3R (Vol. 4) — A Half Truth

Rami

I can’t forget the way you kissed me, Romi. Never.

Romi

I can’t forget the way I kissed you, Rami. Never.

Pikiran tentang itu yang mengusikku, hingga dua bulan terakhir. Arami, my love. Oke. Baiknya memang aku lupakan. Biar saja kisah yang terjadi di antara kami hanya menjadi sebuah kenangan yang manis, yang ketika teringat, membuatku tersenyum geli sendiri.

“Rom, can you just focus for our final test nanti? UN Rom, UN.” Kata Rama tiba-tiba. Selama dua bulan ini aku memang menjauh dari mereka bertiga. Aku memperdebatkan perasaan yang campur aduk ini, membuatku sedikit jauh dari realita.

“Ahh. Iya, tenang. Gue belajar kok.” Kataku santai, sambil menunggu lembar try out dibagikan. Ya, hari ini hari ketiga try out, pelajaran bahasa Indonesia. Dua hari lalu cukup baik, namun tidak cukup memuaskan.

Try out dimulai. Aku mengerjakannya sediam mungkin, sedamai mungkin.

Rama

Gue kehilangan si bego Romi. Kenapa sih dia ngga bangkit aja dan kembali seperti dulu dengan kegoblogannya? Kenapa dia masih kepikiran Rami? Kenapa dua manusia ini begitu aneh?

Sempat kaget sih, waktu tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dari Kana. Tapi Kana bilang padaku untuk menghibur Romi, jangan lagi bahas ini. Ya, siapa juga yang mau menghiburnya? Memangnya aku badut monas?

But I promise that I will make it clear.

“Kan, kita harus beresin ini. Gue ngga mau kita pecah hanya karena ada masalah sekecil ini.” Kataku pada Kana, sepulang sekolah.

“Can we just focus for our final test at this time, Ram?” Katanya dengan tegas, sama tegasnya dengan apa yang aku ucapkan pada Rama di kelas tadi. “Gue udah coba bicarain ini ke Rami. Ngga ada hasil, dia malah makin tertutup. Udah lah, mereka udah gede, Ram.” Kata Kana seolah tak peduli, padahal kuyakin tidak.

“Fine. Setelah pengumuman kelulusan, gue akan membuat ini semua clear. Gue juga mau fokus kali biar masuk sini nih.” Kataku sambil memperlihatkan brosur salah satu perguruan tinggi seni di Jakarta kepada Kana. “Biar dua tahun dari sekarang gue nampang di FTV. Syukur-syukur nampang di layar lebar.” Menjadi aktor adalah mimpiku, dan masuk perguruan tinggi ini adalah jalanku menuju mimpiku. “Kalo lo gimana?”

“Yaaahh pake nanya. Doain ajaa.”

“Oh. Yakin gue mah sama lo.” Lanjutku dengan pasti. Aku tahu benar bakatnya, juga segala sesuatu yang ia impikan, termasuk keinginan studinya. Ia juga anak yang pintar, meski bukan rangking satu di kelas, tapi dua.

Kana

Pengumuman UN tiba. Kami seangkatan LULUS! Rasanya super seneng banget hari ini. Ngga nyangka waktu berjalan secepat kilat gini. Kayaknya baru kemarin gue kenal sama monyet-monyet kesayangan gue, si 3R a.k.a Rami, Rama, Romi.

Dipikir-pikir emang baru beberapa bulan sih, kami dekat. Tapi aku belum pernah punya teman sepermainan sedekat dan seintens ini, bahkan sampai ada yang bermasalah akibat perasaanya sendiri.

Rami dan Romi masih bungkam. Kenapa sih mereka berdua semakin tertutup? Mau fokus UN juga ngga gitu-gitu amat kali. Yakali sampe pada leave chat grup line? Kekanakan. Jadi kopong gue di grup chat cuma sama Rama. Sama aja kayak private chat.

“Kan, ayuk” Kata Rama segera menarikku ke halaman belakang, menjauhi keramaian anak-anak yang sedang merayakan kelulusan. Ada yang ngakak bareng, ada yang nangis, ada yang cebur-ceburan di kolam ikan depan ruang guru. Rame deh.

“Gue sebenernya tahu permasalahan kalian. Bukan hanya gue, tapi Kana juga.” Kata Rama membuka pembicaraan sambil menatap Rami dan Romi bergantian. Kami sudah duduk tegak di bangku taman yang melingkar sejak 15 menit yang lalu. Diam tanpa kata.

“Ngga kaget, sih.  Gue tahu dari awal lo udah suka sama Rami.” Kataku sambil memandangi Romi. Ia hanya menunduk. “Tapi gue merasa kalian berdua udah ngga waras. Kenapa sih kalian membuat segalanya menjadi rumit?”

“Kenapa kalian diam? Mau gue sebutin satu-satu permasalahan kalian?” Tanya Rama dengan nada meninggi, membuatnya terlihat seperti bukan dirinya.

“I don’t believe any friendship or apapun sebutannya. Gue ngga percaya cinta, gue ngga percaya kalian.” Kata Rami kemudian, memecah keheningan.

“What the fuckin’ hell do you mean, my fuckin’ lovely Arami?” Aku berteriak padanya, tak bisa menahan emosiku. Kata lovely yang kugunakan jadi terdengar seperti tekanan yang mengancam.

“Make it easy, okay? Please.” Kata Rama menurunkan nada suaranya. “Lo kenapa, Rami? Lo bisa cerita ke kami apa yang menjadi masalah lo. Kita bukan orang asing, Ram.” Tambahnya bijak, sambil menyentuh bahu Rami yang gemetar. Rama seperti sosok kakak yang dewasa dibalik tampangnya yang seperti model majalah dewasa, sesungguhnya.

Rami menagis tersedu, seketika ia memeluk Rama yang duduk di sebelahnya sambil terisak. Aku tak tahu pasti apa yang ia alami. Tapi isakannya menunjukkan kepedihan yang sangat.

Romi

Kami hanya diam melihat Rami menangis. Aku menunduk, tak tahan melihat isakannya yang terdengar begitu menyakitkan. Ia tak berkata, ia hanya menangis, membasahi dada Rama.

Kana dapat merasakan kepedihan itu, terlihat dari matanya yang memerah, dan bibirnya yang digigit karena menahan tangis.

Apa yang membuatmu menangis, My lovely Arami?

Kana

Apa yang kamu sembunyikan dari kami, Arami?

Aku mendekat, kemudian memeluk Rami dari belakang. Ia masih tak melepaskan pelukannya dari Rama. Aku benar-benar merasakan isakan yang kuat, pun tubuhnya yang gemetar hebat.

Aku menangis dalam diam.

Hei! Tubuhnya melemas, isakannya terhenti. Ia terjatuh. Beruntung berhasil ditahan oleh Rama.

Rama

Sudah lebih dari 15 menit Rami tak sadarkan diri, akhirnya kami dan guru-guru memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku menelpon Budhe dan Pakdhenya, yang langsung menyusul kami ke rumah sakit.

Selama di sini Rami tinggal bersama Budhe dan Pakdhenya yang tidak memiliki anak. Ia tak pernah sedikitpun bercerita tentang orang tuanya. Kami pernah bertanya, ia hanya diam. Kalau moodnya sedang baik, ia segera melanjutkan bahasan lain yang lebih menyenangkan. Kalau tidak, ia akan diam seharian. Begitulah Rami.

Aku melihat pemandangan yang begitu pilu. Mama Budhe –sapaan kami kepada Budhenya Rami, mengikuti Rami yang memangginya demikian- sedang menangis. Kana menenangkan Mama Budhe dengan memeluk dan memegang tangannya.

Papa Pakdhe –sapaan kami kepada Pakdhenya Rami, mengikuti Rami yang memanggilnya demikian- tetap tenang, walau kerut keningnya menunjukkan kekhawatiran yang sangat.

Seharusnya kami menyadari bahwa panggilan itu memiliki makna. Rami sangat dekat dengan Budhe dan Pakdhenya, sampai ia menganggapnya sebagai orang tua sendiri. Begitupun kasih sayang Budhe da Pakdhenya yang sangat tulus, seperti kepada anak sendiri.

Romi menangis. Ia berdiri tegak di samping pintu kamar IGD, tempat Rami ditangani, sambil mengepal tangannya, dan menangis tanpa terisak sedikitpun.

Dokter keluar, dan langsung berbicara dengan Budhe dan Pakdhe. Terdengar sangat serius, hingga kami takut untuk mendekat. Aku mendengar suara dokter dari kejauhan. Operasi? Rahim? What the…. Aku dan Kana saling tatap, memastikan pendengaran kami masih berfungsi normal.

Gue dan Kana tahu pasti artinya. Operasi apa? Rahim apa? Operasi rahim apa? Separah apa? Rami masih terlihat baik-baik saja tadi pagi. Dan sekarang harus…. operasi? Operasi rahim? PIkiranku sdah benar-benar menerawang. Aku bak sudah tak mampu berpikir sistematis.

Dugaan demi dugaan menyedihkan bermunculan, dan aku sungguh berharap agar semua dugaaku salah.

Kana menangis sejadinya. Aku mendekapnya dan merasakan rasa yang sama, seperti beberapa menit yang lalu. Kepedihan. Romi pun seperti tak mampu membendung lagi pilu yang ia rasakan, dan air mata deras turu dari sudut matanya. Masih tanpa suara, ia terisak. Aku belum pernah melihatnya menangis.

Aku merasa kepedihan yang menjalar, membuat sudut mataku basah.

Romi

Safe her, God. Please.

Advertisements