Aku Sayang Kakak

01f6c95e8d4e2959a90788979713f1d1

Source: here.

Halo, namaku… sebut saja Riko. Mungkin aku seorangg lelaki yang berusia… entah. Mungkin 15, mungkin 20, atau lebih. Aku menemukan diriku kembali terpaku pada layar gawai yang sehari-hari menjadi temanku. Bentuknya tentu sama seperti yang kalian punya. Persegi panjang, dengan tubuh yang ringan. Maka aku senang membawanya kemana-mana.

Namaku Riko, dan ini kisah pemburuanku.

Aku menemukannya berada di balik layar gawai, nama yang cukup menarik perhatian, entah mengapa. Ia terlihat mudah berbaur. Sedetik saja ada yang bertanya, sedetik pula ia menanggapi, memberikan jawaban.

Namanya Ara.

Ia seorang perempuan berkerudung biru, setidaknya itu yang sedang kulihat sekarang, melalui foto yang ia pasang di profilnya. Ia berusia 25 tahun, mungkin lebih tua dariku. Ia mudah dekat dengan banyak orang karena ia dapat dengan mudahnya menyesuaikan diri dan membuat orang nyaman.

Aku bertemu dengannya di salah satu grup di media sosial yang kumasuki. Entah untuk apa, aku berharap mendapatkan sesuatu dari grup dengan total penghuni lebih dari 40 orang itu. Dan aku menemukannya, sedang menjawab pertanyaan dari salah satu penghuni grup.

Singkat cerita, lalu aku berusaha mengambil hatinya. Aku menariknya ke dalam kehidupanku yang bahkan aku sendiri pun tak tahu seperti apa. Apa pekerjaanku, aku tak tahu pasti. Begitupun siapa orang tuaku. Apalagi informasi perihal kehidupanku yang lain? Aku tak tahu. Jangan kau tanya.

Yang kutahu hanya bagaimana cara mengambil hati Ara, yang kemudian kupanggil “Kak”. Aku mendengar suaranya kemudian, di malam itu. Suaranya terdengar asing, namun begitu ia sudah menunjukkan ketertarikannya padaku kala kubilang, “Aku suka kakak.”

Terlalu dini memang. Terlalu dini untuk mendefinisikan rasa ini. Tapi aku tak mau membuatnya salah sangka. Aku tak mau hal ini membuatnya kaget, maka aku samarkan saja pernyataan ini menjadi sebuah guyon. Tak berhasil. Ia dengan jelasnya mendengarkan apa yang kukatakan, dan ia akan memberiku jawaban kemudian.

Kak Ara, aku mengaguminya. Ia adalah sosok perempuan hebat, yang mampu membuatku dan orang sekitar nyaman di sisinya. Ia pintar, mungkin cocok untuk mendidik anak-anakku kelak. Apalagi mendidik otakku yang bebal, jujur saja.

Aku banyak tak mengerti apa yang ia maksud, meski sudah jelas ia katakan. Di hari kedua dekat dengannya pun aku sudah berdebat dengannya. Bebal memang aku. Aku merasa bahwa ia tak cukup memberiku perhatian, maka aku dengan mudahnya marah, pun berkata yang bukan-bukan padanya. Katanya, aku salah paham. Selalu saja begitu.

Aku menemukan diriku tidak benar, kemudian. Ini salah. Apa yang kukatakan pada dunia di luar sana keliru. Bahwa aku menemukan diriku bertelanjang dada, dan itu bukan aku. Aku menemukan diriku bukan aku, dibalik jemari yang kuketuk pada layar gawai yang menemaniku tiap saat.

Aku menemukan bahwa ada kejanggalan pada diriku. Lagi-lagi… bahwa diriku bukan aku. Bahwa yang Kak Ara kenal, dan beberapa orang yang tahu aku, mungkin aku adalah bukan aku yang sebenarnya.

Aku menemukan bahwa segala kata yang kuketik dan ucapkan hanya kosong belaka. Namun egoku tinggi. Tidak benar aku salah. Yang salah adalah mereka yang tak menghargaiku. Adalah mereka yang tak menghiraukanku. Adalah mereka yang meragukanku.

Maka aku terus memohon pada Kak Ara tercinta untuk memberiku kesempatan. Setidaknya biarlah waktu yang menjawab siapa aku sebenarnya. Biarlah waktu yang membuktikan kebenaran bahwa aku memanglah aku yang aku perkenalkan pada orang-orang di balik jemariku di sana.

Kak Ara, Riko sayang Kak Ara. Kak Ara tak tahu siapa sebenarnya Riko bukan? Maka bolehkan Riko esok hari menjemput Kak Ara, dan membuktikan bahwa mungkin Kak Ara yang salah. Bahwa ada Riko, dibalik jemari yang tiap waktu diketukkan atas nama yang Kak Ara tahu benar, di layar gawai Kak Ara.

Riko sayang Kak Ara. Perkenankan Riko untuk membuktikan bahwa kata-kata ini bukan kosong. Riko sayang Kak Ara. Malam nanti entah kapan, Riko akan datang. Mungkin dengan nama yang sama, mungkin tidak. Mungkin dengan sosok yang sama, mungkin tidak.

Riko sayang Kak Ara. Semangat S2-nya Kak!

.

.

Dari yang kau kenal dengan nama Riko.

Advertisements

3 thoughts on “Aku Sayang Kakak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s