Menjadi Tak Berarti

Yang kemarin itu berbeda. Bahwa aku tak lagi melihat hal yang sama darimu, lelaki yang pernah menjadi kekasihku (oke setidaknya dua atau tiga hari, ah aku lupa. atau mungkin seminggu?). Bahwa kita akhirnya dipertemukan lagi. Tak diduga. Kau datang di waktu yang tak kumau. Tapi kuakui juga bahwa aku menginginkanmu –seperti malam-malam sebelum ini. Begitu caramu memberi kejutan? (Setidaknya itu bagiku. Mungkin bagimu pergi ke tempatku seperti wisata yang kau bisa  datang kapapun kau punya uang).

Tak ada kata sayang. Tak ada kata rindu. Tak ada marah dan benci yang menjadi bumbu keseharian kita di masa lalu. Pun tak ada cemburu. Tak ada tatapan yang intens. Tak ada setuhan pun ciuman di leher. Tak ada ucapan “good morning” di pagi itu. Tak ada belaian di rambut. Tak ada kecupan berkali-kali yang banyak di bibir. Tak ada tatapan di matamu yang berarti selain kesenangan bercumbu dengan jalang.

Yang ada adalah caramu memperlakukaku seperti kau memperlakukan perempuan yang punya kelamin. Sudah. Selebihnya kau lupakan kata-kata sayang di masa lalu itu. Kau lupakan semua cerita kita yang singkat yang tak berarti apa-apa buatmu.

Bagimu aku hanyalah alat pengasah kelamin. Tempat kau memuntahkan gairah yang kau bendung sejak lama –sejak sebulan tak bertemu dengan kelamin perempuan. Sejak kau bilang kau menginginkan perempuan lain yang ada di dekatmu. Sejak kelaminmu tak tahan berdiam diri bertegger di selangkanganmu tanpa bergesekan dengan kelamin wanita.

Dan aku hanyalah kayu yang sudah terbakar habis. Aku hanyalah kesia-siaan.

Bahwa kupikir kau adalah lelaki terakhir, tapi nyatanya bukan. Justru kau yang membuka jalan untuk kelamin lain masuk dengan mudahnya. Bahwa kau yang sudah tak menganggapku ada, bahkan merindukan aku pun tak ada dalam kamusmu. Oke. Kau merindukan kelaminku. Katamu kelaminku itu punyaku, dan aku tak berhak cemburu dengan apa yang memang sudah punyaku.

Tapi merindukan kelamin berbeda dengan merindukan seseorang, sayang.

Memori indah yang kita bangun memang baru sebatas memori di atas ranjang. Tak ada memori jalan berdua. Berkisah lewat foto. Bergadengan tangan di pinggir jalan. Membicarakan hal kesukaan masing-masing lalu tertawa. Kenangan itu tak ada dalam memori kita.

Maka aku paham betul mengapa kau merindukan kelaminku. Karena hanya itu momen terintim kita berdua. Setidaknya memori di tempat konser, tempat makan, pun di atas motor yang berusaha setengah mampus aku ukir  tak berarti apa-apa buatmu, iya kan?

Hanya tubuhku yang kau mau dariku.

Maka aku paham betul untuk apa kau datang sore itu dengan ransel besar di punggungmu: untuk kelaminku. Kau membayar separuh perjalananmu dari Solo, lalu sengaja mangkir ke Bandung demi kelaminku. Kau begitu merindukanya, huh?

Dan tak ada hal istimewa yang terjadi seperti pada hari sebelum ini, di mana kata sayang terdengar berkali-kali melayang-layang hingga membuat hatiku melambung. Kau menciumi tubuhku, lalu menatapku intens, lalu terseyum manis. Yang ada, kau hanya fokus pada kelamin kita yang saling bertautan. Tanpa sedikitpun pelukan. Tanpa ada kata-kata yang keluar.

Siapa yang kau setubuhi?

Boneka? Atau lubang tak berarti yang kau temukan di pinggir jalan?

Atau mantan kekasihmu?

Atau perempuan yang kau bodohi?

Aku merindukanmu setengah mampus. Sampai mampus pun yang kau ridukan tetap kelaminku, bukan aku sebagai wanita. Bukan aku sebagai wanita yang kau inginkan, seperti kata-katamu sebelumnya.

Dan yang aku rasakan hanyalah kehampaan. Sama dengan lelaki-lelaki sebelumnya. Yang kurasakan hanyalah keinginan untuk meyudahi persetubuhan segera, bukan menikmatinya. Yang aku rasakan hanyalah kebodohan.

Apalagi ketika kuingat kau pernah bilang, “Demi aku, please.” Saat kau minta aku untuk menyerahkan semua yang kau mau. Demi apapun aku merasa bodoh luar biasa. Seperti katamu di atas motor, malam itu, saat kau paksa aku mengocok tititmu di jalan.

Ya memang kenyataannya begitu. Aku hanya akan terus mejadi wanita konyol di matamu. Wanita konyol yang baru akan kau datangi ketika ia sedang tak datang bulan untuk kau ajak bersetubuh, bukan menikmati waktu sore di bioskop pun di tempat makan, apalagi di taman wisata.

Yang akan kau lupakan segera ketika kau tak butuh (atau setidaknya sehabis kau menuntaskan kebutuhanmu). Yang hanya akan menjadi simpananmu di Bandung mana tahu kau ada waktu atau pekerjaan di sana. Yang akan menjadi abu seketika kau dapatkan kelamin yang baru–yang bisa memuaskan kelaminmu, pun hari-harimu.

Kau tidak pernah baik, sayang. Yang kau pahami dari wanita hanyalah bahwa kelaminnya adalah tempat untuk kelaminmu keluar masuk sampai muntah. Kau tak pernah paham bahwa wanita butuh lebih dari pada kelamin lelaki yang selalu dibanggakan itu.

Dan, aku harap aku dapat melupakanmu segera. Mengingat rasa sakit ini hanya akan membuatku semakin merasa konyol. Kerinduanku padamu sampai kapanpun tak akan terbalaskan, kecuali aku membuka hatiku untuk lelaki baru. Tentunya yang tidak sepertimu, kuharap.

Selamat bertemu dengan kelamin wanita lainnya, Sayang.

Hati-hati kena HIV.

Salam,

Mantan Kekasihmu yang Tak Berarti.

Advertisements