3R (Vol. 3) — Deeply

Romi

Dua hari sudah kejadian maha sakral itu terjadi antara aku dan Rami. Kayak pernikahan aja ya btw, pake kata sakral gitu. Tapi jujur, ciuman pertama itu ngga akan pernah aku lupakan.

Bukan karena rasa bibirnya yang manis dan teksturnya yang lembut, ngga terlalu tebal pun tipis, tapi ada rasa lain. Aku jatuh cinta padanya, ciptaan Tuhan paling indah yang membuatku bersyukur karena dapat menikmati keindahan ciptaan-Nya. Arami.

Enam bulan sudah kami kenal dan dekat. Dan aku yakin, sudah muncul benih-benih cinta di dalam hati sejak awal aku melihat parasnya yang luar biasa anggun, yang membuat jantungku berdegup kencang, 250km/jam ketika dekat dengannya.

Bermula dari bayangan kotor mengenai betapa indahnya tubuh perempuan satu itu yang menyelimuti pikiran saat pertama kali aku melihatnya, mengetahui betapa indah namanya, lalu akhirnya kami berkenalan lewat cara yang tak terduga, hingga sekarang dekat. Sangat dekat.

Kedekatan kami yang sangat membawa kami ke sesuatu yang intens, bak tiada lagi kata privacy. Aku tahu semua ukuran barang yang ia kenakan, termasuk pakaian dalam, juga merk pembalut yang biasa ia gunakan di hari spesialnya.

Teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat kami sedang mengerjakan tugas bahasa indonesia di kamar Kana, basecamp kedua kami setelah kamar Rami yang super cozy. Malam itu, Rami sedang tidak ada di kondisi terbaiknya, ia terlihat super bad mood ditandai dengan diamya.

“Kan, kerjaan lo gambaaarr melulu. Whiteboard itu bukan buku gambar lo. Cepet bikin kerangkanya, biar cepet selesai drama kita.” Protesku pada si monyet Kana yang sedang asik menggambar doodle di papan tulisnya, tepat di depan kami berempat.

Kamar Kana memang tak ubahnya tempat les, atau lebih tepatnya ruang kerja creative designer. Ada rak buku yang di dalamnya berjajar banyak buku dari mulai buku pelajaran, buku sketsa berbagai ukuran yang diletakkan dengan formasi yang berantakan –tidak beraturan sesuai ukuran-, sampai komik doraemon dan shinchan kesukaannya, ditambah whiteboard berukuran kecil yang ia letakkan di antara jajaran alat gambarnya yang buanyak.

“Eshhh. Katarsis dulu kali, bro.” Jawabnya santai.

“Katarsis mulu hidup lo. Ngga lihat apa tembok isinya gambar semua.” Protes Rama akhirnya bicara.

Ya. Dinding kamar Kana penuh dengan gambar yang ia buat sejak ia SMP. Setiap bulannya, ia selalu launcing –istilah yang selalu ia gunakan ketika berhasil menyelesaikan proyek bulanannya. Menggambar dengan ‘tema’- karya yang ia buat dan langsung menempelnya di dinding. Kenangan, katanya.

“Bawel!” Dengusnya, sambil meletakkan boardmarker merah ke tempat berisi kumpulan boardmarker warna warni miliknya. “Mana ya penghapusnya…” Katanya mulai ribut sambil mencari penghapus whiteboard di antara kumpulan alat mengambarnya.

Aku dan Rama ikut sibuk mencari penghapus itu di sekitar tempat kami duduk, kecuali Rami yang tiba-tiba mengeluarkan benda ajaibnya.

“Nih, nih pake tisu.” Kata Rami dengan muka juteknya, sambil mengeluarkan sebungkus pembalut berukuran besar, ke arah Kana, tepat jatuh di depan kaki Kana yang sedang berlutut. Kami diam seketika.

1 detik… 3 detik… “BUAHAHAHAAAA” Aku, Rama, dan Kana tertawa terbahak, begitu menyadari apa yang jatuh tepat di depan mata kami.

“ASTAGA FUCCKK!” Teriaknya begitu menyadari sumber tawa kami, lalu secepat kilat mengambil dan memasukkannya ke dalam tas. “ANJEENGG!” Teriaknya dengan muka memerah, disusul oleh tawanya yang memberi tambahan irama indah pada tawa kami.

I know I love her.

Dan rasa ini semakin dalam, semakin muncul ke permukaan. I’m going crazy. Already.

Rami

Apakah aku benar-benar melakukannya? Mencium bibirnya penuh rasa damai?

“Kan, Kan.” Bisikku pada Kana, di tengah pelajaran matematika.

“Oy.” Kana menjawab, “Better?”

Fucking better!” Jawabku santai, sekaligus menekankan kata ‘fucking yang menunukkan betapa perasaanku jauh lebih baik dibanding dua hari yang lalu. Apakah ini karena ciuman itu?

“Good, girl.” Aku hanya tersenyum bingung mendengar jawaban Kana. “Kenapa?” Tanyanya, membuatku semakin bingung. “Lo mau ngomong apa?”

“Nah. Muncul deh galaknya. Gue…” Aku berhenti sejenak, merangkai kata-kata. “Gue….” Aku semakin bingung. “Gue mau ke kamar mandi.” Kataku akhirnya berbohong. Lebih baik Kana tak pernah tahu atau persahabatan yang kami bangun selama enam bulan ini akan berantakan. Mungkin.

“Yaelah. Tinggal izin ke Pak Agus.” Kata Kana mendengus.

“Iya…” Aku membalas dengan kikuk, “Gue ke kamar mandi dulu ya.”

Romi

Sore ini kuputuskan untuk mengunjungi Rami seorang diri. Aku tak bisa membiarkan kejadian kemarin menjadi tanda tanya yang begitu banyak. Aku harus memastikan bahwa Arami mempunyai rasa yang sama. Akan kupastikan bahwa jantungnya pun berdetak 250 km/jam ketika berada di dekatku.

Arami, here I come, your charming prince.

Aku memasuki halaman rumah Arami yang sederhana tanpa bunga satu pun. Dulunya, kupikir Arami adalah tipe feminim yang suka menanam bunga beraneka warna, dan ketika ia sedang menyirami bunga di tamannya, ia dikelilingi oleh kupu-kupu yang terbang di atas kepalanya. Betapa cantiknya.

“Rom, lo ngapain di sini?”

Kana

Sore ini aku dan Rama sepakat mengunjungi Rami lagi, sehabis membeli cat minyak di stationary dekat rumah Rami. Bak tamu yang tak diundang, kami seperti dua orang idiot yang pergi mengunjungi orang idiot lainnya, dengan membawa beberapa kantung berisi kuas dan cat minyak warna-warni. Meski persediaan cat minyak, kebutuhan primerku masih ada, tapi aku tak suka membiarkan botol cat minyakku di rumah tidak terisi penuh. Akhirnya kuputuskan untuk membeli persediaan tambahan sesegera mungkin.

“Enaknya bawain apa ya, buat Rami?” Kataku di tengah perjalanan.

“Emang Rami lagi butuh sesuatu? Tumben lu care banget. Biasanya pelit. Ah! Baru ngepet lu ya, Kan? Ketahuan kan, tadi malem ilang kemana.” Kata Rama seenak jidat, minta ditonjok.

“Kunyuk.” Balasku asal. “Nah. Ketahuan kan, yang nyariin.” Entah mengapa, tapi respon ini yang keluar dari bibirku. Salah makan apa aku tadi.

“Puede poooollll!” Kami tertawa terbahak, lagi-lagi bak dua orang idiot di pinggir jalan.

Saking puasnya terbahak, aku dan Rama sudah sampai di depan rumah Rami, diiringi rasa sesal karena tidak membawakan apapun untuknya. Kulihat Romi sedang berdiri di depan pintu. Diam tak bergerak.

“Rom, lo ngapain di sini?” Kataku sambil menepuk bahu kanan Romi. Ia menoleh. Agak aneh melihatnya tanpa kacamata. Ah. Aku baru menyadari perubahan ini, padahal sudah hampir seminggu ia tidak memakai kacamata minusnya. Tampan. “Masuk aja kali, Rom.” Kataku kemudian tanpa menunggu jawabannya, dan langsung membuka pintu.

Romi

Shit! 

Rama

Kenapa bocah sinting ini aneh banget ya? Dua hari yang lalu, terakhir kami bersama saat menginap di rumah Rami, masih fine aja tuh. Kok sekarang mukanya jadi kayak kodok kelindes gitu ya? Tiada harapan.

“Oh shit! Fucking Arami please! Pake baju pleaseee!”  Kataku kaget melihat Arami yang hanya memakai pakaian dalamnya. Rambutnya masih basah. Mukanya terlihat begitu layu, ditambah tetesan air dari rambut basahnya.

“Damn.” Kagetnya, tanpa sedikitpun teriakan dan rasa panik. “Tutup pintunya. Kan, please help me.” Katanya kemudian sambil memberi kode kepada Kana untuk masuk dan menutup pintu.

Aku dan Romi mundur. Romi tetap membisu. Aneh.

“Benga, kenapa lu?” Kataku pada Romi.

“I’m OK.”

“You’re not.” Kataku ikut lemas. Butuh hiburan? Main ke Kedai Cewek yuk!” Kataku, mengajaknya ke salah satu tempat hiburan di daerah kami. ‘Hiburan’ dalam tanda kutip, ya. Pasti dia suka. Saat umur kami belum 17, kami sering berandai-andai untuk dapat masuk ke tempat ini, yang berakhir dengan tangisan pilu, karena hanya mimpi bagi kami untuk masuk ke sana, kala itu.

“Ngga butuh. Lu aja  sana.” Jawabnya sinis.

“Yakin? Yaudah.” Kataku menyerah. Aku tidak pandai membuat orang badmood tertawa. Pasti garing.

Kana

“Lo kenapa Ram?” Tanyaku panik melihat wajah Rami yang terlihat panik juga, entah mengapa.

 Rami

Relax… Please Rami.. Relax… Kataku dalam hati sambil melakukan tehnik pernapasan ala ala yoga untuk relaksasi.

“Lo sakit?” Kata Kana kemudian sambil memegang keningku, memastikan suhu tubuhku sekarang. Ah! Dapat ide.

“Iya, Kan. Meriang gue, mau tidur.”

“Heh, jangan langsung tidur! Rambut lo masih basah gini. Sini keringin dulu.” Dengan sigapnya, Kana membuka laci tempat aku meletakkan alat pengering rambut, memasukkan colokannya ke stop kontak, dan mulai beraksi mengeringkan rambutku.

“Gue ciuman sama Romi, Kan.”

Kana

Apa gue bilang. Pasti terjadi sesuatu sama si bocah labil satu ini, Arami. Di antara kami berempat, Rami lah yang paling pendiam dan tertutup. Moody lagi. Tapi kocak. Ia seringkali melakukan hal konyol di kala moodynya seperti kesandung batu, hingga menyebabkan ia terjatuh dan rok sekolahnya robek; salah masuk kelas; dan yang paling kocak adalah ketika ia melemparkan pembalutnya ke arahku saat aku sedang pusing mencari penghapus papan tulis sambil berkata, “Nih, nih pake tisu.”, padahal jelas-jelas pembalut ukuran jumbo yang dilempar. LOL.

“Gue ciuman sama Romi, Kan.” Katanya tiba-tiba, membuatku terkejut dan seketika mematikan alat pengering rambut. What the hell she is talking about? “Dua hari yang lalu, waktu kalian nginep di rumah gue.”

“And then?” Hanya dua kata ini yang terlintas di pikiranku, sambil berusaha meminimalisir mimik terkejut, agar tetap terlihat cool. Fyi, aku memang bukan tipe-tipe perempuan tukang gosip. So, aku tidak pernah terbiasa untuk menangapi sesuatu dengan berlebihan. 

Pikiran negatif mulai bermuculan. Tapi tidak mungkin mereka sejauh itu.

“Kita tidur.”

“You both?” 

“Ya. Bareng lo dan Rama juga.” AH! Iya juga. Lagipula aku tak mendengar suara-suara aneh di kamar Rami malam itu. Rami kan polos. Mana mungkin dia ML sama Romi?

“You.. love him?” Tanyaku ragu, ngeri kalau sampai hal ini menyinggungnya. Tapi di sisi lain, seperti ada rasa aneh. Kita sahabatan, bisa-bisanya gitu saling jatuh cinta?

“I’m not.” Jawabnya singkat, membuatku sedikit lega. “I don’t know.” Lanjutnya lagi tiba-tiba, membuat mataku melebar.

Romi

Seminggu sudah kejadian itu memenuhi kepalaku. Apa yang harus aku lakukan? Sudah seminggu ini aku dan Rami bak dua orang asing yang tidak saling kenal. Canggung.

“Rom.” Panggil Rama tiba-tiba, lalu menunjukkan brosur dari salah satu perguruan tinggi di jakarta. “Gue akan masuk sini, Rom. Janji.” Katanya lagi tanpa memandang ke arahku.

“Aamiin.” Jawabku singkat. Pikiranku masih melayang entah kemana.

Aku kuatkan tekad, lalu berdiri dari bangku yang kududuki, dan pergi ke meja Rami. “Rami.” Kataku padanya, sambil memberikan kode untuk bangun dan ikut aku keluar. “Sebentar.”

Tanpa banyak tanya, ia bangun dari bangkunya, dan mengikutiku keluar kelas. Kami duduk di salah satu bangku taman di depan kelas yang mengarah ke ruang guru, sehingga akan sangat mudah mendeteksi Bu Maryam, guru bahasa Inggris kami, yang akan masuk kelas.

“Malam itu… Seminggu yang lalu…”

“Anggap aja ngga terjadi apa-apa Rom.” Katanya memotong pembicaraanku.

Rami

I remembered your sweet fuckin’ lips, Rom.

Romi

“Forget it, OK?” Katanya kemudian, membuat otakku beku.

Rami

I can’t forget the way you kissed me, Romi. Never.

Romi

I can’t forget the way I kissed you, Rami. Never.