Hai, Nona!

Terima kasih atas tulisanmu, Nona. Aku jadi terinspirasi untuk menulis.

Meski tulisanku tidak semanis punyamu –kau tahu lah ya, kapan aku mau bilang titit ya aku akan bilang. Begitu pula anjing, tai, bangsat, dan kata-kata kasar lain yang tak indah. Aku tak suka mencari-cari diksi bagus, kata bisa muntah begitu saja dan aku tak ingin memaksa kehendak hatiku untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih “layak baca”.

Menulis bukan sesuatu hal yang mudah, Nona. Setidaknya bagiku yang tak memiliki logika apapun kecuali perasaan. Maka yang aku tulis adalah sesuatu yang “mungkin tak berlogika”. Tapi ngga juga sih, sebetulnya.

Ah. Aku jadi teringat teman kita, yang malam itu memberiku kata baru: me-logika-kan perasaan. Tak pernah aku tahu nama perasaan itu sampai malam kemarin. Melogikakan perasaan. Bagaimana caranya? Kau dan aku sama-sama tahu.

Denial, denial, denial.

Mencari pembenaran untuk membuat diri tetap kuat dan bangkit dari kenyungsrukan kita. U know what I mean HAHA.

Mudahnya begini, ketika dalam diri kita bergulat dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan sendiri. Kau tahu? Bicara dengan diri sendiri jauh lebih sulit timbang begini. Aku dan kamu yang begini. Saling berbicara lewat kata –yang benar-benar kata.

Tidaaaa. Aku tida suka dia karena dia hanya ingin seks saja. Seks tida butuh emosi. Dia hanya bekerja di kelamin, bukan di hati. Seks tida butuh status, seks tida butuh belaian di kepala, seks tida butuh tatapan mata yang intens. Seks hanya butuh dua kelamin yang bisa saling bergesek-gesekan.

Bahwa perasaan akan terbawa dari sebelum tidur hingga kita bangun lagi, itu pasti. Karena kau tahu sendiri. Kita sama-sama mudah merindu. Rindu sentuh dan tatap yang intens, rindu akan kata-kata manis yang membuat muka merona kemerahan –bahkan membuat kelamin kita nyut-nyutan, rindu akan masa lalu yang indah.

Perasaan akan selalu terbawa, bahkan di saat kita ingin lupa dan sudahi saja. Perasaan itu ada dalam asap rokok yang kita hirup lalu hembuskan, ada dalam cangkir kopimu dan gelas lemon tea dinginku, ada dalam kulit ayam cabai garam yang kita makan, ada dalam kartu tarot yang aku mainkan, ada dalam gawai kesayangan kita –yang kadang, sejujurnya aku lebih tidak menginginkannya, di saat-saat tertentu.

Rasa itu juga ada di tulisan-tulisan kita yang mungkin untuk orang lain tak berarti apa-apa.

Maka malam itu, malam dengan lelaki paling baru itu, aku yang menginginkannya untuk masuk. Ia tak merajuk, tak seperti lelaki sebelum-sebelumnya yang memohon seperti kucing minta makan.

Bahkan ia selalu menanyakan hal ini: perihal kenyamanan. “Kamu nyaman? Kalau engga kita bisa stop.” atau, “Aku nyakitin kamu?” yang selalu kubalas dengan gelengan. Aku menikmatinya seperti memang ini mauku sejak lama. Dimengerti. Tidak dipaksa melakukan apa yang tak aku inginkan.

Lelaki itu, kau tahu, lelaki yang beberapa jam lalu aku bicarakan dengan temanku, “Kayaknya gue ngga mungkin sama dia dah. Bukan tipe gue.” Dan memang. Yang di pikiranku saat itu adalah… oh my God. Ini tak mungkin berlanjut. Gue ngga suka dia, dan kayaknya ngga akan pernah deh.

Kenyataannya?

Beberapa jam kemudian malah bibirnya yang aku rindukan. Malah rambutnya yang selalu klimis itu yang kurindukan. Malah caranya menghisap rokok. Caranya meminum amer dari botol aqua. Caranya berbicara tentang keyakinannya. Caranya membuatku tenang.

Aku harus lebih menjaga kata-kataku nampaknya, Nona. Senjata makan Puan, ini namanya.

Aku melewati malam-malamku dengan rasa kesepian lagi. Maka aku ingin selalu bersama denganmu, Nona. Entah ngopi bersama –tentu aku es teh, atau nyeblak bersama, membicarakan orang lain lalu ngakak, juga membicarakan perasaan kita masing-masing. Aku tentang kelamin lelaki-lelakiku yang tak pernah kurasakan lebih dari empat pertemuan –paling sering satu atau dua pertemuan dan berakhir begitu saja. Lalu kau perihal yang sama, tapi mungkin dengan masa yang lebih panjang –setidaknya dengan lelakimu yang sekarang.

Meski sejujurnya tak aku pungkiri, hingga saat ini aku masih membencimu. Aku tak pernah mendengar lagu-lagumu selain di beberapa konsermu yang kudatangi. Aku tak pernah mau tahu instastorymu, aku malas membaca tulisanmu selain yang kau berikan linknya padaku…

Tapi aku senang bersamamu. Aku tak suka tiap kau bilang akan pergi ke Bandung untuk melakukan kegiatanmu, sedangkan di sini aku sedang kesepian. Kimi belum begitu mengerti keadaanku, Nona. Bahkan memeluk Kimi pun aku belum bisa. Fokusnya masih mencari tetek, maka aku suka begidik sendiri ketika dia mengendus-endus lalu mencakar dan menggigit bagian tubuhku.

Hm.

Kau benar. Meski tak ada kata yang keluar pun, aku dan kau tetap terhubung. Dari tulisanku yang selalu kau baca, update-mu yang selalu kuabaikan, bahkan dari rasa benciku kepadamu.

Aku tak akan berhenci mencari, Nona. Aku tahu yang kulakukan hanyalah ke-sia-sia-an. Tapi aku tak ingin berhenti lebih cepat. Dari deretan lelaki di belakang, aku banyak belajar, juga lelaki-lelaki yang ada di depan. Maka aku belum mau berhenti.

Biarkan saja sakit ini menumpuk, lalu hilang lagi, lelu menumpuk lagi, lalu lupa lagi, lalu ingat lagi. Karena aku sudah terlanjur, Nona. Berdiam diri tanpa mencari hanya akan menyakitiku dan membuatku berlarut.

Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku, bukan?

Kuharap iya.

Terima kasih, sekali lagi, Nona. Aku suka kau panggil Amelia.

.

.

Regards,

Amelia ❤

Advertisements

2 thoughts on “Hai, Nona!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s