Aku Merindu, Kau Membisu

Jalan nampak luas, meski ukurannya tak lebih lebar. Mungkin karena aku pulang di malam hari, entah mungkin karena aku sedang sendirian. Padahal dari dulu aku terbiasa sendiri. Dari awal sekolah dasar pun aku sudah dipercaya kedua orang tuaku untuk pesan makanan dan bayar di kasir sendiri.

Aku jadi ingat malam itu, ketika mall hampir tutup. Papa, Mama, dan adikku keluar tempat parkir untuk menaruh belanjaan, lalu aku diminta pergi membeli ayam goreng dan soda. Aku dibebaskan untuk memilih, asalkan sesuai porsi kami. Karena terbiasa membeli makanan dengan menu sama, akhirnya aku membeli empat potong besar daging ayam pedas, ditambah empat gelas soda. Aku memesan makanan tanpa basa-basi apalagi terbata-bata. Sudah terlalu biasa memesan makanan dan membayar langsung di kasir sendiri, maka tanpa ada perintah kubilang, “…dibungkus.”

Kakak itu menyebutkan kembali pesananku, ditambah, “…dibawa pulang ya? Jadi….ribu.” Dan aku belajar satu hal. Berbeda tempat, berbeda pula bahasa yang kita gunakan. Aku sempat gengsi, dan itu yang membuatku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Lain waktu Papa memintaku untuk membeli minuman kaleng di warung di belakang rumah. Kali ini dengan adikku yang belum mengerti banyak hal. Tetap saja aku yang melakukannya sendiri bukan?

Maka aku sudah terlalu biasa melakukan hal apapun sendiri bukan?

Ah. Hanya ada satu hal yang Papa tak biarkan tumbuh di dalam diriku. Jiwa untuk bebas. Aku tak pernah dibiarkan untuk pergi les seorang diri. Pernah boleh. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku malu setengah mampus dengan supir yang membawaku, karena karyawan Papa mengikuti angkot dari belakang. Sejak itu aku marah. Dan Papa mengerti.

Sampai sekarang pun begitu. Pergi jauh aku tak boleh, kecuali dengan orang yang kubilang teman. Maka aku tak pernah meminta izin Papa jika aku ingin pergi kemanapun, kecuali aku butuh uangnya.

Mungkin itu yang membuatku takut untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Aku takut dengan suasana baru. Aku benci dikerubuti keramaian –kecuali keramaian itu untukku. Aku memilih-milih dengan siapa aku berbicara ketika sedang di transportasi umum. Aku memilih untuk pergi dengan temanku dibanding sendirian….

Ha. Jadi aku orang yang seperti apa?

Biasa sendiri, mandiri, tapi punya sisi penakut. Boleh lah kita sebut demikian.

Atau mungkin jalan di luar terasa lebih lebar karena aku sedang menantimu? Maka yang kulihat di jalan seperti kosong, karena itu bukan kau. Tapi faktanya kau belum datang. Kau bilang bokongmu seperti menempel pada serat-serat di ranjangmu bukan?

Tapi tak apa.

Mungkin aku hanya sedang rindu karena dua atau tiga hari ini kita tak berkicau kabar. Aku tak masalah. Kau punya urusan yang harus kau selesaikan, pun aku disibukkan oleh usahaku untuk sembuh dari sakit yang sembuh dengan resep dokter ini.

Maka sekali lagi, tak apa jika kau membisu. Nantinya pun kau akan membuka mulutmu dan mulai bercerita. Mungkin tidak sekarang. Atau tidak hingga kau kubuat bercerita.

Karena suatu hal tanpa rindu akan sangat membosankan bukan? Begitu pula dengan bisu. Namun apa jadinya bila rinduku ini karena bisumu?

Tenang saja, aku hanya merindu. Tak apa kau membisu. Mari kita saling. Saling bertahan pada rindu dan bisu masing-masing hingga kita sama-sama siap untuk melepasnya dan bercerita kemudian.

.

.

Sampai jumpa di percakapan keempat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s