Kita Semua “SPESIAL”

Setelah lama tidak produktif menulias, akhirnya gue ingin memberanikan diri.. ya… untuk berbagi lagi mengenai pemikiran gue yang ngga bener-bener amat HAHA.

Jadi gue sedang merasa down lagi. Motivasi terkait menyelesaikan skripsi, motivasi untuk bersosialisasi, motivasi untuk membereskan pekerjaan di dalam kosan (you know lah beberes yah), motivasi untuk membuat diri sendiri bahagia.

Well, i need to change my mindset, i already knew the problem is… but i dont know how to solve them. REALLY! Lebih tepatnya untuk “memulai” menyelesaikannya, sih.

Mungkin bukan hanya gue yang merasa demikian. Feeling blue, lonely, serba tidak bergairah, dan pikiran negatif lainnya, gue yakin bukan hanya gue yang memilikinya. So, I gotta share this! Untuk kita sama-sama ubah mindset. 

Gue dapatkan ini dari materi psikiatri kemarin, bahwa apapun yang terjadi pada diri kita itu karena mindset kita. Bahwa semua masalah muncul dari pikiran. Setuju?

Misal.

Kita punya masalah sama orang tua kita yang kolot yang ngga ngebolehin kita keluar malam. Lalu kita dan orang tua bermusuhan, saling sembunyi dibalik kemudi pikiran masing-masing. Orang tua kita yang…. yaaa mungkin dari jaman dulu dididik demikian oleh kakek nenek kita, dan kita yang berpikiran lebih modern, jelas.

Kalau permasalahannya begini apa mau bermusuhan terus?

Ndak.

Apa kita bisa ubah pemikiran orang tua kita?

Mungkin. Tapi susah, karena memang belief itu sudah mendarah daging di orang tua kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Mau ngga mau kita harus maklumin. Bahwa, oke… mungkin keluar malam memang tidak baik, dan tidak berfaedah. Orang tua selalu benar karena asam garam manis pahit hidup ya dia tahu, dan itu terbukti.

Pikiran positif kayak gitu aja terus yang kita tanamkan dalam pikiran kita. Niscaya, insyaallah, kita akan terima.

Begitu.

Intinya sih, jika kita mengalami suatu masalah, pertama yang harus kita lakukan adalah: koreksi diri terlebih dahulu. Jangan mudah menyalahkan orang lain, apalagi akan hal yang kita lakukan, pun yang tidak kita lakukan. Ngga boleh itu. Bahaya.

Jadi gimana Amelia, kalau aku merasa diriku tidak ada apa-apanya, tidak berarti, tidak diinginkan, aku tidak bisa apa-apa, aku harus gimana, Amelia?

Jawaban: Ubah mindset.

Bahwa manusia dilahirkan “SPESIAL”. Manusia itu istimewa. Manusia diciptakan berbeda-beda sesuai kapasitasnya masing-masing. Well, gue bicara ini karena gue pun ingin berhenti membandingkan diri gue sendiri dengan orang lain, jujur saja.

Semua orang di dunia ini yang jumlahnya gue ngga tahu berapa (karena males buka tab tambahan untuk browsing) semuanya dikaruniai hal yang berbeda, sekecil sidik jari yang ngga ada tuh satu orang persis punya sidik jari yang sama, bahkan saudara kembar sekalipun.

Manusia itu spesial, karena dengan semua perbedaan itu menandai keunikan manusia.

And being unique is awesome! So, ketika semua manusia unik artinya manusia itu awesome! Secara ciptaan Tuhan, yekan?

Percayalah, yang membuat diri kita tidak berharga adalah diri kita sendiri. Ketika kita merasa tidak mampu, ketika kita tidak memberikan diri sendiri untuk berkembang karena berbagai alasan yang seharusnya bukan dijadikan hambatan, ketika kita masih berpikiran bahwa dunia itu jahat.

Dunia itu tidak jahat. Bahwa yang jahat adalah orangnya, itu mungkin. Tapi yang lebih tepat adalah: “kita aja yang negative thinking“. Di dunia ini ngga ada orang jahat. Seperti kata entah siapa, tapi ini gue dapatkan di salah satu mata kuliah, bahwa “pada dasarnya manusia dilahirkan baik. maka ketika dia berbuat suatu kesalahan (kejahatan), pasti bisa dilihat.”

Gue pribadi banyak banget nemuin orang baik di dunia yang katanya mengerikan ini. Pertama, ada teman baik gue yang udah gue anggap sebagai kakak sendiri. Ih ada banyak loh dari kategori ini wkwk. Pokoknya melalui mereka gue banyak dapat pengalaman berteman, bekerja, serta pencari pasangan. DHAN gue banyak sekali dapat keuntungan dari berteman dengan mereka.

Kedua, gue baru saja rasakan kemarin waktu mudik bawa Si Item pake babon alias mobil elp. Gue ketemu bapak-bapak yang ramah, yang seakan-akan tahu kebingungan gue akan bis yang sebelum ketemu dia teh gue bingung banget naik bis apa. Lalu dia kasih gue saran untuk naik bis “A” (sejujurnya gue lupa namanya tapi alih-alih ngga nyebut merk aja deh) yang emang setelah gue naik teh Si Item nyaman banget sampe tidur di cargonya, dan gue pun bisa tertidur sejenak.

Ketiga, keempat dan seterusnya, gue lebih banyak lagi menemukan orang baik. Ada teman yang mau nebengin gue, teman yang kasih Si Item, teman yang nemenin makan curhat, dll.

Gue belum pernah menemukan orang jahat kayak di film-film, kecuali ada seorang teman yang gue pikir meninggalkan gue. Dan itu pun gue rasa hanya perasaan gue aja.

Beda kan sama orang yang menganggap dunia ancaman? Kalau gue menganggap dunia itu jahat penuh iblis busuk, gue ngga akan senyaman itu bawa Si Item naik bis berkali-kali. Yang ada gue akan merasa insecure.

Kalau gue menganggap dunia itu ancaman, gue bakal nyalahin dosen-dosen atau teman-teman gue akan ketidaklancaran skripsi gue. Well, sometimes i fell that terrible thing but I will stop!

Dari semua contoh di atas, gue ingin menunjukkan kalau menjadi orang yang percaya diri itu kunci utama untuk bertahan hidup di dunia. Percaya diri di sini, yang gue maksud adalah orang yang bisa berjalan sendiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri atas apa yang sudah diri lakukan.

Karena kita unik, dan kita selalu punya kesempatan.

Bahwa kita tidak pernah beruntung itu tidak mungkin.

Manusia punya jalan hidup masing-masing yang berbeda dari orang lain. Jadi, stop comparing yourself with others! Jangan membandingkan. Tapi berkaca dan belajar. Ngga ada orang jahat yang seenak jidat ambil apa yang kita miliki. Yang ada entah mungkin dia ngga tahu cara meminta, atau kita yang belum sadar bahwa ternyata itu bukan milik kita, tapi milik dia.

Kita semua itu “SPESIAL”. Jadi jangan iri atas keberhasilan orang lain. Semua ada waktunya. Dan waktu yang tepat buat orang mencapai suatu keberhasilan itu bukan sesuatu yang harus dipertandingkan macam lomba tujuh belasan.

Yang jelas kita harus berusaha. Skripsi ngga akan selesai kalo kita endapin di folder yang ngga pernah kita buka kan, Amelia?

IYA.

Case closed.



NB: Maaf untuk tulisan yang paragraf demi paragrafnya ngga beraturan informasinya. Maaf untuk pertanyaan yang tidak terjawab. Gue males revisi ini tulisan karena lagi males mikir banget wkwk. Semoga tercerahkan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s