3R (Vol. 8) — Midnight Pleasure

Rami

“Should we do…?”

Romi

Aku mencium satu-satunya wanita yang aku inginkan sekarang, my Arami, dalam keheningan malam ditemani angin dan deburan ombak yang terdengar lirih. Lirih, sangat lirih, bahkan hampir tak terdengar. Aku hanyut dalam kedalaman malam.

Ia melepas ciumanku. Mukanya memerah seperti udah rebus yang sangat nikmat dimakan, apalagi dengan bumbu kacang. Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Aku haus.” Kemudian ia bangun, dan mengambil botol air mineral yang tinggal setengah dan menenggaknya hingga habis.

Aku mencoba mengatur napasku agar stabil kembali, pun agar dapat berpikir jernih. Aku berdiri, lalu mengambil handphone di kasur, hingga akhirnya, ia berjalan ke arahku dan menyerangku dengan napas yang menggebu. Tidak setenang tadi.

Dorongan tubuhnya membuatku terjatuh ke atas kasur. Ia di atasku. Masih menciumku. Aku mengelus rambutnya perlahan, membuat ia memelankan irama permainan lips to lips kami malam itu.

I’m a dominant.

Rami

Ia menggulingkan tubuhku, membuat posisi kami berubah. Tubuhnya di atasku sekarang. Napas kami beradu. Kurasakan dadanya yang naik turun, seiring pertambahan panas tubuhnya.

I’m going crazy. His lips so… Ah! Seperti permen yupi yang kenyal, yang ketika ditekan akan kembali ke bentuknya semula. Pun rasanya yang manis. Aku suka permen yupi, seperti aku menyukai bibirnya, lelaki muda yang aku cintai, satu-satunya lelaki yang aku inginkan malam ini.

Romi

Rasanya semua indra yang kupunya sudah terfokus pada satu tubuh. My Lovely Arami. Ombak dan angin di luar sudah tidak terdengar sama sekali. Hanya terdegar lirih lagu adele berjudul all I ask dari playlist handphoneku.

Ia melepaskan ciumanku lagi. Mata kami bertemu, namun kami diam.

If this is my last night with you
Hold me like I’m more than just a friend
Give me a memory I can use
Take me by the hand while we do what lovers do
It matters how this ends
Cause what if I never love again?

“Why?” Kataku akhirnya memulai.

Ia diam, seperti sedang mendengar dan menghayati makna lagu dalam bungkam. Napasnya memelan. Matanya masih menatap mataku. Bukan, bukan dengan tatapan yang kosong, tapi tatapan yang tak bisa aku artikan.

“You know I love you, right?” Kataku, tak tahu harus berkata apa lagi. Matanya menyiratkan keraguan yang dalam. Mungkin ia takut? Mungkin ia tak percaya padaku?

“Men…” Ia berhenti sejenak, “who want to making love with her girlfriend always says that, huh?” Ia menatapku tajam. Dadanya naik turun, seperti siap memuntahkan segala rasa yan bergejolak di dalam.

“Kamu masih inget Ken?” Aku berhenti sejenak, “dan mama kamu?” Akhirnya keluar kata-kata ini juga.

“Jangan sebut mereka.” Ia tak membentak. Ia berbicara dalam diam. Ia, my Arami menangis.

“Oh, come on! I’m sorry.” 

Ia masih diam. Aku bangun, mengambil jaketku, dan bersiap untuk keluar. Sejauh mungkin, agar dapat menjernihkan pikiran.

“Kemana?”

“Cari rokok.”

Rami

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian itu, dan bertahun-tahun juga aku takut. Takut itu terulang. Dikhianati. Dibohongi. Dipakai hanya untuk kesenangan semata.

“Kemana?” Kataku ketika melihatnya mengambil jaket siap untuk keluar.

“Cari rokok.” Jawabnya sangat singkat, tak seperti biasanya.

“I’m sorry.” Kataku lagi, tak kuat menahan tangis. “Jangan ngerokok. Nanti bau.” Entah mengapa, kata-kata itu yang keluar dari bibirku.

Ia berbalik, kembali ke arahku. Menghapus air mataku, kemudian mengecupnya dalam. Aku memeluknya. Aku aman bersamanya.

“Jalan-jalan?” Ia tersenyum, aku bahagia.

“Yuk.” Kataku dengan anggukan. “Tapi mau cuci muka dulu.”

“Iyaaa. Sana biar seger mukanya, ngga kayak bakpau kesiram air gini.”

“Lebay.”

“Jangan lupa jaket. Di luar banyak angin.”

Romi

Aku tidak sedikitpun kecewa akan perlakuan Rami tadi. Tapi satu hal yang mengganjal dalam kepalaku adalah bahwa memori buruknya itu masih terngiang. Memori paling menyakitkan, paling menjijikan, masih berputar di kepalanya bahkan sampai hampir empat tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Kami berjalan menyusuri tepi pantai yang gelap, hanya disinari bulan purnama dan sinar lampu beberapa kedai dengan jarak terdekat sejauh tujuh meter.

Dinginnya air pantai yang perlahan-lahan menyapu kaki kami bukan masalah, pun angin yang sangat kencang menyapu tubuh kami. Kami berjalan berangkulan. Aku merangkul pundaknya, ia memeluk pinggangku.

“Mau berenang!” Katanya tiba-tiba.

“No! Dingin. Ngga boleh. Lagian ini udah mau jam 11 malem. Nanti sakit.”

“Hp mana?” Tanyanya.

“Ngga bawa. Kan perjanjian kita sebelum sampe sini, ngga boleh bawa hp kalau jalan-jalan.”

“Nah! Bagus! Lets go swimmiiingggg!” BYUUUUUR.  Ia menceburkanku dalam sekali dorongan. Seketika kami sudah berada di dalam air laut yang dingin.

Ia tertawa kencang, saaangat kencang, membuatnya terlihat begitu bahagia. Kami menghabiskan waktu berdua untuk berenang bersama, dan tertawa geli bersama sampai entah jam berapa. Aku mengajaknya kembali ke kamar saat kurasa kulitku sudah sangat keriput, saking lamanya di dalam air.

Rami

Puas bermain air, aku setuju untuk kembali ke kamar. Senang rasanya menghabiskan malam bersamanya, my only boy, Romi.

Sampai di kamar, ia mengambil gerakan cepat menuju kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air hangat. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23:55.

“Ladies first.” Katanya sambil bergaya seperti ajudan yang memperlakukan seorang putri.

“Thank you.” Jawabku tersenyum. Aku menarik tangannya, menenggelamkan tubuhnya dan tubuhku ke dalam bathup. Hangat dirasa di sekujur tubuh. Aku menciumnya dalam, ia pun begitu.

Ia melepaskan ciumanku. Menatapku bulat-bulat, “Kita belum lepas baju.” Katanya, membuatku tertawa, pun dirinya sendiri.

Aku melepaskan seluruh pakaianku di depannya. Ia terdiam. “Aku udah.”

Ia membuka bajunya, masih di dalam bathup berisi air hangat. Ia kembali menciumku, buru-buru aku menghindar. “Balik.”

“Hah?” Katanya penuh dengan tanda tanya.

“Sini punggungnya aku sabunin.”

Romi

What the hell! Apa lagi Rami? Ocehku dalam-dalam, tapi masih juga kuturuti perintahnya. Aku membalikkan tubuhku. Begitu pelan dan lembut usapannya. Bau wangi dari sabun tercium, membuatku sepenuhnya menahan panas tubuh yang sudah benar-benar memuncak.

Kadang aku berpikir, apa ia sengaja menyiksaku? Atau ia terlalu polos? Atau ia lupa bahwa kami bukan bocah umur 10 tahun? Please, Arami. Stop.

“Udaah! Gantian!” Ia memintaku berbalik.

Kini kutemui punggungnya yang benar-benar halus, dipenuhi oleh bulu-bulu kecil yang hampir tidak terlihat. Tengkuknya, seperti kataku sebelumnya, sangat indah. Aku mengambil sabun, dan menyapukannya perlahan ke punggungnya.

Shit!

Aku tak mampu lagi menahan untuk tidak menariknya ke dalam pelukanku, dan menciumi dirinya hingga habis seluruh tubuhnya dalam dekapanku.

Ia yang terlihat kaget ketika kutarik ke belakang, hingga tubuh kami benar-benar menyatu, segera dapat menyesuaikan diri. Aku mulai mengeksplorasi satu persatu bagian tubuhnya dari belakang, menciumi dan menggigit perlahan lehernya seperti seekor macan yang sedang membawa buruannya, membuat ia mengeluarkan suara lirih yang memabukkan pria manapun yang mendengar.

Aku bangun, kemudian menyalakan shower. Kami bermain dengan bibir satu sama lain, sambil membersihkan diri. Kami benar-benar menikmati sensasi guyuran air yang menusuk.

Aku menuntunya keluar dari bathup. Ia mengambil handuk, menyapukan handuknya ke tubuhnya, lalu tubuhku.

Ini bukan saatnya untuk berlama-lama.

Aku menariknya keluar kamar mandi, dan menjatuhkan tubuhku di atas tubuhnya, sambil terus menjelajai tubuhnya yang sempurna. Mulai dari lehernya, turun ke dadanya, hingga ke bagian khasnya, lalu turun ke telapak kakinya.

Seolah tak ingin puas sendiri, ia mendorongku sekuat tenaga, membuat posisi kami berbalik sekarang. Tubuhnya yang indah menindih tubuhku. Sama seperti apa yang kulakukan, ia mengeksplorasi seluruh tubuhku perlahan, membuatku geli saking nikmatnya.

Ia tahu benar caranya memanjakan seseorang. Ia tahu benar di mana diri ini benar-benar ingin disentuh.

Aku membalikkan tubuhnya, menindihnya lagi, bersiap untuk membawanya ke alam di mana hanya kami berdua yang dapat merasakan satu sama lain.

“Do..” Napasnya tergesa-gesa, mencoba sekuat tenaga untuk mengatakan kalimat selanjutnya. “Do you bring a condom?” Katanya kemuadian.

I don’t need it. You safe.” Jawabku seperti orang mabok. Benar. Aku benar-benar mabok. Rasanya kekuatanku benar-benar bertumpu pada satu titik, membuatku merinding.

Ia menatapku seperti bingung, seperti ingin berkata, How?

“Tenang.” Aku mencoba menarik napas, mengumpulkan kekuatan agar dapat meneruskan kalimatku untuknya, “Ada tekniknya. Kamu aman.” Aku berhenti sejenak, menatap matanya.

“Udah pernah nyoba?” Tanyanya membuatku gemas.

“Ini lagi mau nyoba.” Jawabku seadanya. “Trust me. Sumbernya jelas kok, bukan dari wikipedia.” Tambahku, membuatnya tersenyum, menahan tawa dan gelisahnya yang hadir bersamaan.

Ia memejamkan mata sejenak, kemudian mengangguk. “I love you.” Katanya kemudian, memberiku peluang untuk benar-benar masuk ke dalam tubuhnya.

“I love you.” 

Rami

Di bawah bulan purnama, ditemani desiran halus ombak pantai dan angin yang menyapu pelan, napas kami saling berburu seperti tak mau kalah satu sama lain.

Kami benar-benar melakukannya.


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied Vol. 6 Vol. 7