3R (Vol. 8) — Midnight Pleasure

Rami

“Should we do…?”

Romi

Aku mencium satu-satunya wanita yang aku inginkan sekarang, my Arami, dalam keheningan malam ditemani angin dan deburan ombak yang terdengar lirih. Lirih, sangat lirih, bahkan hampir tak terdengar. Aku hanyut dalam kedalaman malam.

Ia melepas ciumanku. Mukanya memerah seperti udah rebus yang sangat nikmat dimakan, apalagi dengan bumbu kacang. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku haus.” Kemudian ia bangun, dan mengambil botol air mineral yang tinggal setengah dan menenggaknya hingga habis.

Aku mencoba mengatur napasku agar stabil kembali, pun agar dapat berpikir jernih. Aku berdiri, lalu mengambil handphone di kasur, hingga akhirnya, ia berjalan ke arahku dan menyerangku dengan napas yang menggebu. Tidak setenang tadi.

Dorongan tubuhnya membuatku terjatuh ke atas kasur. Ia di atasku. Masih menciumku. Aku mengelus rambutnya perlahan, membuat ia memelankan irama permainan lips to lips kami malam itu.

I’m a dominant.

Rami

Ia menggulingkan tubuhku, membuat posisi kami berubah. Tubuhnya di atasku sekarang. Napas kami beradu. Kurasakan dadanya yang naik turun, seiring pertambahan panas tubuhnya.

I’m going crazy. His lips so… Ah! Seperti permen yupi yang kenyal, yang ketika ditekan akan kembali ke bentuknya semula. Pun rasanya yang manis. Aku suka permen yupi, seperti aku menyukai bibirnya, lelaki muda yang aku cintai, satu-satunya lelaki yang aku inginkan malam ini.

Romi

Rasanya semua indra yang kupunya sudah terfokus pada satu tubuh. My Lovely Arami. Ombak dan angin di luar sudah tidak terdengar sama sekali. Hanya terdegar lirih lagu adele berjudul all I ask dari playlist handphoneku.

Ia melepaskan ciumanku lagi. Mata kami bertemu, namun kami diam.

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

“Why?” Kataku akhirnya memulai.

Ia diam, seperti sedang mendengar dan menghayati makna lagu dalam bungkam. Napasnya memelan. Matanya masih menatap mataku. Bukan, bukan dengan tatapan yang kosong, tapi tatapan yang tak bisa aku artikan.

“You know I love you, right?” Kataku, tak tahu harus berkata apa lagi. Matanya menyiratkan keraguan yang dalam. Mungkin ia takut? Mungkin ia tak percaya padaku?

“Men…” Ia berhenti sejenak, “who want to making love with her girlfriend always says that, huh?” Ia menatapku tajam. Dadanya naik turun, seperti siap memuntahkan segala rasa yan bergejolak di dalam.

“Kamu masih inget Ken?” Aku berhenti sejenak, “dan mama kamu?” Akhirnya keluar kata-kata ini juga.

“Jangan sebut mereka.” Ia tak membentak. Ia berbicara dalam diam. Ia, my Arami menangis.

“Oh, come on! I’m sorry.” 

Ia masih diam. Aku bangun, mengambil jaketku, dan bersiap untuk keluar. Sejauh mungkin, agar dapat menjernihkan pikiran.

“Kemana?”

“Cari rokok.”

Rami

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu, dan bertahun-tahun juga aku takut. Takut itu terulang. Dikhianati. Dibohongi. Dipakai hanya untuk kesenangan semata.

“Kemana?” Kataku ketika melihatnya mengambil jaket siap untuk keluar.

“Cari rokok.” Jawabnya sangat singkat, tak seperti biasanya.

“I’m sorry.” Kataku lagi, tak kuat menahan tangis. “Jangan ngerokok. Nanti bau.” Entah mengapa, kata-kata itu yang keluar dari bibirku.

Ia berbalik, kembali ke arahku. Menghapus air mataku, kemudian mengecupnya dalam. Aku memeluknya. Aku aman bersamanya.

“Jalan-jalan?” Ia tersenyum, aku bahagia.

“Yuk.” Kataku dengan anggukan. “Tapi mau cuci muka dulu.”

“Iyaaa. Sana biar seger mukanya, ngga kayak bakpau kesiram air gini.”

“Lebay.”

“Jangan lupa jaket. Di luar banyak angin.”

Romi

Aku tidak sedikitpun kecewa akan perlakuan Rami tadi. Tapi satu hal yang mengganjal dalam kepalaku adalah bahwa memori buruknya itu masih terngiang. Memori paling menyakitkan, paling menjijikan, masih berputar di kepalanya bahkan sampai hampir empat tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Kami berjalan menyusuri tepi pantai yang gelap, hanya disinari bulan purnama dan sinar lampu beberapa kedai dengan jarak terdekat sejauh tujuh meter.

Dinginnya air pantai yang perlahan-lahan menyapu kaki kami bukan masalah, pun angin yang sangat kencang menyapu tubuh kami. Kami berjalan berangkulan. Aku merangkul pundaknya, ia memeluk pinggangku.

“Mau berenang!” Katanya tiba-tiba.

“No! Dingin. Ngga boleh. Lagian ini udah mau jam 11 malem. Nanti sakit.”

“Hp mana?” Tanyanya.

“Ngga bawa. Kan perjanjian kita sebelum sampe sini, ngga boleh bawa hp kalau jalan-jalan.”

“Nah! Bagus! Lets go swimmiiingggg!” BYUUUUUR.  Ia menceburkanku dalam sekali dorongan. Seketika kami sudah berada di dalam air laut yang dingin.

Ia tertawa kencang, saaangat kencang, membuatnya terlihat begitu bahagia. Kami menghabiskan waktu berdua untuk berenang bersama, dan tertawa geli bersama sampai entah jam berapa. Aku mengajaknya kembali ke kamar saat kurasa kulitku sudah sangat keriput, saking lamanya di dalam air.

Rami

Puas bermain air, aku setuju untuk kembali ke kamar. Senang rasanya menghabiskan malam bersamanya, my only boy, Romi.

Sampai di kamar, ia mengambil gerakan cepat menuju kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air hangat. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23:55.

“Ladies first.” Katanya sambil bergaya seperti ajudan yang memperlakukan seorang putri.

“Thank you.” Jawabku tersenyum. Aku menarik tangannya, menenggelamkan tubuhnya dan tubuhku ke dalam bathup. Hangat dirasa di sekujur tubuh. Aku menciumnya dalam, ia pun begitu.

Ia melepaskan ciumanku. Menatapku bulat-bulat, “Kita belum lepas baju.” Katanya, membuatku tertawa, pun dirinya sendiri.

Aku melepaskan seluruh pakaianku di depannya. Ia terdiam. “Aku udah.”

Ia membuka bajunya, masih di dalam bathup berisi air hangat. Ia kembali menciumku, buru-buru aku menghindar. “Balik.”

“Hah?” Katanya penuh dengan tanda tanya.

“Sini punggungnya aku sabunin.”

Romi

What the hell! Apa lagi Rami? Ocehku dalam-dalam, tapi masih juga kuturuti perintahnya. Aku membalikkan tubuhku. Begitu pelan dan lembut usapannya. Bau wangi dari sabun tercium, membuatku sepenuhnya menahan panas tubuh yang sudah benar-benar memuncak.

Kadang aku berpikir, apa ia sengaja menyiksaku? Atau ia terlalu polos? Atau ia lupa bahwa kami bukan bocah umur 10 tahun? Please, Arami. Stop.

“Udaah! Gantian!” Ia memintaku berbalik.

Kini kutemui punggungnya yang benar-benar halus, dipenuhi oleh bulu-bulu kecil yang hampir tidak terlihat. Tengkuknya, seperti kataku sebelumnya, sangat indah. Aku mengambil sabun, dan menyapukannya perlahan ke punggungnya.

Shit!

Aku tak mampu lagi menahan untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku, dan menciumi dirinya hingga habis seluruh tubuhnya dalam dekapanku.

Ia yang terlihat kaget ketika kutarik ke belakang, hingga tubuh kami benar-benar menyatu, segera dapat menyesuaikan diri. Aku mulai mengeksplorasi satu persatu bagian tubuhnya dari belakang, menciumi dan menggigit perlahan lehernya seperti seekor macan yang sedang membawa buruannya, membuat ia mengeluarkan suara lirih yang memabukkan pria manapun yang mendengar.

Aku bangun, kemudian menyalakan shower. Kami bermain dengan bibir satu sama lain, sambil membersihkan diri. Kami benar-benar menikmati sensasi guyuran air yang menusuk.

Aku menuntunya keluar dari bathup. Ia mengambil handuk, menyapukan handuknya ke tubuhnya, lalu tubuhku.

Ini bukan saatnya untuk berlama-lama.

Aku menariknya keluar kamar mandi, dan menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya, sambil terus menjelajai tubuhnya yang sempurna. Mulai dari lehernya, turun ke dadanya, hingga ke bagian khasnya, lalu turun ke telapak kakinya.

Seolah tak ingin puas sendiri, ia mendorongku sekuat tenaga, membuat posisi kami berbalik sekarang. Tubuhnya yang indah menindih tubuhku. Sama seperti apa yang kulakukan, ia mengeksplorasi seluruh tubuhku perlahan, membuatku geli saking nikmatnya.

Ia tahu benar caranya memanjakan seseorang. Ia tahu benar di mana diri ini benar-benar ingin disentuh.

Aku membalikkan tubuhnya, menindihnya lagi, bersiap untuk membawanya ke alam di mana hanya kami berdua yang dapat merasakan satu sama lain.

“Do..” Napasnya tergesa-gesa, mencoba sekuat tenaga untuk mengatakan kalimat selanjutnya. “Do you bring a condom?” Katanya kemuadian.

I don’t need it. You safe.” Jawabku seperti orang mabok. Benar. Aku benar-benar mabok. Rasanya kekuatanku benar-benar bertumpu pada satu titik, membuatku merinding.

Ia menatapku seperti bingung, seperti ingin berkata, How?

“Tenang.” Aku mencoba menarik napas, mengumpulkan kekuatan agar dapat meneruskan kalimatku untuknya, “Ada tekniknya. Kamu aman.” Aku berhenti sejenak, menatap matanya.

“Udah pernah nyoba?” Tanyanya membuatku gemas.

“Ini lagi mau nyoba.” Jawabku seadanya. “Trust me. Sumbernya jelas kok, bukan dari wikipedia.” Tambahku, membuatnya tersenyum, menahan tawa dan gelisahnya yang hadir bersamaan.

Ia memejamkan mata sejenak, kemudian mengangguk. “I love you.” Katanya kemudian, memberiku peluang untuk benar-benar masuk ke dalam tubuhnya.

“I love you.” 

Rami

Di bawah bulan purnama, ditemani desiran halus ombak pantai dan angin yang menyapu pelan, napas kami saling berburu seperti tak mau kalah satu sama lain.

Kami benar-benar melakukannya.


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6 Vol. 7

Advertisements

3R (Vol.7) — The Desire

Romi

Libur semester ganjil tiba. Aku dan Rami sudah merencanakan pertemuan ini awal masuk semester lalu. Beberapa jam lagi, kami sampai di Surabaya, destinasi awal perjalanan kami selama satu minggu ke depan.

“Bawa apa lagi ya?” Kataku sambil garuk-garuk kepala, bingung saking sedikitnya barang bawaan yang kubawa. Malam ini aku dan Rami sedang packing bersama di kamar kostku untuk perjalanan esok pagi.

Rami yang sedang sibuk menyetrika baju, menoleh. “Hmm.. Ini baju kamu belum masuk sama sekali hei.” Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh iya. Haha.”

“Ah! Aku udah bikin list barang bawaan yang harus kita bawa.”

“Loh, bukannya udah ada? Ini apa?” Kataku melihat list barang yang beberapa hari lalu Rami buatkan. Ia memang penuh dengan persiapan.

“Itu belum semuaa. Udah gih ambil catatannya tuh di atas dispenser.” Katanya masih sambil menyibukkan diri dengan baju-baju yang sedang ia setrika. Idaman.

“Cadbury dairy milk fruit and nut,” Kataku memastikan apa yan ia tulis. “Coklat lagi?” Aku menoleh ke arahnya.

“Iya. Kemarin kamu belinya yang biasa, yang ngga ada isinya. Jadi kurang nendang gitu looh.” Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabannya.

“Dada ayam tanpa kulit, brokoli, kentang…” Aku menyernyitkan dahi. Kami memang sudah merencanakan untuk mengadakan barbeque party di tempat wisata yang akan kami kunjungi berdua. “Ini bisa dibeli di sana, yang. Ngapain bawa berat-berat?”

“Iya itu kan aku udah mark di bawahnya pake spidol merah, beli di sana. Ih teliti dong.”

Aku melihat bagian bawah kertas. “Oiya. Lagian kamu disatuin. Harusnya dipisahin mana yang dibawa dari sini, mana yang beli di sana. Biar ngga bingung.” Aku menarik napas, membaca list itu kembali. “Senter?” Aku berpikir sejenak. “Oh, buat jalan-jalan malam.” Kataku sambil membayangkan perjalanan malam di pantai yang sudah kami rencanakan.

“Kondom.” Dadaku panas seketika. “Hah kondom?” Mataku terbelalak. Aku memang sempat membayangkan hal yang negatif. Bercinta dengannya sepanjang malam, di atas pasir pantai. Tapi aku tidak berpikir untuk benar-benar melakukannya. “Buat?”

Ia meletakkan baju yang habis disetrika ke tumpukkan baju di sebelah kanannya, lalu menoleh ke arahku. “Buat nampung air hujan.” Satu detik, dua detik. “Of course for having sex with me, boy!” Aku menelan ludah.

Ia bangun, berjalan ke arahku dengan tatapan mata yang tajam, siap mencabik-cabik dadaku. Ia mencium bibirku perlahan, dengan lembut. Aku membalasnya dengan mendekapnya hingga tubuhnya menempel sepenuhnya dengan tubuhku.

“Just kidding.” Katanya setelah melepaskan bibir indahnya, lalu mengambil kertas yang kupegang, dan menuju kotak pulpen di atas dispenser. Ia mengambil salah satu di antaranya, lalu menorehkan tinta tepat di atas kata kondom.

“Nih. Jangan lama-lama ya. Cuma beli coklat doang.” Katanya kemudian. Aku masih terdiam tak habis pikir. Rasanya hampir copot jantungku beberapa menit yang lalu. “Mau aku anter? Yuk deh. Sekalian aku laper banget mau beli nasi goreng pinggir jalan.”

Aku menelan ludah, sekali lagi. Menatapnya setajam yang kubisa. “What are you doing?” Aku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya. Ia tak pernah membiarkanku melakukan sesuatu yang buruk padanya, bahkan menyentuhnya jika ia tidak menginginkanya, namun ia selalu berhasil melakukan itu padaku sesuka hatinya.

Membuatku panas, lalu berlalu begitu saja. “I’m a man. I have a very very very big fucking desire to fuck you. Every day, every night. I’m not a boy, Rami. Don’t do this to me.” Kataku menahan kesal, mencoba sebisa mungkin untuk tidak membentaknya.

Ia terdiam, lalu berkata. “You wanna fuck me? I’m not a bitch!”

“Stop flirting me, kalo gitu.” Kataku menurunkan nada bicaraku, seperti berbisik. Sedikit lebih tenang.

Ia diam. Bibirnya seperti menahan sesuatu yang berat. Matanya memerah siap untuk mengeluarkan air mata. Rasanya aku ingin menarik kembali kata-kataku dari relung terdalamnya.

“I’m sorry.” Kataku mencoba memegang tangannya yang mengepal.

“Don’t!” Ia berlalu menuju tasnya, dan memasukkan satu persatu barang yang sudah dipersiapkan untuk dibawa besok.

“Aku pergi. Nasi goreng biasa kan?”

“Yang pedes banget!” Katanya sambil menghentakkan barang yang dipegangnya ke dalam tas. “Kalo perlu beliin abon cabe sekalian biar tambah HOT!” Katanya sambil menahan sesengukkan. Ia menekankan kata hot, membuatku ingin tertawa melihat ekspresi ngambeknya.

“Do you need a tampon? Kamu PMS kayaknya.” Kataku kemudian menggodanya.

“GOOOO!” Teriaknya sambil melemparkan baju yang baru ia setrika. Aku berlalu sambil menahan tawa. My Arami itu… lucu.

Rami

“Mi… Udah sampai.” Suara berat itu membangunkanku dari tidur panjangku. Aku berkedip sambil mengucek mataku yang terasa gatal. “Jangan, nanti sakit.” Katanya kemudian, lalu meniup mataku perlahan.

Bau mint menyerbu seketika, membuat aku sepenuhnya sadar. Aku  mengambil tas dan beranjak keluar kereta. Lelaki ini adalah lelaki yang dua hari lalu membuatku kaget karena kumis dan jambangnya yang dibiarkan tumbuh memanjang di wajahnya. Like a real man. I like it!

“Habis kita liburan kamu cukuran ya.” Ia menoleh. “Seminggu lagi pasti bakal kayak kyai tu jenggot.” Tambahku.

“Ngga mungkin lah. Kalau kyai mah bertahun-tahun. Ini baru ngga cukuran dari mmm….” Ia seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu melanjutkan kata-katanya, “dari terakhir kita ketemu. Semester lalu.”

Aku menarik tangannya dan berhenti. Kami bertatapan. “Biar kalau masuk kuliah nanti, kamu ngga aneh dengan bekas cukuran di atas bibir.” Kami berdua tertawa, melanjutkan perjalanan.

Romi

Kami menginjakkan kaki di salah satu tempat bersejarah di Surabaya. Tugu Pahlawan. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa pertempuran 10 November 1945 antara arek-arek Suroboyo dengan pasukan sekutu bersama Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Bangunannya unik, seperti paku terbalik. Ada museum di dalamnya, membuat pengunjung terbayang jelas peristiwa puluhan tahun yang lalu itu.

“Are you happy?” Kataku pada wanita berambut panjang yang sedari tadi kugenggam tangan lembutnya, sambil berkeliling Tugu Pahlawan.

“I’m starving.” Wajahnya memelas seketika, seperti muka kucing yang sedang merayu majikannya untuk segera diberi whiskas.

Aku tersenyum, kukecup bibirnya yang sedang manyun. “Yuk, cari makan.”

Ia mengeluarkan handphonenya. “Sate klopo enak deh kayaknya, Yang.” Katanya sambil melihat salah satu artikel berisi kuliner-kuliner di Surabaya dengan handphonenya.

“Sate enak dimakan malem ah.” Aku melihat layar handphone yang sedang ia scroll ke bawah. “Nasi goreng jancuk enak tuh.” Kataku melihat gambar nasi goreng super pedas yang bikin ngiler.

“Jangan ah nanti sakit perut. Lagian masa ke Surabaya cuma makan nasi goreng?” Katanya mengelak, lalu melanjutkan bacaannya lagi. “Ah, nasi krawu nih, nih.” Katanya antusias sambil memperlihatkan artikel berisi gambar seporsi nasi dengan beberapa lauk di atasnya. Cukup menggiurkan.

“Nah nah, jangaann. Tuh. Katanya enak dimakan pagi-pagi. Sekarang udah hampir jam empat sore.”

“Iya juga.” Katanya kecewa.

“Nah!” Kata kami bersama, tepat ketika melihat gambar bebek goreng dengan sambal yang terlihat sangat menggiurkan.

“Bebek goreng tugu pahlawan! Yuk kayaknya deket dari sini.” Katanya, segera menggenggam tanganku, dan menariknya dengan antusias.

Rami

Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama berkeliling Surabaya sebelum tepat pukul 11 malam nanti pergi meninggalkan kenangan indah hari ini menuju Pelabuhan Ketapang, tempat kami mengukir memori selanjutnya.

Kami berdua, duduk bersebelahan dengan diam di tempat yang mengarah lansung ke jembatan Suramadu yang memancarkan warna yang indah dalam gelapnya malam. Ia menyandarkan kepalaku di atas bahunya, dan memeluk pinggangku. Hangat seketika menyelimuti.

Aku menatapnya dalam-dalam. Berusaha mengingat wajahnya sedetil mungkin yang kubisa. Ia yang menjadi kesayanganku seutuhnya, lelaki yang bisa kuandalkan. I love him to the moon and back, to the moon and back again 50 ribu kali.

Matanya mengarah ke depan, penuh dengan ekspresi keoptimisan, namun diam. Entah apa yang ia pikirkan. Ia menoleh membuat mata kami bertatapan. Canggung menyelimuti seketika. Ia mencium bibirku, aku membalas.

Kurasakan peri cinta sedang menembak kami dengan racun hatinya, membuat kami menggilai satu sama lain. Membuat kami lupa bahwa ini tempat umum. Aku mencintainya.

Romi

“Wooohoooo LOMBOOKK!” Katanya sambil berlari ke arah Pantai Senggigi, destinasi utama liburan kami kali ini. She just a little girl. I love her. Pikirku sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita di depanku yang kini sedang berputar sambil berteriak, merasakan asinnya bau angin di sekitar.

Aku meletakkan tas kami di kamar penginapan yang sudah kami pesan dua bulan yang lalu. Alhasil, kami mendapatkan penginapan terdekat dengan pantai. Pemandangan dari sini begitu indah, seindah Arami, yang kini berjalan ke arahku dengan senyum lebar yang memancar.

Ia menciumku. “Thanks. It’s… All of this such a little heaven, hon!” Katanya dengan antusias. “Yuk ke pantai! Seru deh anginnya kenceng.”

Aku tersenyum, mengikuti langkahnya sambil menggenggamnya erat. Kami menghabiskan waktu tiga jam untuk menikmati pantai. Dari mulai duduk di atas pasir, lalu cebur-ceburan, lempar-lemparan pasir basah. Like a little girl and boy who loves playing together.

Lengket di badan karena air laut yang hampir mengering tak jadi masalah. Kami duduk dengan damai sambil melihat beberapa anak memainkan layangan dengan latar langit berwarna jingga. Arami memeluk pingangku, aku balik merangkul pundaknya, sambil sesekali membelai rambutnya yang hampir kering.

Rami

Aku duduk di atas selendang tipis yang sengaja difungsikan menjadi karpet. Ia, my love sedang asyik membolak balikkan daging sapi, jagung bakar, dan kentang berlapis aluminium foil yang berjajar rapih di atas arang sambil menggerakkan kipas bambu dengan kecepatan sedang agar didapatkan bara yang sesuai. Aku menyiapkan bir dingin yang kami beli di bar dekat penginapan beberapa menit yang lalu.

Malam ini akan menjadi malam yang sangat mengenyangkan!

Kami menikmati makan malam dengan latar bulan purnama dan beberapa bintang, disertai suara deburan ombak yang menyejukkan. Dingin lantaran angin yang kencang bukan penghalang. Kami menikmatinya dalam diam. Begitu damai, hingga kami tak menghitung sudah berapa jam yang kami habiskan bersama.

Romi

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Ngga kerasa. Saking menyenangkannya, mungkin. Aku sedang duduk di lantai sambil menyandarkan diriku ke pinggiran kasur sambil membaca majalah otomotif yang tersedia di kamar kami. Rami sedang terlentang di atas kasur sambil melihat foto melalui layar kamera yang kami bawa.

Kepala kami bersentuhan. Aku dapat merasakan pergerakan kepalanya yang halus, juga mendengar komentar-komentarnya pada foto-foto yang ia lihat.

Aku memutar lagu untuk memecah keheningan. Close to you dari The Carpeters menjadi lagu pembuka.

“Gila! Liat nih, yang. Keren banget ini fotonya!” Ia memutarkan badannya, membuat pipi kami saling menempel satu sama lain. Dengan antusias ia menunjukkan satu fotoku berlatar pasir pantai dan ombak laut setinggi pinggang. Lucunya lagi, ada dua jarinya yang sedang mengapit kepalaku. Aku terlihat sangat kecil di antara dua jari itu.

“Jari kamu lucu?”

“Kamu lucu. Ekspresinya bener-bener lucu. AAA.” Katanya sambil mengikuti gaya mulutku yang terbuka lebar di foto.

Ooh, now let’s get down tonight 

Baby I’m hot just like an oven

I need some lovin’

Playlist di handphoneku memutar lagu Sexual Healing milik Marvin Gaye.

And baby, I can’t hold it much longer

It’s getting stronger and stronger

And when I get that feeling

I want Sexual Healing

Aku mematung. Kini kulihat Rami sudah duduk bersandar di pinggiran kasur. Tepat di sebelahku. Matanya menatap ke depan.

Sexual Healing, oh baby

Makes me feel so fine

Helps to relieve my mind

Damn! Why she looks like too damn fucking gorgeous tonight GOD! Rambutnya dicepol membuat tengkuknya terlihat. Kumis tipis di bibirnya, dan bulu tipis di lengan dan kakinya yang sekarang… entah mengapa terlihat begitu sexy.

She’s like a cheese on the top of pizza. Melted.

Rami

“Should we do that?”


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6

3R (Vol. 6) — Sajak

Rami

Dua tahun sudah aku melewati masa dari babak baru yang mempertemukanku dengan Romi, Rama dan Kana. Minggu lalu, Romi yang sekarang sedang menjalani studinya di Depok mengirimi aku sebuah surat, literally surat yang ditulis tangan dan dikirim lewat kantor pos. Surat itu berisi kata-kata maha indah, berisi janji cintanya.

……I promise, ’till the time I become a “man” who can treat you well like crazy, I’ll be a good boy for only woman I absolutely want right now. You. Arami.

Save my heart ’till the end, Arami.

The boy who gave you his heart two years ago

Romi

Aku membaca kalimat terakhir, dan tersenyum. My lovely boy itu… Ngga romantis apanya coba? Ia selalu bisa membuatku merasa tersipu karena cinta dan kata manisnya yang menyanjungku. Betapa indahnya ciptaan Tuhan. Aku tak pernah berhenti untuk bersyukur karena dapat merasakan kuasa-Nya lewat Romi, ciptaan-Nya yang maha indah.

“Mau baca kali, suratnya!” Kata Kana mengagetkanku. Tiba-tiba saja ia masuk ke kamar kostku. Ya. Sudah setahun lebih aku tinggal di Bandung, menempuh studiku di salah satu Perguruan Tinggi di sini, bersama Kana. Kami berbeda Pergurua Tinggi, tentu saja. Minat kami berbeda, meski terkadang aku suka menggambar, sama seperti Kana yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain, di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung.

“Eh! Rahasia pabrik ya!” Kataku segera menyembunyikan surat itu di bawah bantal tempatku menyandarkan kepalaku yang lelah karena habis begadang mengerjakan tugas tadi malam.

Kana mendekatiku dan ikut terlentang di sebelahku. “Bangunin gue 20 menit lagi ya, Mi.” Katanya. “Gue mau ngelanjutin design gue buat dipajang di depan kampus nanti.”

“Gila! Ini udah jam berapa heeeh.” Kataku, sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.

“Liat aja sediri, gue mau tidur.” Katanya dengan cuek sambil menutup wajahnya dengan bantal. Begitulah Kana. Ia menggeluti hobinya dengan komitmen yang tinggi. Aku iri akan semangatnya yang begitu tinggi.

Aku merenung, sambil menungu 20 menit tiba, untuk membangunkan Kana. Kampus kami tidak berdekatan, sebenarnya. Kalau naik bis, bisa sampai satu jam lebih perjalanan. Tapi saking tidak ingin berpisah jarak dan waktu dengan perempuan kesayangan gue ini, akhirnya kami memutuskan untuk kost di satu tempat. Dan harus ada yang mengalah bukan?

“Engga. Kost harus deket kampus gue. Design pasti sibuk dan butuh banyak inspirasi. Dan bandung cocok.” Katanya. Sedikit aku merasa ia merendahkan kampusku yang berada di pinggiran yang kurang hiburan.

“EH. Daerah dekat kampus gue juga udah borjuis kali! Cafe banyak, mall ada, dan yang paling seru adalah back to nature, Kaaan.” Kataku berargumen.

“Heh! Di Bandung lebih banyak kalii. Banyak kalau lo mau cari suasana dengan konsep back to nature. Ada kawah putih, ada kebun strawberry, ada apa itu yang buat coboy-coboyan di Lembang. Lebih asik Ramiiii.”

“Engga, engga. Harus di deket kampus gueeeee!” Kataku dengan energi ekstra.

“No. Deket kampus gue. Ini gue udah dapet kostnya dan gue udah DP buat dua kamar. HE. HE.” Katanya semena-mena, membuatku kesal. Aku menyerah.

Romi

Rami membalas suratku. Aku membuka surat dan membacanya perlahan. My love ini juga menyelipkan satu kertas origami berwarna merah berbentuk hati.

Dear, my boy Romi, my future. I hope. 

Thank you love, for your sweet fingers. Hihi. Thanks for your sweet letter, Hon. I already embarrassed like a little girl who kissed by her new boyfriend.

“Rom. Rami tuh udah belajar konseling orang belum ya?” Tanya Rama padaku, membuatku berhenti membaca surat dari Rami.

“Setau gue belum deh, Ram.” Jawabku, coba mengingat-ingat obrolanku dengan Rami terkait mata kuliah yang diambilnya. “Kenapa?” Tanyaku kemudian, sambil melirik Rama yang sedang memakai celana sambil menahan handuk di atas kepalanya yang basah.

Ia diam seketika, kemudian melanjutkan kegiatan malamnya setelah mandi. Memakai cologne, lalu berkata, “Nanti gue langsung tanya sendiri deh. Itu apa?” Tanyanya sambil memandang surat pemberian Rami yang ada di tanganku.

“Surat. Dari Rami.”

Rama

“Itu apa?” Kataku bertanya kepada Romi setelah melihat selembar kertas di tangannya.

“Surat. Dari Rami.” Oh.. Dari Rami. Aku diam sedetik. Rasanya aku kehilangan sesuatu, tapi aku tak tahu apa. Ah. Aku penasaran akan isi surat itu.

“Liat dong, Bray!” Pintaku, sambil menyikutnya.

“Rahasia perusahaan, Nyet.”

“Pelit, anjir!”

“Makanya punya pacar dong, biar bisa surat-suratan.”

“Norak.”

“Norak sama pacar sendiri asik kali!”

Kana

Apa dia tahu betapa indah punggungnya? Pungung yang menandakan awal dari perpisahan yang…. membuat rindu. Sedikit. Punggungnya yang lurus, pandangannya yang selalu menatap ke depan, dengan langkahnya yang panjang. Membuat ia menghilang seketika.

Rama, aku mengingat setiap detik cerita akan mimpinya yang sedari dulu ia bangun, pun rasa hatinya kala ia berbagi suka maupun dukanya.

“Kenapa lo kepikiran kerja di dunia modelling sih Ram?” Tanyaku tiba-tiba menghempas hening yang sedari tiga puluh menit yang lalu tercipta. Kami memang biasa menghabiskan waktu bersama dalam diam. Aku sibuk menggambar, ia sibuk memandang ke depan.

“Hm..” Ia berdehem, masih memandang ke depan, seperti sedang berpikir. “Karena gue ganteng.” Katanya menatap ke arahku, kemudian menjulurkan lidahnya.

“Bangsaaaattt!” Aku refleks memukul, dan menenggelamkan kepalanya di ketiakku.

Ialah Rama, yang baru saja aku mimpikan. Aku merindukannya.

“Kan, udah 20 menit.” Aku duduk sambil membuka dan memejamkan mataku sebanyak yang aku bisa, agar rasa lengket di mata hilang.

“That’s why I need my bestfriend here. Thanks my alarm!” Aku bangun untuk mencuci muka, dan mengambil sebungks mie goreng instan, dan langsung meremukkannya. Malam ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan dengan rutinitas yang sudah menjadi kegemaran. Menggambar!

Rama

Seminggu sudah aku tidur di kost Romi di Depok. Aku memang sedang suntuk dengan kuliahku di Jakarta. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk kuhabiskan waktu bersama sahabat terdekatku.

Karena jadwal kuliah Romi yang sangat padat, aku yang ‘sedikit’ suka membaca, lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan maha dahsyat milik kampus Romi. Gila. Perpustakaan ini benar-benar bank data yang mumpuni! Kita dapat dengan mudah mencari dan mengakses buku yang ingin kita perdalam.

“Ram!” Romi menepuk pundakku, membuatku sedikit kaget. Refleks aku menutup dan menyembunyikan buku yang kubaca sebisa mungkin. Ia melihat buku yang berada di tanganku sekilas.

“Bangsat gue pikir satpol pp!”

“Gila lu! Emang lu banci sampe harus berurusan sama satpol pp? Lawak aja. Eh, gue mau cari referensi dulu ya.” Katanya, lalu segera berbalik.

“Referensi apa?” Tanyaku kemudian, membuatnya menoleh.

“Puisi cinta. For my lovely Rami.” Katanya membuatku sedikit geli.

Sampai kapan anak ini akan bertahan mencintai Rami?

Rami

Malam paling indah… Malam yang menenangkan di bawah bulan, dan lampu remang kamar. Sengaja kunyalakan lampu kamar berkarakter keroppi warna hijau. Bukan menimbulkan kesan tenang, terkadang warnanya malah membuatku ngeri, sejujurnya.

Dan aku bak anak SMA yang sedang mengheningkan cipta saat upacara bendera. Begitu khitmat mendengarkan Romi yang sedang membacakan sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono untukku.

AKU INGIN
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 

“Kok diem, Mi? Halo?” Katanya dari ujung sana, entah berapa derajat dan jauhnya dari kamarku sekarang. Sudah hampir satu jam aku menghabiskan waktu dengannya di tepon hanya untuk saling berbincang dari kejauhan.

Aku tersadar. Entah. Mataku sedikit basah. “Oh. Hai!” Aku menjawabnya dengan canggung, kubalas puisinya yang mengharukan itu dengan rasa bangga. Aku ingin, versi Arami Hutomo.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, sesederhana lampu teplok  di dinding yang menyala karena dukungan minyak tanah.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, sesederhana makan warteg di pinggir jalan depan rumah. Bukan susah, bukan. Tapi menikmati makan tahu tempe di sana berbeda, sungguh. Kala itu denganmu…..

Romi terkikik dari kejauhan. Aku berhenti, dan menyernyitkan dahi tetiba. “Yang, gombal ah alay.” Katanya kemudian.

“Ih apaan sih? Gombal apaan?”

“Masa iya sih makan cuma sama tahu tempe rasanya sebegitu nikmatnya? Bukanya kamu ngga suka tahu?” Jawabnya cengengesan. Ia memang tak pernah membiarkanku bersikap romantis. Selalu dicela. Malah ngelawak.

“Au ah! Makan tuh tahu!”

“Aku mah suka, yeeee.”

Romi

“Aku mah suka, yeeee.” Katau sambil menjuluskan lidahku ke depan, untuk Rami. Padahal ia tak dapat melihat rupaku juga, sih.

“Au ah!” Dengan suara ala ngambeknya, ia membalasku begitu jutek.

“Yang.” Aku memanggilnya, sambil menatap halaman buku yang kupinjam di perpustakaan tadi, kemudian membaca isi di dalamnya. Puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Yang Fana adalah waktu. Kita abadi:

“Abadi apaan? Yang abadi cuma Tuhan.” Katanya masih dengan wajah cemberut, terbaca dari nadanya. Aku melanjutkan.

memungut detik demi detik, 

“Emang sampah, dipungut.” Katanya lagi, dengan nada sinisnya. Otakku bak memutar memori wajahnya dengan bibir manyun dan leher menekuk. Ekspresinya kalau sedang cemberut. Aku melanjutkan lagi.

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”

“Ngga ta…”

tanyamu. Kita abadi.

YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh : Sapardi Djoko Damono

“I love you.” 

Rami

Love you too.

Butterflies flying everywhere, around my mind. Geli. But I’m surely knows that… this is love. Aku jatuh cinta pada sang pujangga. Tidak berkuda maupun berjubah, namun satu-satunya yang berhasil membuat bunga mekar di dada. I’m totally embarrassed. This is love means.

“Good night.”


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied

 

For Romi, A Boy Who Gave Me His Heart.

Dear, my boy Romi, my future. I hope. 

Thank you love, for your sweet fingers. Hihi. Thanks for your sweet letter, Hon. I already embarrassed like a little girl who kissed by her new boyfriend.

I miss you like a hunger puppy waiting for her feed. I can’t stand calm, worried, because I want you so much right now.

Love…

Thanks for your heart. I will keep yours as soon as possible, with all power I have. Really. I promise. You will always be my lovely boy, my breath, my only cherry on my mind.

I have no words to describe how blessed my life because of you, hon. Cause the truth is… I have only a reason to love you.

You.

I love you so much.

You will stay.. ’till the end. I promise.

The woman who loves you every single day her have

Rami


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter

For Arami, A Woman Inside My Heart, Romi’s Gonna Be.

Dear Arami, my truly woman I want to live with.

First, thanks for giving me a chance to love you, my love, Arami. I really really never imagine that I found you, already found my only one to love ’till I forget that love is nothing. Of course, love is nothing without you, Arami.

I never imagine that my heart falls into you, the most wanted girl in the whole world because her kindly heart, attitude, and the way she loves others. And you gave me a chance to prove that I love you so much. More than my hobbies.

You’re the third in my heart after God and my mother, for now and ’till the time I don’t know when.

You are the only person who never gives me a choice to hate you, to not love you like an addicted crazy man without drugs. Yes. You are my drugs, Arami. Without you, I feel my world gone.

I’m not a romantic man, actually. I love movies like crazy. I love games to escape my stressful situations. I love humor. You know that I’m a fan of Mr. Bean and Charlie Chaplin, right? Ah! I also love Raditya Dika. As a comedian, of course.

And I love sex, actually. But please don’t afraid. Don’t be mad, cause I never do that fucking pleasure activity except with my own hands, maybe ’till the night accepting our proposal to do that, the most enjoyable  intimate activity. I hope. No no no, just kidding, babe. Hehe.

But.. one thing you should know is…

I’m addicted to you, Arami. You know? I can spend my long day just to thinking of you, my only woman I want to meet every day. Cause I miss you every day, love.

I’m not promise this feeling will permanently stuck in my heart also my brain throughout my life, pear. Because… As everyone know that we will grow old and find new people every day. People’s heart changes every time. This senses to you also will change dynamically.

Maybe sometimes we will feel bored and tired with all dramas we’ve been made. Because the facts are usually not always good as our dreams, right?

Maybe in your period, every month, you will hate and punish me like a young beautiful crazy murderer even because of my tiny fault. You’re so creepy like a monster in your period, hon. I dont lie, really.

Maybe… I’m not your future.

People changes every time, again and again.

The things I can promise to you are…

I will take care of you like a baby who needs love every single day. I promise. Sure, I promise that I never hurt you, my own half, my happiness.

I promise, ’till the time I become a “man” who can treat you well like crazy, I’ll be a good boy for only woman I absolutely want right now. You. Arami.

Save my heart ’till the end, Arami.

The boy who gave you his heart two years ago

Romi


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5

3R (Vol. 5) — The Truth

Rami

Apakah orang-orang di depanku ini tahu rasanya dikhianati dan dihancurkan sehancur diriku, yang bahkan sudah berkali-kali mencoba meyatukan kepingan kehancuran ini namun tak kunjung utuh?

Aku masih menangis di pelukan Rama, terisak menahan sakit yang teramat. Selalu teringat malam bangsat itu lagi, ketika aku melihat kejadian menjijikan dengan mata kepalaku sendiri, membuat perutku mual ingin memuntahkan segala yang ada di dalam perutku.

Malam itu, aku sedang mengalami perasaan was-was yang amat karena mengetahui diriku yang tengah mengandung. Hasil hubunganku dengan Ken, kekasihku yang padanya aku berikan seluruh perasaan dan tubuhku.

Untuk pertama kalinya aku melakukan perbuatan setan itu tepat di tahun pertama hari jadian kami.

“Happy anniv, sayang.” Kata Ken, langsung menciumku. Kami merayakan hari jadi kami di rumahku, yang saat itu tak ada siapa-siapa karena Mama sedang pergi, entah kemana.

Mama dan Papa sudah bercerai semenjak aku berumur 10 tahun, entah mengapa. Mereka berdua tidak pernah menceritakannya, bahkan menjawab pertanyaanku. Mama selalu diam ketika kutanya kemana Papa pergi.

Beberapa bulan pertama, Papa masih mengunjungiku untuk sekedar memberiku boneka barbie, atau mainan lain. Semenjak itu, ia tidak pernah berkunjung lagi. Kupikir Papa mati, tapi ternyata tidak. Papa masih hidup, dengan keluarga barunya.

Aku anak tunggal dari pernikahan ini, dan Mama tidak pernah lagi menikah, hingga aku tahu belangnya.

Kurasakan tangan Ken meraba-raba tubuhku, sambil terus meluncurkan ciumannya di bibirku. Kemudian ia menenggelamkan bibirnya di leherku, sambil mengecupnya perlahan, membuat tubuhku memanas. Aku merasakan sensasi dimabuk dopamin seketika.

Aku mengangkat kepalanya yang sudah siap membekap dadaku, menatapnya sedetik.. dua detik.. lalu menciumnya lagi. Kami saling membalas luncuran ciuman maut di tubuh masing-masing, hingga pertahanan diriku hancur sudah.

“You know I love you, right?” Kata Ken, menatapku dalam, sambil menahan napasnya yang menggebu dan menahan tubuhnya di atas tubuhku. Aku mengangguk.

“Wait.” Pintaku tiba-tiba, sebelum ia lagi-lagi menenggelamkan tubuhnya pada tubuhku. “Do you bring a condom?”

Ia mengangguk, bangun dan membuka tasnya, lalu dengan tergesa-gesa membuka bungkus kotak kecil berwarna biru. Rupanya ia sudah merencanakan perbuatannya. Berhasil terbuka, namun isi kotak itu malah jatuh ke lantai. “Fuck!” amuknya. Ia melihatku, “Whatever.”

Tanpa mengambil benda itu, ia berjalan cepat kembali ke arahku, menenggelamkan tubuhnya lagi pada tubuhku. We did it. Aku menyerah. Aku menikmati malam itu. Terbuai oleh dopamin dan serotonin yang bercampur, membuat kami lupa bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi basah.

Romi

Operasi rahim itu ternyata namanya kuretasi. Ini karena adanya infeksi dari sisa janin yang mati setahun yang lalu, kata Mama Budhe. Kami bertiga kaget bukan main. Hatiku rasanya campur aduk, dengan sebagian besar dipenuhi rasa pedih.

Bagaimana mungkin Rami bisa menyembunyikan ini dari kami?

Dua minggu setelah dikuretasi, keadaan Rami membaik, namun ia tidak ingin bertemu dengan siapapun hingga hari ini. Aku, Rama dan Kana secara resmi diundang ke rumah Rami. Tidak ada suasana berduka. Kami sebisa mungkin akan menjaga perasaan Rami, my love.

Rami

Aku terbangun di ruang yang remang, dengan Mama Bundhe yang berada di sampingku sambil memegang tanganku. Mama Budhe terbangun dan mengelus keningku, menceritakan apa yang terjadi. AH! Jadi sakit selama ini karena bayi bajingan itu? Syukurlah aku sudah bersih dari sisa-sisa darah Ken.

Tapi satu hal yang tidak pernah bisa aku lupakan adalah saat melihat hal paling menyakitkan itu. Hal paling menjijikan dan tidak masuk akal.

“Dua…” benar saja, aku positif mengandung. Bekali-kali aku melihat alat tes kehamilan ini dan mencocokkannya ke lembar petujuknya. Apa garisnya tidak bisa berubah?

Aku benar-benar tak tahu harus apa. Tiga bulan berlalu sesudah kejadian itu bersama Ken, dan sekarang aku mengandung anaknya, anak kami. Aku harus bagaimana? Dua jam sudah aku menghabiskan waktu di kamar mandi. Bingung sendiri.

Aku memutuskan untuk keluar kamar mandi dan bersiap pergi ke rumah Ken untuk membicarakan ini, sampai aku berhenti di tengah jalan menuju kamarku dan melihat pintu kamar Mama terbuka sedikit. Terdengar suara rintihan kenikmatan dari dua suara yang terdengar jelas berbeda namun beriringan.

Aku mengenal suara berat itu.

Aku memberanikan diri untuk mendekat, meski badanku gemetar. Lalu aku melihat sebuah pemandangan menjijikan. Dua tubuh itu sedang mendekap diri satu sama lain. Ken di atas, bergerak naik turun, dengan cepat dan nafas menggebu. Mama di bawah, sambil melingkarkan kedua kakinya di pinggang Ken, membuat penetrasi itu terlihat begitu nikmat hingga mereka tak menyadari ada penonton yang melihat pertunjukan mereka.

Aku terdiam. Kuperhatikan lama, hingga aku menyadari bahwa yang kulihat benar-benar nyata. Mama dan Ken yang sedang menikmati malam penuh kenikmatan bangsat.

Perutku nyeri seketika. Dadaku panas karena menahan rasa mual.

Aku tetap diam. Rasanya otot-otot tubuhku mati, namun tidak dengan dada dan otakku yang masih mencerna pertunjukkan yang sedang dipertunjukkan oleh dua aktor paling memuakkan di depan mataku.

Erangan mereka terdengar kuat, benar-benar kuat, hingga Ken menjatuhkan tubuhnya di atas Mama dan keduanya lemas seketika.

“Ken.” aku menyebut namanya pelan. Mereka berdua menoleh ke arahku, dengan mata yang melebar seketika. “Udah selesai?” mataku terasa panas, hingga aku menyadari ada tetesan air mata yang terjatuh.

 Aku merasakan perutku makin panas, dan aku terjatuh seketika.

Kana

“Iya, gue keguguran. Bangsat, katanya bajingan di perut gue udah bener-bener diambil.” kata Rami, sambil menangis, menceritakan pengalamannya yang paling menyakitkan. Aku ikut menangis, sambil memeluk erat Rami.

Dua lelaki di depan kami terpaku.

Rami melepaskan pelukanku, dan mendekati Romi. “Itu kenapa gue ngga pantes buat lo pertimbangkan, Rom.” katanya pada Romi.

“Bisa kita lupakan semua masa lalu kamu?” kata Romi dengan tegas. Aku sangat suka cara Romi memandang Rami. Penuh kehangatan.

Romi

Ia mengangguk, membuatku tersenyum.

Rami

Aku mengangguk pasti. Siap melupakan.

Rama

Seketika peri cinta bertebaran, membuat dua manusia lain di hadapan sepasang manusia yang dikerubungi peri cinta menjadi sedikit frustasi. Tapi kali ini tidak. I’m happy for you both, my dear bestfriends.

Kana

Ekhm. Ada yang tidak bisa diganggu. Apa aku harus berlari dan menumpahkan rasa mual ini? Melihat dua sejoli dimabuk asmara, membuatku panas, namun sedikit geli. Tak ada yang paling membahagiakan dari pemandangan di depan yang saling menatap penuh cinta seakan-akan berkata, “Let me fall, boy.” lalu dijawab, “Sure. I’ll let you fall…. in love with me.”

Hehe GELI NGGAK SIH????

Romi

The truth is…. me… A cool Romi already trapped with this fucking shit love’s hormones whatever their name. I love you, Rami.

Rami

The truth is…. my brain is full of butterflies, also my heart… I feel you inside, Rom.

3R (Vol. 4) — A Half Truth

Rami

I can’t forget the way you kissed me, Romi. Never.

Romi

I can’t forget the way I kissed you, Rami. Never.

Pikiran tentang itu yang mengusikku, hingga dua bulan terakhir. Arami, my love. Oke. Baiknya memang aku lupakan. Biar saja kisah yang terjadi di antara kami hanya menjadi sebuah kenangan yang manis, yang ketika teringat, membuatku tersenyum geli sendiri.

“Rom, can you just focus for our final test nanti? UN Rom, UN.” Kata Rama tiba-tiba. Selama dua bulan ini aku memang menjauh dari mereka bertiga. Aku memperdebatkan perasaan yang campur aduk ini, membuatku sedikit jauh dari realita.

“Ahh. Iya, tenang. Gue belajar kok.” Kataku santai, sambil menunggu lembar try out dibagikan. Ya, hari ini hari ketiga try out, pelajaran bahasa Indonesia. Dua hari lalu cukup baik, namun tidak cukup memuaskan.

Try out dimulai. Aku mengerjakannya sediam mungkin, sedamai mungkin.

Rama

Gue kehilangan si bego Romi. Kenapa sih dia ngga bangkit aja dan kembali seperti dulu dengan kegoblogannya? Kenapa dia masih kepikiran Rami? Kenapa dua manusia ini begitu aneh?

Sempat kaget sih, waktu tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dari Kana. Tapi Kana bilang padaku untuk menghibur Romi, jangan lagi bahas ini. Ya, siapa juga yang mau menghiburnya? Memangnya aku badut monas?

But I promise that I will make it clear.

“Kan, kita harus beresin ini. Gue ngga mau kita pecah hanya karena ada masalah sekecil ini.” Kataku pada Kana, sepulang sekolah.

“Can we just focus for our final test at this time, Ram?” Katanya dengan tegas, sama tegasnya dengan apa yang aku ucapkan pada Rama di kelas tadi. “Gue udah coba bicarain ini ke Rami. Ngga ada hasil, dia malah makin tertutup. Udah lah, mereka udah gede, Ram.” Kata Kana seolah tak peduli, padahal kuyakin tidak.

“Fine. Setelah pengumuman kelulusan, gue akan membuat ini semua clear. Gue juga mau fokus kali biar masuk sini nih.” Kataku sambil memperlihatkan brosur salah satu perguruan tinggi seni di Jakarta kepada Kana. “Biar dua tahun dari sekarang gue nampang di FTV. Syukur-syukur nampang di layar lebar.” Menjadi aktor adalah mimpiku, dan masuk perguruan tinggi ini adalah jalanku menuju mimpiku. “Kalo lo gimana?”

“Yaaahh pake nanya. Doain ajaa.”

“Oh. Yakin gue mah sama lo.” Lanjutku dengan pasti. Aku tahu benar bakatnya, juga segala sesuatu yang ia impikan, termasuk keinginan studinya. Ia juga anak yang pintar, meski bukan rangking satu di kelas, tapi dua.

Kana

Pengumuman UN tiba. Kami seangkatan LULUS! Rasanya super seneng banget hari ini. Ngga nyangka waktu berjalan secepat kilat gini. Kayaknya baru kemarin gue kenal sama monyet-monyet kesayangan gue, si 3R a.k.a Rami, Rama, Romi.

Dipikir-pikir emang baru beberapa bulan sih, kami dekat. Tapi aku belum pernah punya teman sepermainan sedekat dan seintens ini, bahkan sampai ada yang bermasalah akibat perasaanya sendiri.

Rami dan Romi masih bungkam. Kenapa sih mereka berdua semakin tertutup? Mau fokus UN juga ngga gitu-gitu amat kali. Yakali sampe pada leave chat grup line? Kekanakan. Jadi kopong gue di grup chat cuma sama Rama. Sama aja kayak private chat.

“Kan, ayuk” Kata Rama segera menarikku ke halaman belakang, menjauhi keramaian anak-anak yang sedang merayakan kelulusan. Ada yang ngakak bareng, ada yang nangis, ada yang cebur-ceburan di kolam ikan depan ruang guru. Rame deh.

“Gue sebenernya tahu permasalahan kalian. Bukan hanya gue, tapi Kana juga.” Kata Rama membuka pembicaraan sambil menatap Rami dan Romi bergantian. Kami sudah duduk tegak di bangku taman yang melingkar sejak 15 menit yang lalu. Diam tanpa kata.

“Ngga kaget, sih.  Gue tahu dari awal lo udah suka sama Rami.” Kataku sambil memandangi Romi. Ia hanya menunduk. “Tapi gue merasa kalian berdua udah ngga waras. Kenapa sih kalian membuat segalanya menjadi rumit?”

“Kenapa kalian diam? Mau gue sebutin satu-satu permasalahan kalian?” Tanya Rama dengan nada meninggi, membuatnya terlihat seperti bukan dirinya.

“I don’t believe any friendship or apapun sebutannya. Gue ngga percaya cinta, gue ngga percaya kalian.” Kata Rami kemudian, memecah keheningan.

“What the fuckin’ hell do you mean, my fuckin’ lovely Arami?” Aku berteriak padanya, tak bisa menahan emosiku. Kata lovely yang kugunakan jadi terdengar seperti tekanan yang mengancam.

“Make it easy, okay? Please.” Kata Rama menurunkan nada suaranya. “Lo kenapa, Rami? Lo bisa cerita ke kami apa yang menjadi masalah lo. Kita bukan orang asing, Ram.” Tambahnya bijak, sambil menyentuh bahu Rami yang gemetar. Rama seperti sosok kakak yang dewasa dibalik tampangnya yang seperti model majalah dewasa, sesungguhnya.

Rami menagis tersedu, seketika ia memeluk Rama yang duduk di sebelahnya sambil terisak. Aku tak tahu pasti apa yang ia alami. Tapi isakannya menunjukkan kepedihan yang sangat.

Romi

Kami hanya diam melihat Rami menangis. Aku menunduk, tak tahan melihat isakannya yang terdengar begitu menyakitkan. Ia tak berkata, ia hanya menangis, membasahi dada Rama.

Kana dapat merasakan kepedihan itu, terlihat dari matanya yang memerah, dan bibirnya yang digigit karena menahan tangis.

Apa yang membuatmu menangis, My lovely Arami?

Kana

Apa yang kamu sembunyikan dari kami, Arami?

Aku mendekat, kemudian memeluk Rami dari belakang. Ia masih tak melepaskan pelukannya dari Rama. Aku benar-benar merasakan isakan yang kuat, pun tubuhnya yang gemetar hebat.

Aku menangis dalam diam.

Hei! Tubuhnya melemas, isakannya terhenti. Ia terjatuh. Beruntung berhasil ditahan oleh Rama.

Rama

Sudah lebih dari 15 menit Rami tak sadarkan diri, akhirnya kami dan guru-guru memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku menelpon Budhe dan Pakdhenya, yang langsung menyusul kami ke rumah sakit.

Selama di sini Rami tinggal bersama Budhe dan Pakdhenya yang tidak memiliki anak. Ia tak pernah sedikitpun bercerita tentang orang tuanya. Kami pernah bertanya, ia hanya diam. Kalau moodnya sedang baik, ia segera melanjutkan bahasan lain yang lebih menyenangkan. Kalau tidak, ia akan diam seharian. Begitulah Rami.

Aku melihat pemandangan yang begitu pilu. Mama Budhe –sapaan kami kepada Budhenya Rami, mengikuti Rami yang memangginya demikian- sedang menangis. Kana menenangkan Mama Budhe dengan memeluk dan memegang tangannya.

Papa Pakdhe –sapaan kami kepada Pakdhenya Rami, mengikuti Rami yang memanggilnya demikian- tetap tenang, walau kerut keningnya menunjukkan kekhawatiran yang sangat.

Seharusnya kami menyadari bahwa panggilan itu memiliki makna. Rami sangat dekat dengan Budhe dan Pakdhenya, sampai ia menganggapnya sebagai orang tua sendiri. Begitupun kasih sayang Budhe da Pakdhenya yang sangat tulus, seperti kepada anak sendiri.

Romi menangis. Ia berdiri tegak di samping pintu kamar IGD, tempat Rami ditangani, sambil mengepal tangannya, dan menangis tanpa terisak sedikitpun.

Dokter keluar, dan langsung berbicara dengan Budhe dan Pakdhe. Terdengar sangat serius, hingga kami takut untuk mendekat. Aku mendengar suara dokter dari kejauhan. Operasi? Rahim? What the…. Aku dan Kana saling tatap, memastikan pendengaran kami masih berfungsi normal.

Gue dan Kana tahu pasti artinya. Operasi apa? Rahim apa? Operasi rahim apa? Separah apa? Rami masih terlihat baik-baik saja tadi pagi. Dan sekarang harus…. operasi? Operasi rahim? PIkiranku sdah benar-benar menerawang. Aku bak sudah tak mampu berpikir sistematis.

Dugaan demi dugaan menyedihkan bermunculan, dan aku sungguh berharap agar semua dugaaku salah.

Kana menangis sejadinya. Aku mendekapnya dan merasakan rasa yang sama, seperti beberapa menit yang lalu. Kepedihan. Romi pun seperti tak mampu membendung lagi pilu yang ia rasakan, dan air mata deras turu dari sudut matanya. Masih tanpa suara, ia terisak. Aku belum pernah melihatnya menangis.

Aku merasa kepedihan yang menjalar, membuat sudut mataku basah.

Romi

Safe her, God. Please.