Minor Song of Mine

Fuck. Sejujurnya gue sedang tidak ingin menulis tentang kegalauan hati ini yang sudah berlipat menumpuk tertimbun di dalam tubuh gue yang berlemak… Tapi rasa-rasanya ingin menuliskan kebahagiaan pun gue tidak ada inspirasi.

Jadi… dari yang tadinya playlist gue set untuk lagu jepajep, langsung 180 derajat berubah jadi lagu dengan judul “Minor Song of Mine” dari Dini entahlah Dini siapa sih dia? Pokoknya barangkali penasaran, kalian bisa langsung cari aja di spotify namanya.

Gue ngga mau bahas lagunya si Teteh ini, gue cuma tiba-tiba kepikiran ingin menulis tulisan yang terinspirasi dari judul lagu ini aja. Begicuu…

As you know…. minor kan pedih ya. Lagu-lagu minor itu lagu-lagu yang bernada pelan selow melow bikin pen nangis atau se-nggak-parah-nggak-parahnya bikin ngantuk.

Dan itu yang sedang gue rasakan sekarang. 50% ngantuk, 50% pedih.

Ada apa denganmu Amelia? Weitss… pertanyaan ini yang pengen banget gue denger. Tapi karena ngga ada yang nanya, jadi gue nanya sendiri aja deh.

Ada apa denganmu, Amelia?

Hari ini, pagi ini gue tidak se-exited biasanya. Gue bangun dengan badan pegal dan super mengantuk lantaran baru tidur jam 12an malam atau jam 1 lebih gitu, dan harus bangun pagi demi “menjemput bola”. Re: jemput responden penelitian. yang ternyata dari perjuangan mengeluarkan duit lebih dan pengorbanan pagi-pagi itu gue cuma dapat satu orang. Alhamdulillah ya Rabb 🙂 Nikmatmu begitu nyata.

Sarkas banget gue tai.

Lalu, gue pun dan teman gue bergegas ke Jatinangor untuk makan, padahal saat itu gue belum laper-laper amat. Tapi gue beli makan nasi juga. Dan habis juga. Oqela.

Lalu menyusul teman gue yang lain beberapa saat kemudian dan mereka saling kenal ternyata…. dan kami ngobrol-ngobrol (actually si teman yang menemani gue ke puskesmas itu lagi pusing ngolah data penelitian dosen sih). Gue mah… sempat buka sebentar data skripsi… tapi yaudahlah… enakan ngobrol ngga sih dibanding ngerjain penelitian yang sedang tidak memberi gue semangat itu?

Sebetulnya gue sangat suka sih dengan penelitian gue. Tapi gue mulai ngerasa limitnya gue di sini. Pertama, mobilitas gue yang terbatas, sedangkan dengan tema yang gue ambil ini, respondennya lumayan sulit, di mana gue harus menjemput mereka untuk memperoleh data yang sebenar-benarnya.

Kedua, itu tubuh gue yang ringkih ini mula memperlihatkan sisi terlemahnya. Gue mulai cape gitu bangun pagi, mandi pagi dingin-dingin, nunggu bis, diemin pantat di angkot yang bisa sampe setengah jam lebih di jalan…. lelah dedek, Bang!

Tidur gue kurang… tidur di lantai beralas karpet keroppi yang gue suka tapi berhari-hari tidur di situ letih juga tulang-tulang gue… Bangun di saat gue belum puas tidur…. Ngga boker gegara kalau nunggu mules udah keburu kesiangan.

Hm. Serba ngga nyaman deh.

Tapi ini tantangan. Ini ujian, sodara. Gue harus bertahan setidaknya sampai mendapatkan banyak responden. Ya… minimal melampaui orang-orang di TO deh…. Which is… lebih dari 40 orang. Dan sekarang baru 15.

MAU NANGIS…..

Gue udah cerita belum sih kalau udah dua bulan ini gue ngga ngekos? Hidup nomaden dari satu kamar kos teman ke kamar kos teman lainnya. Naruh baju, bahkan sampai deodoran dengan ngga tahu malunya… tidur sok enak di lantai padahal…. dipikir-pikir pegel oge.

Nanti lah gue ceritakan. Dalam tulisan kali ini gue hanya ingin membahas hari ini.

.

.

Oke.

Lalu, beberapa jam setelah teman gue itu datang, kami bertiga makan dan ngobrol topik yang sangat menyenangkan. Apa lagi kalau bukan cinta dan gairah? Uh….

Sampai jam tiga sore, teman yang menghantarkan gue ke tempat penelitian pergi meninggalkan gue, teman gue yang satunya, dan dua bungkus rokok.

Sambil ngebul-ngebulan dan jujur… terngantuk-ngantuk juga terpegal-pegal… gue mendengarkan cerita gue. OMG. Itu sore hari terlelah gue nampaknya. Ingin pulang, tapi gue punya plan dengan teman gue yang kosannya menjadi target nginep gue malam ini untuk ketemu malam-malam dan pulang ke kosan dia bareng, karena gue ngga enak berdiam lama-lama di kosan dia tanpa dirinya di sisi gue. Gimana sih…. masa iya gue ngedoprok di kosan orang padahal orang itu ngga ada? Ya gapapa kalo kosannya kaga ada yang jaga. Lah ini……

Kami membincangkan banyak hal… sampai jam 7 lah kurang lebih datang teman gue yang lain yang memang teman kami kepanitiaan juga. Dan suasana makin mencair gitu aja. Kami punya pandangan yang sama tentang pernikahan. Bahwa menikah itu suatu momok yang….. please… jangan sekali-kali menikah hanya untuk mengikuti trend kids jaman now yang apa-apa tuh ngaitin tentang pernikahan seakan-akan menikah itu mudah.

Ngentotnya yang mudah. Mudah banget. Kehidupan di luar kamar lah yang susah.

Kayak misal nih…

Gimana pandangan tentang menikah muda? Taaruf… dan semacamnya… campaign-campaign daripada zinah mending nikah itu lah. Menurut gue sih… kalo nikah untuk menghindari zina… ya jauhin orang yang bikin lu sange ngga sih?

Ah. Kita akan bahas ini di postingan nanti deh gue buat khusus lagi.

Terus… perihal ciwi-ciwi galau (biasanya sih) yang bilang… “NJIR SKRIPSI… Daripada skripsi mending gue nikah dah..”

HELL!!! Kalau kalau nikah semudah itu sampai-sampai bisa menghilangkan segala kesulitan lu… kenapa ngga dari pas lu UN aja lu nikah? Alih-alih menghindari depresi ngerjain soal, terus lu nikah gitu, ita ngga sih?

Whatever gue lagi malas mikir.

Terus… sampai terakhir membahas film-film horror yang sukses membuat gue merinding alay. Kenapa gue bilang alay? Karena gue lebay pas lagi ketakutan. Demi apapun.

.

.

Lalu gue berakhir juga di dunkin, yang niatnya gue habiskan waktu dari beberapa jam yang lalu sambil menunggu teman gue dari Bandung. Gue pikir, yaaa… dia ngga akan semalam ini lah pulangnya. Jadi balik dari tempat makan itu, gue langsung caw ke kosan dia bareng dia.

Ternyata….

Dua teman gue ini sudah harus pulang dan gue harus survive sendirian di Dunkin sambil menunggu. Hm. Gue lelah pemirsah.

GUE KANGEN ANAK GUE!!! GUE PENGEN PULANG!!!

😥

Udah ah. Gue lelah. Bye. Selamat pagi buta!

.

.

.

.

Minor song of mine = 

Ingin mengeluh tapi sadar bahwa pedih dan bahagia ada waktunya.

Advertisements

Cerita malam itu di pesta

Terima kasih, dua malam lalu!

Malam itu, aku kembali datang ke tempat yang menyenangkan. Musik keras (yang kurang kusuka karena diawali dengan musik yang ekstra mellow –hello! hari sudah terlampau malam. AH tapi tak apa. Kali ini aku datang bukan ke pestaku), lampu kecil-kecil berwarna kuning, makanan kecil yang enak, ditambah dua botol minuman berwarna coklat keemasan yang transparan dan beberapa gelas kecil serta satu tenteng keranjang es batu.

Tahu aku sedang berada di mana?

Di tempat elite. Tempat yang tak pernah kubayangkan aku dapat berada di sana sambil duduk dengan gerombolan yang kebanyakan baru kukenal dan menikmati hidangan bersama di dalamnya.

Bahwa aku beberapa menit sebelum sampai ke pesta sedang duduk diam tak tahu harus melakukan apa di remang-remang cahaya lilin yang hanya beberapa biji padahal lingkaran di luarnya berjumlah mungkin 8 orang atau lebih aku lupa –lebih tepatnya tak mau menghitung ulang lagi siapa saja yang sudi bergelap-gelapan dalam keasingan.

Aku hanya mengenal baik dua orang dalam lingkaran itu. Satu orang lainnya kukenal beberapa bulan lalu dan kami tak pernah membicarakan hal apapun. Satu lagi, aku baru kenal sebelum sampai ke tempat itu, sisanya…aku baru kenal di sana. Oh. Bahkan hanya seorang yang menyalamiku dan memberitahu namanya. Sisanya… aku hanya tahu dari teman-teman yang menyebut nama mereka ketika mereka saling melempar banyolan.

Gelap. Canggung bukan main. Aku mencoba menikmati mataku yang bergerak ke kanan dan kiri sambil melihat interaksi semua orang dalam lingkaran, sambil ikut tertawa. Kadang tertawa lepas, seringnya hanya sunggingan bibir untuk formalitas.

Bahwa aku sedang berada di tempat asing bersama kelompok asing.

Aku di bawa ke sana, diundang secara tidak langsung oleh orang yang sedang mengadakan pesta, yang dengannya aku baru bertemu satu kali sebelum pertemuan di pesta itu.

Susah mati aku mencoba menyamakan frekuensi dengan deretan-deretan kepala yang melingkar di sana. Pembicaraan mereka memang lekat, karena mereka berteman baik entah sejak kapan. Beberapa ada juga yang baru saling mengenal, tapi rupanya punya frekuensi yang sama, dan itu tak menyusahkan mereka sama sekali. Sedang aku… lebih sering celingak-celinguk, memindah-mindahkan bola mata pada siapa saja yang sedang bicara atau dibicarakan.

Lalu lampu menyala.

Heran. Tempat elite menyambut tamu dengan ruang yang gelap. Tapi tak masalah, itu bukan pestaku. Aku hanya teman tamunya yang tak secara langsung diundang.

Suasana lebih mendukung. Kami bisa saling tatap tanpa meyipitkan mata, apalagi malu –padahal mungkin hanya aku yang malu. Kau tahu? Lingkungan mereka adalah lingkungan yang selama ini belum pernah kukenal dan kumasuki dalamnya. Bahwa jarak usia kami pun berbeda jauh. Mungkin paling dekat 8 tahun. Maka aku sibuk menyamakan frekuensi di awal pertemuan.

Mereka terlihat rapih, dengan wajah mulus dan sedikit kerutan.

Tuhan kemudian menyelamatkanku. Ia mendatangkan kawanku yang sejauh ini kukenal baik –meski dibilang dekat tidak juga. Dia pelatih boxing, yang bulan lalu masih gencar kutemui saking aku ingin menghilangkan bulir-bulir lemak di perut ini.

Suasana semakin hangat. Aku mulai bisa membaur. Kau tahu? Orang-orang seperti ini yang nantinya ingin kujadikan tempat bersandar. Fleksibel, saling menanggapi, juga bisa menghargai keberadaan orang baru di depannya. Bukan semua, ada beberapa.

Ah.

Mungkin tidak bersandar juga. Aku lelah bersandar pada pundak manusia. Aku benci menyebut siapapun “teman dekat” atau “sahabat”, sebetulnya.

Lebih baik seperti itu. Bertemu karena kepentingan sama, dan berlalu saja.

Aku menikmati makan malamku ditemani candaan yang kini sudah mulai mengarah padaku, dan pada apa yang aku tahu. Dan aku merasa nyaman. Bahwa benar… aku memang tak bisa berdiam diri dalam kerumunan. Katanya aku ini extrovert. Begitu kah, Amelia?

.

.

Lalu aku melupakan banyak hal. Tugas akhir perkuliahan (re: skripsi), teman sepermainan yang sangat kurindukan, juga rumah. Rumah dalam arti sebenarnya.

Tiba-tiba kami sudah berpindah tempat. Di lantai atas, yang disetting bukan lagi seperti restoran, tapi benar-benar “private bar”. Awal aku menyusuri tempat itu… yang kuingat adalah mainan favorit-ku: The Sims. Persis seperti bar dalam permainan. Sorot lampu terbatas, meja DJ, sofa dan table yang nyaman….

Makanan kecil satu persatu datang… Juga minuman dalam botol besar itu yang baru kutahu kadar alkoholnya lebih dari 40% setelah tegukan pertama yang mengejutkan. Rasanya lebih tidak enak dibanding minuman sejenis itu yang pernah kuminum sebelumnya.

OH GOD!

Baru saja aku melihat-lihat hasil pencarianku tentang harga salah satu minuman itu. 3,5 jt untuk 1,5 liter. Sedang kemarin ada… mungkin hampir 10 botol untuk 3 meja?

Wah.

Luar biasa jadi orang hebat.

Entah berapa gelas, yang jelas tidak banyak, karena selain rasanya tak enak, aku mulai bertingkah gila: menggerak-gerakkan tubuhku mengikuti musik yang mulai asik, mencoba membuat mataku terbuka lebar dengan sekuat tenaga karena aku sudah merasakan pusing dan mual… juga menahan untuk tidak kencing beberapa saat saking takut jatuh dan menindih orang di sebelahku yang kukenal sejak beberapa bulan.

Beberapa mulai menyuarakan lantunan sepinya yang mendadak ramai di tempat. Tepuk tangan, berkali-kali bersulang, terbahak, goyang kanan goyang kiri…

Aku mulai merasa mengantuk ketika itu, dan ditemukan oleh kawanku yang lain. Mata lain langsung bergumul menatapku sambil menyoraki. AH. Payah memang.

Aku bangun kemudian dan berlagak kuat –dan memang aku masih kuat, masih sadar betul situasi seperti apa. Aku masih sangat mengingat malam itu… bahkan kondisi di jalan pulang.

Entah di menit dan di tegukan ke berapa, aku merasakan kantung kemihku sudah sangat penuh dan tak mampu lagi menahan kencing. Aku bangun, dan masih merasakan jalanku terlalu normal untuk seorang wanita mabuk.

Teman perempuanku yang lain –yang sangat dekat dengan sang raja di pesta itu- kemudian menuntunku ke kamar mandi yang ternyata… tak bergender. Atau bergender tapi tak kulihat ya?

Dan kutemukan memang beberapa lelaki di sana. Bahkan seorang lelaki masuk setelah aku keluar menuntaskan keperluanku.

Aku duduk di atas toilet yang paling kubenci karena tidak ada keran airnya. Aku benci menyeka kemaluan hanya dengan tisu kering. Lalu kudengar dari luar percakapan temanku dengan lelaki berkemeja biru –yang kuprediksi umurnya di atas 35. Ia sudah beristri. Aku tahu lewat kata-katanya di awal pesta tadi yang bilang, “Anjiiirr! Lu gedean dah kayak istri gue!” pada temanku.

Temanku bilang, “dia mabuk ya?” yang dijawab segera oleh lelaki itu dengan persetujuan, “Iya, mabuk itu.”

Ah aku diam saja. Aku tak ingin hilang kendali seperti orang mabuk.

Kemudian aku keluar, ia langsung masuk menggantikan posisiku di dalam sana. Aku pergi ke depan kaca besar dengan dua wastafel, dan menemukan diriku dengan wajah yang masih sama. Aku masih sadar betul itu memang aku. Dan aku tak menemukan ekspresi yang aneh.

Lelaki beristri dengan kemeja biru itu datang. Aku lupa dia bilang apa. Yang jelas ia mendekatkan tubuhnya padaku, lalu bibirnya… di depan teman perempuanku yang langsung saja distop. Aku pun memalingkan wajahku. Aku tak ingin melakukannya dengan dia, apalagi karena dia sudah beristri.

Bahkan jujur… tanpa aku tahu statusnya pun aku tak tertarik dengannya. Lebih-lebih ia melakukannya di depan orang lain yang memang teman kami berdua. Terima kasih akal sehat!

Kemudian ia menarik diri setelah sebelumnya ia bilang, “sama pacar?” yang kujawab dengan gelengan dan kata seadanya. Ia menghampiri temanku kemudian, yang ia akui adalah sahabat terbaiknya. Mereka merangkul satu sama lain.

Pelatihku keluar dari kamar mandi kemudian, beralih ke wastafel, dan aku sambil tertawa ngeri langsung menceritakan keadian barusan: bahwa seorang lelaki beristri ingin menciumku. Aku begidik.

Kemudian pelatihku, teman perempuanku maju duluan, kembali ke tempat kami duduk. Aku dan lelaki berkemeja biru itu di belakang. Ia menawarkan lengannya untuk kupegang, dan aku tolak dengan senyuman.

Aku kembali ke meja dengan perasaan lebih bahagia, entah mengapa. Lalu ku menggerak-gerakkan kakiku ke kiri dan ke kanan bergoyang ala disco, juga kedua tanganku terangkat ke atas. Formasi di meja berubah, aku duduk dengan lega.

Sampai di sana, aku ditawari minum lagi oleh seseorang. Lelaki, suami dari teman perempuanku tadi. Ia mengiming-imingiku sambil berkata, “Kalo kata orang Jerman… kalo bersulang ngga dihabisin itu ngga sopan.”, yang kujawab dengan, “Oh harus satu shoot, ya? Ok. Yuk satu shoot lagi.” Kemudian aku menghabiskan sisa minuman di gelasku, dan mendapatkannya terisi lagi dalam waktu kurang dari satu menit.

Kami bersulang kemudian, dan aku langsung menegak habis minuman itu seketika. Luar biasa. Malam yang luar biasa.

Bahkan aku tak lagi memikirkan apapun perihal lelaki manapun.

Aku berdiri seorang diri, menuruni tangga sampai parkiran seorang diri, tidak berpegang tangan pada siapapun, seingatku. Aku seorang perempuan mandiri yang tak butuh lelaki, setidaknya untuk malam itu, dan mungkin beberapa malam lagi, meski aku sangat ingin.

Aku ingin memeluk lelaki. Siapapun. Aku ingin memiliki seseorang yang bisa kubawa ke pesta dan kuperkenalkan sebagai milikku pada siapapun yang kukenal. Bahwa hatiku sesepi ini memang betul.

Aku masuk ke mobil, masih merasa sempoyongan ketika menundukkan kepala. Di dalam, aku banyak bicara, seperti biasa, sehabis minum. Dan memang minuman yang kuminum jauh lebih berat, maka aku sedikit merasa….. aku sudah melewati limit yang kupunya.

Aku sampai di rumah temanku, dilanjut naik ke mobil temanku yang lain, untuk sampai ke rumah. Aku lupa membicarakan hal apa saja, jujur. Yang jelas, aku semakin merasa mual dan pusing. Perutku penuh, minta dikosongkan, namun aku tak mulas sama sekali. Kau tahu artinya? Aku ingin muntah.

Sampai di dalam, aku berjalan cepat ke kamar. Meletakkan barang bawaan, lalu pergi ke kamar mandi. Dan benar saja. Aku memuntahkan entah berapa banyak isi perutku, kemudian berpura-pura tabah dan kuat.

Aku kembali ke kasur, dan merebahkan tubuhku di sana. Temanku datang membawakan cangkir yang tak kusentuh sama sekali karena dengan cepat aku meluncur ke kamar mandi lagi dan memuntahkan sisa-sisa makanan di dalam perutku.

Dan aku pun terlelap. Bangun pukul 8 pagi dengan mata yang masih sangat mengantuk.

Satu jam kemudian aku memulai kegiatanku yang sudah direncanakan selanjutnya hingga malam hari.

Hm.

Malam yang menyenangkan. Aku ingin mengulanginya lagi, tentu saja, jika ada kesempatan. Mungkin bulan depan, atau tahun depan, tak masalah. Aku siap kapanpun.

Terima kasih banyak, malam yang menyenangkan!

Terima kasih banyak pada kepala-kepala yang namanya tak ingin kusebut di sini. Terima kasih, aku banyak  belajar dari malam singkat itu.

 

Seni Menunggu

Sudah berapa lama aku di sini? Sambil menahan kencing dan kantuk.. Oh, dan juga lapar. Sambil duduk menatap layar yang selama mataku membuka selalu kutatap. Bahwa hidup sedang sebegitu menyedihkannya.

Menunggu apa yang mungkin belum pasti, tapi tentu saja harus kupastikan. Mungkin nanti, saat ketentuan yang belum pasti itu sudah mencapai waktunya.

Aku duduk dari sepi hingga beberapa kaki lewat, dan bising mulai memekakkan telingaku yang baru semalam kubersihkan. Sambil bolak-balik membuka tautan di internet, lalu memainkan permainan yang sudah mulai terasa membosankan, dan aku masih di sini, duduk dengan kelamin terhimpir saking tak tahan menahan kencing.

Bahwa aku tak bisa sendirian di tempat yang tak asing namun penuh dengan kepala-kepala baru yang tak kukenal. Maka aku merasa asing. Maka aku merasa ingin segera lari keluar dari kerumunan.

Tapi aku masih harus menunggu. Setidaknya tiga jam lagi. Agar aku dapat pulang dengan tenang, dan dapat melanjutkan kegiatan yang akan menentukan nasib kehidupanku kemudian.

Namun aku tetap sendiri, meski barusan kawan dekatku lewat, dan entah kemana sekarang. Yang kutahu, ia sedang memperjuangkan suatu hal yang penting baginya. Semoga jalanmu lancar, kawan!

Ini dia seni menunggu, aku sadar betul.

Bahwa aku akhirnya paham bahwa aku tak bisa sendiri. Aku selalu butuh seseorang untuk aku gantungkan, paling tidak untuk dapat membuat bibirku terbuka dan tidak diam. Diam itu menyebalkan, aku tak suka.

Bahwa aku akhirnya meyadari, aku sudah harus keluar dari lingkungan yang mulai menampakkan kekejamannya ini. Sendirian, dikelilingi orang yang tak dikenal begitu membuat diri ingin menghilang saja.

Oh, ini ya seni menunggu?

Bahwa menunggu itu membuat cabang di kepala bertambah banyak, maka aku harus mencari alat pemotong kemudian.

Perbincangan yang tak jadi

Kemarin, di siang hari, deretan nomor muncul pada layar gawaiOh. Aku lihat betul itu wajahmu, yang terpampang di sana. Wajah yang belum pernah kutatap dan kusentuh langsung.

Kau, lelaki nomor 6.

Buatku, kamu sudah pergi, meninggalkan pertanyaan mengenai apakah keputusan untuk pergi benar. Kuharap ya. Kau pun tak menanyakan perihal kepergianku. Kau tak muncul lewat kata di kotak pesan manapun, padahal kau sudah kubebaskan dari daftar orang yang kugembok.

Deringan itu aku abaikan. Sengaja. Aku ingin melihat apa tujuanmu. Hanya iseng, bukan? Kau hanya menelpon sekali. Kau hanya ingin memastikan apakah aku masih ingin menanggapimu atau tidak, betul kan?

Saat merasakan getaran di gawai, aku sempat merasakan janntungku berhenti sekian detik. Aku begitu terkejut, tidak menyangka. Dan coba-cobamu itu membuatku lemas. Oh, kupikir aku sudah lupa, ternyata belum. Maka aku hanya mendapati diriku diam sambil menatap layar, dan layar akhirnya meredup kembali. Satu detik, dua detik…. tak ada getaran apapun lagi.

Betul kau hanya coba-coba bukan?

Bahkan pesan pun tak ada yang masuk.

Apa jadinya kalau aku mengangkat telpon itu?

Tentu kau akan buka obrolan. Mungkin kau akan menanyakan apa kabarku, lalu aku bertanya balik. Lalu kau akan segera mengonfirmasi mengapa aku menghilang dan memutuskan untuk mengembok semua akun media sosialmu serta perempuan itu, yang kau bilang teman baikmu.

Lalu mungkin kita akan membicarakan kegiatan apa saja yang kita lakukan dalam satu bulan terakhir. Mungkin kau juga akan menanyakan kisahmu yang seharusnya kubuat demi memenuhi janjiku. Mungkin kau akan bercerita banyak tentang pekerjaanmu.

Mungkin kita akan merencanakan pertemuan.

Tapi tetap saja, tak ada perbincangan yang terjadi. Yang ada hanya… jujur saja, untuk beberapa saat aku menunggu deringan itu lagi.

Tak ada.

Terima kasih sudah mencoba 🙂

Si Pendendam

2

Background pict by pinterest.

Aku menjelma menjadi ketiadaan. Semata karena lari dari penyiksaan sadis yang tak disadari. Bahwa kecewa sebegini sakitnya, meninggalkan luka perih yang terus menganga, bahkan semakin lebar kemudian.

Bedanya, mungkin kau tak pernah memandang perih ini menjadi satu kisahmu sendiri. Karena yang kau lihat mungkin hanya amarah yang tak dapat direda, padahal hati ini hanya butuh penyejuk sekecil lantunan maaf yang keluar dari bibirmu, bahkan tak apa dari jarimu yang lihai memijit gawai.

Kau bermetamorfosa menjadi ratu yang diidamkan, yang dikagumi. Mungkin takdirmu. Maka kulihat kau semakin pandai bersolek memamerkan wajahmu yang dipoles dengan berbagai riasan. Dan yang kau temukan adalah raut tersembunyi dari pedihnya dirimu yang tak banyak diketahui orang.

Sayangnya, semakin kau tunjukkan siapa dirimu, semakin mempengaruhi hatiku yang kacau. Kuakui aku yang paling kehilangan. Aku yang mungkin paling kecewa karena aku yang paling menumpuk harap. Bahwa memang tak ada lagi yang mampu mengerti aku selain mata dan bibirmu yang cantik.

Aku adalah ketiadaan, kemudian bermetamorfosa menjadi cacing di tanah. Menggeliat tanpa tahu malu saking tak kuat menahan kerasnya tanah yang bergesekan dengan tubuh. Kau tahu artinya? Aku tak mampu menerima kenyataan. Bahwa diriku tak sampai separuh di hatimu, padahal hatiku bahkan pikirku aku pertaruhkan untukmu.

Aku benci membandingkan diriku dengan orang lain, apalagi sosok yang sudah merampas kau, yang makin ke sini semakin kusadari menjadi salah satu alasan aku berbahagia.

Sebeginikah hebatnya kau?

Aku benci mengakui kehebatanmu, karena tak ada yang lebih menjijikan dari segala bentuk penghinaan kecuali engkau yang pernah menempatkanku pada satu kenyataan pahit: menjadi tidak dipilih.

Pernahkah kau ada di posisi itu?

Aku pernah menjadi opsi nomor dua hingga ke-sekian. Dan menjadi tidak dipilih adalah hal tersakit. Maka bolehkah kukatakan bahwa aku kecewa? Kau adalah salah satu manusia yang kupilih untuk berbagi kisah perihal isi kepala hingga ingin kemaluanku.

Lalu kau lebih memilih untuk menjadi pengecut dan berpura-pura lupa. Kau memilih untuk tidak mengatakan yang kau rasa, padahal kuyakin kau paling mudah untuk itu, jika rasa itu untuk lelakimu.

Di dunia ini, hidup bukan hanya perihal kau, lelakimu, serta kelamin kau dan dia. Ada lebih banyak kebahagiaan yang bisa kau ciptakan jika saja kau menolak lupa. Bahwa kebahagiaanmu mungkin saja tercipta dari jari yang mengetuk gawai lalu mengirim pesan untuk memohon ampun. Atau barangkali dari bibirmu yang diam mendengar kawanmu bercerita.

Atau memang kebahagiaanmu bukan disitu?

***

Normalnya manusia memiliki tiga wajah, katanya. Wajah yang ditunjukkan pada dunia, wajah yang tidak ditunjukkan, dan wajah yang sama sekali tak diketahui. Kau bagaimana?

Akan kujelaskan wajah-wajahku padamu. Pertama, wajah yang kutunukkan pada dunia, wajah yang selama ini kau kenal sebagai periang, si easy going tak mau pusing, yang selalu memandang segala hal mudah. Kedua, wajah yang tak ditunjukkan, setidaknya tidak padamu, karena kau tahu jelas wajah ini. Wajah penuh dendam. Ketika, yang bahkan tak kuketahui, namun seringkali kurasakan. Wajah seorang anak kecil yang meminta pulang.

Lalu kau bagaimana?

Kita semua punya cerita yang rumit, aku tahu. Bedanya, aku lebih suka membahas kekacauan diriku sebagai manusia, sedang kau lebih suka membahas kau dan lelakimu. Iya. Kau punya objek untuk kau cumbu tiap kau butuh, meski hanya dengan pikirmu ketika kau jauh dengannya.

Maka aku paham betul posisiku.

Sebagai yang tidak dipilih. Sebagai yang diam menunggu di bawah hujan berharap kau akan datang, padahal kau di sana sedang sibuk bernegosiasi dengan lelakimu untuk pergi atau tinggal, dan akhirnya kau memilih tinggal. Maka aku hanyalah perempuan konyol yang saat itu menyebrang jalan yang ramai dengan rambut basah dan kaki penuh cipratan air bercampur tanah.

Dan tak ada kata yang keluar dari mulutmu untuk memperbaiki keadaan bahkan sampai sekarang. Aku bukan Dewa yang serba tahu dalamnya hati seseorang. Aku bukan orang suci yang mudah melupakan apalagi memaafkan.

Maka bolehkah aku marah?

***

Kau menjelma menjadi kenangan. Menutup mata dari segala celoteh dunia. Padahal kau tahu ada sosok yang kau lukai.

Bagiku kau hanyalah omong kosong. Segala tentangmu. Kau hanya butiran pasir yang datang lalu mengendap dan ingin kusapu seketika. Rumit memang untuk membersihkanmu, menghilangkan jejakmu dalam diriku. Tapi bukan aku namanya kalau tak berhasil.

Maka kau hanyalah berupa kenangan yang lewat, yang ketika kuingat nanti hanya akan aku tertawakan. Adil bukan? Kau mencoba untuk menutup dirimu dan menjadi pengecut di depanku, sedang di depan orang lain kau hebat. Tidak bagiku, tentu saja.

Dan pada akhirnya nanti, kau hanya tinggal duduk diam dan menerima apa yang kau lakukan, hingga kau mati perlahan mengering karena darahmu pun tak sanggup menyembuhkanmu.

Aku Merindu, Kau Membisu

Jalan nampak luas, meski ukurannya tak lebih lebar. Mungkin karena aku pulang di malam hari, entah mungkin karena aku sedang sendirian. Padahal dari dulu aku terbiasa sendiri. Dari awal sekolah dasar pun aku sudah dipercaya kedua orang tuaku untuk pesan makanan dan bayar di kasir sendiri.

Aku jadi ingat malam itu, ketika mall hampir tutup. Papa, Mama, dan adikku keluar tempat parkir untuk menaruh belanjaan, lalu aku diminta pergi membeli ayam goreng dan soda. Aku dibebaskan untuk memilih, asalkan sesuai porsi kami. Karena terbiasa membeli makanan dengan menu sama, akhirnya aku membeli empat potong besar daging ayam pedas, ditambah empat gelas soda. Aku memesan makanan tanpa basa-basi apalagi terbata-bata. Sudah terlalu biasa memesan makanan dan membayar langsung di kasir sendiri, maka tanpa ada perintah kubilang, “…dibungkus.”

Kakak itu menyebutkan kembali pesananku, ditambah, “…dibawa pulang ya? Jadi….ribu.” Dan aku belajar satu hal. Berbeda tempat, berbeda pula bahasa yang kita gunakan. Aku sempat gengsi, dan itu yang membuatku belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Lain waktu Papa memintaku untuk membeli minuman kaleng di warung di belakang rumah. Kali ini dengan adikku yang belum mengerti banyak hal. Tetap saja aku yang melakukannya sendiri bukan?

Maka aku sudah terlalu biasa melakukan hal apapun sendiri bukan?

Ah. Hanya ada satu hal yang Papa tak biarkan tumbuh di dalam diriku. Jiwa untuk bebas. Aku tak pernah dibiarkan untuk pergi les seorang diri. Pernah boleh. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Aku malu setengah mampus dengan supir yang membawaku, karena karyawan Papa mengikuti angkot dari belakang. Sejak itu aku marah. Dan Papa mengerti.

Sampai sekarang pun begitu. Pergi jauh aku tak boleh, kecuali dengan orang yang kubilang teman. Maka aku tak pernah meminta izin Papa jika aku ingin pergi kemanapun, kecuali aku butuh uangnya.

Mungkin itu yang membuatku takut untuk mengeksplorasi hal-hal baru. Aku takut dengan suasana baru. Aku benci dikerubuti keramaian –kecuali keramaian itu untukku. Aku memilih-milih dengan siapa aku berbicara ketika sedang di transportasi umum. Aku memilih untuk pergi dengan temanku dibanding sendirian….

Ha. Jadi aku orang yang seperti apa?

Biasa sendiri, mandiri, tapi punya sisi penakut. Boleh lah kita sebut demikian.

Atau mungkin jalan di luar terasa lebih lebar karena aku sedang menantimu? Maka yang kulihat di jalan seperti kosong, karena itu bukan kau. Tapi faktanya kau belum datang. Kau bilang bokongmu seperti menempel pada serat-serat di ranjangmu bukan?

Tapi tak apa.

Mungkin aku hanya sedang rindu karena dua atau tiga hari ini kita tak berkicau kabar. Aku tak masalah. Kau punya urusan yang harus kau selesaikan, pun aku disibukkan oleh usahaku untuk sembuh dari sakit yang sembuh dengan resep dokter ini.

Maka sekali lagi, tak apa jika kau membisu. Nantinya pun kau akan membuka mulutmu dan mulai bercerita. Mungkin tidak sekarang. Atau tidak hingga kau kubuat bercerita.

Karena suatu hal tanpa rindu akan sangat membosankan bukan? Begitu pula dengan bisu. Namun apa jadinya bila rinduku ini karena bisumu?

Tenang saja, aku hanya merindu. Tak apa kau membisu. Mari kita saling. Saling bertahan pada rindu dan bisu masing-masing hingga kita sama-sama siap untuk melepasnya dan bercerita kemudian.

.

.

Sampai jumpa di percakapan keempat!

Keep Calm, Amelia

Yes, I just sent another man a message to confirm why he’s so late and there’s no reply. Always. I fell so stupid! Yes I am.

***

Actually those words are from my mind thoughts cause I really really worry abour someone. Ya. Like I said before, this kind of man is… my sixth man. Oh God I feel like i’m such a player, God, pardon.

Ya. After I wrote the first paraghraph, finally he replied my message. He said that there an accident on his bed (re: in indonesia: ketiduran). Yash. For… maybe 2 hours. And after he replied and I sent back my answer (and I found my cheeks getting more pinky. OH FUCK), he gone again.

And makes me waiting for 2 hours again because of the same thing. KETIDURAN.

You know, I dont know how the ending of my stories about love. But till now, I still cant believe any words out from men fucking mouth including him, my number 6′ man. I know, I never really really literally accomplish my affairs with men before. But ya. I just trying.

To leave from tha shits.

And is that wrong? To acc invitation again? Invitation to come to someone’s heart? FUCK LOL.

God, thanks for this busy time You gave to me, so I just wanna escape and declare that I wanna forget aaalll last night’s memories. When we both connected because of the fucking usefull technology and sharing and laughing and… ya. Please give me an energy to forget all about him, God. I want to stop hoping someone. Please.