seringkali membuat gue tidak percaya diri adalah ketika gue menemukan lelaki, tapi dia menuntut tubuh gue bukan rasa dalam diri gue a.k.a dia bukan minta status tapi tubuh untuk disetubuhi.

Alhasil, tidak pernah ada yang bertahan lama. Entah pergi begitu saja, entah gue yang memutuskan untuk meninggalkan. Ditinggalkan dan meninggalkan itu beda, tapi sakitnya sama, serius. Jadi jangan pernah membandingkan kedua hal ini, apalagi menganggap salah satu dari kedua itu brengsek, padahal engga juga.

Dan hal yang paling membuka mata gue terkait keinginan gue dan akhirnya membuat gue tabah melajang hingga detik ini (kayak setua apa aja gue) adalah karena gue (akhirnya) menganalisis apakah pacaran itu baik atau tidak.

Keuntungan memiliki pasangan sudah pernah gue jelaskan sebelumnya di sini. Bahwa memiliki pasangan itu dapat memenuhi kebutuhan akan afeksi, eksistensi dan power kamu. Afeksi terkait kasih sayang dan belaian dsb; eksistensi di mana kamu dianggap ada; dan power yang bikin kamu ada teman makan bareng, jalan bareng dsb.

Tapi ternyata di balik itu, memiliki pasangan (dalam hal ini sebut saja pacar), ngga semuanya pasti bahagia. Banyak permasalahan yang muncul dari dua sejoli yang memutuskan untuk menjalin kasih. Sekecil pertengkaran macam adu mulut sampai yang paling parah yaitu adanya kekerasan fisik (dorong-dorongan, tendang menendang, lempar-lemparan barang, dll).

Gimana ya… Semua orang itu kan beda-beda, dan menemukan orang yang cocok itu bukan perihal yang mudah. Ibarat membuat adonan roti, harus ada yang saling mengalah bentuknya demi membuat adonan yang yahut. Terigu yang semula bubuk jika harus memadatkan diri ketika bertemu telur. Telur pun harus meluruhkan bentuknya demi menyatu dengan terigu yang bubuk.

Begitu kurang lebih.

Mungkin harus ada yang mengalami perubahan ketika sudah memutuskan untuk menjalin hubungan. Untuk yang terbiasa egois, misalnya, harus meredakan keegoisannya dan menjadi pribadi yang lebih pengertian. Untuk yang biasanya jarang mandi, harus rajin mandi ketika pacarnya sensitif dengan bau ketek. Untuk yang ngga mudah percaya, harus belajar percaya. Dan banyak lagi.

Nah. Masalah muncul adalah ketika terigu yang dicampur telur tidak dapat menyatu dengan baik. Entah telurnya kurang, atau kurang air, atau kelebihan, dll.

Itu dia. Ketika kamu ngga berhasil menurunkan ego, pertengkaran itu yang terjadi. Kamu maunya pacarmu selalu perhatian, padahal mungkin pacarmu itu sedang sibuk menyusun masa depan (re: skripsi atau bisnis, atau lain-lain). Atau kamu terlalu muluk. Inginnya pacarmu selalu di sisi, padahal seharusnya ia mengembangkan dirinya di luar sana. Atau… memang tidak ada kecocokan.

Beberapa kisah yang pernah gue dengar (mungkin rasakan), banyak sekali orang yang mengeluhkan bahwa pacaran itu ndak asyik. Ada bahkan yang mengalami kekerasan (ini beneran. emang ada bukti luka lebam di tubuhnya). Ada lagi yang makan ati terus –karena –ngga pernah dapet ampela *PAANSIY*- pacarnya cuek banget, jarang ngabarin. Ada yang diselingkuhin. Ada yang diputusin dengan alasan sok bijak tau-tau mantannya itu pacaran lagi sama yang lain.

YHA. Kalau sudah begini kebutuhan tiga tadi sudah jelas ngga mungkin didapet dong ya? IYA!

OH! Ada kisah menarik yang menurut gue bisa jadi pelajaran. Bahwa ketika kamu menetapkan seseorang untuk menjadi pacar kamu, kamu juga ngga boleh lupa hidup itu ngga hanya milik berdua. Kamu punya teman yang harus kamu bahagiakan (setidaknya tidak kamu buat repot apalagi karena permasalahanmu dan pacarmu), dia pun begitu.

Ada seseorang yang menurut gue sangat tidak masuk akal sekali hidupnya (entah gue ngga bisa memaknakan kehidupannya, entah gue menuntut, entah apa). Baru saja gue sadari bahwa kerapkali gue yang berkorban untuk selalu ada buat dia, tapi bahkan sekecil dihargai pun tidak. Mungkin iya, tapi karena gue lebay jadinya gue merasa gitu. Iya ngga?

Dan di situ gue menyadari bahwa pacaran sangat tidak penting kalau itu menjauhkan dirimu dari orang terdekatmu. Temanmu mungkin lebih tahu busuk dalem-dalemnya diri kamu, hati kamu, ngga sepeti pacarmu yang hanya tahu permukaan tubuhmu (tetekmu terlalu kecil atau besar, selangkanganmu hitam, rasa bibirmu, dan semua permukaan tubuhmu).

Jangan pernah pilih antara kedua ini. Temanmu atau pacarmu. Karena keduanya punya fungsi yang berbeda. Sebut saja teman untuk kau repotkan dengan segala ceritamu perihal pacarmu yang sudah menyetubuhimu tapi dia tak paham arti berhubungan, dan sebaliknya, pacamu yang mungkin mewakili segala peran dari mulai peran tukang ojek hingga peran di ranjang.

Begitu kan?

Lalu lebih penting mana? Temanmu atau pacarmu?

Gue tidak pernah berada di posisi ini. Tapi mungkin opini ini akan membantu bagi orang yang sedang merasakan ini.

Seperti yang tadi gue bilang, bahwa kedua fungsi mereka berbeda. Sebenarnya terkait fungsi ini tergantung pada kesepakatan antara dirimu dan orang-orang bersangkutan ini. Tapi umumnya, kau bilang ia teman (atau sahabat) ketika dia mampu memenuhi kebutuhan sosialmu. Kamu butuh orang untuk mendengarkan ceritamu kan? Kamu butuh mengembangkan dirimu kan? Dan pacar umumnya adalah orang yang kamu butuhkan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih intim.

Pilihan ini sejauh mana kau menghargai keduanya.

Tentunya temanmu akan malas jika kau tiba-tiba membatalkan janji demi pertemuanmu dan pacarmu yang tiba-tiba karena pacarmu yang memintanya kan? Temanmu akan kesal ketika kau menangis di depannya ketika kau ada masalah, sedang kau berbahagia dengan pacarmu kemudian dan kau lupakan seketika temanmu kan?

Mungkin bagi orang dengan posisi “teman” akan dianggap orang pamrih dan neko-neko. AELAH KAN CUMA TEMEN. Tapi seyogyanya, harusnya orang pintar tahu ini. Bahwa teman itu jauh lebih dibutuhkan dibanding pacar.

Makanya seneng ngga sih kalau punya pacar yang juga bisa jadi temen atau temen yang tahu-tahu jadi pacar? EAAAA.

Sayangnya seringkali kita menyia-nyiakan teman ataupun sahabat kita sendiri demi kebutuhan bercinta kita. Apalagi untuk orang-orang yang sedang dimabukkan oleh cinta yang seolah-olah pacar kita adalah segalanya, padahal… orang yang katanya sangat kita cintai adalah orang yang paling bisa membuat kita menangis lho!

DAN SIALAN GUE BARU SAJA MENANGISI TEMAN GUE SENDIRI WKWK.

Balik lagi, keduanya bukan pilihan. Kamu tidak bisa memilih jalan dengan pacarmu alu melupakan temanmu, juga kamu tidak bisa memilih hangout dengan temanmu dan lupa bahwa ia sedang menanti kabarmu.

Bahwa semua harus ada porsinya, itu bener banget. Kamu harus paham kebutuhanmu, tapi jangan lupa juga kebutuhan orang yang bersangkutan denganmu.

Kalau dirasa temanmu membuat kamu menjadi orang yang negatif karena sering diajak mabok, misalnya, kamu sah sah aja tuh ninggalin dia. Sama juga dengan pacar. Kalau dia ngga bikin kamu bahagia, buat kamu menjadi orang yang ngga berkembang, jahatin kamu, ya tinggalin aja!

Jangan bodoh dalam memilih.

Karena smua orang bebas untuk memilih bahagia. Boleh aja sih ngga peduli sama yang lain, yang dulunya selalu mengisi waktu kosongmu di kelas, nemenin makan di kantin, tapi dengan cara yang bijaksana, OK?

Gue belum sempurna, setidaknya ini yang bisa gue tulis untuk menyembuhkan hati gue. Kalau itu, berteman dengan orang yang hanya menganggap gue angin lalu membuat gue celaka, lebih baik segera pergi bukan?

Advertisements

2 thoughts on “Bingung judulnya apa. Yaudahlahya.

  1. terREItory says:

    aku sih selalu percaya, kalo sampe harus dihadapkan pada pilihan kekasih atau sahabat, kalau sampai salah satu berkata “loe pilih dia atau gue?”, berarti ada sesuatu yang salah, entah aku, sahabat, atau kekasih…ada yang tidak seimbang ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s