Dan, Mana Etikamu?

Pelacur saja dibayar. Pelacur saja dapatkan sesuatu dari apa yang ia beri. Lalu aku apa? Apa nama untuk wanita yang melacur namun tak dibayar?

Aku lebih hina dari wanita yang tak dibayar, kau tahu?

Mereka bisa hidup dengan receh yang mereka dapat. Sedang aku tidak, malah sebaliknya. Menghabiskan uang untuk membeli rokok, lalu menghirupnya hingga mual… entah berapa tahun lagi aku akan hidup.

Bahkan jika aku mati pun aku tak punya bekal apapun selain dosa yang kutenteng di pundak. Mungkin di alam sana nanti dosaku akan menjelma parang yang menancap di kelamin saking dulu aku pernah menikmati batang selangkanganmu.

Bahkan untuk melupamu aku relakan kelaminku dimasuki oleh sembarang kelamin yang ada. Tak dapat aku bayangkan kalau penyakit mematikan datang padaku. Lagi-lagi aku tak punya bekal. Dan kau biarkan saja aku mati perlahan sedang aku selalu tak pernah siap untuk mati.

Abdan yang terhormat.

Aku membencimu demi apapun. Aku benci ketika kau hanya datang, dan dalam pesan itu yang kau tanya pertama kali adalah keberadaanku, seolah kakimu siap melangkah ke tempatku ada detik itu juga. Seolah keberadaanku dapat melemaskan kelaminmu yang tegang.

Lalu ketika jawaban tidak sesuai, kau menghilang lagi. Seolah mencari yang lebih potensial yang bisa kau setubuhi detik itu juga.

Di mana etikamu?

Kita sama-sama butuh kelamin, Abdan.

Maka gunakan etikamu–oke kecuali memang kau tak pernah diajarkan untuk itu. Pelacur pun dapat penghargaan. Ia dibayar. Sedang aku apa namanya?

Aku bukan wanita yang kau bayar untuk melemaskan kelaminmu, tapi kau perlakukan aku semaumu. Datang ketika butuh, pergi tanpa mengucap salam perpisahan, lalu menghilang. Lalu kau ulangi lagi bulan depannya.

Apa aku ini, Dan?

Aku pun membenci temanku, sahabatku sendiri yang tak punya etika begini. Datang ketika butuh, senang ia di tempat lain. Lalu aku bersusah payah terlepas dari rasa kecewa, hingga aku lakukan apa yang kusuka–menyakiti diri sendiri.

Apalagi pada kau, orang asing yang kubiarkan masuk. Aku membiarkan orang asing menghinaku. Kurang hina apa aku, Dan?

Abdan, aku merindukamu, demi apapun.

Aku rindukan malam-malam kita bersama, melakukan apa yang kita berdua suka. Aku rindu kecupanmu yang datang berkali-kali. Aku rindu kau belai rambutku yang tak panjang. Aku rindukan lenganmu yang kau serahkan begitu saja untuk jadi bantal malamku. Aku rindu ucapan selamat pagi darimu. Aku rindu kau panggil sayang.

Maka tak bisa kah kau menghargaiku sebagai orang yang menyayangimu?

Sampai aku mau mati, Abdan, aku merindukanmu dan menangis tiap malam berharap dikasihani bulan. Sampai aku mau mati, Dan, terisak di bawah bantal, sambil mengapit tanganku dengan selangkangan, berharap ditemani angin malam. an aku takut untuk itu.

Iya. Ada bulan dan angin. Namun aku tetap kesepian, Dan.

Maka tolong beretikalah sedikit. Sedikit, saja. Lakukan ini untukku.

Please, demi aku.

.

.

Dari wanita yang hampir mati diguyur rasa iba pada diri sendiri.

Advertisements

4 thoughts on “Dan, Mana Etikamu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s