Hujan Datang Lagi

Beberapa hari yang lalu aku berpikir untuk membuang jauh-jauh perasaan pada seorang lelaki, kemudian aku bertekad untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai di awal tahun ini. Aku berjanji kemudian, bahwa sudahi saja semua permainan cinta busuk ini. Toh masa-masa berat sebagai seorang perempuan yang siap bereproduksi hanya datang satu bulan sekali. Toh beberapa kali menganalisis diri, kurasa aku belum membutuhkan seseorang lelaki dan kemudian membubuhkan status pada hati kami berdua.

Lalu aku duduk saja di kasur, sambil menunggu laptop menyala, aku lakukan hal itu juga: membuang segala berkas tentangnya yang tersisa di gawai. Berhasil.

Siapa sangka? Lelaki lain datang kemudian. Memberi hiburan yang saat itu sebenarnya tak butuh-butuh amat, tapi di akhir membuatku tersenyum juga.

Dan sekali lagi,

berharap.

Mungkin. Ah semakin kutepis, semakin terlihat bohongnya bukan?

Lalu aku dengan lelaki baru ini berbincang kemudian. Tetap, tubuhku dikawal oleh benteng besar. Benteng besar yang susah runtuh walaupun diserang dengan kata manis, pujian, kebanggaan… Benteng besar yang dalam kamus psikologi disebut: defense mechanism. 

Maka aku tak percaya akan semua yang ia katakan. Aku mengelak padahal jelas sudah pipiku memerah saat ia memujiku, saat ia bilang bahwa ia tak mungkin salah memilihku.

Ah. Mudah sekali memang membuatku merona.

Aku terlalu  banyak takut akan banyak hal, memang. Penolakan, terutama. Saat dunia di kelilingi tidak oleh siapa-siapa, di situ jiwaku terasa murung. Aku benci sendirian. Di kamar sambil menatap langit yang gelap dengan tak ada suara selain suara samar-samar hewan.

Ini hal yang baru saja aku alami.

Bahwa meski diri tak ingin percaya dan ingin masa bodoh saja, tetap aku terkecoh dengan rasa yang selalu tak ingin aku bilang. Entah aku kagum, entah menyukai, entah aku pun ingin dekat. Ah.

Ya. Dan hujan datang lagi.

Membuatku merasa menjadi orang paling konyol di muka bumi ini. Dengan apa yang kulakukan pada temanku. Sebut saja akarnya datang dari diriku yang tak mau percaya. Tak percaya bahwa dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kekasihnya. Tak percaya bahwa kekasihnya bukan penjahat dan pasti akan melindungi dirinya. Tak percaya bahwa dia akan tetap tinggal, meski tetap dia akan lebih memilih kekasihnya. Karena memang teman dan kekasih bukan hal yang bisa dipilih.

Lalu aku memperlakukan orang lain demikian pula. Orang yang belum kukenal, padahal mungkin aku yang nantinya akan menjadi orang yang paling mengenalnya, pun paling ia kenal. Namun aku memang konyol, membuatnya pergi berbalik arah.

Apa lagi?

Sebelum ini aku tak pernah menjadi manusia sesulit ini. Aku adalah mausia paling tak peduli dengan sekitarku. Aku adalah manusia palin tak takut ditolak dan dikucilkan, toh aku berdiri dengan kaki sendiri. Toh aku bisa mencari yang lain.

Tapi aku berubah entah sejak kapan.

Mungkin sejak kupikir bahwa dunia punya banyak blok. Ada blok pecinta Tuhan, ada blok berkulit putih berkulit hitam, blok orang kaya orang miskin, blok yang hanya mau berteman dengan orang yang itu-itu saja.

Maka aku kehilangan kepercayaan pada banyak hal.

Bantu aku untuk dapat fokus pada keputusanku kemarin untuk menyudahi kisah galau percintaan (dapat lelaki baru, baper lagi, ditinggal/meninggalkan lagi). Bantu aku untuk dapat belajar agar tak ada lagi pengulangan kisah pilu yang memang kubuat sendiri. Bantu aku untuk selalu dapat percaya.

Trims.

.

.

Regards,

BAR

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s