Lelaki No. 9

Malam itu, tanpa ragu aku melambaikan tanganku padamu, lelaki nomor 9. Ah. Banyak juga lelakiku. Kalau sudah sampai ke angka 27 akan kubuat tulisan dengan judul “Daftar Lelaki Yang Pernah Mampir”. Masih lama nampaknya untuk sampai ke nomor 27. Mungkin dua tahunan lagi.

Kau bilang tak ingin membahas masa laluku, karena sudah jelas-jelas kubilang menceritakan lelaki-lelaki sebelum kau hanya membuka luka lama yang mengering pun enggan. Maka mereka masih ada di kepala, pun tulisan-tulisanku.

Aku menemukanmu di udara. Kita saling menemukan, saling memilih. Bahwa mungkin aku cukup tertarik dengan rupamu, kau pun begitu, mungkin. Kalau tidak, untuk apa kita saling memilih? Coba-coba berhadiah? Mungkin saja, sih.

Kita duduk bersama. Aku di kasur, kau di karpet. Aku mengesap kretek, kau garpit. Katamu, garpit yang dipadukan dengan anggur merah dapat menyembuhkan flu dan batuk yang sedang menyerang tubuhmu. Maka rokok, anggur merah, dan kacang yang kau bawa adalah perpaduan yang pas.

Kau terbiasa minum, katamu. Maka anggur merah yang kau letakkan di botol air mineral berukuran 300 ml tak akan memberatkanmu. Tapi tidak aku. Anggur merah kedua ini, meskipun bukan minuman terparah yang pernah kuminum, tetap membuatku… hm “merasa berbeda”.

Kita membicarakan banyak hal. Aku masih ingat, walau tidak detail. Bahwa kau mendengarkan kisahku yang membosankan perihal lelaki yang baru saja pergi –mantan kekasihku. Lalu kau meminta celana, dan segera saja kuberikan celana olahraga pendekku –celana perempuan. Dengan dadamu yang telanjang, kau pede saja dengan celana yang membuatku kehilangan fokus itu.

Kau membicarakan banyak hal. Perihal keyakinan dan jati diri. Kau bilang kau pernah bertemu seseorang yang mengajakmu berjalan di jalannya. Bahwa hal yang begitu tidaklah perlu. Jalanku jalanku, jalanmu jalanmu, kau bilang. Kau berperilaku buruk, kau tak meminta siapapun untuk turut melakukan kegiatan yang kau sukai, jika memang itu bukan yang mereka suka.

Kau bilang, jangan bingung. Berkali-kali kau tanya, “are you comfort with me?” yang selalu kubalas dengan anggukan. Kalau sama-sama nyaman, mari kita lakukan apa yang kita suka!

Dan kau menghampiriku, duduk di sisiku, lalu memutar lagu yang katamu cocok dengan isi hati kita –atau lebih tepatnya aku: kebingungan. Lagu kedua berputar, kau menatap mataku sambil berkata, “do you feel comfort with me?”, aku mengedipkan mata, dan saat itu pula bibirmu jatuh pada bibirku. Rasanya manis, dari rokok yang kita hisap sebelumnya.

Kau menghisap bibirku dengan sangat kuat. Namun itu tak menyakitiku sama sekali. Aku menikmati napasmu yang tenang –yang sekeras mungkin berusaha untuk tak kau muntahkan semuanya. Bahwa aku tahu saat itu kau sangat menginginkan tubuhku, dan mungkin aku pun begitu.

Aku cukup malu dengan tubuhku yang berlemak, dan kau tidak. Bahkan tinggimu tak lebih tinggi dari padaku. Badanmu pun tak lebih besar. Tubuhmu ramping, dengan otot-otot yang menyembul dipaksa keluar. Katamu kau suka pergi ke gym. Dan rupanya kau juga seorang atlet taekwondo.

Maka aku tahu mengapa orang dengan tubuh sekecil dirimu memiliki tenaga sebesar itu. Untuk menyedot bibirku kuat tanpa menyakitinya sedikitpun, lalu menarikku dalam pelukanmu, membiarkanku di atas tubuhmu tanpa kau merasa sakit saking beratnya menahan tubuhku.

Maka aku tahu mengapa benda kecil punyamu itu terlihat gagah.

Aku berkali-kali membenahi rambutku, lalu menenggelamkan wajah pada tangan sendiri, karena tubuhku begitu memalukan. Lebih tepatnya jika bersanding dengan tubuhmu. Alih-alih mabuk, aku sambil tertawa lalu bilang, “its so embarrassing!“, dan kau berkali-kali bilang,”are you ok? do you feel comfort? with this?” dan berkali-kali aku tertawa kecil.

Lalu kita melanjutkannya kembali. Jarimu kemudian bergerilya ke tengah selangkanganku, membuatku merinding. Kau mencium bibirku lagi, masih dengan hisapan kuat itu. Kau adalah lelaki dengan hisapan terkuat, hai lelaki nomor 9! Lalu lidahmu masuk sedalam-dalamnya bibirku.

Hingga itu semua terjadi.

Hingga kau selesai dengan urusan buah selangkanganmu.

Kita hanya melakukannya sekali.

Kau bergegas. Katamu pulang ke rumah, karena kau sudah janji pada ibumu untuk sampai rumah jam 2 pagi. Kau kenakan kembali pakaianmu, menyisir rambutmu, lalu berkata, “sisirnya bagus. enak dipake.”, dan pergi membawa kacang yang belum habis –yang kita makan tadi, juga sisirku –yang memang kuberikan padamu.

Kau berlalu seketika.

Kau bilang kau akan menghubungiku nanti. Dan benar saja. Satu jam kemudian pesan darimu datang. Berterima kasih, lalu bilang ingin mandi, dan meminta izin untuk tidur.

Sedang aku sudah kacau.

Aku teringat ketika dirimu masuk. Kubilang padamu, “ada satu lelaki yang muncul”. Kau bertanya siapa, kau menebak-nebak, dan aku masih menyimpan cerita itu sendiri –rencananya akan aku ceritakan di pertemuan kita yang selanjutnya. Namun sepertinya pertemuan itu takkan pernah terjadi.

Maka ketika sisa-sisa perjuanganmu keluar, aku menangis, dan kau panik.

Lalu aku tersenyum membahagiakan diri. Tentu ada sesuatu. Aku baru saja melakukannya dengan lelaki baru yang… yang sebelumnya kumaki. Aku bertemu denganmu karena rindu lelaki lain –bukan yang ada di bayangan saat tubuh kita menyatu. Aku melakukannya, bertemu denganmu demi melupakan lelaki yang baru seminggu lalu tidur bersamaku, bangun pagi-pagi dan bilang, “morning“.

Bahwa aku membutuhkan sosok, itu benar.

Maka kau tidak akan menjadi yang terakhir, hai lelaki nomor 9. Tak adanya balasan pesan darimu membuatku semakin yakin untuk segera menemukan yang baru. Bahwa cerita kita memang harusnya hanya kita yang tahu. Dan bahwa cerita kita memang pantas untuk berakhir.

Terima kasih, lelaki nomor 9!

Bayang-bayang diriku akan selalu muncul di kepalamu, ketika kau menggunakan sisir itu. Tak akan kubiarkan kau lupa. Kecuali kau buang sisir yang katamu “enak dipakai” itu jauh-jauh.

Dan aku tak akan melupakan hisapan bibirmu, meski nanti aku akan melupakanmu seiring aku bertemu dengan lelaki-lelaki setelahmu.

Regards,

Wanita yang rindu bercakap denganmu.

Advertisements

Hai, Nona!

Terima kasih atas tulisanmu, Nona. Aku jadi terinspirasi untuk menulis.

Meski tulisanku tidak semanis punyamu –kau tahu lah ya, kapan aku mau bilang titit ya aku akan bilang. Begitu pula anjing, tai, bangsat, dan kata-kata kasar lain yang tak indah. Aku tak suka mencari-cari diksi bagus, kata bisa muntah begitu saja dan aku tak ingin memaksa kehendak hatiku untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih “layak baca”.

Menulis bukan sesuatu hal yang mudah, Nona. Setidaknya bagiku yang tak memiliki logika apapun kecuali perasaan. Maka yang aku tulis adalah sesuatu yang “mungkin tak berlogika”. Tapi ngga juga sih, sebetulnya.

Ah. Aku jadi teringat teman kita, yang malam itu memberiku kata baru: me-logika-kan perasaan. Tak pernah aku tahu nama perasaan itu sampai malam kemarin. Melogikakan perasaan. Bagaimana caranya? Kau dan aku sama-sama tahu.

Denial, denial, denial.

Mencari pembenaran untuk membuat diri tetap kuat dan bangkit dari kenyungsrukan kita. U know what I mean HAHA.

Mudahnya begini, ketika dalam diri kita bergulat dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan sendiri. Kau tahu? Bicara dengan diri sendiri jauh lebih sulit timbang begini. Aku dan kamu yang begini. Saling berbicara lewat kata –yang benar-benar kata.

Tidaaaa. Aku tida suka dia karena dia hanya ingin seks saja. Seks tida butuh emosi. Dia hanya bekerja di kelamin, bukan di hati. Seks tida butuh status, seks tida butuh belaian di kepala, seks tida butuh tatapan mata yang intens. Seks hanya butuh dua kelamin yang bisa saling bergesek-gesekan.

Bahwa perasaan akan terbawa dari sebelum tidur hingga kita bangun lagi, itu pasti. Karena kau tahu sendiri. Kita sama-sama mudah merindu. Rindu sentuh dan tatap yang intens, rindu akan kata-kata manis yang membuat muka merona kemerahan –bahkan membuat kelamin kita nyut-nyutan, rindu akan masa lalu yang indah.

Perasaan akan selalu terbawa, bahkan di saat kita ingin lupa dan sudahi saja. Perasaan itu ada dalam asap rokok yang kita hirup lalu hembuskan, ada dalam cangkir kopimu dan gelas lemon tea dinginku, ada dalam kulit ayam cabai garam yang kita makan, ada dalam kartu tarot yang aku mainkan, ada dalam gawai kesayangan kita –yang kadang, sejujurnya aku lebih tidak menginginkannya, di saat-saat tertentu.

Rasa itu juga ada di tulisan-tulisan kita yang mungkin untuk orang lain tak berarti apa-apa.

Maka malam itu, malam dengan lelaki paling baru itu, aku yang menginginkannya untuk masuk. Ia tak merajuk, tak seperti lelaki sebelum-sebelumnya yang memohon seperti kucing minta makan.

Bahkan ia selalu menanyakan hal ini: perihal kenyamanan. “Kamu nyaman? Kalau engga kita bisa stop.” atau, “Aku nyakitin kamu?” yang selalu kubalas dengan gelengan. Aku menikmatinya seperti memang ini mauku sejak lama. Dimengerti. Tidak dipaksa melakukan apa yang tak aku inginkan.

Lelaki itu, kau tahu, lelaki yang beberapa jam lalu aku bicarakan dengan temanku, “Kayaknya gue ngga mungkin sama dia dah. Bukan tipe gue.” Dan memang. Yang di pikiranku saat itu adalah… oh my God. Ini tak mungkin berlanjut. Gue ngga suka dia, dan kayaknya ngga akan pernah deh.

Kenyataannya?

Beberapa jam kemudian malah bibirnya yang aku rindukan. Malah rambutnya yang selalu klimis itu yang kurindukan. Malah caranya menghisap rokok. Caranya meminum amer dari botol aqua. Caranya berbicara tentang keyakinannya. Caranya membuatku tenang.

Aku harus lebih menjaga kata-kataku nampaknya, Nona. Senjata makan Puan, ini namanya.

Aku melewati malam-malamku dengan rasa kesepian lagi. Maka aku ingin selalu bersama denganmu, Nona. Entah ngopi bersama –tentu aku es teh, atau nyeblak bersama, membicarakan orang lain lalu ngakak, juga membicarakan perasaan kita masing-masing. Aku tentang kelamin lelaki-lelakiku yang tak pernah kurasakan lebih dari empat pertemuan –paling sering satu atau dua pertemuan dan berakhir begitu saja. Lalu kau perihal yang sama, tapi mungkin dengan masa yang lebih panjang –setidaknya dengan lelakimu yang sekarang.

Meski sejujurnya tak aku pungkiri, hingga saat ini aku masih membencimu. Aku tak pernah mendengar lagu-lagumu selain di beberapa konsermu yang kudatangi. Aku tak pernah mau tahu instastorymu, aku malas membaca tulisanmu selain yang kau berikan linknya padaku…

Tapi aku senang bersamamu. Aku tak suka tiap kau bilang akan pergi ke Bandung untuk melakukan kegiatanmu, sedangkan di sini aku sedang kesepian. Kimi belum begitu mengerti keadaanku, Nona. Bahkan memeluk Kimi pun aku belum bisa. Fokusnya masih mencari tetek, maka aku suka begidik sendiri ketika dia mengendus-endus lalu mencakar dan menggigit bagian tubuhku.

Hm.

Kau benar. Meski tak ada kata yang keluar pun, aku dan kau tetap terhubung. Dari tulisanku yang selalu kau baca, update-mu yang selalu kuabaikan, bahkan dari rasa benciku kepadamu.

Aku tak akan berhenci mencari, Nona. Aku tahu yang kulakukan hanyalah ke-sia-sia-an. Tapi aku tak ingin berhenti lebih cepat. Dari deretan lelaki di belakang, aku banyak belajar, juga lelaki-lelaki yang ada di depan. Maka aku belum mau berhenti.

Biarkan saja sakit ini menumpuk, lalu hilang lagi, lelu menumpuk lagi, lalu lupa lagi, lalu ingat lagi. Karena aku sudah terlanjur, Nona. Berdiam diri tanpa mencari hanya akan menyakitiku dan membuatku berlarut.

Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku, bukan?

Kuharap iya.

Terima kasih, sekali lagi, Nona. Aku suka kau panggil Amelia.

.

.

Regards,

Amelia ❤