3R (Vol.7) — The Desire

Romi

Libur semester ganjil tiba. Aku dan Rami sudah merencanakan pertemuan ini awal masuk semester lalu. Beberapa jam lagi, kami sampai di Surabaya, destinasi awal perjalanan kami selama satu minggu ke depan.

“Bawa apa lagi ya?” Kataku sambil garuk-garuk kepala, bingung saking sedikitnya barang bawaan yang kubawa. Malam ini aku dan Rami sedang packing bersama di kamar kostku untuk perjalanan esok pagi.

Rami yang sedang sibuk menyetrika baju, menoleh. “Hmm.. Ini baju kamu belum masuk sama sekali hei.” Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Oh iya. Haha.”

“Ah! Aku udah bikin list barang bawaan yang harus kita bawa.”

“Loh, bukannya udah ada? Ini apa?” Kataku melihat list barang yang beberapa hari lalu Rami buatkan. Ia memang penuh dengan persiapan.

“Itu belum semuaa. Udah gih ambil catatannya tuh di atas dispenser.” Katanya masih sambil menyibukkan diri dengan baju-baju yang sedang ia setrika. Idaman.

“Cadbury dairy milk fruit and nut,” Kataku memastikan apa yan ia tulis. “Coklat lagi?” Aku menoleh ke arahnya.

“Iya. Kemarin kamu belinya yang biasa, yang ngga ada isinya. Jadi kurang nendang gitu looh.” Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabannya.

“Dada ayam tanpa kulit, brokoli, kentang…” Aku menyernyitkan dahi. Kami memang sudah merencanakan untuk mengadakan barbeque party di tempat wisata yang akan kami kunjungi berdua. “Ini bisa dibeli di sana, yang. Ngapain bawa berat-berat?”

“Iya itu kan aku udah mark di bawahnya pake spidol merah, beli di sana. Ih teliti dong.”

Aku melihat bagian bawah kertas. “Oiya. Lagian kamu disatuin. Harusnya dipisahin mana yang dibawa dari sini, mana yang beli di sana. Biar ngga bingung.” Aku menarik napas, membaca list itu kembali. “Senter?” Aku berpikir sejenak. “Oh, buat jalan-jalan malam.” Kataku sambil membayangkan perjalanan malam di pantai yang sudah kami rencanakan.

“Kondom.” Dadaku panas seketika. “Hah kondom?” Mataku terbelalak. Aku memang sempat membayangkan hal yang negatif. Bercinta dengannya sepanjang malam, di atas pasir pantai. Tapi aku tidak berpikir untuk benar-benar melakukannya. “Buat?”

Ia meletakkan baju yang habis disetrika ke tumpukkan baju di sebelah kanannya, lalu menoleh ke arahku. “Buat nampung air hujan.” Satu detik, dua detik. “Of course for having sex with me, boy!” Aku menelan ludah.

Ia bangun, berjalan ke arahku dengan tatapan mata yang tajam, siap mencabik-cabik dadaku. Ia mencium bibirku perlahan, dengan lembut. Aku membalasnya dengan mendekapnya hingga tubuhnya menempel sepenuhnya dengan tubuhku.

“Just kidding.” Katanya setelah melepaskan bibir indahnya, lalu mengambil kertas yang kupegang, dan menuju kotak pulpen di atas dispenser. Ia mengambil salah satu di antaranya, lalu menorehkan tinta tepat di atas kata kondom.

“Nih. Jangan lama-lama ya. Cuma beli coklat doang.” Katanya kemudian. Aku masih terdiam tak habis pikir. Rasanya hampir copot jantungku beberapa menit yang lalu. “Mau aku anter? Yuk deh. Sekalian aku laper banget mau beli nasi goreng pinggir jalan.”

Aku menelan ludah, sekali lagi. Menatapnya setajam yang kubisa. “What are you doing?” Aku tak tahan lagi untuk tidak mengatakannya. Ia tak pernah membiarkanku melakukan sesuatu yang buruk padanya, bahkan menyentuhnya jika ia tidak menginginkanya, namun ia selalu berhasil melakukan itu padaku sesuka hatinya.

Membuatku panas, lalu berlalu begitu saja. “I’m a man. I have a very very very big fucking desire to fuck you. Every day, every night. I’m not a boy, Rami. Don’t do this to me.” Kataku menahan kesal, mencoba sebisa mungkin untuk tidak membentaknya.

Ia terdiam, lalu berkata. “You wanna fuck me? I’m not a bitch!”

“Stop flirting me, kalo gitu.” Kataku menurunkan nada bicaraku, seperti berbisik. Sedikit lebih tenang.

Ia diam. Bibirnya seperti menahan sesuatu yang berat. Matanya memerah siap untuk mengeluarkan air mata. Rasanya aku ingin menarik kembali kata-kataku dari relung terdalamnya.

“I’m sorry.” Kataku mencoba memegang tangannya yang mengepal.

“Don’t!” Ia berlalu menuju tasnya, dan memasukkan satu persatu barang yang sudah dipersiapkan untuk dibawa besok.

“Aku pergi. Nasi goreng biasa kan?”

“Yang pedes banget!” Katanya sambil menghentakkan barang yang dipegangnya ke dalam tas. “Kalo perlu beliin abon cabe sekalian biar tambah HOT!” Katanya sambil menahan sesengukkan. Ia menekankan kata hot, membuatku ingin tertawa melihat ekspresi ngambeknya.

“Do you need a tampon? Kamu PMS kayaknya.” Kataku kemudian menggodanya.

“GOOOO!” Teriaknya sambil melemparkan baju yang baru ia setrika. Aku berlalu sambil menahan tawa. My Arami itu… lucu.

Rami

“Mi… Udah sampai.” Suara berat itu membangunkanku dari tidur panjangku. Aku berkedip sambil mengucek mataku yang terasa gatal. “Jangan, nanti sakit.” Katanya kemudian, lalu meniup mataku perlahan.

Bau mint menyerbu seketika, membuat aku sepenuhnya sadar. Aku  mengambil tas dan beranjak keluar kereta. Lelaki ini adalah lelaki yang dua hari lalu membuatku kaget karena kumis dan jambangnya yang dibiarkan tumbuh memanjang di wajahnya. Like a real man. I like it!

“Habis kita liburan kamu cukuran ya.” Ia menoleh. “Seminggu lagi pasti bakal kayak kyai tu jenggot.” Tambahku.

“Ngga mungkin lah. Kalau kyai mah bertahun-tahun. Ini baru ngga cukuran dari mmm….” Ia seperti mengingat-ingat sesuatu, lalu melanjutkan kata-katanya, “dari terakhir kita ketemu. Semester lalu.”

Aku menarik tangannya dan berhenti. Kami bertatapan. “Biar kalau masuk kuliah nanti, kamu ngga aneh dengan bekas cukuran di atas bibir.” Kami berdua tertawa, melanjutkan perjalanan.

Romi

Kami menginjakkan kaki di salah satu tempat bersejarah di Surabaya. Tugu Pahlawan. Monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa pertempuran 10 November 1945 antara arek-arek Suroboyo dengan pasukan sekutu bersama Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

Bangunannya unik, seperti paku terbalik. Ada museum di dalamnya, membuat pengunjung terbayang jelas peristiwa puluhan tahun yang lalu itu.

“Are you happy?” Kataku pada wanita berambut panjang yang sedari tadi kugenggam tangan lembutnya, sambil berkeliling Tugu Pahlawan.

“I’m starving.” Wajahnya memelas seketika, seperti muka kucing yang sedang merayu majikannya untuk segera diberi whiskas.

Aku tersenyum, kukecup bibirnya yang sedang manyun. “Yuk, cari makan.”

Ia mengeluarkan handphonenya. “Sate klopo enak deh kayaknya, Yang.” Katanya sambil melihat salah satu artikel berisi kuliner-kuliner di Surabaya dengan handphonenya.

“Sate enak dimakan malem ah.” Aku melihat layar handphone yang sedang ia scroll ke bawah. “Nasi goreng jancuk enak tuh.” Kataku melihat gambar nasi goreng super pedas yang bikin ngiler.

“Jangan ah nanti sakit perut. Lagian masa ke Surabaya cuma makan nasi goreng?” Katanya mengelak, lalu melanjutkan bacaannya lagi. “Ah, nasi krawu nih, nih.” Katanya antusias sambil memperlihatkan artikel berisi gambar seporsi nasi dengan beberapa lauk di atasnya. Cukup menggiurkan.

“Nah nah, jangaann. Tuh. Katanya enak dimakan pagi-pagi. Sekarang udah hampir jam empat sore.”

“Iya juga.” Katanya kecewa.

“Nah!” Kata kami bersama, tepat ketika melihat gambar bebek goreng dengan sambal yang terlihat sangat menggiurkan.

“Bebek goreng tugu pahlawan! Yuk kayaknya deket dari sini.” Katanya, segera menggenggam tanganku, dan menariknya dengan antusias.

Rami

Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama berkeliling Surabaya sebelum tepat pukul 11 malam nanti pergi meninggalkan kenangan indah hari ini menuju Pelabuhan Ketapang, tempat kami mengukir memori selanjutnya.

Kami berdua, duduk bersebelahan dengan diam di tempat yang mengarah lansung ke jembatan Suramadu yang memancarkan warna yang indah dalam gelapnya malam. Ia menyandarkan kepalaku di atas bahunya, dan memeluk pinggangku. Hangat seketika menyelimuti.

Aku menatapnya dalam-dalam. Berusaha mengingat wajahnya sedetil mungkin yang kubisa. Ia yang menjadi kesayanganku seutuhnya, lelaki yang bisa kuandalkan. I love him to the moon and back, to the moon and back again 50 ribu kali.

Matanya mengarah ke depan, penuh dengan ekspresi keoptimisan, namun diam. Entah apa yang ia pikirkan. Ia menoleh membuat mata kami bertatapan. Canggung menyelimuti seketika. Ia mencium bibirku, aku membalas.

Kurasakan peri cinta sedang menembak kami dengan racun hatinya, membuat kami menggilai satu sama lain. Membuat kami lupa bahwa ini tempat umum. Aku mencintainya.

Romi

“Wooohoooo LOMBOOKK!” Katanya sambil berlari ke arah Pantai Senggigi, destinasi utama liburan kami kali ini. She just a little girl. I love her. Pikirku sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita di depanku yang kini sedang berputar sambil berteriak, merasakan asinnya bau angin di sekitar.

Aku meletakkan tas kami di kamar penginapan yang sudah kami pesan dua bulan yang lalu. Alhasil, kami mendapatkan penginapan terdekat dengan pantai. Pemandangan dari sini begitu indah, seindah Arami, yang kini berjalan ke arahku dengan senyum lebar yang memancar.

Ia menciumku. “Thanks. It’s… All of this such a little heaven, hon!” Katanya dengan antusias. “Yuk ke pantai! Seru deh anginnya kenceng.”

Aku tersenyum, mengikuti langkahnya sambil menggenggamnya erat. Kami menghabiskan waktu tiga jam untuk menikmati pantai. Dari mulai duduk di atas pasir, lalu cebur-ceburan, lempar-lemparan pasir basah. Like a little girl and boy who loves playing together.

Lengket di badan karena air laut yang hampir mengering tak jadi masalah. Kami duduk dengan damai sambil melihat beberapa anak memainkan layangan dengan latar langit berwarna jingga. Arami memeluk pingangku, aku balik merangkul pundaknya, sambil sesekali membelai rambutnya yang hampir kering.

Rami

Aku duduk di atas selendang tipis yang sengaja difungsikan menjadi karpet. Ia, my love sedang asyik membolak balikkan daging sapi, jagung bakar, dan kentang berlapis aluminium foil yang berjajar rapih di atas arang sambil menggerakkan kipas bambu dengan kecepatan sedang agar didapatkan bara yang sesuai. Aku menyiapkan bir dingin yang kami beli di bar dekat penginapan beberapa menit yang lalu.

Malam ini akan menjadi malam yang sangat mengenyangkan!

Kami menikmati makan malam dengan latar bulan purnama dan beberapa bintang, disertai suara deburan ombak yang menyejukkan. Dingin lantaran angin yang kencang bukan penghalang. Kami menikmatinya dalam diam. Begitu damai, hingga kami tak menghitung sudah berapa jam yang kami habiskan bersama.

Romi

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Ngga kerasa. Saking menyenangkannya, mungkin. Aku sedang duduk di lantai sambil menyandarkan diriku ke pinggiran kasur sambil membaca majalah otomotif yang tersedia di kamar kami. Rami sedang terlentang di atas kasur sambil melihat foto melalui layar kamera yang kami bawa.

Kepala kami bersentuhan. Aku dapat merasakan pergerakan kepalanya yang halus, juga mendengar komentar-komentarnya pada foto-foto yang ia lihat.

Aku memutar lagu untuk memecah keheningan. Close to you dari The Carpeters menjadi lagu pembuka.

“Gila! Liat nih, yang. Keren banget ini fotonya!” Ia memutarkan badannya, membuat pipi kami saling menempel satu sama lain. Dengan antusias ia menunjukkan satu fotoku berlatar pasir pantai dan ombak laut setinggi pinggang. Lucunya lagi, ada dua jarinya yang sedang mengapit kepalaku. Aku terlihat sangat kecil di antara dua jari itu.

“Jari kamu lucu?”

“Kamu lucu. Ekspresinya bener-bener lucu. AAA.” Katanya sambil mengikuti gaya mulutku yang terbuka lebar di foto.

Ooh, now let’s get down tonight 

Baby I’m hot just like an oven

I need some lovin’

Playlist di handphoneku memutar lagu Sexual Healing milik Marvin Gaye.

And baby, I can’t hold it much longer

It’s getting stronger and stronger

And when I get that feeling

I want Sexual Healing

Aku mematung. Kini kulihat Rami sudah duduk bersandar di pinggiran kasur. Tepat di sebelahku. Matanya menatap ke depan.

Sexual Healing, oh baby

Makes me feel so fine

Helps to relieve my mind

Damn! Why she looks like too damn fucking gorgeous tonight GOD! Rambutnya dicepol membuat tengkuknya terlihat. Kumis tipis di bibirnya, dan bulu tipis di lengan dan kakinya yang sekarang… entah mengapa terlihat begitu sexy.

She’s like a cheese on the top of pizza. Melted.

Rami

“Should we do that?”


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6