Hello, night!

3e5c34a36da33ce81906bf583734416f

Source: Here.

Ini kali kedua aku berada di tempat seperti ini. Penuh samar-samar siluet tubuh orang-orang yang tidak sedang diam. Ada yang duduk sambil memegang gelas wine dengan anggunnya bergaunkan hitam selutut, ada yang duduk manis sambil memandang lurus dan sesekali menghisap rokok yang dibakar, ada yang berdansa mengikuti irama musik yang tak pernah pelan.

Terima kasih, Kak. Aku suka berada di sini.

Setidaknya minuman yang bartender campur ke dalam gelas kosong itu, yang ketika kosong kemudian dengan inisiatifnya diisi lagi oleh kawanmu (tentunya sekarang kawanku juga) –yang membuat kita berdua berada di sini, dapat membuatku lupa sejenak dengan mimpi yang pernah kubuat: bercumbu di ujung sofa sana, sambil menengguk satu botol vodka atau apalah, dengan seseorang yang sangat ingin kutemui.

Sebetulnya bukan minuman yang kuminum itu –yang ketika kutengguk, kurasakan sensasi… entahlah, yang membuatku ingin bercerita tentang ini. Rasanya tenggorokanku dingin lalu panas seketika meminum itu, meski pelan-pelan. Katamu aku harus bisa mengontrol diri agar tidak pulang dengan tubuh yang sempoyongan, bukan? Pun minuman itu membuat dadaku berdebar lebih cepat. Dan aku merasa sedikit lebih bahagia.

Dan kegilaan itu muncul.

Lalu kutemukan diriku sangat menikmati irama musik yang itu-itu saja. Mungkin dulu aku terlalu suka dengan musik ini, hingga sekarang aku bosan. Aku beberapa kali mengibaskan rambutku yang tak panjang –yang mulai basah, karena rasanya tiap kutengguk minuman itu, metabolisme tubuhku mendadak menjadi lebih cepat. Sambil bergerak kanan kiri atas bawah, sambil melakukan atraksi lincah bak lumba-lumba yang tentunya jika saja aku waras aku akan malu melakukannya, aku mulai pelan-pelan mendekatkan diriku pada seorang lelaki tinggi di dekatku. Jarak kami hanya terpisah satu orang saja.

Ia mengenakan topi hijau. Lengannya bertato. Ia memiliki mata kecil dan hidung lancip. Kulitnya pucat, dengan rambut pirang. Ya. Ia adalah seseorang yang jelas bukan dari ras manapun yang ada di Indonesia. Kupikir ia berasal dari Amerika… atau mungkin Australia? Entah.

Tak pernah kudapati matanya. Ia selalu memandang lurus ke depan, sambil sesekali mengesap rokok di tangan kanannya, juga meneguk botol beer yang ia pegang di tangan kirinya. Sesekali aku melihatnya berbicara dengan rekannya –kukira ia rekan kerjanya, mungkin bosnya, karena ia lebih tua. Lalu ia diam sambil menggerakkan kepalanya menyesuaikan musik yang disajikan. Kemudian ia berbalik, dan menggerakkan tubuhnya.

Aku ingin menyentuh pundaknya yang setinggi kepalaku, lalu mengajaknya ke tengah lantai dansa, namun nampaknya kegilaan ini belum maksimal, maka aku mendapati diriku takut penolakan kemudian.

Dan aku terus berdansa. Entah jenis gerakan apa yang kulakukan, namun itu cukup membuat kepalaku basah, juga leher dan ketiakku. Aku berkeringat terlalu banyak malam ini.

Pelan-pelan, kudapati seorang lelaki dengan tinggi tak lebih dariku, berambut cepak, berkulit gelap dengan mata yang layu mendekatiku. Ia memasang senyum dan mata merajuk. Aku tahu ia sedang mengharapkanku kemudian.

Aku tersenyum balik ragu-ragu. Aku tak menginginkannya. Aku ingin lelaki bule bertopi hijau di sebelah sana. Dan untung saja, Kakak segera datang, memainkan tangan dan kakinya, bergoyang kemudian. Aku bersender di pundaknya, pundak Kakakku, dan lelaki itu pergi kemudian. Hah. Begitu mudah membuat lelaki ciut.

Beberapa kali aku kembali ke meja untuk meneguk minuman berwarna coklat transparan itu. Kali ini biarlah lebih banyak. Aku harus mengumpulkan nyali untuk mengajak lelaki bule itu berdansa bukan?

Entah kali ke berapa aku kembali ke lantai dansa yang penuh dengan kumpulan kepala dan tubuh bergoyang ini, dan aku kecewa karena mendapati lelaki bule itu sudah tidak ada di tempatnya. Ah. Aku kecewa setengah mampus, demi apapun.

Namun aku tidak kembali ke mejaku dan bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku lanjutkan saja berdansa di sana. Lelaki yang melempar senyum tadi datang lagi, kali ini begitu terlihat antusias. Ya. Karena aku kembali seorang diri. Kawan-kawan yang membawaku ke tempat ini sibuk di meja.

Lelaki itu kini lebih berani. Mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kali ini aku biarkan saja. Mungkin memang nasibku malam ini untuk berdansa dengannya, bukan dengan lelaki bule tadi. Kami berhadapan kemudian, dan mendekatkan diri satu sama lain. Ia mengajakku untuk pindah, ke tengah lantai dansa. Kemudian ia memberiku minuman berwarna transparan yang ia sebut wine. Setengah gelas yang langsung kuteguk tanpa malu.

Kami berdansa lagi kemudian. Ia memelukku dari belakang, kemudian menciumi tengkukku. Rasanya aneh, karena kumisnya yang baru tumbuh begitu menusuk. Aku teringat kumis di foto itu. Kumis yang kubayangkan akan menyapu tubuhku. Tapi tidak. Ah. Mungkin belum. Masih ada harapan untuk bertemu, bukan?

Perlahan-lahan kurasakan tangannya naik ke bagian atas tubuhku, yang langsung kupegang dan kuletakkan kembali di pinggangku. Beberapa kali ia memintaku berbalik. Sempat kulakukan, namun aku risih dengan kawan-kawannya yang menatap kami sambil bersiul riang.

Ia kembali ke mejanya, kemudian membawa segelas besar beer. Aku meneguknya dengan tak waras. Permainan ini kuprediksi akan semakin gila. Kepalaku semakin berat, maka sebisa mungkin kujaga ia agar tak menunduk terlalu lama.

Posisinya kini di depanku. Kami makin gila. Kami berpelukan di sana. Bibirnya meraba-raba leherku, dan aku diam saja mencoba menikmatinya. Sesekali ia melontarkan pertanyaan basa basi macam informasi demografi: tempat tinggal, cerita kuliah. Tapi aku tak tertarik menanyakan apapun padanya.

Ia bertanya, “Ngga ada yang marah?” aku menggeleng. Maka ia semakin gila meraba-raba tubuhku yang semakin basah. Malam yang panas, memang. Dan kami masih melakukan kegilaan itu di lantai dansa, tepat di depan meja DJ.

Beberapa kali ia mencoba untuk mencium bibirku, yang tentunya langsung kutolak lembut dengan memalingkan wajah. Belum, aku belum ingin dicium, tepatnya olehnya. Mungkin kalau ia bule tadi, aku akan lebih ganas dan mau-mau saja dicium bahkan lebih dari itu. Namun ia bukan.

Ia meminta nomor ponselku, dan aku berikan. Mungkin sewaktu-waktu kami dapat melakukan hal ini lagi, lalu bercinta kemudian. Atau mungkin malam ini? Boleh saja sebetulnya jika ia meminta. Tapi ia tidak. Ia bilang, “Mau? Kalo mau aku, ayo.” yang langsung kujawab, “Malam ini iya.” kemudian kami diam, dan aku melanjutkan, “Malam ini saja, ya.” Ia tersenyum.

Kami menikmati permainan itu. Aku memeluknya seolah-olah ini yang kuinginkan, dan memang iya. Bertemu lelaki kemudian bercumbu. Aku menginginkannya, demi apapun. Aku ingin lupa sejenak dari bayang-bayang seorang lelaki yang entah apa kabarnya hari ini.

Kawannya datang kemudian, memberikan kode untuknya berhenti. Kemudian ia pamit. Sambil berbisik ia kemudian menghirup lagi leherku seakan-akan ingin membawa aromanya turut bersamanya. Kami berciuman kemudian. Dua kecup saja. Itu ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan yang tak ada artinya.

Lucky, you!

Dan sampai saat ini, aku belum menerima pesan darinya. Semoga memang tidak pernah ada. Aku berharap, semoga saja nomor yang kuberikan salah, dan tak ada cara untuk kami bertemu lagi, bahkan takdir Tuhan sekalipun.

Hanya dengannya? Malam itu?

Tidak.

Lelaki lain menghampiriku kemudian. Bocah. Berumur 18 tahun. Kami tak melakukan apapun selain berdansa. Aku tak ingin bercinta dengan bocah, yang bahkan mengingatkanku pada adikku. Maka kami harus mengakhiri ini segera.

Untung saja. Kawan-kawanku datang kemudian. Yang paling depan, Kakakku, paling buru-buru, menyapaku dan bilang, “Aku mabuk.” sambil tertawa. Aku ikut tertawa kemudian. Dua kawanku lainnya datang, mengajakku pulang. Aku turut kemudian.

Sambil menunggu kakakku yang sedang kencing, aku kemudian memeluk seorang kawanku, yang membuat keinginanku tercapai malam itu, “Thanks, kak.” Dan kami tertawa lepas, selepas anak kecil yang belum paham bahwa kehidupan itu sebegini menyedihkannya.

Kami berempat saling merangkul sama lain, menjaga keseimbangan tubuh kami. Ak paham betul bahwa kami memang sedang tidak waras. Kami tertawa menuju parkiran, dan menceritakan kisah masing-masing. Dan aku bilang, “FUCK! I got my really first kiss tonight, you know?” Dan mereka menimpali sambil terbahak.

Kuakui malam ini adalah malam terbaik. Aku tak ingin melupakannya, kecuali tragedi ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan itu. Aku ingin melakukannya lagi, demi apapun. Tapi bukan dengan orang asing. Aku ingin melakukannya dengan seseorang yang beberapa hari ini muncul dalam pikiran.

Maka aku akan menunggu, dan sembari itu mungkin aku bisa mencoba lagi menjejal tubuh lelaki, maka aku akan lupa bayang-bayangnya sejenak, bukan?

Kuakui hidup yang singkat ini banyak membuatku belajar. Bahwa dibalik lampu kedap kedip itu, ada jiwa-jiwa yang ingin mengalahkan rasa terburuk mereka. Mungkin kesepian, mungkin kegagalan. Dan malam ini aku banyak belajar, tentunya untuk lebih berani lagi mengambil kesempatan. Well, kalau saja aku memanfaatkan waktu ketika bule itu masih disana, mungkin aku akan menemukan diriku telanang bulat di pagi harinya bukan?

Tapi tak apa. Aku tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Selamat datang dunia baru! Selamat datang lelaki-lelaki baru! Bantu aku melupakan sejenak rasa sepi ini, maka aku akan lupa lelaki yang baru kemarin bilang, “Intinya buat kali ini, silaturahmi kita tetap terjaga.”

Aku tak tahu masa depan akan seperti apa. Yang kutahu, aku hanya ingin menikmati malam seperti ini, bahkan di hari-hari selanjutnya.

.

.

Regards,

BAR.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s