Yang Paling Setia

Terkadang gue berpikir bahwa gue selalu salah memilih. Pertama, memang ketahanan diri gue akan segala hal yang teratur dan sistematis itu sulit banget. Bahwa gue memang menyadari hal yang gitu-gitu aja sangat membosankan, tidak menarik, da cenderung membuat gue menjadi stress.

Gue kuliah, udah semester akhir, yang mana sekarang sedang skripsi… dan yang gue rasakan adalah ketidakinginan untuk menyelesaikan skripsi. Oke ingin. Niat sih ada. Tapi nyawa untuk bener-bener ngelakuinnya itu yang belum ada. Serius.

Dan di saat teman gue yang satu persatu mencapai apa yang ditargetkan, gue masih aja di sini diem ngga ngapa-ngapain. Karena memang gue masih belum memprioritaskan apa yang seharusnya gue prioritaskan.

Tekanan udah mulai ada sih. Tapi ya itu aneh banget gue. Sukanya mikirin hal-hal ngga penting kayak “gimana ya pendapat orang lain tentang gue?” atau “ah gue harus bantuin dia, gue akan ngeluangin waktu untuk dia segera.” atau “shit! mau the sims gue penasaran kalo manusia nikah sama vampir anaknya akan jadi apa.” atau “mau makan apa ya hari ini sampe minggu depan?”

PADAHAL.

Hal-hal tersebut itu belum sesuatu yang urgent, berbeda dengan skripsi gue. Sedih sih lihat banyak orang lebih mau tapi bahkan gue merasa nyawa gue belum pulih benar. Bukan karena literaly sakit, tapi malas. Malas untuk berpikir, malas untuk memulai. SHIT!

Seketika gue menyesal telah memilih untuk istirahat sejenak dari skripsi.

Setelah istirahat yang kelamaan itu, bikin semuanya jadi menumpuk. Mimpi-mimpi gue untuk wisuda di hari ulang tahun (well, wisuda agustus nanti di rentang 1-3 agustus sih), pikiran untuk membenahi diri dan tidak lagi memikirkan lelaki (yang ini sudah mulai memudar karena gue sadar betul gue belum membutuhkan pria, tapi sosok. ngga harus pria dengan status pacar kan?), lalu keinginan untuk menumpuk pundi-pundi uang (re: kerja), dan masalah seputar persahabatan.

AH! Juga rasa kesepian.

Bahwa tiap malam saat lampu kamar mati, yang kau pikirkan bukan “ANJIR! Draft belum dikirim.” atau “Bangsat! Alat ukur belum jadi.” atau “Tai! Gue harus mantepin teori!”

Yang gue pikirkan adalah: kenapa gue ngga bahagia ya hari ini? Kenapa gue merasa sendirian terus ya? Apa yang harus gue lakukan?

Lalu yang gue lakukan adalah merencanakan kesenangan: belanja bahan makanan lalu membuat mie goreng ekstra pedas di magic com, main the sims, liburan ke Jogja, perawatan muka, dsb.

TAPI. Untuk melakukan kesenangan itu gue harus punya modal. Anjing bahkan enyak babeh gue aja kasih duit jajan pas buat makan dan transport, coba aing ikut penelitian dosen yang effortnya ngga gede-gede amat tapi bisa dapet sampe 2,1 jt! Coba gue bisa nyanyi terus ngeband. Coba gue punya usaha.

AAKKKK!

Dan pikiran itu yang lagi-lagi berputar.

Gue sadar betul bahwa gue ngga bisa sendiri. Me time gue ya sama teman-teman yang tahu segala cerita gue (bahwa gue habis menulis kisah, kalian harus baca, dll). Me time gue yang makan sama orang lalu berkeluh kesah dan menyampaikan segala ide yang gue punya.

Gue ngga biasa pergi kemana-mana sendirian. Bukan karena gue takut. Tapi karena gue tak bisa diam berlama-lama di bus, atau sambil alan gitu, dan pelonga pelongo tanpa berkisah. Maka yang gue senang dari menghabiskan waktu adalah menumpuk memori dengan manusia lain bersama.

Gue suka menulis, tapi bukan dengan tujuan yang oke ketika menulis gue lega. Tapi untuk mendapat perhatian, untuk mendapat banyak viewers, untuk membuat mata dan hati orang lain nikmat. Karena gue ingin dilihat, memang begitu.

Dan sekarang ini gue merasa bahwa tidak ada satu manusia pun yang setia, meski gue berusaha sebisa mungkin untuk tidak pernah pergi. Sakit sih. Gue orang yang pamrih, jadi tujuan gue baik adalah agar ngga punya masalah sama orang, agar dianggap baik, agar dibalas deh segala kebaikan gue.

Tapi yang seringkali gue dapatkan adalah rasa kecewa. Ya. Kecewa adalah hal paling setia, sekarang ini. Lelaki yang gue harapkan, malah mengambil keuntungan tubuh gue, tapi untuk mencintai gue dia bahkan tidak berniat untuk itu. Sahabat yang dengan susah payah gue jaga keberadaanya di hati gue, lalu mendapatkan kehidupan lain dan lebih dipilih dibanding gue, dan begonya gue masih menerimanya di kehidupan gue, terus dia pergi lagi tanpa mengonfirmasi apapun hal yang dia lakukan ke gue.

Ini berat. Permasalahan ini berat. Gue tidak bisa menerima kejahatan yang dia lakukan, sebelum dia meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Gue ngga minta dipilih, gue ngga minta dia selalu stay buat gue. Gue hanya minta apa yang gue lakukan, yang gue rasa memengaruhi dia, paling tidak mendapat apresiasi.

Gimana rasanya kamu bela-belain hujan-hujanan padahal saat itu kamu sudah dapet kendaraan (yang akan habis jamnya, jadi kamu harus cari alternatif lain kalau ngga ada kendaraan dengan harga lebih murah ini lagi) untuk menunggu temanmu yang katanya sedang kayak orang gila saking putus asa akan kehidupan percintaannya?

Ekspektasi: turun dari bis, hujan-hujanan bentar, ada bis lagi yang di dalamnya ada orang yang membuatmu turun dari bis sebelumnya, lalu dia bercerita dan dirimu mendengarkan sambil menepuk pundaknya, mengingatkan dia bahwa ini di tempat umum, lebih baik ditahan dulu air matanya.

Tapi realitanya: kamu berdiri di bawah pohon yang kamu pun ngga tahu itu pohon apa, dan pohon itu ngga banyak membantu. Rambutmu tetap lepek kena air hujan, badanmu tetap menggigil karena baju yang basah, kakimu kotor kecipratan tanah yang bercampur air hujan, sepatumu basah, kau jadi pusat perhatian jalanan kota, kamu menunggu tanpa kabar selama 30 menit, dan kamu mendapati pesan masuk: “Lo duluan aja, kunci lo aman.”

ANJING!

Dan bodohnya kamu masih memikirkan orang itu, yang kau sebut sahabatmu. Lalu kamu menunggu lagi sampai mulai merasa mata memanas di tempat umum, dan ngga ada siapa-siapa yang kau harapkan, atau yang mungkin bisa menjadi peredamu.

Ya.

Bahwa kecewa memang dari harapan itu benar. Dan diri ini sudah berharap pada apa yang bukan menjadi prioritas. Kenapa juga masih gue pikirin?

Tapi gue tetap mikirin. Sampai malam. Sampai gue menghubungi orang yang tidak gue kenal sebelumnya, cemas, takut manusia itu kenapa-kenapa, sampai akhirnya gue mendapatkan kabar bahwa jam 8 malam tadi dia masih tertidur bersama kekasihnya.

Dan ketika kekasihnya membalas, yang gue dapatkan adalah kata macam “Lebay lu. Alay.”

Kalau berteman itu selebay itu menurutmu, pantas saja kekasihmu sendiri bilang kau adalah manusia yang paling mengharapkannya. Iya. Karena kau tak punya siapa-siapa lagi yang patut kau perjuangkan selain kekasihmu yang mau pergi itu.

Lalu yang membuat tambah kecewa adalah tidak ada satu pesan konfirmasi apapun dari manusia itu, yang telah membuat gue menunggu kemarin. Yang gue temui malah akun whatsapp diblok (gimana sih rasanya diblok akun lo sama temen sendiri?), dan tak ada satu pun pesan masuk dari line.

Sesusah itu ya ngabarin?

Gue masih positif thinking, kawan. Tapi ada batasnya. Dan gue manusia yang gampang menduga. Tapi gue cuma bisa berharap bahwa yang blok wa gue itu pacar lo, dan pesan terakhir dari lo itu juga pacar lo yang ketik. Dan ketika lo, dengan apa yang sudah gue pesankan ke lo masih mengabaikan gue, gue siap pergi. Gue siap sakit dan sembuh kemudian.

Gue siap kecewa. Karena kecewa adalah teman paling setia, maka gue harus belajar menerima dia di saat-saat memang gue harus.

 

Bingung judulnya apa. Yaudahlahya.

Gue pernah bercita-cita untuk memiliki pasangan sesegera mungkin karena dua hal: trend relationship goals dan kebutuhan jasmani gue (re: desire). Permasalahan nomor pertama terkait bagaimana diri gue gemash tiap kali melihat foto atau tulisah dengan hastag tersebut. Ngga semua sih, yang lebay dan kekanakan terutama engga banget. Tipe relationship goals yang menginspirasi gue itu kayak Endah & Resha yang bisa berkarya bareng, atau Cyntia Lamusu dan Surya Saputra yang berjuang untuk dapet buah hati bareng, atau yang sereceh foto-foto di tumblr yang cowok cewek lagi jalan-jalan terus pegangan di tengah keramaian. IH SO SWEET. Lalu permasalahan nomor dua terkait kebutuhan biologis di masa-masa terutama ketika wanita sedang mengalami ovulasi. Wanita punya masa-masa sange kayak laki kan?

Tapi siapa sangka memiliki pasangan secara instan itu tidak mungkin. Pasti ada perjalanan panjang sampai keduanya mantap. Dan yang seringkali membuat gue tidak percaya diri adalah ketika gue menemukan lelaki, tapi dia menuntut tubuh gue bukan rasa dalam diri gue a.k.a dia bukan minta status tapi tubuh untuk disetubuhi.

Alhasil, tidak pernah ada yang bertahan lama. Entah pergi begitu saja, entah gue yang memutuskan untuk meninggalkan. Ditinggalkan dan meninggalkan itu beda, tapi sakitnya sama, serius. Jadi jangan pernah membandingkan kedua hal ini, apalagi menganggap salah satu dari kedua itu brengsek, padahal engga juga.

Dan hal yang paling membuka mata gue terkait keinginan gue dan akhirnya membuat gue tabah melajang hingga detik ini (kayak setua apa aja gue) adalah karena gue (akhirnya) menganalisis apakah pacaran itu baik atau tidak.

Keuntungan memiliki pasangan sudah pernah gue jelaskan sebelumnya di sini. Bahwa memiliki pasangan itu dapat memenuhi kebutuhan akan afeksi, eksistensi dan power kamu. Afeksi terkait kasih sayang dan belaian dsb; eksistensi di mana kamu dianggap ada; dan power yang bikin kamu ada teman makan bareng, jalan bareng dsb.

Tapi ternyata di balik itu, memiliki pasangan (dalam hal ini sebut saja pacar), ngga semuanya pasti bahagia. Banyak permasalahan yang muncul dari dua sejoli yang memutuskan untuk menjalin kasih. Sekecil pertengkaran macam adu mulut sampai yang paling parah yaitu adanya kekerasan fisik (dorong-dorongan, tendang menendang, lempar-lemparan barang, dll).

Gimana ya… Semua orang itu kan beda-beda, dan menemukan orang yang cocok itu bukan perihal yang mudah. Ibarat membuat adonan roti, harus ada yang saling mengalah bentuknya demi membuat adonan yang yahut. Terigu yang semula bubuk jika harus memadatkan diri ketika bertemu telur. Telur pun harus meluruhkan bentuknya demi menyatu dengan terigu yang bubuk.

Begitu kurang lebih.

Mungkin harus ada yang mengalami perubahan ketika sudah memutuskan untuk menjalin hubungan. Untuk yang terbiasa egois, misalnya, harus meredakan keegoisannya dan menjadi pribadi yang lebih pengertian. Untuk yang biasanya jarang mandi, harus rajin mandi ketika pacarnya sensitif dengan bau ketek. Untuk yang ngga mudah percaya, harus belajar percaya. Dan banyak lagi.

Nah. Masalah muncul adalah ketika terigu yang dicampur telur tidak dapat menyatu dengan baik. Entah telurnya kurang, atau kurang air, atau kelebihan, dll.

Itu dia. Ketika kamu ngga berhasil menurunkan ego, pertengkaran itu yang terjadi. Kamu maunya pacarmu selalu perhatian, padahal mungkin pacarmu itu sedang sibuk menyusun masa depan (re: skripsi atau bisnis, atau lain-lain). Atau kamu terlalu muluk. Inginnya pacarmu selalu di sisi, padahal seharusnya ia mengembangkan dirinya di luar sana. Atau… memang tidak ada kecocokan.

Beberapa kisah yang pernah gue dengar (mungkin rasakan), banyak sekali orang yang mengeluhkan bahwa pacaran itu ndak asyik. Ada bahkan yang mengalami kekerasan (ini beneran. emang ada bukti luka lebam di tubuhnya). Ada lagi yang makan ati terus –karena –ngga pernah dapet ampela *PAANSIY*- pacarnya cuek banget, jarang ngabarin. Ada yang diselingkuhin. Ada yang diputusin dengan alasan sok bijak tau-tau mantannya itu pacaran lagi sama yang lain.

YHA. Kalau sudah begini kebutuhan tiga tadi sudah jelas ngga mungkin didapet dong ya? IYA!

OH! Ada kisah menarik yang menurut gue bisa jadi pelajaran. Bahwa ketika kamu menetapkan seseorang untuk menjadi pacar kamu, kamu juga ngga boleh lupa hidup itu ngga hanya milik berdua. Kamu punya teman yang harus kamu bahagiakan (setidaknya tidak kamu buat repot apalagi karena permasalahanmu dan pacarmu), dia pun begitu.

Ada seseorang yang menurut gue sangat tidak masuk akal sekali hidupnya (entah gue ngga bisa memaknakan kehidupannya, entah gue menuntut, entah apa). Baru saja gue sadari bahwa kerapkali gue yang berkorban untuk selalu ada buat dia, tapi bahkan sekecil dihargai pun tidak. Mungkin iya, tapi karena gue lebay jadinya gue merasa gitu. Iya ngga?

Dan di situ gue menyadari bahwa pacaran sangat tidak penting kalau itu menjauhkan dirimu dari orang terdekatmu. Temanmu mungkin lebih tahu busuk dalem-dalemnya diri kamu, hati kamu, ngga sepeti pacarmu yang hanya tahu permukaan tubuhmu (tetekmu terlalu kecil atau besar, selangkanganmu hitam, rasa bibirmu, dan semua permukaan tubuhmu).

Jangan pernah pilih antara kedua ini. Temanmu atau pacarmu. Karena keduanya punya fungsi yang berbeda. Sebut saja teman untuk kau repotkan dengan segala ceritamu perihal pacarmu yang sudah menyetubuhimu tapi dia tak paham arti berhubungan, dan sebaliknya, pacamu yang mungkin mewakili segala peran dari mulai peran tukang ojek hingga peran di ranjang.

Begitu kan?

Lalu lebih penting mana? Temanmu atau pacarmu?

Gue tidak pernah berada di posisi ini. Tapi mungkin opini ini akan membantu bagi orang yang sedang merasakan ini.

Seperti yang tadi gue bilang, bahwa kedua fungsi mereka berbeda. Sebenarnya terkait fungsi ini tergantung pada kesepakatan antara dirimu dan orang-orang bersangkutan ini. Tapi umumnya, kau bilang ia teman (atau sahabat) ketika dia mampu memenuhi kebutuhan sosialmu. Kamu butuh orang untuk mendengarkan ceritamu kan? Kamu butuh mengembangkan dirimu kan? Dan pacar umumnya adalah orang yang kamu butuhkan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih intim.

Pilihan ini sejauh mana kau menghargai keduanya.

Tentunya temanmu akan malas jika kau tiba-tiba membatalkan janji demi pertemuanmu dan pacarmu yang tiba-tiba karena pacarmu yang memintanya kan? Temanmu akan kesal ketika kau menangis di depannya ketika kau ada masalah, sedang kau berbahagia dengan pacarmu kemudian dan kau lupakan seketika temanmu kan?

Mungkin bagi orang dengan posisi “teman” akan dianggap orang pamrih dan neko-neko. AELAH KAN CUMA TEMEN. Tapi seyogyanya, harusnya orang pintar tahu ini. Bahwa teman itu jauh lebih dibutuhkan dibanding pacar.

Makanya seneng ngga sih kalau punya pacar yang juga bisa jadi temen atau temen yang tahu-tahu jadi pacar? EAAAA.

Sayangnya seringkali kita menyia-nyiakan teman ataupun sahabat kita sendiri demi kebutuhan bercinta kita. Apalagi untuk orang-orang yang sedang dimabukkan oleh cinta yang seolah-olah pacar kita adalah segalanya, padahal… orang yang katanya sangat kita cintai adalah orang yang paling bisa membuat kita menangis lho!

DAN SIALAN GUE BARU SAJA MENANGISI TEMAN GUE SENDIRI WKWK.

Balik lagi, keduanya bukan pilihan. Kamu tidak bisa memilih jalan dengan pacarmu alu melupakan temanmu, juga kamu tidak bisa memilih hangout dengan temanmu dan lupa bahwa ia sedang menanti kabarmu.

Bahwa semua harus ada porsinya, itu bener banget. Kamu harus paham kebutuhanmu, tapi jangan lupa juga kebutuhan orang yang bersangkutan denganmu.

Kalau dirasa temanmu membuat kamu menjadi orang yang negatif karena sering diajak mabok, misalnya, kamu sah sah aja tuh ninggalin dia. Sama juga dengan pacar. Kalau dia ngga bikin kamu bahagia, buat kamu menjadi orang yang ngga berkembang, jahatin kamu, ya tinggalin aja!

Jangan bodoh dalam memilih.

Karena smua orang bebas untuk memilih bahagia. Boleh aja sih ngga peduli sama yang lain, yang dulunya selalu mengisi waktu kosongmu di kelas, nemenin makan di kantin, tapi dengan cara yang bijaksana, OK?

Gue belum sempurna, setidaknya ini yang bisa gue tulis untuk menyembuhkan hati gue. Kalau itu, berteman dengan orang yang hanya menganggap gue angin lalu membuat gue celaka, lebih baik segera pergi bukan?

Pada saatnya kau akan temukan, mungkin bukan sekarang, bukan dalam waktu dekat, tapi ketika kau siap.

Mungkin perihal usia, sepi ini. Ketika yang di keliling perlahan membuat jarak, demi kebahagiaan masing-masing, demi pencapaian masing-masing. Bahwa semakin dewasa kita, semakin besar lingkup pertemanan, namun semakin sedikit yang benar-benar teman — setidaknya yang kau akui, dan ia yang mengakuimu.

Semakin dewasa, semakin kita dapat melihat makhluk lain dalam diri manusia. Bahwa manusia punya banyak muka. Untuk menutupi kesedihannya, untuk berdamai denganmu atau orang lain yang tak ia suka, untuk terlihat manis di muka umum, untuk memberi citra yang baik (baik di sini bukan selalu positif, namun tergantung lingkungan. Semisal orang yang baik di geng motor akan beda dengan orang yang baik di masjid. U know what I mean).

Semakin bertambah usia, kau pasti paham betul bahwa akan semakin banyak tuntutan. Lihat yang paling dekat saja: lulus. Bahwa untuk menjadi manusia yang katanya keren, kau harus berpengetahuan. Kenapa ngga gue bilang berpendidikan? Karena banyak mereka yang berpendidikan tapi tak berpengetahuan. Oleh sebab itu kuliahmu penting jika itu dapat membantumu di masa depan. Bukan gelar. Persetan gelar. Dalam dunia kerja, percayalah bukan itu yang dilihat, tapi bagaimana kau menyikapi apa yang ada di depan matamu, bagaimana kau belajar dari kesalahan dan mengambil kesempatan dengan bijak.

Menurut gue, sikap adalah determinan terpenting dalam menentukan kesuksesan seseorang. Gue sudah sedikit membuktikannya. Bahwa tidak penting muka mulus, otak encer, tapi sikapmu pada dunia negatif.

Begini.

Gue banyak mendapat kesempatan hanya karena sikap gue positif terhadap apa yang gue jalani. Dari mulai ke orang lain, hingga ke pekerjaan yang dilakukan. Gue banyak menemukan manusia baik (entah di balik itu gimana, tapi dengan gue yang berpikiran positif, merasakan dampak baik dari orang itu).

Ada dua orang signifikan yang menurut gue akan menjadi kunci sukses gue saat ini dan ke depan. Keduanya sama-sama memberikan banyak kesempatan. Pertama relasi, yang mana teman mereka bejubel dan boleh dibilang orang yang sudah lebih sukses dari gue, lalu pikiran matang yang sangat memberi gue motivasi (terutama menanamkan rasa percaya diri gue, bahwa tiap orang berbeda, dan ngga boleh kamu iri dengan kesuksesan orang lain), lalu asupan gizi lewat hal sekecil traktiran makan hingga kesempatan mendapatkan gaji sendiri (well, yang gaji ini masih belum tapi semoga akan).

Di jaman modern ini, di umur yang menginjak 20 lebih, di mana emosi memang sedang fluktuatif, ngga diduga, gue sangat sadar bahwa gue butuh waktu untuk terbiasa. Terbiasa sendiri kemana-mana, terbiasa mengerjakan pekerjaan kuliah sendirian (well, gue sangat banyak memanfaatkan sohib gue dulu), terbiasa tidak melakukan hal yang biasa dilakukan seperti bersosialisasi, dsb.

Bahkan gue harus terbiasa memaafkan. Bahwa yang meninggalkan itu cepat atau lambat pasti akan. Bedanya, yang ini datang melalui ketiba-tibaan dan gue belum menyiapkan apa-apa sekecil mempersiapkan mental untuk ditolak ketika ngajak jalan. Dan hal ini sangat mengguncang.

Bukan hanya gue, gue yakin semua manusia mengalami fase ini. Bahwa keberadaan diri kita pertanyakan. Apa pentingnya gue buat orang lain? Kenapa gue menganggap dia penting tapi kok dia kayak engga? DSB.

Itu wajar. Karena di umur 20an memang masa-masa kita mulai fokus akan tujuan masa depan. Dan tujuan orang beda-beda. Gue mau A, yang lain bisa jadi pilih B C D dan seterusnya. Maka beruntunglah Anda jika mendapatkan teman dengan tujuan sama. Tapi jangan bangga jika kau dapatkan mereka tapi kau tidak tahu cara yang benar untuk meninggalkan.

Ah. Balik lagi ke sikap.

Sejujurnya gue sedang berada di fase terburuk gue. Fase dengan tidur terbanyak dan merasa tidak bahagia terbanyak. Jadi kalau kata-katanya ngga sinkron harap maklum.

Lanjut.

Di umur 20an ini gue sudah merasakan banyak hal — setidaknya yang pernah gue alami, bukan yang idealnya harus orang alami). Dari mulai perasaan kehilangan teman hingga kehilangan beneran atau gue yang memutuskan untuk menghilang, sampai bertemu orang yang hanya tahu ena-ena saja tapi tak tahu makna bahwa manusia butuh bukan hanya sekedar hubungan kelamin, tapi (yang katanya) hubungan percintaan.

Di umur ini gue akui umur ternakal gue. Dari coba rokok (yang dulunya gue pernah declare ke diri gue sendiri kalau gue ngga akan ngerokok karena itu ngga penting), sampai hal terburuk yang kalo kata ulama sih gue harus mensucikan diri gue dengan mandi besar karena penuh najis (tapi kalo ini sih gue ngga pernah mendeklarasikan diri untuk engga, malahan sebaliknya, ketika gue dan mantan teman gue malem-malem lihat kitab kamasutra jaman dulu banget HAHA).

Tapi gue tidak menyesal.

Karena di umur segini gue juga harus mengeksplorasi banyak hal. Dari mulai jalanan kota yang nantinya akan menemani keseharian gue, hingga tubuh lelaki yang nantinya akan membantu gue dalam memilih ia yang tepat.

Dan disitu gue percaya, dari hal ternegatif yang kita lakukan pasti ada hikmahnya. Dari rokok, misalnya, gue banyak dapet cerita batin seseorang yang mengarahkan gue pada kelas sosial yang tidak menuntut gue untuk bersikap individualis. Asal kamu tahu, rokok itu bisa menjadi perantara bersosialisasi di semua kalangan. Penikmat rokok tahu pasti ini.

Terus pergi ke tempat dugem dan minum dan joget di dance floor. Dari situ gue tahu bahwa untuk kenal dengan seseorang ngga susah. Tinggal saling bagi minuman aja, dapet kenalan deh. Dan yang penting lagi, gue tahu pria yang punya mental melindungi wanita tuh yang kayak gimana (re: kayak kakak gue satu itu  yang ngajakin dugem karena mau kobam tapi  ngga jadi karena gue keburu teler haha).

Terus, terhitung main sama lima pria berbeda dalam kurun waktu kurang dari setahun. Dan dari situ gue tahu lima tipe lelaki buruk yang tidak harus gue pilih. Dari situ gue tahu bahwa cinta dan seks beda. Seperti kata kenalan gue dari USA, bahwa “kamu bisa bersetubuh dengan siapa saja, tapi kamu tak bisa mencintai semua orang yang pernah bersetubuh denganmu”. Maka cinta itu beda, bukan perihal kelaminmu yang bahagia ketika bertemu kelamin lain.

Semua ada hikmahnya deh.

Dan satu lagi perihal mengganjal, yang membuat gue susah tidur tapi sekalinya tidur bisa sampai 12 jam lebih. Yaitu perihal jodoh.

Gue ngga sabaran banget orangnya kalau soal ini. Gue pengen buru-buru dapet pacar, dapet pasangan yang bisa nemenin jalan, nemein makan, apapun. Sampai di perjalanan mencari jodoh ini, gue menemukan lima pria yang gue berharap justru jodoh gue bukan salah satu dari mereka.

Karena pada dasarnya gue belum siap. Gue bukan seperti (mungkin) kebanyakan orang yang mau menghindari zina maka gue harus segera menikah padahal itu membatasi gerak gue nantinya. Gue masih sulit percaya orang lain kalau itu kasusnya membawa nama cinta dan kasih sayang (re: gue ngga percaya kata-kata gombal cuih). Gue masih belum bisa menata kamar gue, apalagi diri gue sendiri.

Dan gue masih belum bisa berdamai dengan banyak hal.

Skripsi gue (yang di depan mata), teman gue yang gue pikir meninggalkan gue, keluarga gue, dan banyak. Dan gue belum dikasih kesempatan oleh Tuhan untuk menemukan yang tepat karena gue belum siap. Tapi Tuhan masih baik, karena membiarkan gue bertemu dengan lelaki yang boleh dibilang pecinta kelamin wanita. Tau lah seperti apa. Dan seperti yang tadi gue bilang, bahwa dari situ gue banyak belajar.

Pada saatnya nanti, katanya sih (dan gue percaya juga) kalau akhirnya gue akan menemukan orang yang serius, orang yang sama-sama mau belajar, orang yang sama-sama sudah berdamai dengan masa lalu, dan yang paling penting orang yang mau nerima gue se-rusak-rusaknya gue.

Tapi ya gitu. Gue juga ngga akan muluk meminta ia yang sempurna secara umum (kaya, bersih dari nikotin dan alkohol, dll). Karena gue percaya betul kata teman gue bahwa, “emang bener sih jodoh kita ya cerminan diri. kayak aku sama pacarku, okelah kita udah pernah ciuman dan segala rupa, tapi itu aku yakin karena kita juga udah pernah ngelakuin itu sama pasangan kita sebelumnya.”

Itu esensi memantaskan diri menurut gue.

Memang iya, untuk mendapatkan yang juga pantas yang mungkin dinilai masih orisinil lah maka kita menjaga betul originalitas diri. Tapi tenang aja.  Orang bejat pasti juga dapet jodoh kok. Cuman ya… jangan muluk aja mintanya yang ngga bejat HAHA. Yakeleus maneh ngeroko tapi minta pasangan maneh jangan ngeroko. Cewek yang ngga ngerokok juga maunya sama cowok yang mulutnya wangi mint kali!

Udah ah.

Sekali lagi, yang sejujurnya ingin gue sampaikan, mohon maaf, bukan perbuatan negatif itu harus dilakukan biar kita belajar, tapi please, perbuatan positif atau negatif apapun yang kita lakukan, kita harus tahu alasannya dan bisa ambil hikmahnya.

Terus…..

Percaya aja. Pada saatnya nanti kita pasti akan temukan apapun yang kita cari. Mungkin bukan sekarang atau lusa, tapi nanti di saat kita benar-benar siap. Karena Dzat yang ngga pernah kita tahu dia ada di mana lah yang lebih tahu semua tentang diri kita dibanding diri kita sendiri.

So, jangan muluk lah. Jalani aja dulu 😉

.

.

.

Regards,

❤ ARTP

Membuat Jarak

Belum genap dua bulan pertemuan, sudah jatuh air mata.

Dibuat di canva.com

Apa kabar kisah cintamu hari ini, Rana?

Terima kasih atas pertanyaannya, diri sendiri!

Mulai dari mana enaknya?

Dari membuat jarak?

Baiklah. Kita beri judul kisah ini dengan “Membuat Jarak” saja kalau  begitu.

***

Belum genap dua bulan pertemuan, sudah jatuh air mata. Mungkin itu karena aku yang terlalu berharap pada angin. Bagaimana tidak? Angin cuma lewat. Menetap terus pun tidak akan membuat nyaman, bukan?

Ya. Begitu dia.

Sudah aku prediksi, sejak pertemuan pertama, bahwa lebih baik memang tak pernah ada sentuh itu, kecupan itu, apalagi bekas maninya di atas tubuhku.

Benar sekali. Sudah kuceritakan bukan?

Maninya siang itu, –terakhir kali kami berjumpa hingga kuputuskan untuk membuat jarak, dan benar-benar pergi akhirnya? -yang muncrat dua kali ke bagian tubuhku. Wajahku yang tidak mulus, kemudian perutku yang tidak rata.

Ketika itu kutahu. Ia pun jijik padaku. Entah. Jijik karena air maninya, atau benar-benar karenaku, atau keduanya.

Dia tidak mau menikmati lagi tubuhku yang penuh cairan bau menjijikan itu. Sudah pernah kau cium baunya? Aku sudah, bahkan di hari pertama kaki kita saling bertautan. Bau, asal kau tahu. Jauh lebih baik kucium dan  bersihkan pipis kucing dibanding cairan bangsat itu.

Akupun semakin sadar, bahwa kata puas lah yang ia cari, bukan kekasih, bukan teman hidup, bukan tempat cerita, tapi tempat ia muncratkan maninya.

Aku jadi ingat analogi tong sampah, kata dosenku.

Begini.

Wanita itu, sebut saja seperti tong sampah bagi lelaki, tempat ia membuang hasrat bercinta yang ditandai lewat air maninya itu, ke lubang milik wanita. Dan itu berbekas. Masuk ke tiap inci tubuh wanita. Sedang lelaki? Benar. Pembuang limbah sperma terbesar ke liang suci wanita.

See?

Jangan disamakan dengan lelaki atau wanita yang sudah menikah dan membuang sampah ke rumah sendiri, ya?

Karena aku belum menikah dengannya, pun tidak berencana menikah dengannya. Maka kau boleh sebut aku tong sampah itu.

Ya memang. Aku merasa menjadi seperti tong sampah. Setiap inci tubuhku bau. Lengket. Aku pun tak ingin bernapas, saking tak tahan akan penghinaan terbesar itu. Bajingan!

Aku sadar kemudian. Menjadi tong sampah tidak membuat bahagia, malah semakin membuatku merasa hina. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membuat jarak dengan tidak menghubunginya, apalagi memikirkannya –meski yang ini sulit.

Dan aku berhasil, sudah seminggu. Ditambah lagi lelaki penghasil limbah bangsat itu tak lagi menghubungiku, bahkan untuk bertegur sapa, apalagi menanyakan kabar. Haha. Kuharap ia mati berendam mani busuknya itu.

Dan seperti biasa, hilangnya ia, misi membuat jarak ini tidak akan berhasil tanpa satu hal: “menemukan lelaki lain” –yang kuharap bukan lelaki yang hanya mencari tong sampah.

Dan tebak apa?

Mungkin aku sudah menemukannya.

Hingga nanti kuputuskan, apakah aku akan bersedia menjadi tong sampah pilihannya, atau ia yang bersedia meletakkan sisa-sisa pertahanan dirinya sebagai jaminan bahwa aku dan ia akan berjalan bersama kemudian.

.

.

.

Salam,

Agnicia Rana.

Sendiri Mengayuh

stay in bed. (3)

Dibuat di canva.com

Waktu itu, di awal bulan april. Ada harapan bahwa aku dan kamu akan menjadi kita. Namun nampaknya aku terlalu muluk. Menginginkanmu tanpa tahu malu. Tanpa pertimbangan, hingga diujung nanti kuprediksi akan sakit lagi.

Aku menemukanmu di antara belai rindu yang berkecamuk, menyisir tubuhku hingga letih dirasa. Lalu ada kau, yang mengisi kekosongan hingga penuh bahkan sampai mencuat kemana-mana.

Pertama pada otakku, yang kau sapu segere rindu, kau gantikan dengan pesonamu. Lalu hatiku, yang rindu dikasihi.

Aku lemah dalam hal ini, sungguh. Aku lemah dalam membatasi diriku sendiri, untuk memaknakan cinta, apalagi. Aku belum sepenuhnya mengerti mana kesepian mana cinta, maka ketika kau hilang seketika aku menjadi tidak waras.

Aku menangisi malam, bahkan mengadu pada bulan.

Mengapa hati ini begitu kosong tanpamu?

Tanpamu yang bahkan terlihat tak pernah peduli. Pada kabarku, pada kegiatanku, pada perasaanku. Yang kau rindukan dari diriku hanya tubuhku yang mampu memuaskanmu. Yang kau inginkan dariku bukan aku, namun tubuhku, kepatuhanku.

Lalu mengapa tak kutinggalkan saja kau?

Padahal denganmu tak kudapatkan begitu banyak pujian, pun kata-kata cinta. Kau datang hanya ketika kau butuh. Selebihnya kau sibuk dengan urusanmu, dan perempuan-perempuan yang katamu membantu pekerjaanmu.

Lalu apa aku dalam hatimu?

Teman? Teman macam apa yang begitu senang kau lihat tanpa pakaian?

Kekasih? Kekasih macam apa yang kau tinggali ketika kelaminmu sudah lemas terkulai saking puasnya?

Apa posisiku di hatimu?

Ah, pertemuan kita masih belum terhitung lama ya, Mas?

Tapi begitu banyak hal yang berubah pada diriku. Perasaanku, bagian tubuhku, keinginanku akan cinta dan kau, tingkah laku, akal sehat.. banyak. Pernahkah kau sadari efek kedatanganmu sebesar itu?

Dan kau bilang kita masih teman… Ya. Sebutlah teman yang lebih dari teman.

Maaf. Apa aku terlihat tidak sabar?

Lebih sabar mana.. aku yang menangisimu namun tetap memaafkan perlakuanmu yang konyol padaku (sesimple tidak menanggapi pesanku yang begitu panjang dan tulus sambil meraba keberadaanmu), atau kau yang dengan sigapnya melucuti pakaianmu dan aku padahal kubilang, please lima menit lagi?

Aku tak minta kau bubuhi status pada diriku segera. Aku hanya minta penghargaan darimu yang tulus, sekecil memperlihatkan keingintahuanmu padaku, merespon apa yang kuceritakan, menghargai apa yang kuingin dan tidak…

Bisakah kau?

Atau selamanya aku akan letih karena sendiri mengayuh? Sendiri memperjuangkanmu? Karena pergi pun aku sudah tak mampu.

Tell Me. How To Put Out Your Hates and Being Normal As Usual.

I still confusing many things, really. Being alone is killing me softly (Re: The Fudges and ah I can’t remembered). Missing someone closed is very sucks like you wanna sleep but you can’t cause your stomatchahe so you felt uncomfort all the night.

Tell me. How can this feeling happened, when you decided to go and never coma back, then you miss the moment, the people, the life you wanna leave for?

I remembered how affections and helps comes, then I laughed, I felt lovely, I’m happy, I’m sad, then I laughed again, I felt so in love again, and yay… making friends, socialize, set friends as bestfriends… are… such a pleasure.

People heard you…

Then make some advices…

You did what people said to you because you think you’ll better then…

Surrounded by your best friends laughs, humors, stupidities, smiles, stories…

You will miss those things already, right? When you decided to leave and you remembered the moments?

I will. I do.

So. Tell me, please.

How to put out your hates and set your face, your heart, your brain, to forget it, and being normal as usual?

Cause a few second ago I realized.. that I won’t leave people who made me smile, my best friends. I need them, idk they need me or not, but I don’t care. 

So, tell me, please. What should I do then?

Tanpa Cinta, Puas Kelamin Percuma

Aku mencari cukup lama, bahkan sangat lama. Sampai akhirnya aku sadar bahwa bukan kepuasan di selangkang yang kucari.

Jika hanya mencari kata puas secara biologis, aku akan bangga sudah tak perawan, dan akan kulakukan terus seminggu sekali secara rutin. Ya. Bersetubuh dengan siapa saja yang mau.

Jika hanya mencari kepuasan kelamin, aku tak akan pusing bagaimana cara memanjakan pikiranku dari hal terburuk seperti ditinggalkan. Tak apa ia yang menyetubuhiku tak setia. Toh hanya nikmat di bawah perut yang kucari. Tak apa ia dengan yang lain. Toh tanpanya aku bisa cari pria lain yang juga bisa membuat kelaminku tertawa lebar.

Jika hanya mencari kepuasan lahir, aku akan senang bertemu dengan lelaki yang paham betul bagian mana yang harus disentuh hingga membuatku melayang ke kahyangan. Tak peduli buruk rupanya, tak peduli betapa kasar dia saat menautkan jarinya di tubuhku bagian manapun, aku akan menikmatinya.

***

Aku tak menyadari apa yang sebenarnya kucari hingga beberapa malam lalu.

Awalnya kupikir aku akan menikmati permainan itu. Berburu napas sambil menautkan kaki satu sama lain. Mengesap bagian tubuh satu sama lain hingga kenikmatan di ubun-ubun terasa.

Ternyata tidak, hingga kurasakan sakit dan kutemukan diriku sadar sepenuhnya. Hingga kutemukan satu bayang yang selalu mengisi mimpiku di tiap awal tahun. Bayangan sesosok pria itu yang muncul di kepalaku ketika bermain dengan tiga pria lain.

Kau.

Yang pernah mengambil hatiku, lima tahun yang lalu. Kupikir rasa ini akan menghilang seiring berjalannya waktu, seiring aku bertemu dengan banyak pria di kota tempatku menimba ilmu, seiring hujan rintik yang sering menemaniku tidur…

Tapi tidak.

Bertemu dengan yang baru tidak membuatku lupa.

***

Padamu, lagi-lagi aku akan bercerita.

Pria pertama, di bulan oktober.

Dia, pria pertama yang mampir di bibir. Yang bahkan begitu menoreh luka di hatiku kemudian. Aku tak merasa apapun hingga aku mencoba melepasmu dari anganku. Kau tahu? Dia ciuman pertamaku, dan hingga kejadian itu terjadi, bayangmu yang ada. Sungguh. Bukan rasa kopi di bibirnya. Bukan bau asap rokok di rambutnya. Bukan kumis tipisnya, apalagi kacamatanya.

Tapi kau.

Bersamanya, waktu terasa melambat. Aku menikmati sore itu dengan tergesa. Aku tak ingin momen bersamanya hanya terjadi di hari yang sama kami bertemu pertama kali. Aku ingin memperpanjang waktu dengannya, membuat permainan yang sedari awal ini serius tetap berjalan di sepanjang koridor kenormalan.

PDKT, jadian, baru ciuman dan hal semacamya.

Namun aku salah prediksi. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia pergi di hari yang sama sesaat setelah kami bertemu, dan hingga sekarang tak kembali.

Kuharap dia mati tersedak bubuk kopi atau abu rokok.

Pria kedua, di awal desember.

Dia, pria bodoh dan penakut. Dia percaya bahwa Tuhan akan menghukum dirinya segera, setelah kami berdua menghabiskan waktu di kamar kos selama dua jam. Kelihaiannya hanya sebatas ujung jari.

Aku wanita pertama baginya.

Susah mati aku membuatnya melayang.

Dan aku terbangun segera.

Hei, kau masih di sana, seperti melihatku. Lagi. Aku berpikir lagi mengenai perasaanmu jika kau tahu apa yang kulakukan dengan pria lain? HA. Memang kau siapa? Aku siapamu?

Pria ketiga, di akhir januari.

Tipe pria ini paling menakutkan. Dia secara terang-terangan mencari kebutuhan kelamin.

Malam itu, akhirnya aku menyetujui pertemuan kedua. Ya. Kami pernah bertemu, pertama kali di bulan sebelum oktober, sebelum bertemu lelaki pertama. Tidak cuma-cuma, ia datang dengan banyak persiapan. Tidak. Kami menyiapkan semua bersama.

Rokok, anggur, kacang, ait putih…

Kami menikmati malam sesuka hati. Aku merokok sambil menerawang, dia sambil memainkan gawainya yang selalu dipegang di setiap kesempatan. Kebutuhannya bukan untuk mengetahui apa mauku, bukan aku sebagai subjek, tapi objek bahagianya malam itu.

Kupikir ini akan segera berakhir. Nyatanya tidak. Membosankan, demi apapun.

Anggur pertama kuteguk dengan mantap, dia menyusul. Kami bergantian meneguk hingga habis satu botol. Aku mengantuk, tapi tak ingin tidur. Katanya aku mabuk, karena terlalu banyak bicara. Dia meladeni seadanya. Tak ada perasaan apapun.

Kami bercumbu kemudian.

Ini terlalu cepat, lagi-lagi kau di pikirku. Kami mengakhiri ronde pertama kemudian, lalu sambil tidur menatap langit-langit aku bercerita tentangmu. Ha. Saat setengah sadarpun kau yang dipikir.

Aku bersalah, telah melakukannya karenamu. Bukan karena diriku yang sedikit lagi akan hancur. Bukan karena selaput daraku yang utuh yang coba ia bobol. Tapi kau.

Ajaib.

Malamku lagi-lagi tak terpuaskan.

Mungkin juga untuknya.

***

Aku berbicara padamu meski kutak yakin kau mau mendengarkan. Tidak ada yang mau mendengarkanku selain diriku sendiri bukan? Kebanyakan hanya bersimpati, bukan benar-benar merasakan. Jikapun ada, aku tak ingin menyama-nyamai. Dalam hidup, seseorang punya kisah dramatisnya sendiri.

Dan bagiku, itu kau. Kisahku yang dramatis berjudul “Kau”.

Seberapa kucoba melupakan, bahkan dibantu yang lain, aku tak bisa. Seberapa kuingin hancur, aku tak bisa.

Karena aku sadar, yang kubutuh bukan rokok, bukan anggur, apalagi titit.

Aku butuh sosok.