I dont care if it hurts

Judul postingan kali ini gue ambil dari salah satu lagu yang sedang gue sukai akhir-akhir ini. Lagu Creep-nya Radiohead. Versi aslinya sih jujur aja gue ngga terlalu suka. Gue lebih suka versi akustikannya, which is lebih selow mellow gitu deh haha.

Gue tiba-tiba galau nih, jujur. Beberapa hari yang lalu gue (mungkin bisa dibilang) sedang dalam keadaan yang buruk, di mana tiap malam menggigil dan badan sakit dan tenggorokan sakit dan gigi juga sakit. Artinya gue sedang diuji, gue paham betul.

Banyak banget hal yang tidak serius gue lakukan. Salah satunya mengerjakan tugas akhir gue. Dan baru sekarang gue menyesal.

Well, gue jadi bingung sendiri.

Sebenarnya, gue sedang memasuki masa galau teramat lagi. Gue ngga tahu ini takdir macam apa, yang jelas ini cukup menyedihkan sih, bagi gue. Bahwa di saat gue ingin menyudahi segala permainan cinta bangsat busuk ini, lalu muncul lagi lelaki yang pada akhirnya jadi pikiran.

Kegalauan ini ngga lain karena gue over thinking banget sih orangnya, demi apapun. Gue kepikiran aja, padahal gue tahu, bahkan bisa mastiin kalau bukan gue yang ada di pikiran siapapun kecuali Mama Papa gue.

Gue mudah sekali menjatuhkan hati gue ke siapapun, apalagi kalau sudah dibarengi dengan kata busuk macam cinta, kasih, atau sekecil kata “tertarik”. Diri gue bilang, please, Amelia jangan luluh. Lu harus dapetin bukti kalau dia bener-bener cinta sama lu. Tapi nampaknya selalu tidak berhasil. Hati gue selalu saja terjerat.

Mungkin karena memang gue lagi kosong, mungkin karena gue butuh dikasihi, mungkin karena pola pikir gue cetek, mungkin karena gue belum berpengalaman untuk mengontrol hati gue yang rapuh ini.

Hvt.

Gue berharap lagi. Pada angin. Yang tak ada wujudnya, tapi dia bisa gue rasakan di sela-sela jari gue, di telinga gue, di pikiran gue, di hati gue.

Bahwa mungkin ujungnya akan sakit, sangat mungkin sekali demi apapun. Mungkin akan berakhir seperti sebelumnya, mungkin  banget.

Gue mau banget demi apapun untuk berpikiran positif, tapi please, tunjukkin. Bantu gue untuk melihat dan merasakan bahwa apa yang lu bilang itu benar.

Terkadang.. Masih sampai sekarang. Gue berpikir untuk, please Amelia, ngga apa-apa. Teruslah berjalan, teruslah selama kau yakin. Tapi selalu ada celah untuk bersedih, demi apapun. Selalu ada celah untuk curiga dan membenci.

I think that’s enough. At least for today. I dont care if it hurts… cause my heart already broke. As simple as your call, when you said, “Wait me. Im on the way.” And the fact.. you made me waiting till idk when.. till tomorrow, and the next days… Cause you never come. 

Aku masih berharap, dan aku masih menunggu, entah sampai kapan. Mungkin sampai aku benar-benar menemukan orang yang tak akan pernah sampai hati membuatku menunggu. Karena menunggu itu adalah hal yang paling kubenci. Bukan berarti aku tak percaya, bukan berarti aku ingin pergi… tapi aku benci menunggu, sama seperti rasa bencimu pada perempuan yang kau bilang bermuka dua, tidak menghargaimu.

Cukup ah, its so emotional for me. Idk hows your feeling, really.

Tapi aku sudah siap sakit, bahkan di hari pertama kau bilang, “Aku penasaran. Aku ingin bertemu denganmu.” Jadi, mari kita lanjutkan takdir yang tak sengaja kita buat ini.

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s