Dan, Mana Etikamu?

Pelacur saja dibayar. Pelacur saja dapatkan sesuatu dari apa yang ia beri. Lalu aku apa? Apa nama untuk wanita yang melacur namun tak dibayar?

Aku lebih hina dari wanita yang tak dibayar, kau tahu?

Mereka bisa hidup dengan receh yang mereka dapat. Sedang aku tidak, malah sebaliknya. Menghabiskan uang untuk membeli rokok, lalu menghirupnya hingga mual… entah berapa tahun lagi aku akan hidup.

Bahkan jika aku mati pun aku tak punya bekal apapun selain dosa yang kutenteng di pundak. Mungkin di alam sana nanti dosaku akan menjelma parang yang menancap di kelamin saking dulu aku pernah menikmati batang selangkanganmu.

Bahkan untuk melupamu aku relakan kelaminku dimasuki oleh sembarang kelamin yang ada. Tak dapat aku bayangkan kalau penyakit mematikan datang padaku. Lagi-lagi aku tak punya bekal. Dan kau biarkan saja aku mati perlahan sedang aku selalu tak pernah siap untuk mati.

Abdan yang terhormat.

Aku membencimu demi apapun. Aku benci ketika kau hanya datang, dan dalam pesan itu yang kau tanya pertama kali adalah keberadaanku, seolah kakimu siap melangkah ke tempatku ada detik itu juga. Seolah keberadaanku dapat melemaskan kelaminmu yang tegang.

Lalu ketika jawaban tidak sesuai, kau menghilang lagi. Seolah mencari yang lebih potensial yang bisa kau setubuhi detik itu juga.

Di mana etikamu?

Kita sama-sama butuh kelamin, Abdan.

Maka gunakan etikamu–oke kecuali memang kau tak pernah diajarkan untuk itu. Pelacur pun dapat penghargaan. Ia dibayar. Sedang aku apa namanya?

Aku bukan wanita yang kau bayar untuk melemaskan kelaminmu, tapi kau perlakukan aku semaumu. Datang ketika butuh, pergi tanpa mengucap salam perpisahan, lalu menghilang. Lalu kau ulangi lagi bulan depannya.

Apa aku ini, Dan?

Aku pun membenci temanku, sahabatku sendiri yang tak punya etika begini. Datang ketika butuh, senang ia di tempat lain. Lalu aku bersusah payah terlepas dari rasa kecewa, hingga aku lakukan apa yang kusuka–menyakiti diri sendiri.

Apalagi pada kau, orang asing yang kubiarkan masuk. Aku membiarkan orang asing menghinaku. Kurang hina apa aku, Dan?

Abdan, aku merindukamu, demi apapun.

Aku rindukan malam-malam kita bersama, melakukan apa yang kita berdua suka. Aku rindu kecupanmu yang datang berkali-kali. Aku rindu kau belai rambutku yang tak panjang. Aku rindukan lenganmu yang kau serahkan begitu saja untuk jadi bantal malamku. Aku rindu ucapan selamat pagi darimu. Aku rindu kau panggil sayang.

Maka tak bisa kah kau menghargaiku sebagai orang yang menyayangimu?

Sampai aku mau mati, Abdan, aku merindukanmu dan menangis tiap malam berharap dikasihani bulan. Sampai aku mau mati, Dan, terisak di bawah bantal, sambil mengapit tanganku dengan selangkangan, berharap ditemani angin malam. an aku takut untuk itu.

Iya. Ada bulan dan angin. Namun aku tetap kesepian, Dan.

Maka tolong beretikalah sedikit. Sedikit, saja. Lakukan ini untukku.

Please, demi aku.

.

.

Dari wanita yang hampir mati diguyur rasa iba pada diri sendiri.

Advertisements

Mimpi (terlanjur) Basah

7808f4a5235a3dd62bcff70d020bcbf8

Source: pinterest.

Namaku rindu, yang berlabuh pada malam hari di kepala bocah yang lama tak diisi cinta. Maka ia sangat senang ketika aku datang dalam tidurnya yang damai. Silahkan rasakan nikmatnya bersetubuh dengan yang kau cinta, aku akan memberimu waktu barang satu malam–waktu untuk kau berdua dengannya.

Maka aku munculkan bayang lelaki terakhir yang ia setubuhi. Penuh dengan gurat bahagia, wajahnya di malam yang gelap itu. Gerakan di selangkangan membuat kelaminnya kedutan bukan main. Ia suka dirasuki kelamin lelaki.

Kemudian ia tersadar, bahwa wajah lelaki di atasnya telah berubah menjadi wajah datar lelaki berkacamata yang ia kenal. Tak lupa dengan kumis tipis dan gigi gingsulnya.

Maka aku biarkan ia terbangun, masih dengan nama lelaki yang ia sukai sejak hampir enam tahun terakhir, dan masih kubiarkan kelaminnya kedutan membuat ia memeluk tangannya sendiri di antara selangkangannya.

Ia tersadar. Kenyataan kembali. Bahwa yang tadi itu mimpi, dan tak pernah ada lelaki di atas ranjang yang ia tiduri. Ia bermimpi. Mimpi yang telanjur membasahi tubuh dan isi kepalanya denganku–rasa rindu.

Aku belum puas.

Dua malam setelahnya aku kembali merasuk ke dalam mimpi perempuan kasihan ini. Dengan bayang-bayang kehilangan yang lebih jelas. Aku membuatnya mendengar kabar bahwa kekasih hatinya –yang ia sukai sejak lima tahun terakhir- mati karena kelelahan.

Ia tak begitu percaya, namun ia sesak juga. Ia menangis ketika menemui kawan-kawannya yang mengatakan kebenaran kematian kekasih hatinya.

Ia bersedih, sesak, seperti ada benda yang menekan kerongkongannya. Dan ia terbangun, dengan mata terbuka lebar. Beberapa menit kemudian ia menyadari bahwa itu hanya mimpi. Kehilangan itu hanya bunga tidur.

Lagi-lagi aku berhasil datang menghantui kepala dan hatinya. Mau kau tolak pun, aku akan tetap datang, bahkan semakin menjadi. Karena aku adalah rindu yang tanpa kau sadari ada dalam benakmu. Maka mau kau usir aku dengan cara apapun, itu tak akan berhasil.

Selamat menikmati mimpi yang terlanjur membuatku datang, hai perempuan kasihan!

Dari rindu,

yang bergumul dalam benakmu sejak lama.

Hari Terakhir Di 2017

Gue kembali mengingat-ingat memori lampau yang mengesankan. Perihal hari terakhir di akhir tahun. Ya. Temanya agak nostalgia gitu, lah, mengingat hati sedang getir karena harus menghabiskan akhir tahun seorang diri–sama anak-anak sih sebetulnya. Ini sepertinya fix banget sih.

Gue tidak pulang ke rumah, melihat berbagai pertimbangan. Dan pertimbangan yang paling mendasar adalah karena bingung anak-anak mau dititip ke siapa. Fyi, gue punya dua anak yang masih kecil-kecil, namanya Kimi dan Tuma. Kimi baru berumur sekitar 3 bulan lebih, sedang Tuma masih lebih kecil lagi. Lain waktu gue akan cerita tentang mereka.

Oh, GOD gue menyesal tidak pulang.

Tadinya gue masih positif bahwa mungkin akan ada keajaiban di malam pergantian tahun ini karena yap… setelah nanya ke beberapa teman, ada yang ngga pulang dan sangat memungkinkan sekali janjian.

Ditambah, teman gue yang dari Kalimantan katanya akan merayakan tahun baru di Bandung. Eh, dia malah tobat–if you know what I mean.

Jadi intinya, setelah perencanaan yang tidak matang, karena hanya ada di kepala gue, namun sepertinya tidak selaras dengan isi kepala yang lain, beberapa planning–dengan orang-orang yang berbeda gagal.

HELL! This is the most. BAD. new years eve. ever. I swear.

Dua tahun lalu gue tidak pulang karena baru dapat tiket bis tanggal 2 januari, lalu h-2 sebelum malam tahun baru gue menulis perihal kegundahan, dan akhirnya ada teman yang baik hati, yang mengajak gue pergi ke Bukit Bintang bersama dia dan teman-temannya yang lain. Ya Allah baik banget kamu, ndak seperti teman-temanku yang kejam sekarang 🙂

Kalau ingat malam itu, gue amazed banget sumpah karena yay itu pengalaman melihat kembang api terindah DARI ATAS BUKIT tau nggak? Sumpah indah banget. Gue masih ingat betul pemandangan yang gue lihat dari sana. Dan seketika gue merasa mendapat berkah yang melimpah, demi apapun.

Tahun lalu gue merayakan tahun baru di rumah, bersama orang tua, adik, om dan tante, dengan bakar-bakaran kecil di teras rumah. Gue merasa dapat berkah juga, demi apapun, karena gue rasa itu moment pertama gue tahun baruan bareng keluarga di Pemalang, meski ya… ngga banyak dan ngga heboh juga. Tapi gue beruntung, karena bisa menghabiskan waktu bersama manusia lain.

Bertahun-tahun sebelumnya, lebih tepatnya ketika gue masih di Bekasi pun begitu menyenangkan. Gue lupa di tahun berapa, yang jelas gue sudah mulai pintar. Makan sendiri, berbicara, main games… dan bisa dengan jelasnya mengingat.

Bahwa kurang lebih mungkin dua atau tiga tahun berturut-turut–waktu itu, gue menghabiskan pergantian tahun bersama sanak saudara dari papa. Di rumah bengkel di Bekasi. Bikin mie ayam bakso yang super enak dan bikin pengen nambah terus, makan rendang pedas yang super duper bikin bahagia… Main kartu, lalu yang kalah dikasih bedak di mukanya… main rugrats di PS. Menghitung mundur waktu, lalu tiup terompet bareng.

God. I missed that time.

Gue satu keluarga memang tidak terlalu suka jalan-jalan. Perjalanan terjauh kami pun sampai saat ini cuma sampai Pemalang aja. Semarang ngga pernah, jogja juga, bali apalagi. Kalau di Bekasi pun paling banter jalan-jalan ke Dufan.

Bukan apa-apa, mungkin kedua orang tua kami malas travelling mengingat perlu banyak yang dipersiapkan. Pun persoalan tahun baru, kami ngga pernah tuh rasa-rasanya keluar kandang. Papa hanya libur satu atau dua hari, lalu bengkel buka lagi.

Begitu terus.

Tapi gue ndak pernah protes. Gue menikmatinya. Gue pengen terus-terusan balik ke ancol, ke seaworld, pun mall-mall yang setiap minggu kita kunjungi. Gue tidak pernah ingin tahu, pun mencari tempat liburan lain.

Maka gue bahagia saja menikmati malam pergantian tahun baru sambil makan dan ngakak. Seriously. Demi apapun.

Fuck I missed that time so much. 

But everything has changed. Life was turned.

Dan di sini gue sekarang. Pagi-pagi buta menatap layar laptop sambil memencet tuts dan berdatanganlah perasaan-perasaan negatif–marah, sedih, menyesal, kesepian, like literally aaaalll oooff negative feelings.

Damn.

Yasudah. Mungkin memang ini takdir gue. Apa yang harus gue jalani. Dan kalau memang harus menghabiskan waktu sendirian–pada akhirnya, gue akan beli nasi kucing dan lauknya yang banyak, lalu makan tanpa dosa, setelah itu mengerjakan skripsi bagian pembahasan minimal sampai dapat tiga lembar!

I dare myself to do positive things in new year’s eve.

Bismillah…..

Rangkuman 30 Hari Patah Hati

8f08ce3e90657d096373ad1278eb67a3

Source: pinterest.

#30HariPatahHati

Tagar itu yang menjadi inspirasi, entah dari mana. Yang jelas, aku –dan sebetulnya teman dekatku bercita-cita ingin membuat sebuah proyek–yang sampai detik ini belum ada kelanjutannya karena sepertinya kami berdua tidak diciptakan untuk menjadi rekan kerja.

Jadi biarkanlah aku patenkan saja proyek ini–yang bertujuan sebagai cara untuk menyembuhkan diri dari luka- untuk diriku sendiri. Ah, sudah berapa kali kau terluka, Rana? 

Sudah lebih dari 30 hari, tepatnya–dan aku tahu ini bukan jawaban untuk pertanyaan di atas. Ketika hati itu benar-benar jatuh dan hancur, dan darah yang keluar bersama remukan-remukan kehancuran itu hilang seketika dibawa lalat yang terbang setelahnya. Bahwa patah hati itu tidak terasa, kecuali benar-benar sedang kosong. Dan hari-hari selama 30 hari (lebih) belakangan benar-benar kosong selayaknya popok bayi baru pakai–dan kau tahu betul bahwa kotoran bisa keluar kapan saja.

Itu yang aku rasakan beberapa waktu setelahnya.

Keadaan mendadak berubah. Kupu-kupu di perut mendadak melebur menjelma cuitan-cuitan yang memakan habis isi perut. Seutuhnya, hingga daging-daging yang bekerja di sana ikut tercubit dan berdarah.

Mudah sekali hati berlabuh, semudah itu pula jatuh. Bahwa yang dikira akan bertahan malah menjadi lawan yang datang jika ada keinginan.

Satu bulan lalu, di tanggal yang sama, ia perlakukan lagi tubuh ini bak pelacur yang ia beli di warung remang pinggir jalan. Tak ada rasa selain gairah di kelamin yang mudah bangun dan susah tidur lagi itu. Kelamin anak yang terlalu muda mempelajari cara bersetubuh yang benar.

Bersetubuh bukan hanya perihal aku, kau, dan kelamin kita, sayang. Tapi otak. Yang mengatur pergerakan selangkangan, hingga rasa yang keluar bersamaan isi tititmu itu.

Kau masukkan saja barang busukmu tanpa tahu malu, sambil kau lihat pergerakannya seolah kelamin yang bertautan itu adalah objek utama. Lalu dimana aku? Oh. Lupa. Katamu aku tak boleh iri dengan tubuhku yang selalu kau ingat-ingat, pun kelaminku. Tapi aku sudah iri. Kau lebih menyukai mereka timbang aku.

Maka kau terus saja memaju-mundurkan pinggangmu padaku, tanpa menatap mataku, juga mencium bibirku. Kau lupakan arti kata “bersetubuh dengan benar”. Yang kau pahami saat itu hanya bagaimana kelaminmu muncrat maka kau akan tertidur segera.

Begitu kah, sayang?

Keluar sudah sisa-sisa kesenanganmu malam itu yang segera kau sapu pelan dengan tisu yang kubeli di supermarket. Kau memberiku dua lembar, maka seketika aku sapu juga cairan berbau pesing itu dari tubuhku.

Lalu kau berbaring di sebelahku, tanpa ciuman di kening pun di pipi. Kau berbaring begitu saja sambil mengecek gawaimu yang sudah kau beri kata sandi dengan rumus yang berbeda. Kau palingkan layar gawai dari mataku, lalu kau mulai sibuk sendiri.

Aku menyindirmu, dan kau pindahkan matamu pada mataku, kau letakkan gawaimu, dan kau buka laptopku yang sudah menyala. Kau putar film yang pada akhirnya tak kita berdua tonton juga, sambil kau makan mie remas, dan satu tanganku memelukmu.

Fuck, I miss you, Dan.

Pagi itu aku bangun beberapa menit sebelum kau. Lelah, rasanya. Aku menatap kau yang perlahan membukakan mata. Kemudian muncul senyuman tipis. Tanganmu bergerilya kemudian mencari gawai.

Tak ada ucapan selamat pagi, pagi itu.

Apalagi kecupan.

Yang ada, kau yang belum sadar penuh langsug memendamkan wajah pada leherku, dan mengecupnya pelan. Masih dengan kesadaran setengah-setengah, kau beranjak ke atasku, dan dengan sergap membuka celana dalamku, pun punyamu, lalu memasukkan isinya lagi pada punyaku–yang masih kering.

Tak ada kecupan pagi itu, yang ada hanya aku yang akhirnya terkulai lemas, dan kau yang perlahan bangun lalu pergi untuk membasuh seluruh tubuhmu, dan kembali lagi seperti aku hanyalah ornamen usang di atas kasur. Tak berarti.

Oh, ini rasa sakit ternyata. Setelah kemerdekaan diri diambil paksa oleh tubuh yang bahkan enggan memberi kecupan mesra, selain ucapan selamat pagi dari kelamin yang katanya gagah itu. Meski aku tak menghindar, bukankah tanpa persetujuan dariku, artinya kau mengambil dengan paksa apa yang kupunya? Jangan bangga pada tititmu yang lebih hina dibanding dengan titit-titit sebelumnya yang masih punya etika.

Apa yang kau rasakan?

Dosa?

Nikmati dosamu. Aku akan melupakanmu. Sedang bayang-bayang tubuhku akan ada terus berputar di kepalamu, hingga kau dapatkan tubuh lain yang dengan terpaksa mencintaimu. Kau akan jadi aku, ditemani jalang yang hilir mudik merasuk dalam tubuhmu. Ya. Karena kau takkan pernah puas, Dan.

Nikmati kelamin wanita barumu, dan aku akan menikmati punyaku.

Aku mengutukmu untuk pergi ke neraka segera. Itu tempat terbaik untuk kau, yang akan memberimu kepuasan lewat belaian dan jilatan-jilatan api di dalamnya.

Aku akan sembuh. Sudah lewat 30 hari, dan patahan-patahan dalam hatiku akan utuh segera.

Salam,

Perempuan yang kau setubuhi tanpa izin.

 

 

Lelaki No. 9

Malam itu, tanpa ragu aku melambaikan tanganku padamu, lelaki nomor 9. Ah. Banyak juga lelakiku. Kalau sudah sampai ke angka 27 akan kubuat tulisan dengan judul “Daftar Lelaki Yang Pernah Mampir”. Masih lama nampaknya untuk sampai ke nomor 27. Mungkin dua tahunan lagi.

Kau bilang tak ingin membahas masa laluku, karena sudah jelas-jelas kubilang menceritakan lelaki-lelaki sebelum kau hanya membuka luka lama yang mengering pun enggan. Maka mereka masih ada di kepala, pun tulisan-tulisanku.

Aku menemukanmu di udara. Kita saling menemukan, saling memilih. Bahwa mungkin aku cukup tertarik dengan rupamu, kau pun begitu, mungkin. Kalau tidak, untuk apa kita saling memilih? Coba-coba berhadiah? Mungkin saja, sih.

Kita duduk bersama. Aku di kasur, kau di karpet. Aku mengesap kretek, kau garpit. Katamu, garpit yang dipadukan dengan anggur merah dapat menyembuhkan flu dan batuk yang sedang menyerang tubuhmu. Maka rokok, anggur merah, dan kacang yang kau bawa adalah perpaduan yang pas.

Kau terbiasa minum, katamu. Maka anggur merah yang kau letakkan di botol air mineral berukuran 300 ml tak akan memberatkanmu. Tapi tidak aku. Anggur merah kedua ini, meskipun bukan minuman terparah yang pernah kuminum, tetap membuatku… hm “merasa berbeda”.

Kita membicarakan banyak hal. Aku masih ingat, walau tidak detail. Bahwa kau mendengarkan kisahku yang membosankan perihal lelaki yang baru saja pergi –mantan kekasihku. Lalu kau meminta celana, dan segera saja kuberikan celana olahraga pendekku –celana perempuan. Dengan dadamu yang telanjang, kau pede saja dengan celana yang membuatku kehilangan fokus itu.

Kau membicarakan banyak hal. Perihal keyakinan dan jati diri. Kau bilang kau pernah bertemu seseorang yang mengajakmu berjalan di jalannya. Bahwa hal yang begitu tidaklah perlu. Jalanku jalanku, jalanmu jalanmu, kau bilang. Kau berperilaku buruk, kau tak meminta siapapun untuk turut melakukan kegiatan yang kau sukai, jika memang itu bukan yang mereka suka.

Kau bilang, jangan bingung. Berkali-kali kau tanya, “are you comfort with me?” yang selalu kubalas dengan anggukan. Kalau sama-sama nyaman, mari kita lakukan apa yang kita suka!

Dan kau menghampiriku, duduk di sisiku, lalu memutar lagu yang katamu cocok dengan isi hati kita –atau lebih tepatnya aku: kebingungan. Lagu kedua berputar, kau menatap mataku sambil berkata, “do you feel comfort with me?”, aku mengedipkan mata, dan saat itu pula bibirmu jatuh pada bibirku. Rasanya manis, dari rokok yang kita hisap sebelumnya.

Kau menghisap bibirku dengan sangat kuat. Namun itu tak menyakitiku sama sekali. Aku menikmati napasmu yang tenang –yang sekeras mungkin berusaha untuk tak kau muntahkan semuanya. Bahwa aku tahu saat itu kau sangat menginginkan tubuhku, dan mungkin aku pun begitu.

Aku cukup malu dengan tubuhku yang berlemak, dan kau tidak. Bahkan tinggimu tak lebih tinggi dari padaku. Badanmu pun tak lebih besar. Tubuhmu ramping, dengan otot-otot yang menyembul dipaksa keluar. Katamu kau suka pergi ke gym. Dan rupanya kau juga seorang atlet taekwondo.

Maka aku tahu mengapa orang dengan tubuh sekecil dirimu memiliki tenaga sebesar itu. Untuk menyedot bibirku kuat tanpa menyakitinya sedikitpun, lalu menarikku dalam pelukanmu, membiarkanku di atas tubuhmu tanpa kau merasa sakit saking beratnya menahan tubuhku.

Maka aku tahu mengapa benda kecil punyamu itu terlihat gagah.

Aku berkali-kali membenahi rambutku, lalu menenggelamkan wajah pada tangan sendiri, karena tubuhku begitu memalukan. Lebih tepatnya jika bersanding dengan tubuhmu. Alih-alih mabuk, aku sambil tertawa lalu bilang, “its so embarrassing!“, dan kau berkali-kali bilang,”are you ok? do you feel comfort? with this?” dan berkali-kali aku tertawa kecil.

Lalu kita melanjutkannya kembali. Jarimu kemudian bergerilya ke tengah selangkanganku, membuatku merinding. Kau mencium bibirku lagi, masih dengan hisapan kuat itu. Kau adalah lelaki dengan hisapan terkuat, hai lelaki nomor 9! Lalu lidahmu masuk sedalam-dalamnya bibirku.

Hingga itu semua terjadi.

Hingga kau selesai dengan urusan buah selangkanganmu.

Kita hanya melakukannya sekali.

Kau bergegas. Katamu pulang ke rumah, karena kau sudah janji pada ibumu untuk sampai rumah jam 2 pagi. Kau kenakan kembali pakaianmu, menyisir rambutmu, lalu berkata, “sisirnya bagus. enak dipake.”, dan pergi membawa kacang yang belum habis –yang kita makan tadi, juga sisirku –yang memang kuberikan padamu.

Kau berlalu seketika.

Kau bilang kau akan menghubungiku nanti. Dan benar saja. Satu jam kemudian pesan darimu datang. Berterima kasih, lalu bilang ingin mandi, dan meminta izin untuk tidur.

Sedang aku sudah kacau.

Aku teringat ketika dirimu masuk. Kubilang padamu, “ada satu lelaki yang muncul”. Kau bertanya siapa, kau menebak-nebak, dan aku masih menyimpan cerita itu sendiri –rencananya akan aku ceritakan di pertemuan kita yang selanjutnya. Namun sepertinya pertemuan itu takkan pernah terjadi.

Maka ketika sisa-sisa perjuanganmu keluar, aku menangis, dan kau panik.

Lalu aku tersenyum membahagiakan diri. Tentu ada sesuatu. Aku baru saja melakukannya dengan lelaki baru yang… yang sebelumnya kumaki. Aku bertemu denganmu karena rindu lelaki lain –bukan yang ada di bayangan saat tubuh kita menyatu. Aku melakukannya, bertemu denganmu demi melupakan lelaki yang baru seminggu lalu tidur bersamaku, bangun pagi-pagi dan bilang, “morning“.

Bahwa aku membutuhkan sosok, itu benar.

Maka kau tidak akan menjadi yang terakhir, hai lelaki nomor 9. Tak adanya balasan pesan darimu membuatku semakin yakin untuk segera menemukan yang baru. Bahwa cerita kita memang harusnya hanya kita yang tahu. Dan bahwa cerita kita memang pantas untuk berakhir.

Terima kasih, lelaki nomor 9!

Bayang-bayang diriku akan selalu muncul di kepalamu, ketika kau menggunakan sisir itu. Tak akan kubiarkan kau lupa. Kecuali kau buang sisir yang katamu “enak dipakai” itu jauh-jauh.

Dan aku tak akan melupakan hisapan bibirmu, meski nanti aku akan melupakanmu seiring aku bertemu dengan lelaki-lelaki setelahmu.

Regards,

Wanita yang rindu bercakap denganmu.

Hai, Nona!

Terima kasih atas tulisanmu, Nona. Aku jadi terinspirasi untuk menulis.

Meski tulisanku tidak semanis punyamu –kau tahu lah ya, kapan aku mau bilang titit ya aku akan bilang. Begitu pula anjing, tai, bangsat, dan kata-kata kasar lain yang tak indah. Aku tak suka mencari-cari diksi bagus, kata bisa muntah begitu saja dan aku tak ingin memaksa kehendak hatiku untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih “layak baca”.

Menulis bukan sesuatu hal yang mudah, Nona. Setidaknya bagiku yang tak memiliki logika apapun kecuali perasaan. Maka yang aku tulis adalah sesuatu yang “mungkin tak berlogika”. Tapi ngga juga sih, sebetulnya.

Ah. Aku jadi teringat teman kita, yang malam itu memberiku kata baru: me-logika-kan perasaan. Tak pernah aku tahu nama perasaan itu sampai malam kemarin. Melogikakan perasaan. Bagaimana caranya? Kau dan aku sama-sama tahu.

Denial, denial, denial.

Mencari pembenaran untuk membuat diri tetap kuat dan bangkit dari kenyungsrukan kita. U know what I mean HAHA.

Mudahnya begini, ketika dalam diri kita bergulat dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan sendiri. Kau tahu? Bicara dengan diri sendiri jauh lebih sulit timbang begini. Aku dan kamu yang begini. Saling berbicara lewat kata –yang benar-benar kata.

Tidaaaa. Aku tida suka dia karena dia hanya ingin seks saja. Seks tida butuh emosi. Dia hanya bekerja di kelamin, bukan di hati. Seks tida butuh status, seks tida butuh belaian di kepala, seks tida butuh tatapan mata yang intens. Seks hanya butuh dua kelamin yang bisa saling bergesek-gesekan.

Bahwa perasaan akan terbawa dari sebelum tidur hingga kita bangun lagi, itu pasti. Karena kau tahu sendiri. Kita sama-sama mudah merindu. Rindu sentuh dan tatap yang intens, rindu akan kata-kata manis yang membuat muka merona kemerahan –bahkan membuat kelamin kita nyut-nyutan, rindu akan masa lalu yang indah.

Perasaan akan selalu terbawa, bahkan di saat kita ingin lupa dan sudahi saja. Perasaan itu ada dalam asap rokok yang kita hirup lalu hembuskan, ada dalam cangkir kopimu dan gelas lemon tea dinginku, ada dalam kulit ayam cabai garam yang kita makan, ada dalam kartu tarot yang aku mainkan, ada dalam gawai kesayangan kita –yang kadang, sejujurnya aku lebih tidak menginginkannya, di saat-saat tertentu.

Rasa itu juga ada di tulisan-tulisan kita yang mungkin untuk orang lain tak berarti apa-apa.

Maka malam itu, malam dengan lelaki paling baru itu, aku yang menginginkannya untuk masuk. Ia tak merajuk, tak seperti lelaki sebelum-sebelumnya yang memohon seperti kucing minta makan.

Bahkan ia selalu menanyakan hal ini: perihal kenyamanan. “Kamu nyaman? Kalau engga kita bisa stop.” atau, “Aku nyakitin kamu?” yang selalu kubalas dengan gelengan. Aku menikmatinya seperti memang ini mauku sejak lama. Dimengerti. Tidak dipaksa melakukan apa yang tak aku inginkan.

Lelaki itu, kau tahu, lelaki yang beberapa jam lalu aku bicarakan dengan temanku, “Kayaknya gue ngga mungkin sama dia dah. Bukan tipe gue.” Dan memang. Yang di pikiranku saat itu adalah… oh my God. Ini tak mungkin berlanjut. Gue ngga suka dia, dan kayaknya ngga akan pernah deh.

Kenyataannya?

Beberapa jam kemudian malah bibirnya yang aku rindukan. Malah rambutnya yang selalu klimis itu yang kurindukan. Malah caranya menghisap rokok. Caranya meminum amer dari botol aqua. Caranya berbicara tentang keyakinannya. Caranya membuatku tenang.

Aku harus lebih menjaga kata-kataku nampaknya, Nona. Senjata makan Puan, ini namanya.

Aku melewati malam-malamku dengan rasa kesepian lagi. Maka aku ingin selalu bersama denganmu, Nona. Entah ngopi bersama –tentu aku es teh, atau nyeblak bersama, membicarakan orang lain lalu ngakak, juga membicarakan perasaan kita masing-masing. Aku tentang kelamin lelaki-lelakiku yang tak pernah kurasakan lebih dari empat pertemuan –paling sering satu atau dua pertemuan dan berakhir begitu saja. Lalu kau perihal yang sama, tapi mungkin dengan masa yang lebih panjang –setidaknya dengan lelakimu yang sekarang.

Meski sejujurnya tak aku pungkiri, hingga saat ini aku masih membencimu. Aku tak pernah mendengar lagu-lagumu selain di beberapa konsermu yang kudatangi. Aku tak pernah mau tahu instastorymu, aku malas membaca tulisanmu selain yang kau berikan linknya padaku…

Tapi aku senang bersamamu. Aku tak suka tiap kau bilang akan pergi ke Bandung untuk melakukan kegiatanmu, sedangkan di sini aku sedang kesepian. Kimi belum begitu mengerti keadaanku, Nona. Bahkan memeluk Kimi pun aku belum bisa. Fokusnya masih mencari tetek, maka aku suka begidik sendiri ketika dia mengendus-endus lalu mencakar dan menggigit bagian tubuhku.

Hm.

Kau benar. Meski tak ada kata yang keluar pun, aku dan kau tetap terhubung. Dari tulisanku yang selalu kau baca, update-mu yang selalu kuabaikan, bahkan dari rasa benciku kepadamu.

Aku tak akan berhenci mencari, Nona. Aku tahu yang kulakukan hanyalah ke-sia-sia-an. Tapi aku tak ingin berhenti lebih cepat. Dari deretan lelaki di belakang, aku banyak belajar, juga lelaki-lelaki yang ada di depan. Maka aku belum mau berhenti.

Biarkan saja sakit ini menumpuk, lalu hilang lagi, lelu menumpuk lagi, lalu lupa lagi, lalu ingat lagi. Karena aku sudah terlanjur, Nona. Berdiam diri tanpa mencari hanya akan menyakitiku dan membuatku berlarut.

Tak akan ada hal buruk yang akan terjadi padaku, bukan?

Kuharap iya.

Terima kasih, sekali lagi, Nona. Aku suka kau panggil Amelia.

.

.

Regards,

Amelia ❤