Lelaki Berkelamin Mini

Hai, namaku Bianca. Panggil aku “B” (dibaca be). Umurku mungkin sama seperti kalian yang membaca. Ada di rentang usia 20 hingga 25 tahun. Sebut saja usia siap bercinta, namun belum matang. Mengapa kubilang begitu?

Karena aku belum ingin menikah. Aku belum bekerja, agamaku… entahlah. Dan aku tidak memiliki kekasih.

Namaku Bianca. Dan aku ingin bercerita. Perihal lelaki yang hampir meniduriku dari belakang namun tak jadi, karena kelaminnya yang tak dapat menjangkau punyaku.

Kami sengaja bertemu, di siang itu, untuk yang pertama kalinya lewat perkenalan di udara. Nama lelaki itu “G” (dibaca Ge). Tentu saja itu hanya nama panggilan. Nama panjangnya… hm lebih baik tak kuberi tahu. Usianya jauh lebih tua dariku, mungkin 10 tahun atau lebih. Tapi dia tak terlihat seperti om-om atau bapak-bapak. Bahkan awalnya kupikir usianya ada di rentang 25 hingga 28.

Kami berkenalan lewat udara. Aku merabanya lewat beberapa foto yang ia pasang di akun miliknya. “Lumayan”, satu kata yang berbunyi di dadaku kala itu, kala membaca pesannya untuk pertama kali, dan dengan sigap kubuka juga profilnya.

Singkat cerita, aku bertemu dengannya, dan tak terjadi apa-apa hingga perjanjian di malam harinya, sehabis pertemuan pertama. Malam itu, setelah ia pulang membawa lebih dari seribu kesan positif, ia meminta tubuhku.

Katanya kelaminnya hampir keluar dari celana kalau saja celananya tak dikancing, kala matanya melihat bagian tubuhku yang berkelok. Aneh ya, lelaki. Yang lihat matanya, yang bangun bagian dalam celananya. Haha. Well, I know that biological effect too much. Karena G bukan lelaki pertama untukku. Kalau lelaki yang pada akhirnya masuk ke dalam hatiku lalu berusaha kubuang jauh, iya, mungkin ia yang pertama.

***

Perjanjian akhirnya disepakati. Kurang lebih aku meminta untuk kelaminnya jangan pernah masuk punyaku, karena aku belum yakin betul dengannya. Pun di pertemuan awal harusnya tak ada kontak fisik bukan? Apalagi kontak kelamin. Aku minta, permainan kita hanya di permukaan saja.

Dua hari kemudian kami berjumpa lagi.

Tatapannya masih sama, seperti pada pertemuan pertama. Bedanya, mungkin karena aku pun sedang ingin, tanpa berbasa-basi kami memulai. Tentu dia yang tak sabar akan tubuhku. Aku tak ingin memperlihatkan diri bahwa ini yang sedang kuingin juga.

Ia menciumku. Di bibir, yang cukup lama. Dan saat itu pula kurasakan bibirnya yang lembut. Bibirnya berwarna merah muda dan kenyal, tidak pecah-pecah, tidak bau.. Karena ia tidak merokok. Akunya, terakhir ia merokok yaitu ketika ia bekerja dulu sekali.

Ini yang paling kusuka darinya. Ciumannya basah. Ia menyapu bibirku dan dalam bibirku, lalu kedua pipiku, lalu leherku, dan membuatku seperti habis memakai krim pelembab wajah. Dan ia langsung tahu titik terlemahku: leher. Ketika sampai situ, aku tak berhenti berdesis, sungguh.

Perjanjian malam sebelumnya tak ada artinya, pada akhirnya. Ia membuat tanganku masuk ke dalam celananya, dan kudapati benda kecil yang meringkuk minta keluar. Coba kau kepal longgar tanganmu. Sebesar dalam kepalan itulah kelaminnya. Jari-jariku bahkan masih dapat menempel sempurna pada bantalan telapak tanganku saat mengenggamnya. Panjangnya pun tak lebih dari lima jariku, bahkan ketika dimasukkan ke mulut pun tak kurasakan ujungnya menempel pada dinding tenggorokanku.

Maka ia kusebut lelaki berkelamin mini.

Aku sempat kecewa. Bahkan daging mini itu tak menampakkan kegagahannya. Meringkuk saja di tempat. Lembek seperti daging ayam yang dibiarkan dua hari.

Tapi ia dapat memberiku sensasi yang berbeda, bukan dari kelamin mininya itu. Tapi perlakuannya yang lembut padaku. Kau tahu? Kami bercinta dengan kata. Ia menggodaku, sehabis lidahnya menyapu payudaraku, “enak ngga?”

Aku pun demikian. Membiarkan diriku berbicara sambil menggodanya dengan kerlingan mataku. Kata orang, aku memang pandai mengoda, maklum saja.

Ya. Di persetubuhan pertama, nikmat itu aku rasakan. Bahwa jika bersetubuh nikmat jika ada penghargaan. Dari nilai kepuasan yang dilontarkan, misalnya. Tak peduli ukuran kelamin, jika kau mencari rasa, kau aka temukan juga kepuasan pada kelamin mini lainnya –tentu saja kelamin mini satu ini milikku- asal kau tahu bagaimana menghargainya.

Ah! Aku jadi ingat hal pertama yang ia tayakan padaku, ketika dengan tidak tahu malunya ia mengeluarkan kelamin mininya itu. “Kecil, ya?”

Tentu aku punya penilaian, seperti yang kulontarkan sebelumnya. Tapi aku tak ingin membuat kelamin mini itu semakin meringkuk dalam, lalu kubilang, “Disyukuri aja.” sambil tersenyum padanya. Kemudian ia melanjutkan misinya: mengeluarkan maninya —yang pada akhirnya kutahu baunya seperti apa. Iya. Aku penasaran seperti apa mani itu, maka kuambil tissue bekas ia membersihkan kelaminnya yang sudah kering dan kekuningan warnanya beberapa jam kemudian. Pesing. Seperti bau kencing yang dibiarkan mengerak di tembok wc umum.

Pertemuan selanjutnya terjadi, dengan kisah yang semakin tak diduga. Dan aku baru menyadari bahwa ada yang kurang benar dari otak sang pemilik kelamin mini itu. Aku menemukannya menyukai persetubuhan yang penuh dengan ikat mengikat –yang sejujurnya ilmu ikat mengikat ini hanya kudapat dari pramuka saat sekolah  dulu, lalu pukulan dan pecutan, lalu menstimulasi kelamin perempuan dengan segala benda tak masuk akal –demi apapun aku melihat dalam file yang ia bawa, mic yang biasa kau lihat di genggaman penyanyi-penyanyi di televisi, masuk ke liang wanita. Bagaimana rasanya dapat kau bayangkan?

Aku baru ingat kemudian. Bahwa dalam persetubuhan kemarin –entah secara sadar atau tidak, beberapa kali ia mengayunkan tangannya pelan pada payudaraku. Lalu dia perlakukan payudaraku seperti saat kau mengeringkan pakaian yang baru kau cuci dengan memerasnya sampai tak ada sebutir air pun yang jatuh.

Dan kau tahu? Aku tiba–tiba mengingat wajah busuknya, sehabis perlakuan itu. Senyumnya seperti joker –atau apalah, badut mungkin? Menyeramkan. Seperti aku adalah makanannya, dan ia puas seketika melahap diriku. Lebih dari puas. Ia bangga melakukan itu padaku.

Di malam selanjutnya aku bertanya padanya, dan ia langsung mengakuinya. Ya. Dia senang memperlakukan wanita yang ia setubuhi dengan cara tak normal itu. Ia memintaku untuk menuruti permintaannya kemudian. Diikat di bagian tangan dan kaki, juga payudara –agar lebih menonjol katanya, juga menjepit payudara dengan jepit jemuran, dan membekap mulut dengan lakban.

Apa itu cara bersetubuh?

***

Aku menemukan diriku di tempat tidur kemudian. Lelaki itu sedang di kamar mandi, membersihkan tubuh kotornya. Bagaimana mungkin aku mau diperlakukan seperti itu? Menahan sakit ketika payudara sebelah kiriku dijepit –lebih sakit lagi saat penjepit dilepas kemudian payudara ditekan-tekan, lalu dicekik sambil ditunggangi. Sungguh ia lakukan itu padaku, meski tangan dan kakiku bebas tanpa diikat.

Ia lakukan itu sambil menggesek-gesekkan punyanya pada punyaku. Di luar, tidak pernah masuk. Meski aku tak yakin kelamin sekecil itu mampu menembus selaput daraku dan membuatnya berdarah, aku tak ingin lebih dalam melukai hatiku.

Sudah cukup aku menelan hinanya diri diperlakukan seperti karung beras yang bebas dilempar tanpa memikirkan berapa banyak air mata yang jatuh. Memang tidak di depannya, tidak juga di sela persetubuhan, tapi setelah tubuh ini bersih dan wangi.

***

Aku sudah meninggalkan dia sekarang. Aku pernah mencintainya, tentu saja. Bahkan aku mengatakan ini padanya. Bagaimanapun, kesan pertama aku padanya sangat baik. Namun pikirannya pasih terpaku saja pada kelaminku yang ia sukai saat sedang basah. Maka ia tak pernah memberi jawaban apapun terkait masa depan.

Kami berdua juga pernah makan dan nonton bersama. Bisa dihitung dengan jari, kami melakukan hal normal seperti orang yang sedang berkencan begini.

Tapi tetap, perjalanan kami menyelami diri masing-masing, selama aku mencoba untuk bertahan dan memperjuangkan rasaku, ia masih sama. Tidak peduli.

Terima kasih, hal itu amat memudahkanku, karena membuatku sadar bahwa kelaminmu mungkin terlalu mini maka ia tak pernah puas –saking susahnya bangun dan lekas tidur kemudian.

Kau tak pantas untukku, maka untuk apa aku bertahan?

Yang kau tanyakan selalu kan, “B di kos?” Dan aku tahu apa artinya itu.

Selamat jalan lelaki berkelamin mini! Semoga di ujung tahun nanti kau termukan orang lain yang bisa memuaskanmu dengan kelamin minimu itu, orang yang mau bertahan tanpa kepastian, orang yang mau bertahan ditunggangi di siang hari tapi bahkan kau tak mengerti cara menghargainya.

.

.

Terima kasih sudah membuatku belajar.

.

.

Wanita yang gagal kau setubuhi dari belakang,

Bianca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s