Hello, night!

3e5c34a36da33ce81906bf583734416f

Source: Here.

Ini kali kedua aku berada di tempat seperti ini. Penuh samar-samar siluet tubuh orang-orang yang tidak sedang diam. Ada yang duduk sambil memegang gelas wine dengan anggunnya bergaunkan hitam selutut, ada yang duduk manis sambil memandang lurus dan sesekali menghisap rokok yang dibakar, ada yang berdansa mengikuti irama musik yang tak pernah pelan.

Terima kasih, Kak. Aku suka berada di sini.

Setidaknya minuman yang bartender campur ke dalam gelas kosong itu, yang ketika kosong kemudian dengan inisiatifnya diisi lagi oleh kawanmu (tentunya sekarang kawanku juga) –yang membuat kita berdua berada di sini, dapat membuatku lupa sejenak dengan mimpi yang pernah kubuat: bercumbu di ujung sofa sana, sambil menengguk satu botol vodka atau apalah, dengan seseorang yang sangat ingin kutemui.

Sebetulnya bukan minuman yang kuminum itu –yang ketika kutengguk, kurasakan sensasi… entahlah, yang membuatku ingin bercerita tentang ini. Rasanya tenggorokanku dingin lalu panas seketika meminum itu, meski pelan-pelan. Katamu aku harus bisa mengontrol diri agar tidak pulang dengan tubuh yang sempoyongan, bukan? Pun minuman itu membuat dadaku berdebar lebih cepat. Dan aku merasa sedikit lebih bahagia.

Dan kegilaan itu muncul.

Lalu kutemukan diriku sangat menikmati irama musik yang itu-itu saja. Mungkin dulu aku terlalu suka dengan musik ini, hingga sekarang aku bosan. Aku beberapa kali mengibaskan rambutku yang tak panjang –yang mulai basah, karena rasanya tiap kutengguk minuman itu, metabolisme tubuhku mendadak menjadi lebih cepat. Sambil bergerak kanan kiri atas bawah, sambil melakukan atraksi lincah bak lumba-lumba yang tentunya jika saja aku waras aku akan malu melakukannya, aku mulai pelan-pelan mendekatkan diriku pada seorang lelaki tinggi di dekatku. Jarak kami hanya terpisah satu orang saja.

Ia mengenakan topi hijau. Lengannya bertato. Ia memiliki mata kecil dan hidung lancip. Kulitnya pucat, dengan rambut pirang. Ya. Ia adalah seseorang yang jelas bukan dari ras manapun yang ada di Indonesia. Kupikir ia berasal dari Amerika… atau mungkin Australia? Entah.

Tak pernah kudapati matanya. Ia selalu memandang lurus ke depan, sambil sesekali mengesap rokok di tangan kanannya, juga meneguk botol beer yang ia pegang di tangan kirinya. Sesekali aku melihatnya berbicara dengan rekannya –kukira ia rekan kerjanya, mungkin bosnya, karena ia lebih tua. Lalu ia diam sambil menggerakkan kepalanya menyesuaikan musik yang disajikan. Kemudian ia berbalik, dan menggerakkan tubuhnya.

Aku ingin menyentuh pundaknya yang setinggi kepalaku, lalu mengajaknya ke tengah lantai dansa, namun nampaknya kegilaan ini belum maksimal, maka aku mendapati diriku takut penolakan kemudian.

Dan aku terus berdansa. Entah jenis gerakan apa yang kulakukan, namun itu cukup membuat kepalaku basah, juga leher dan ketiakku. Aku berkeringat terlalu banyak malam ini.

Pelan-pelan, kudapati seorang lelaki dengan tinggi tak lebih dariku, berambut cepak, berkulit gelap dengan mata yang layu mendekatiku. Ia memasang senyum dan mata merajuk. Aku tahu ia sedang mengharapkanku kemudian.

Aku tersenyum balik ragu-ragu. Aku tak menginginkannya. Aku ingin lelaki bule bertopi hijau di sebelah sana. Dan untung saja, Kakak segera datang, memainkan tangan dan kakinya, bergoyang kemudian. Aku bersender di pundaknya, pundak Kakakku, dan lelaki itu pergi kemudian. Hah. Begitu mudah membuat lelaki ciut.

Beberapa kali aku kembali ke meja untuk meneguk minuman berwarna coklat transparan itu. Kali ini biarlah lebih banyak. Aku harus mengumpulkan nyali untuk mengajak lelaki bule itu berdansa bukan?

Entah kali ke berapa aku kembali ke lantai dansa yang penuh dengan kumpulan kepala dan tubuh bergoyang ini, dan aku kecewa karena mendapati lelaki bule itu sudah tidak ada di tempatnya. Ah. Aku kecewa setengah mampus, demi apapun.

Namun aku tidak kembali ke mejaku dan bertemu dengan teman-teman yang lain. Aku lanjutkan saja berdansa di sana. Lelaki yang melempar senyum tadi datang lagi, kali ini begitu terlihat antusias. Ya. Karena aku kembali seorang diri. Kawan-kawan yang membawaku ke tempat ini sibuk di meja.

Lelaki itu kini lebih berani. Mendekatkan tubuhnya pada tubuhku. Kali ini aku biarkan saja. Mungkin memang nasibku malam ini untuk berdansa dengannya, bukan dengan lelaki bule tadi. Kami berhadapan kemudian, dan mendekatkan diri satu sama lain. Ia mengajakku untuk pindah, ke tengah lantai dansa. Kemudian ia memberiku minuman berwarna transparan yang ia sebut wine. Setengah gelas yang langsung kuteguk tanpa malu.

Kami berdansa lagi kemudian. Ia memelukku dari belakang, kemudian menciumi tengkukku. Rasanya aneh, karena kumisnya yang baru tumbuh begitu menusuk. Aku teringat kumis di foto itu. Kumis yang kubayangkan akan menyapu tubuhku. Tapi tidak. Ah. Mungkin belum. Masih ada harapan untuk bertemu, bukan?

Perlahan-lahan kurasakan tangannya naik ke bagian atas tubuhku, yang langsung kupegang dan kuletakkan kembali di pinggangku. Beberapa kali ia memintaku berbalik. Sempat kulakukan, namun aku risih dengan kawan-kawannya yang menatap kami sambil bersiul riang.

Ia kembali ke mejanya, kemudian membawa segelas besar beer. Aku meneguknya dengan tak waras. Permainan ini kuprediksi akan semakin gila. Kepalaku semakin berat, maka sebisa mungkin kujaga ia agar tak menunduk terlalu lama.

Posisinya kini di depanku. Kami makin gila. Kami berpelukan di sana. Bibirnya meraba-raba leherku, dan aku diam saja mencoba menikmatinya. Sesekali ia melontarkan pertanyaan basa basi macam informasi demografi: tempat tinggal, cerita kuliah. Tapi aku tak tertarik menanyakan apapun padanya.

Ia bertanya, “Ngga ada yang marah?” aku menggeleng. Maka ia semakin gila meraba-raba tubuhku yang semakin basah. Malam yang panas, memang. Dan kami masih melakukan kegilaan itu di lantai dansa, tepat di depan meja DJ.

Beberapa kali ia mencoba untuk mencium bibirku, yang tentunya langsung kutolak lembut dengan memalingkan wajah. Belum, aku belum ingin dicium, tepatnya olehnya. Mungkin kalau ia bule tadi, aku akan lebih ganas dan mau-mau saja dicium bahkan lebih dari itu. Namun ia bukan.

Ia meminta nomor ponselku, dan aku berikan. Mungkin sewaktu-waktu kami dapat melakukan hal ini lagi, lalu bercinta kemudian. Atau mungkin malam ini? Boleh saja sebetulnya jika ia meminta. Tapi ia tidak. Ia bilang, “Mau? Kalo mau aku, ayo.” yang langsung kujawab, “Malam ini iya.” kemudian kami diam, dan aku melanjutkan, “Malam ini saja, ya.” Ia tersenyum.

Kami menikmati permainan itu. Aku memeluknya seolah-olah ini yang kuinginkan, dan memang iya. Bertemu lelaki kemudian bercumbu. Aku menginginkannya, demi apapun. Aku ingin lupa sejenak dari bayang-bayang seorang lelaki yang entah apa kabarnya hari ini.

Kawannya datang kemudian, memberikan kode untuknya berhenti. Kemudian ia pamit. Sambil berbisik ia kemudian menghirup lagi leherku seakan-akan ingin membawa aromanya turut bersamanya. Kami berciuman kemudian. Dua kecup saja. Itu ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan yang tak ada artinya.

Lucky, you!

Dan sampai saat ini, aku belum menerima pesan darinya. Semoga memang tidak pernah ada. Aku berharap, semoga saja nomor yang kuberikan salah, dan tak ada cara untuk kami bertemu lagi, bahkan takdir Tuhan sekalipun.

Hanya dengannya? Malam itu?

Tidak.

Lelaki lain menghampiriku kemudian. Bocah. Berumur 18 tahun. Kami tak melakukan apapun selain berdansa. Aku tak ingin bercinta dengan bocah, yang bahkan mengingatkanku pada adikku. Maka kami harus mengakhiri ini segera.

Untung saja. Kawan-kawanku datang kemudian. Yang paling depan, Kakakku, paling buru-buru, menyapaku dan bilang, “Aku mabuk.” sambil tertawa. Aku ikut tertawa kemudian. Dua kawanku lainnya datang, mengajakku pulang. Aku turut kemudian.

Sambil menunggu kakakku yang sedang kencing, aku kemudian memeluk seorang kawanku, yang membuat keinginanku tercapai malam itu, “Thanks, kak.” Dan kami tertawa lepas, selepas anak kecil yang belum paham bahwa kehidupan itu sebegini menyedihkannya.

Kami berempat saling merangkul sama lain, menjaga keseimbangan tubuh kami. Ak paham betul bahwa kami memang sedang tidak waras. Kami tertawa menuju parkiran, dan menceritakan kisah masing-masing. Dan aku bilang, “FUCK! I got my really first kiss tonight, you know?” Dan mereka menimpali sambil terbahak.

Kuakui malam ini adalah malam terbaik. Aku tak ingin melupakannya, kecuali tragedi ciuman pertama sekaligus tanda perpisahan itu. Aku ingin melakukannya lagi, demi apapun. Tapi bukan dengan orang asing. Aku ingin melakukannya dengan seseorang yang beberapa hari ini muncul dalam pikiran.

Maka aku akan menunggu, dan sembari itu mungkin aku bisa mencoba lagi menjejal tubuh lelaki, maka aku akan lupa bayang-bayangnya sejenak, bukan?

Kuakui hidup yang singkat ini banyak membuatku belajar. Bahwa dibalik lampu kedap kedip itu, ada jiwa-jiwa yang ingin mengalahkan rasa terburuk mereka. Mungkin kesepian, mungkin kegagalan. Dan malam ini aku banyak belajar, tentunya untuk lebih berani lagi mengambil kesempatan. Well, kalau saja aku memanfaatkan waktu ketika bule itu masih disana, mungkin aku akan menemukan diriku telanang bulat di pagi harinya bukan?

Tapi tak apa. Aku tak ingin cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Selamat datang dunia baru! Selamat datang lelaki-lelaki baru! Bantu aku melupakan sejenak rasa sepi ini, maka aku akan lupa lelaki yang baru kemarin bilang, “Intinya buat kali ini, silaturahmi kita tetap terjaga.”

Aku tak tahu masa depan akan seperti apa. Yang kutahu, aku hanya ingin menikmati malam seperti ini, bahkan di hari-hari selanjutnya.

.

.

Regards,

BAR.

Aku Merindu, Kau Membisu

Jalan nampak luas, meski ukurannya tak lebih lebar. Mungkin karena aku pulang di malam hari, entah mungkin karena aku sedang sendirian. Padahal dari dulu aku terbiasa sendiri. Dari awal sekolah dasar pun aku sudah dipercaya kedua orang tuaku untuk pesan makanan dan bayar di kasir sendiri.

Aku jadi ingat malam itu, ketika mall hampir tutup. Papa, Mama, dan adikku keluar tempat parkir untuk menaruh belanjaan, lalu aku diminta pergi membeli ayam goreng dan soda. Aku dibebaskan untuk memilih, asalkan sesuai porsi kami. Karena terbiasa membeli makanan dengan menu sama, akhirnya aku membeli empat potong besar daging ayam pedas, ditambah empat gelas soda. Aku memesan makanan tanpa basa-basi apalagi terbata-bata. Sudah terlalu biasa memesan makanan dan membayar langsung di kasir sendiri, maka tanpa ada perintah kubilang, “…dibungkus.”

Kakak itu menyebutkan kembali pesananku, ditambah, “…dibawa pulang ya? Jadi….ribu.” Dan aku belajar satu hal. Berbeda tempat, berbeda pula bahasa yang kita gunakan. Aku sempat gengsi, dan itu yang membuatku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Lain waktu Papa memintaku untuk membeli minuman kaleng di warung di belakang rumah. Kali ini dengan adikku yang belum mengerti banyak hal. Tetap saja aku yang melakukannya sendiri bukan?

Maka aku sudah terlalu biasa melakukan hal apapun sendiri bukan?

Ah. Hanya ada satu hal yang Papa tak biarkan tumbuh di dalam diriku. Jiwa untuk bebas. Aku tak pernah dibiarkan untuk pergi les seorang diri. Pernah boleh. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku malu setengah mampus dengan supir yang membawaku, karena karyawan Papa mengikuti angkot dari belakang. Sejak itu aku marah. Dan Papa mengerti.

Sampai sekarang pun begitu. Pergi jauh aku tak boleh, kecuali dengan orang yang kubilang teman. Maka aku tak pernah meminta izin Papa jika aku ingin pergi kemanapun, kecuali aku butuh uangnya.

Mungkin itu yang membuatku takut untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Aku takut dengan suasana baru. Aku benci dikerubuti keramaian –kecuali keramaian itu untukku. Aku memilih-milih dengan siapa aku berbicara ketika sedang di transportasi umum. Aku memilih untuk pergi dengan temanku dibanding sendirian….

Ha. Jadi aku orang yang seperti apa?

Biasa sendiri, mandiri, tapi punya sisi penakut. Boleh lah kita sebut demikian.

Atau mungkin jalan di luar terasa lebih lebar karena aku sedang menantimu? Maka yang kulihat di jalan seperti kosong, karena itu bukan kau. Tapi faktanya kau belum datang. Kau bilang bokongmu seperti menempel pada serat-serat di ranjangmu bukan?

Tapi tak apa.

Mungkin aku hanya sedang rindu karena dua atau tiga hari ini kita tak berkicau kabar. Aku tak masalah. Kau punya urusan yang harus kau selesaikan, pun aku disibukkan oleh usahaku untuk sembuh dari sakit yang sembuh dengan resep dokter ini.

Maka sekali lagi, tak apa jika kau membisu. Nantinya pun kau akan membuka mulutmu dan mulai bercerita. Mungkin tidak sekarang. Atau tidak hingga kau kubuat bercerita.

Karena suatu hal tanpa rindu akan sangat membosankan bukan? Begitu pula dengan bisu. Namun apa jadinya bila rinduku ini karena bisumu?

Tenang saja, aku hanya merindu. Tak apa kau membisu. Mari kita saling. Saling bertahan pada rindu dan bisu masing-masing hingga kita sama-sama siap untuk melepasnya dan bercerita kemudian.

.

.

Sampai jumpa di percakapan keempat!

Hujan Datang Lagi

Beberapa hari yang lalu aku berpikir untuk membuang jauh-jauh perasaan pada seorang lelaki, kemudian aku bertekad untuk melanjutkan apa yang sudah aku mulai di awal tahun ini. Aku berjanji kemudian, bahwa sudahi saja semua permainan cinta busuk ini. Toh masa-masa berat sebagai seorang perempuan yang siap bereproduksi hanya datang satu bulan sekali. Toh beberapa kali menganalisis diri, kurasa aku belum membutuhkan seseorang lelaki dan kemudian membubuhkan status pada hati kami berdua.

Lalu aku duduk saja di kasur, sambil menunggu laptop menyala, aku lakukan hal itu juga: membuang segala berkas tentangnya yang tersisa di gawai. Berhasil.

Siapa sangka? Lelaki lain datang kemudian. Memberi hiburan yang saat itu sebenarnya tak butuh-butuh amat, tapi di akhir membuatku tersenyum juga.

Dan sekali lagi,

berharap.

Mungkin. Ah semakin kutepis, semakin terlihat bohongnya bukan?

Lalu aku dengan lelaki baru ini berbincang kemudian. Tetap, tubuhku dikawal oleh benteng besar. Benteng besar yang susah runtuh walaupun diserang dengan kata manis, pujian, kebanggaan… Benteng besar yang dalam kamus psikologi disebut: defense mechanism. 

Maka aku tak percaya akan semua yang ia katakan. Aku mengelak padahal jelas sudah pipiku memerah saat ia memujiku, saat ia bilang bahwa ia tak mungkin salah memilihku.

Ah. Mudah sekali memang membuatku merona.

Aku terlalu  banyak takut akan banyak hal, memang. Penolakan, terutama. Saat dunia di kelilingi tidak oleh siapa-siapa, di situ jiwaku terasa murung. Aku benci sendirian. Di kamar sambil menatap langit yang gelap dengan tak ada suara selain suara samar-samar hewan.

Ini hal yang baru saja aku alami.

Bahwa meski diri tak ingin percaya dan ingin masa bodoh saja, tetap aku terkecoh dengan rasa yang selalu tak ingin aku bilang. Entah aku kagum, entah menyukai, entah aku pun ingin dekat. Ah.

Ya. Dan hujan datang lagi.

Membuatku merasa menjadi orang paling konyol di muka bumi ini. Dengan apa yang kulakukan pada temanku. Sebut saja akarnya datang dari diriku yang tak mau percaya. Tak percaya bahwa dia dapat menyelesaikan masalahnya sendiri dengan kekasihnya. Tak percaya bahwa kekasihnya bukan penjahat dan pasti akan melindungi dirinya. Tak percaya bahwa dia akan tetap tinggal, meski tetap dia akan lebih memilih kekasihnya. Karena memang teman dan kekasih bukan hal yang bisa dipilih.

Lalu aku memperlakukan orang lain demikian pula. Orang yang belum kukenal, padahal mungkin aku yang nantinya akan menjadi orang yang paling mengenalnya, pun paling ia kenal. Namun aku memang konyol, membuatnya pergi berbalik arah.

Apa lagi?

Sebelum ini aku tak pernah menjadi manusia sesulit ini. Aku adalah mausia paling tak peduli dengan sekitarku. Aku adalah manusia palin tak takut ditolak dan dikucilkan, toh aku berdiri dengan kaki sendiri. Toh aku bisa mencari yang lain.

Tapi aku berubah entah sejak kapan.

Mungkin sejak kupikir bahwa dunia punya banyak blok. Ada blok pecinta Tuhan, ada blok berkulit putih berkulit hitam, blok orang kaya orang miskin, blok yang hanya mau berteman dengan orang yang itu-itu saja.

Maka aku kehilangan kepercayaan pada banyak hal.

Bantu aku untuk dapat fokus pada keputusanku kemarin untuk menyudahi kisah galau percintaan (dapat lelaki baru, baper lagi, ditinggal/meninggalkan lagi). Bantu aku untuk dapat belajar agar tak ada lagi pengulangan kisah pilu yang memang kubuat sendiri. Bantu aku untuk selalu dapat percaya.

Trims.

.

.

Regards,

BAR

 

Keep Calm, Amelia

Yes, I just sent another man a message to confirm why he’s so late and there’s no reply. Always. I fell so stupid! Yes I am.

***

Actually those words are from my mind thoughts cause I really really worry abour someone. Ya. Like I said before, this kind of man is… my sixth man. Oh God I feel like i’m such a player, God, pardon.

Ya. After I wrote the first paraghraph, finally he replied my message. He said that there an accident on his bed (re: in indonesia: ketiduran). Yash. For… maybe 2 hours. And after he replied and I sent back my answer (and I found my cheeks getting more pinky. OH FUCK), he gone again.

And makes me waiting for 2 hours again because of the same thing. KETIDURAN.

You know, I dont know how the ending of my stories about love. But till now, I still cant believe any words out from men fucking mouth including him, my number 6′ man. I know, I never really really literally accomplish my affairs with men before. But ya. I just trying.

To leave from tha shits.

And is that wrong? To acc invitation again? Invitation to come to someone’s heart? FUCK LOL.

God, thanks for this busy time You gave to me, so I just wanna escape and declare that I wanna forget aaalll last night’s memories. When we both connected because of the fucking usefull technology and sharing and laughing and… ya. Please give me an energy to forget all about him, God. I want to stop hoping someone. Please.

 

Kita Semua “SPESIAL”

Setelah lama tidak produktif menulias, akhirnya gue ingin memberanikan diri.. ya… untuk berbagi lagi mengenai pemikiran gue yang ngga bener-bener amat HAHA.

Jadi gue sedang merasa down lagi. Motivasi terkait menyelesaikan skripsi, motivasi untuk bersosialisasi, motivasi untuk membereskan pekerjaan di dalam kosan (you know lah beberes yah), motivasi untuk membuat diri sendiri bahagia.

Well, i need to change my mindset, i already knew the problem is… but i dont know how to solve them. REALLY! Lebih tepatnya untuk “memulai” menyelesaikannya, sih.

Mungkin bukan hanya gue yang merasa demikian. Feeling blue, lonely, serba tidak bergairah, dan pikiran negatif lainnya, gue yakin bukan hanya gue yang memilikinya. So, I gotta share this! Untuk kita sama-sama ubah mindset. 

Gue dapatkan ini dari materi psikiatri kemarin, bahwa apapun yang terjadi pada diri kita itu karena mindset kita. Bahwa semua masalah muncul dari pikiran. Setuju?

Misal.

Kita punya masalah sama orang tua kita yang kolot yang ngga ngebolehin kita keluar malam. Lalu kita dan orang tua bermusuhan, saling sembunyi dibalik kemudi pikiran masing-masing. Orang tua kita yang…. yaaa mungkin dari jaman dulu dididik demikian oleh kakek nenek kita, dan kita yang berpikiran lebih modern, jelas.

Kalau permasalahannya begini apa mau bermusuhan terus?

Ndak.

Apa kita bisa ubah pemikiran orang tua kita?

Mungkin. Tapi susah, karena memang belief itu sudah mendarah daging di orang tua kita.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Mau ngga mau kita harus maklumin. Bahwa, oke… mungkin keluar malam memang tidak baik, dan tidak berfaedah. Orang tua selalu benar karena asam garam manis pahit hidup ya dia tahu, dan itu terbukti.

Pikiran positif kayak gitu aja terus yang kita tanamkan dalam pikiran kita. Niscaya, insyaallah, kita akan terima.

Begitu.

Intinya sih, jika kita mengalami suatu masalah, pertama yang harus kita lakukan adalah: koreksi diri terlebih dahulu. Jangan mudah menyalahkan orang lain, apalagi akan hal yang kita lakukan, pun yang tidak kita lakukan. Ngga boleh itu. Bahaya.

Jadi gimana Amelia, kalau aku merasa diriku tidak ada apa-apanya, tidak berarti, tidak diinginkan, aku tidak bisa apa-apa, aku harus gimana, Amelia?

Jawaban: Ubah mindset.

Bahwa manusia dilahirkan “SPESIAL”. Manusia itu istimewa. Manusia diciptakan berbeda-beda sesuai kapasitasnya masing-masing. Well, gue bicara ini karena gue pun ingin berhenti membandingkan diri gue sendiri dengan orang lain, jujur saja.

Semua orang di dunia ini yang jumlahnya gue ngga tahu berapa (karena males buka tab tambahan untuk browsing) semuanya dikaruniai hal yang berbeda, sekecil sidik jari yang ngga ada tuh satu orang persis punya sidik jari yang sama, bahkan saudara kembar sekalipun.

Manusia itu spesial, karena dengan semua perbedaan itu menandai keunikan manusia.

And being unique is awesome! So, ketika semua manusia unik artinya manusia itu awesome! Secara ciptaan Tuhan, yekan?

Percayalah, yang membuat diri kita tidak berharga adalah diri kita sendiri. Ketika kita merasa tidak mampu, ketika kita tidak memberikan diri sendiri untuk berkembang karena berbagai alasan yang seharusnya bukan dijadikan hambatan, ketika kita masih berpikiran bahwa dunia itu jahat.

Dunia itu tidak jahat. Bahwa yang jahat adalah orangnya, itu mungkin. Tapi yang lebih tepat adalah: “kita aja yang negative thinking“. Di dunia ini ngga ada orang jahat. Seperti kata entah siapa, tapi ini gue dapatkan di salah satu mata kuliah, bahwa “pada dasarnya manusia dilahirkan baik. maka ketika dia berbuat suatu kesalahan (kejahatan), pasti bisa dilihat.”

Gue pribadi banyak banget nemuin orang baik di dunia yang katanya mengerikan ini. Pertama, ada teman baik gue yang udah gue anggap sebagai kakak sendiri. Ih ada banyak loh dari kategori ini wkwk. Pokoknya melalui mereka gue banyak dapat pengalaman berteman, bekerja, serta pencari pasangan. DHAN gue banyak sekali dapat keuntungan dari berteman dengan mereka.

Kedua, gue baru saja rasakan kemarin waktu mudik bawa Si Item pake babon alias mobil elp. Gue ketemu bapak-bapak yang ramah, yang seakan-akan tahu kebingungan gue akan bis yang sebelum ketemu dia teh gue bingung banget naik bis apa. Lalu dia kasih gue saran untuk naik bis “A” (sejujurnya gue lupa namanya tapi alih-alih ngga nyebut merk aja deh) yang emang setelah gue naik teh Si Item nyaman banget sampe tidur di cargonya, dan gue pun bisa tertidur sejenak.

Ketiga, keempat dan seterusnya, gue lebih banyak lagi menemukan orang baik. Ada teman yang mau nebengin gue, teman yang kasih Si Item, teman yang nemenin makan curhat, dll.

Gue belum pernah menemukan orang jahat kayak di film-film, kecuali ada seorang teman yang gue pikir meninggalkan gue. Dan itu pun gue rasa hanya perasaan gue aja.

Beda kan sama orang yang menganggap dunia ancaman? Kalau gue menganggap dunia itu jahat penuh iblis busuk, gue ngga akan senyaman itu bawa Si Item naik bis berkali-kali. Yang ada gue akan merasa insecure.

Kalau gue menganggap dunia itu ancaman, gue bakal nyalahin dosen-dosen atau teman-teman gue akan ketidaklancaran skripsi gue. Well, sometimes i fell that terrible thing but I will stop!

Dari semua contoh di atas, gue ingin menunjukkan kalau menjadi orang yang percaya diri itu kunci utama untuk bertahan hidup di dunia. Percaya diri di sini, yang gue maksud adalah orang yang bisa berjalan sendiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri atas apa yang sudah diri lakukan.

Karena kita unik, dan kita selalu punya kesempatan.

Bahwa kita tidak pernah beruntung itu tidak mungkin.

Manusia punya jalan hidup masing-masing yang berbeda dari orang lain. Jadi, stop comparing yourself with others! Jangan membandingkan. Tapi berkaca dan belajar. Ngga ada orang jahat yang seenak jidat ambil apa yang kita miliki. Yang ada entah mungkin dia ngga tahu cara meminta, atau kita yang belum sadar bahwa ternyata itu bukan milik kita, tapi milik dia.

Kita semua itu “SPESIAL”. Jadi jangan iri atas keberhasilan orang lain. Semua ada waktunya. Dan waktu yang tepat buat orang mencapai suatu keberhasilan itu bukan sesuatu yang harus dipertandingkan macam lomba tujuh belasan.

Yang jelas kita harus berusaha. Skripsi ngga akan selesai kalo kita endapin di folder yang ngga pernah kita buka kan, Amelia?

IYA.

Case closed.



NB: Maaf untuk tulisan yang paragraf demi paragrafnya ngga beraturan informasinya. Maaf untuk pertanyaan yang tidak terjawab. Gue males revisi ini tulisan karena lagi males mikir banget wkwk. Semoga tercerahkan!

Yang Paling Setia

Terkadang gue berpikir bahwa gue selalu salah memilih. Pertama, memang ketahanan diri gue akan segala hal yang teratur dan sistematis itu sulit banget. Bahwa gue memang menyadari hal yang gitu-gitu aja sangat membosankan, tidak menarik, da cenderung membuat gue menjadi stress.

Gue kuliah, udah semester akhir, yang mana sekarang sedang skripsi… dan yang gue rasakan adalah ketidakinginan untuk menyelesaikan skripsi. Oke ingin. Niat sih ada. Tapi nyawa untuk bener-bener ngelakuinnya itu yang belum ada. Serius.

Dan di saat teman gue yang satu persatu mencapai apa yang ditargetkan, gue masih aja di sini diem ngga ngapa-ngapain. Karena memang gue masih belum memprioritaskan apa yang seharusnya gue prioritaskan.

Tekanan udah mulai ada sih. Tapi ya itu aneh banget gue. Sukanya mikirin hal-hal ngga penting kayak “gimana ya pendapat orang lain tentang gue?” atau “ah gue harus bantuin dia, gue akan ngeluangin waktu untuk dia segera.” atau “shit! mau the sims gue penasaran kalo manusia nikah sama vampir anaknya akan jadi apa.” atau “mau makan apa ya hari ini sampe minggu depan?”

PADAHAL.

Hal-hal tersebut itu belum sesuatu yang urgent, berbeda dengan skripsi gue. Sedih sih lihat banyak orang lebih mau tapi bahkan gue merasa nyawa gue belum pulih benar. Bukan karena literaly sakit, tapi malas. Malas untuk berpikir, malas untuk memulai. SHIT!

Seketika gue menyesal telah memilih untuk istirahat sejenak dari skripsi.

Setelah istirahat yang kelamaan itu, bikin semuanya jadi menumpuk. Mimpi-mimpi gue untuk wisuda di hari ulang tahun (well, wisuda agustus nanti di rentang 1-3 agustus sih), pikiran untuk membenahi diri dan tidak lagi memikirkan lelaki (yang ini sudah mulai memudar karena gue sadar betul gue belum membutuhkan pria, tapi sosok. ngga harus pria dengan status pacar kan?), lalu keinginan untuk menumpuk pundi-pundi uang (re: kerja), dan masalah seputar persahabatan.

AH! Juga rasa kesepian.

Bahwa tiap malam saat lampu kamar mati, yang kau pikirkan bukan “ANJIR! Draft belum dikirim.” atau “Bangsat! Alat ukur belum jadi.” atau “Tai! Gue harus mantepin teori!”

Yang gue pikirkan adalah: kenapa gue ngga bahagia ya hari ini? Kenapa gue merasa sendirian terus ya? Apa yang harus gue lakukan?

Lalu yang gue lakukan adalah merencanakan kesenangan: belanja bahan makanan lalu membuat mie goreng ekstra pedas di magic com, main the sims, liburan ke Jogja, perawatan muka, dsb.

TAPI. Untuk melakukan kesenangan itu gue harus punya modal. Anjing bahkan enyak babeh gue aja kasih duit jajan pas buat makan dan transport, coba aing ikut penelitian dosen yang effortnya ngga gede-gede amat tapi bisa dapet sampe 2,1 jt! Coba gue bisa nyanyi terus ngeband. Coba gue punya usaha.

AAKKKK!

Dan pikiran itu yang lagi-lagi berputar.

Gue sadar betul bahwa gue ngga bisa sendiri. Me time gue ya sama teman-teman yang tahu segala cerita gue (bahwa gue habis menulis kisah, kalian harus baca, dll). Me time gue yang makan sama orang lalu berkeluh kesah dan menyampaikan segala ide yang gue punya.

Gue ngga biasa pergi kemana-mana sendirian. Bukan karena gue takut. Tapi karena gue tak bisa diam berlama-lama di bus, atau sambil alan gitu, dan pelonga pelongo tanpa berkisah. Maka yang gue senang dari menghabiskan waktu adalah menumpuk memori dengan manusia lain bersama.

Gue suka menulis, tapi bukan dengan tujuan yang oke ketika menulis gue lega. Tapi untuk mendapat perhatian, untuk mendapat banyak viewers, untuk membuat mata dan hati orang lain nikmat. Karena gue ingin dilihat, memang begitu.

Dan sekarang ini gue merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang setia, meski gue berusaha sebisa mungkin untuk tidak pernah pergi. Sakit sih. Gue orang yang pamrih, jadi tujuan gue baik adalah agar ngga punya masalah sama orang, agar dianggap baik, agar dibalas deh segala kebaikan gue.

Tapi yang seringkali gue dapatkan adalah rasa kecewa. Ya. Kecewa adalah hal paling setia, sekarang ini. Lelaki yang gue harapkan, malah mengambil keuntungan tubuh gue, tapi untuk mencintai gue dia bahkan tidak berniat untuk itu. Sahabat yang dengan susah payah gue jaga keberadaanya di hati gue, lalu mendapatkan kehidupan lain dan lebih dipilih dibanding gue, dan begonya gue masih menerimanya di kehidupan gue, terus dia pergi lagi tanpa mengonfirmasi apapun hal yang dia lakukan ke gue.

Ini berat. Permasalahan ini berat. Gue tidak bisa menerima kejahatan yang dia lakukan, sebelum dia meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Gue ngga minta dipilih, gue ngga minta dia selalu stay buat gue. Gue hanya minta apa yang gue lakukan, yang gue rasa memengaruhi dia, paling tidak mendapat apresiasi.

Gimana rasanya kamu bela-belain hujan-hujanan padahal saat itu kamu sudah dapet kendaraan (yang akan habis jamnya, jadi kamu harus cari alternatif lain kalau ngga ada kendaraan dengan harga lebih murah ini lagi) untuk menunggu temanmu yang katanya sedang kayak orang gila saking putus asa akan kehidupan percintaannya?

Ekspektasi: turun dari bis, hujan-hujanan bentar, ada bis lagi yang di dalamnya ada orang yang membuatmu turun dari bis sebelumnya, lalu dia bercerita dan dirimu mendengarkan sambil menepuk pundaknya, mengingatkan dia bahwa ini di tempat umum, lebih baik ditahan dulu air matanya.

Tapi realitanya: kamu berdiri di bawah pohon yang kamu pun ngga tahu itu pohon apa, dan pohon itu ngga banyak membantu. Rambutmu tetap lepek kena air hujan, badanmu tetap menggigil karena baju yang basah, kakimu kotor kecipratan tanah yang bercampur air hujan, sepatumu basah, kau jadi pusat perhatian jalanan kota, kamu menunggu tanpa kabar selama 30 menit, dan kamu mendapati pesan masuk: “Lo duluan aja, kunci lo aman.”

ANJING!

Dan bodohnya kamu masih memikirkan orang itu, yang kau sebut sahabatmu. Lalu kamu menunggu lagi sampai mulai merasa mata memanas di tempat umum, dan ngga ada siapa-siapa yang kau harapkan, atau yang mungkin bisa menjadi peredamu.

Ya.

Bahwa kecewa memang dari harapan itu benar. Dan diri ini sudah berharap pada apa yang bukan menjadi prioritas. Kenapa juga masih gue pikirin?

Tapi gue tetap mikirin. Sampai malam. Sampai gue menghubungi orang yang tidak gue kenal sebelumnya, cemas, takut manusia itu kenapa-kenapa, sampai akhirnya gue mendapatkan kabar bahwa jam 8 malam tadi dia masih tertidur bersama kekasihnya.

Dan ketika kekasihnya membalas, yang gue dapatkan adalah kata macam “Lebay lu. Alay.”

Kalau berteman itu selebay itu menurutmu, pantas saja kekasihmu sendiri bilang kau adalah manusia yang paling mengharapkannya. Iya. Karena kau tak punya siapa-siapa lagi yang patut kau perjuangkan selain kekasihmu yang mau pergi itu.

Lalu yang membuat tambah kecewa adalah tidak ada satu pesan konfirmasi apapun dari manusia itu, yang telah membuat gue menunggu kemarin. Yang gue temui malah akun whatsapp diblok (gimana sih rasanya diblok akun lo sama temen sendiri?), dan tak ada satu pun pesan masuk dari line.

Sesusah itu ya ngabarin?

Gue masih positif thinking, kawan. Tapi ada batasnya. Dan gue manusia yang gampang menduga. Tapi gue cuma bisa berharap bahwa yang blok wa gue itu pacar lo, dan pesan terakhir dari lo itu juga pacar lo yang ketik. Dan ketika lo, dengan apa yang sudah gue pesankan ke lo masih mengabaikan gue, gue siap pergi. Gue siap sakit dan sembuh kemudian.

Gue siap kecewa. Karena kecewa adalah teman paling setia, maka gue harus belajar menerima dia di saat-saat memang gue harus.

 

Bingung judulnya apa. Yaudahlahya.

Gue pernah bercita-cita untuk memiliki pasangan sesegera mungkin karena dua hal: trend relationship goals dan kebutuhan jasmani gue (re: desire). Permasalahan nomor pertama terkait bagaimana diri gue gemash tiap kali melihat foto atau tulisah dengan hastag tersebut. Ngga semua sih, yang lebay dan kekanakan terutama engga banget. Tipe relationship goals yang menginspirasi gue itu kayak Endah & Resha yang bisa berkarya bareng, atau Cyntia Lamusu dan Surya Saputra yang berjuang untuk dapet buah hati bareng, atau yang sereceh foto-foto di tumblr yang cowok cewek lagi jalan-jalan terus pegangan di tengah keramaian. IH SO SWEET. Lalu permasalahan nomor dua terkait kebutuhan biologis di masa-masa terutama ketika wanita sedang mengalami ovulasi. Wanita punya masa-masa sange kayak laki kan?

Tapi siapa sangka memiliki pasangan secara instan itu tidak mungkin. Pasti ada perjalanan panjang sampai keduanya mantap. Dan yang seringkali membuat gue tidak percaya diri adalah ketika gue menemukan lelaki, tapi dia menuntut tubuh gue bukan rasa dalam diri gue a.k.a dia bukan minta status tapi tubuh untuk disetubuhi.

Alhasil, tidak pernah ada yang bertahan lama. Entah pergi begitu saja, entah gue yang memutuskan untuk meninggalkan. Ditinggalkan dan meninggalkan itu beda, tapi sakitnya sama, serius. Jadi jangan pernah membandingkan kedua hal ini, apalagi menganggap salah satu dari kedua itu brengsek, padahal engga juga.

Dan hal yang paling membuka mata gue terkait keinginan gue dan akhirnya membuat gue tabah melajang hingga detik ini (kayak setua apa aja gue) adalah karena gue (akhirnya) menganalisis apakah pacaran itu baik atau tidak.

Keuntungan memiliki pasangan sudah pernah gue jelaskan sebelumnya di sini. Bahwa memiliki pasangan itu dapat memenuhi kebutuhan akan afeksi, eksistensi dan power kamu. Afeksi terkait kasih sayang dan belaian dsb; eksistensi di mana kamu dianggap ada; dan power yang bikin kamu ada teman makan bareng, jalan bareng dsb.

Tapi ternyata di balik itu, memiliki pasangan (dalam hal ini sebut saja pacar), ngga semuanya pasti bahagia. Banyak permasalahan yang muncul dari dua sejoli yang memutuskan untuk menjalin kasih. Sekecil pertengkaran macam adu mulut sampai yang paling parah yaitu adanya kekerasan fisik (dorong-dorongan, tendang menendang, lempar-lemparan barang, dll).

Gimana ya… Semua orang itu kan beda-beda, dan menemukan orang yang cocok itu bukan perihal yang mudah. Ibarat membuat adonan roti, harus ada yang saling mengalah bentuknya demi membuat adonan yang yahut. Terigu yang semula bubuk jika harus memadatkan diri ketika bertemu telur. Telur pun harus meluruhkan bentuknya demi menyatu dengan terigu yang bubuk.

Begitu kurang lebih.

Mungkin harus ada yang mengalami perubahan ketika sudah memutuskan untuk menjalin hubungan. Untuk yang terbiasa egois, misalnya, harus meredakan keegoisannya dan menjadi pribadi yang lebih pengertian. Untuk yang biasanya jarang mandi, harus rajin mandi ketika pacarnya sensitif dengan bau ketek. Untuk yang ngga mudah percaya, harus belajar percaya. Dan banyak lagi.

Nah. Masalah muncul adalah ketika terigu yang dicampur telur tidak dapat menyatu dengan baik. Entah telurnya kurang, atau kurang air, atau kelebihan, dll.

Itu dia. Ketika kamu ngga berhasil menurunkan ego, pertengkaran itu yang terjadi. Kamu maunya pacarmu selalu perhatian, padahal mungkin pacarmu itu sedang sibuk menyusun masa depan (re: skripsi atau bisnis, atau lain-lain). Atau kamu terlalu muluk. Inginnya pacarmu selalu di sisi, padahal seharusnya ia mengembangkan dirinya di luar sana. Atau… memang tidak ada kecocokan.

Beberapa kisah yang pernah gue dengar (mungkin rasakan), banyak sekali orang yang mengeluhkan bahwa pacaran itu ndak asyik. Ada bahkan yang mengalami kekerasan (ini beneran. emang ada bukti luka lebam di tubuhnya). Ada lagi yang makan ati terus –karena –ngga pernah dapet ampela *PAANSIY*- pacarnya cuek banget, jarang ngabarin. Ada yang diselingkuhin. Ada yang diputusin dengan alasan sok bijak tau-tau mantannya itu pacaran lagi sama yang lain.

YHA. Kalau sudah begini kebutuhan tiga tadi sudah jelas ngga mungkin didapet dong ya? IYA!

OH! Ada kisah menarik yang menurut gue bisa jadi pelajaran. Bahwa ketika kamu menetapkan seseorang untuk menjadi pacar kamu, kamu juga ngga boleh lupa hidup itu ngga hanya milik berdua. Kamu punya teman yang harus kamu bahagiakan (setidaknya tidak kamu buat repot apalagi karena permasalahanmu dan pacarmu), dia pun begitu.

Ada seseorang yang menurut gue sangat tidak masuk akal sekali hidupnya (entah gue ngga bisa memaknakan kehidupannya, entah gue menuntut, entah apa). Baru saja gue sadari bahwa kerapkali gue yang berkorban untuk selalu ada buat dia, tapi bahkan sekecil dihargai pun tidak. Mungkin iya, tapi karena gue lebay jadinya gue merasa gitu. Iya ngga?

Dan di situ gue menyadari bahwa pacaran sangat tidak penting kalau itu menjauhkan dirimu dari orang terdekatmu. Temanmu mungkin lebih tahu busuk dalem-dalemnya diri kamu, hati kamu, ngga sepeti pacarmu yang hanya tahu permukaan tubuhmu (tetekmu terlalu kecil atau besar, selangkanganmu hitam, rasa bibirmu, dan semua permukaan tubuhmu).

Jangan pernah pilih antara kedua ini. Temanmu atau pacarmu. Karena keduanya punya fungsi yang berbeda. Sebut saja teman untuk kau repotkan dengan segala ceritamu perihal pacarmu yang sudah menyetubuhimu tapi dia tak paham arti berhubungan, dan sebaliknya, pacamu yang mungkin mewakili segala peran dari mulai peran tukang ojek hingga peran di ranjang.

Begitu kan?

Lalu lebih penting mana? Temanmu atau pacarmu?

Gue tidak pernah berada di posisi ini. Tapi mungkin opini ini akan membantu bagi orang yang sedang merasakan ini.

Seperti yang tadi gue bilang, bahwa kedua fungsi mereka berbeda. Sebenarnya terkait fungsi ini tergantung pada kesepakatan antara dirimu dan orang-orang bersangkutan ini. Tapi umumnya, kau bilang ia teman (atau sahabat) ketika dia mampu memenuhi kebutuhan sosialmu. Kamu butuh orang untuk mendengarkan ceritamu kan? Kamu butuh mengembangkan dirimu kan? Dan pacar umumnya adalah orang yang kamu butuhkan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih intim.

Pilihan ini sejauh mana kau menghargai keduanya.

Tentunya temanmu akan malas jika kau tiba-tiba membatalkan janji demi pertemuanmu dan pacarmu yang tiba-tiba karena pacarmu yang memintanya kan? Temanmu akan kesal ketika kau menangis di depannya ketika kau ada masalah, sedang kau berbahagia dengan pacarmu kemudian dan kau lupakan seketika temanmu kan?

Mungkin bagi orang dengan posisi “teman” akan dianggap orang pamrih dan neko-neko. AELAH KAN CUMA TEMEN. Tapi seyogyanya, harusnya orang pintar tahu ini. Bahwa teman itu jauh lebih dibutuhkan dibanding pacar.

Makanya seneng ngga sih kalau punya pacar yang juga bisa jadi temen atau temen yang tahu-tahu jadi pacar? EAAAA.

Sayangnya seringkali kita menyia-nyiakan teman ataupun sahabat kita sendiri demi kebutuhan bercinta kita. Apalagi untuk orang-orang yang sedang dimabukkan oleh cinta yang seolah-olah pacar kita adalah segalanya, padahal… orang yang katanya sangat kita cintai adalah orang yang paling bisa membuat kita menangis lho!

DAN SIALAN GUE BARU SAJA MENANGISI TEMAN GUE SENDIRI WKWK.

Balik lagi, keduanya bukan pilihan. Kamu tidak bisa memilih jalan dengan pacarmu alu melupakan temanmu, juga kamu tidak bisa memilih hangout dengan temanmu dan lupa bahwa ia sedang menanti kabarmu.

Bahwa semua harus ada porsinya, itu bener banget. Kamu harus paham kebutuhanmu, tapi jangan lupa juga kebutuhan orang yang bersangkutan denganmu.

Kalau dirasa temanmu membuat kamu menjadi orang yang negatif karena sering diajak mabok, misalnya, kamu sah sah aja tuh ninggalin dia. Sama juga dengan pacar. Kalau dia ngga bikin kamu bahagia, buat kamu menjadi orang yang ngga berkembang, jahatin kamu, ya tinggalin aja!

Jangan bodoh dalam memilih.

Karena smua orang bebas untuk memilih bahagia. Boleh aja sih ngga peduli sama yang lain, yang dulunya selalu mengisi waktu kosongmu di kelas, nemenin makan di kantin, tapi dengan cara yang bijaksana, OK?

Gue belum sempurna, setidaknya ini yang bisa gue tulis untuk menyembuhkan hati gue. Kalau itu, berteman dengan orang yang hanya menganggap gue angin lalu membuat gue celaka, lebih baik segera pergi bukan?