Untuk Kau yang Tak Pernah Ingin Tahu Kabarku

Hai, apa kabar? Selamat dan selamat atas suksesmu hari ini.

Baru saja aku melihat pesan-pesan lamaku, dan ada namamu di sana. Waktu itu aku belum memasukkan namamu ke dalam daftar orang “yang tak bisa melihat instastory-ku”.

Dan di situ ada namamu. Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu kala itu, dan kau balas dengan kata “terima kasih”. Itu saja. Cukup. Tak kurang tak lebih, yang membuatku tanpa ragu menghilangkan namamu dari daftar teman yang bisa melihat instastory-ku.

Kau melakukannya. Lanjutan perjuangan dari instastory-mu yang aku kometari itu. Kau berhasil hari ini. Selamat.

Ini sudah entah lelaki nomor berapa, dan rasa rinduku pada lelaki lain (yang pernah menjadi kekasihku) berhasil hilang seketika aku melihat wajahmu di instastory temanku. Ya. Aku tahu keberhasilanmu dari sana.

Lama aku tak mendengar kabarmu. Pun tak melihat-lihat jejakmu melalui akun media sosialmu. Tak membuka foto yang bertengger manis di profilmu. Pun tak mencari tahu apa kegiatanmu.

Aku melupakanmu sambil sibuk bercinta dengan lelaki yang kukira tepat. Ya. Kukira ia yang akan menggantimu. Yang akan menyembuhkan diriku dari angan-angan tentangmu. Yang kukira cerita baru dengan episode terpanjang. Nyatanya ia hanya lelaki yang datang lalu pergi kemudian setelah meikmati manisnya tubuhku. Perempuan yang akhirnya mencintainya –entah cinta macam apa.

Boleh aku bercerita?

Aku yang gagal untuk menepati janji pada diriku sendiri untuk tidak macam-macam dengan lelaki selain denganmu –yang aku tahu itu adalah harapan semu. Kau serupa bayangan yang tinggal kutiup maka hilang. Namun aku tak ingin membuatmu hilang. Maka kau ada terus, walau lelaki lain silih berganti datang.

Namamu ada selalu dalam impian. Setidaknya itu berhasil menyelamatkanku dari banyak hal. Hingga aku pikir dengan melanggar janji yang kubuat sendiri untuk diriku sendiri, itu dapat membuatku lupa padamu.

Benar memang aku lupa.

Dan sekarang aku ingat lagi. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang yang menanyakan kabarku, apalagi merindukanku. Betapa namamu tak pernah masuk dalam daftar orang terdekatku yang ingin selalu kuberi kabar –ingin sebetulnya. namun aku menghindarinya. Betapa cerita perjalanan panjangmu yang tak pernah mampir ke telinga padahal aku begitu ingin mendengar pun memberi komentar.

Aku tak mengerti apa yang terjadi di saat aku sudah menghapus segala tentangmu dan memikirkan lelaki lain, dan kau masih bisa-bisanya masuk. Di saat paling bahagia aku dengan lelaki lain, pun di saat aku patah hati, dan kau masih bisa mampir melintas bahkan di jari-jariku yang selalu menghindar untuk menulis kisah tentangmu.

Hai, Tuan.

Maafkan aku yang belum bisa melupakanmu meski kau ingin sekali aku lupa –atau lebih tepatnya kau ingin sekali aku hilang. Segala kisah tentangku yang tak ingin kau tahu. Segala keinginanku yang bukan keinginanmu. Dan itu yang seharusnya meyakinkan diriku bahwa kau (sejak dulu) tak menginginkanku.

Maka bayanganmu harus aku tiup seketika –dan bayang-bayang lelaki lainnya.

Maafkan aku, Tuan. Jika memang sudah takdirku banyak mengecup bibir lelaki lain dan itu bukan kau sehingga tak akan pernah ada kesempatan untuk aku medapatkan dirimu, itu tak apa. Aku akan menikmati rasa sakitnya. Toh sudah berkali-kali hatiku disayat oleh kebahagiaan yang aku ciptakan sendiri bukan?

Selamat, sekali lagi, Tuan. Semoga lancar hari-harimu ke depan.

Dari yang susah mati melupakanmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s